
Marinda menghela nafas, inikah ambang batas kesabarannya berusaha mempertahankan hubungan mereka.
" Aku hanya perlu kamu tegas Fa, bagaimana posisi aku di hati kamu, namun bila perasaan kamu ke aku masih sama seperti dulu, mungkin sekarang saatnya kita benar benar memikirkan apakah benar hubungan kita di dasari saling cinta, atau aku saja ang terlalu berusaha agar kita bersama. Aku harap kamu bisa yakin dulu dengan persaan kamu ke aku, ini saatnya kamu nunjukin effort kamu Fa, Aku tunggu jawaban kamu secepatnya" Ujar Marinda. Tak lama dia kembali mngenakan kacamata dan topi baseballnya kemudian meninggalkan Rafa.
Rafa termenung,Tak menangka Marinda bisa mengatakan hal itu di tengah kondisi mereka yang sekarang, namun Marindajuga benar, bahwa mungkin ini memang jalan untuk mereka berpisah dan saling mengoreksi hati satusama lainnya. Namun ada hal yang terlambar Rafa sadari, dia terbiasa ada Marinda di dekatnya, hatnya seperti tercubit mendengar penyataan Marinda barusan. Padahal semalam dia baru saja merasakan bahwa masalah mereka sekarang justru meyakinkan Rafa bahwa sebenarnya Marinda ada di hatinya namun dia terlambat menyadarinya. rafa menghela nafas panjang, ini lebih rumit dari perkiraanya.
***
Terminal kedatangan domesik - Bandara Husein sastranegara Bandung
Pesawat Rona telah mendarat dengan sempurna, lampu tanda sabuk pengamanpun sudah dipadamkan, dan para penumpang telah di persilahkan untuk turun dari pesawat. Rona meraih backpacknya dari bagasi cabin, tak banyak yang di bawanya, hanya sebuah backpack, tidak ada lagi, kepulangannya kali ini bukan dalam rangka mudik atau kembali tetapi menyelesaikan permasalah adiknya, Rista. Rona bahkan tidak sempat membelikan oleh oleh untuk maminya, namun mami pasti mengerti tujuan Rona kembali ke Bandung.
Rona meraih ponsel di saku celananya, sebelum berangkat Rona telah mengabari Agi dan mami tentang kepulangannya ke Bandung, dan mami meminta Mang cecep untuk menjempu Rona di bandara siang itu. tak perlu waktu lama bagi Rona untuk bisa menemukan mang cecep diantara kerumunan pra penjemput, lelaki patuhbaya itu sudah seperti keluarga sendiri bagi Rona.
" Apa kabar mang?' Sapa Rona begitu melihat mang cecep dan segera merangkulnya.
" Den Ona, alhamdulilah mamang baik, den Ona apa kabar? " Tanya Mang Cecep sambil memeluk Rona.
" Alhamdulillah saya baik mang" jawab Rona ada jeda beberapa detik, keduanya seolah sedang dalam pemikiran yang sama, Rista
*"*Mami ada di rumah ?" Tanya Rona lai
" Ade Den, mami ngga kemana mana sejak.... " mang cecep menjeda ucapannya dan Rona faham, Mang Cecep pasti enggan menyebutkan msalah yang sedang mereka hadapi kini, bagaimanpun juga, berita tentang Rista seperti petir di siang bolong bagi mereka.
" Kita langsung pulang Den?" Tanya mang cecep hati hati
__ADS_1
" Iya mang, kita langsung kerumah "
Tak lama mobil mereka sudah mengaspal di jalanan kota Bandung, dan sepanjang perjalanan keduanya berdiam seribu bahasa, baik Rona maupun mang cecep sama sama mengerti dengan keadaan mereka sekarang. Tak perlu banyak yang di perbincangkan, keduanya sudah faham.
Hanya perlu waktu sekita 15 menit agar Rona sampai di rumahnya, kediamannya tampak lengang, nampaknya memang wartawan belum menemukan siapa Rista sebenarnya, karena prediksi Rona, bila para wartawan itu sudah tahu tentang Rista, mereka juga pasti akan memburu Rista untuk di mintai tangapannya.
" Assalamualaikum " sapa Rona begitu membuka pintu ruang tamu
" Waalaikumsalam ... " Ujar Mami dari ruang tamu sambil menengok ke arah pintu " kamu udah dateng sayang, apa kabar ?" Ujar Mami lagi sambil merentangkan tangan menyambut Rona kemudian memeluk putra sulungnya itu,
" Mami apa kabar ?" Tanya Rona sambil memeluk wanita kesayangannya itu
" Baik sayang, kamu?"
" Rona baik mam" Jawab Rona sambil melepaskan pelukan Mami dan berjalan beriringan ke ruang keluarga. Tampaknya Mami sedang menonton infotaiment yang keberulan memebritakan kejadian di pesta Marinda tempo hari.
" Simpan dulu tas nya, istirahat dulu, nanti Mami cerita" Ujar mami sambil mengusap punggung Rona.
