Rafa Rista

Rafa Rista
Eps . 29 ( perkelahian di koridor)


__ADS_3

" Gimana bisnis kamu mad? " Tanya Rista mencairkan suasana


" sejauh ini masih lancar Ta, tapi ya namanya juga masih awal awal, belum bener bener bisa apa apa sendiri, untungnya aku di bantuin Agi"


" Ohh, Agi kerja di kantor kamu juga?" Rista terkejut, selama ini dia tidak tau kalau Agi bekerja di Mad's Travel


" Iya, sambil kuliah juga tapinya" Agi menambahkan


" Ohhh gitu... udah berapa lama?" Tanya Rista lagi


" Belum lama sih, baru sekitar 2 bulan" jawab Agi lagi. Perlahan atmosfer kurang enak berkurang, namun Rona masih tidak menyangka kalau Ahmad yang dia kenal adalah Ahmad yang membuat adiknya sakit hati. Berdasarkan cerita Rafa dan Agi malam itu, Ahmad dulu yang menyembuhkan Rista dari Fahry, tapi kemudian Ahmad juga yang membuat luka yang sama dengan Fahry. Rona memilih duduk di sofa daripada terlibat percakapan dengan mereka bertiga, dia membuka buka dokumen di ipad nya, namun sebetulnya fikirannya tidak fokus. Tidak berapa lama Ahmad berpamitan, dengan alasan kalau dia harus kembali lagi ke Mad's travel karena ada jadwal keberangkatan malam, namun alasan yang sebenarnya adalah pacarnya sudah terlalu lama menunggu untuk di jemput.


***


Rafa memasuki lobi rumah sakit harapan, sekilas dia melihat seorang anggota genk liliputh di cafetaria sedang menunggu sendirian, Rafa sama sekali tidak berniat menghampirinya, meski sebenarnya mereka saling beradu pandang. Namun Rafa lurus saja berjalan menuju lift, sebelumnya di parkiran dia melihat mobil Ahmad terparkir tepat di sebelah pintu masuk.


pasti dia sedang menjenguk Rista. Ujar Rafa dalam hati, tadi sore spesies ceweknya yang jenguk sekarang pasti spesies cowoknya yang lagi jenguk. Rafa sudah muak sekali dengan kedua pasangan itu, selain karena cemburu, juga karena kelakuan mereka yang menurut Rafa ngga punya hati.


Rafa sampai di lantai 3 tepat saat Ahmad berjalan di koridor, dari kejauhan Rafa sudah bisa melihat Ahmad, bahkan mungkin dari radius 200 meterpun Rafa sudah bisa mendeteksi keberadaan Ahmad. Ya, Rafa marah, kesal, cemburu dan segala perasaannya campur aduk. Bagaimana mungkin Ahmad punya muka untuk datang menjenguk Rista. Mereka berdua saling mendekat, jelas sekali Rafa menatap Ahmad dengan emosi, tidak ada jalan keluar, mereka harus berpapasan


" Huuuhh.... Punya nyali juga kamu untuk datang kesini" Ucap Rafa, tatapannya dingin, mereka kini bersebelahan,namun ke arah yang berbeda


" Kenapa harus ngga punya nyali, niatku baik " Jawab Ahmad dingin, dilihat dari nada bicaranya Rafa seolah tau sesuatu


" Berhentilah berkating sok suci depan aku"


" Hahahhaa... Sepertinya ada yang cemburu kalau aku menemui Rista"


Rafa mengepalkan tangannya, ingin rasanya dia menonjok mulut Ahmad saat itu juga. dengan tenangnya dia bilang seperti itu.


" Kamu itu ngga tau apa apa tentang aku dan Rista" Ujar Ahmad tenang


Buuuukkk....


Satu pukulan keras mendarat di pipi Ahmad, Rafa sudah tidak bisa lagi menahan Emosinya, mukanya merah padam,lelaki di depannya ini bukan saja tidak punya nurani . Ahmad meraba bibir dan pipinya yang terasa perih, dia melihat darah menempel ditangannya,


Bukkkk


Ahmad membalas pukulan Rafa telak mengenai hidungnya, Rafa merasa sesuatu menetes dari hidungnya


" Jangan pernah ikut campur urusan ku" Ancam Ahmad sambil memegang kerah kemeja Rafa. Rafa menghempaskan Tangan Ahmad dan mendorongnya, kemudian berbalik memegang kerah baju Ahmad.