Rona kemudian meletakan tasnya sembarang di atas karpet, kemudiab merebahkan badann di sofa, dia juga memnta mbok Na membuatkan jus jeruk untukna.Mungkin karena jetlag, Rona merasa kepalanya sedikit pusing. Rona sedikit memijat keningnya yang pening, tidak biasanya dia seperti itu, mungkin banyak nya perkerjaan ditambah adanya maslah Rista sehingga beban Rona bertambah. Sebetulnya Papi sudah menyuruh Rona untuk tidak terlalu ikut campur dengan urusan Rista, kecuali bila Rista memintanya, Papi ingin Rista menjadi anak yang lebih mandiri dan kuat, bisa mengambil keputusan yang tepat meskipun dirinya seorang wanita. Namun Rona tidak pernah tega membiarkan adiknya itu dalam masalah. Terkadang Rona juga ingin seperti papi, hanya terkesan mengawasi dari kejauhan dan benar benar turun tangan saat di butuhkan, Namun bagi Rona, bila terjadi sesuatu pada Rista bisa jadi Rona salah juga, karena tidak bisa menjaga adiknya dengan benar. Rona faham akan tanggung jawabnya, bahwa kelak saat papi sudah tidak ada, Ronaharus mampu menjadi tulang punggung keluarga.
" Kamu ngga apa apa Kak ?' Tanya Mami sambil memperhatikan Rona di sampingnya
" Ngga apa apa Mi, cuma pusing dikit aja, mungkin jetlag" Jawab Rona sambil memijat keningnya dan memejamkan mata.
" Tuh jus jeruknya udah ada, minum dulu, udah itu istirahat, nanti aja ngobrolin Ristanya" Ujar mami sambil menunjuk ke jus yang di letakan Mbok Na di sebelah Rona
__ADS_1
" Aku minun jusnya di kamar aja Mi, sambil tiduran " Ujar Rona sambil beranjak ke kamarnya sambil memegang gelas jusnya.
" ya udah, kalo pengen apa apa kabarin ya "
Rona mengangguk mngiyakan sambil berjalan menuju kamarnya, sementara mami melanjutkan menonton infotaiment. Selain intens berkomunikasi dengan Rista, mami juga harus memastikan kabar yang beredar tentang putrinya itu. Dan ternyata memang benar, media memang bisa saja membumbui di sana sini, sehingga video yang beredar itu terkesan bahwa Rafa dan Rista memang ada hubungan. Meskipun manager Marinda sudah mengeluarkan statment bahwa Marinda tetap bertunangan dengan Rafa dan tidak ada pembatalan apapun namun pihak media masih menunggu statment resmi dari Marinda dan Rafa.
***
Sementara itu di tempat Rista.
Agi memilihkan hotel tidah jauh dari area masuk kota Bandung, dia berjaga apabila suatu ketika Rista harus pergi ke luar kota mereka bisa cepat dan tinggal langsung pergi. Rista sengaja mengenakan kacamata hitam untuk menyamarkan wajahnya, meskipun Agi tahu hotel tesebut memiliki tingkat privasi yang cukup bagus,namun Agi tida mau mengambil resiko apabila ada yang mengenali mereka.
" Aku jadi kaya buronan gini yaa" Ujar Rista begitu mereka memasuki kamar dan meletakan kacamata hitamnya
" Jangan berfikir begitu, kita cuma ngga mau kamu merasa terganggu dan di kejar kejar media kaya kemarin. dont be a negative thinking sayang" Ujar Agi sambil membelai lembut rambut Rista." Kita kan tau ini sementara aja, sambil menunggu konferensi pers resmi dan menyatakan kalo kamu sama sekali ngga ada hubungan dengan Rafa "
" Kenapa kita ngga buat konferensi pers sendiri aja sih Gi, ngga usah nunggu Rafa dan Marinda" Ujar Rista lagi
" Bisa aja begitu, untuk menegaskan kalo pemberitaan di media itu ngga benar, Rafa dan Marinda juga nanti akan mengeluarkan statment yang sama, tapi baiknya nanti kita diskusikan dengan Rafa, Marinda dan Kak Ona ya " Ujar Agi sambil membereskan koper Rista dan dirinya
" Kak Rona udah sampe di Bandung? kok ngga ngabarin aku ?" Tanya Rista sambil mengecek ponselnya
" Aku juga belum di kabarin kok, tadi kak Rona ngabarin pas mau boarding" Ujar Agi
"Ohh.. " jawab Rista kemudian dia memutuskan untuk mengirim pesan pada Rona, Namun hanya terkirim, tidak terbaca.
__ADS_1
" Kak Rona nanti pasti hubungin kita, kan dia ke Bandung untuk kamu, kamu mendingan istirahat dulu " Ujar Agi sambil melihat ke arah luar, dihadapannya terhampar pemandangan kota dengan latar belakang gunung tangkuban perahu, View yang cukup bagus untuk mereka berdua yang sedang rentan dengan stress.