" Jangan difikir aku tidak tau seperti apa kamu di belakang Rista, Oh iyaa, pacarmu yang cantik jelita sedang menunggu di cafetaria" ujar Rafa

__ADS_1


" Brengsek... "


Ahmad terkejut,bagaimana mungkin Rafa bisa tau tentang hubungannya. Ahmad mendorong Rafa sekuat tenaga hingga Rafa terdorong ke tembok, Ahmad sudah siap untuk mendaratkan lagi pukulannya


tapi tiba tiba..


" Ahmad... Rafa.. Cukup" Seseorang berteriak cukup keras di depan pintu kamar Rista.


Rona...


Rona mendatangi mereka dengan wajah yang kesal.


" Tak bisakah kalian berkelahi di tempat lain?" Tanya Rona penuh emosi. Terlebih emosi pada Ahmad, Akhirnya dia tau seperti apa orang di hadapannya ini.


" Maaf Kak Rona" Ujar Rafa


" Saya harap ini kekacauan terakhir yang kamu buat di hidup adik saya" Ujar Rona tegas, matanya menatap Ahmad lekat lekat.


Ahmad menunduk, dia bingung harus berbuat apa. Rona jelas melihat tadi dia hendak memukul Rafa. Sepertinya bisnisny pun akan terken imbas karena kejadian hari ini.


" Sebaiknya kalian berdua pulang" Ujar Rona dambil berbalik dan meninggalkan mereka berdua.


Rafa terduduk di bangku koridor, hidungnya perih, sakit karena pukulan Ahmad tadi, darah masih menetes dari sana, hanya di tahan oleh tangannya, Sementara Ahmad berjalan menuju pintu dengan fikiran kusut, bagaimana dengan bisnisnya yang bergantung pada Rona juga bagaimana menjelaskan luka di bibirnya itu pada kekasihnya yang menunggu di cafetaria.


***


" Kak Ona... " panggil Rista hati hati


" Iya Ry.... " jawab Rona sambil tersenyum, senyum yang di paksakan


" Kak Ona baik baik aja? " Tanya Rista, dia melihat sesuatu yang beda di wajah kakaknya itu


" Ngga apa apa Ry, Malam ini kakak tidur di rumah ya, boleh? kamu di temani Agi dulu malam ini, boleh kan Gi, untuk malam ini kamu jagain Rista dulu"


" Kenapa kak?,Ry kan biasanya di temenin kak Ona" jawab Rista merengek, dia takut terjadi sesuatu dengan kakaknya, karena tiba tiba minta pulang, Rista khawatir ada hubungannya dengan pertengkaran di luar tadi


" Kakak ngerasa capek sekali hari ini Ry,ngga apa apa ya" Pinta Rona, dia memang merasa lelah sekali, sejak Rista masuk Rumah sakit,Rona memang selalu tidur di rumah sakit, dan hanya 1 kali pulang kerumah. Akhirnya dengan berat hati Rista mengiyakan Rona untuk pulang malam itu, dan di temani Agi. Walapun sebenarnya dalam hati Rista ingin Rafa lah yang menemaninya. Rafa sudah berjanji akan datang. Saat pertengkaran tadi, sebenarnya Rista mendengar suara Rafa, namun mengapa Rafa tidak masuk ke kamar saja setelah pertengkaran tadi, padahal Rista berharap setelah Rona keluar dan melerai merek, Rafa akan datang, namun ternyata tidak.


Rona segera mengemasi barang nya dan berpamitan ke Rista, tak lupa dia juga berpesan pada Agi, agar jangan sungkan menghubunginya bila terjadi sesuatu dengan Rista. Agi mengangguk, dia berjanji akan menjaga Rista. Rona kemudian meninggalkan kamar Rista, saat melewati koridor dia tidak melihat Rafa di sana, mungkin Rafa sudah pulang atau mungkin sedang mengobati lukanya. Rona sempat melihat tadi hidung Rafa mengeluarkan darah.


Namun ternyata Rona salah, saat dia melewati lobi rumah sakit dia melihat Rafa sedang duduk di salahsatu bangku di sana, hidungnya sudah di obati. Rona pun menghampiri Rafa, seharusnya tadi dia berterima kasih pada Rafa, karena jelas saat pertengkaran tadi Rafa membela Rista.


Rona menyodorkan sebotol minuman dingin

__ADS_1


" Ini bisa membantu ngurangin rasa sakit" Ujar rona sambil menyodorkan minuman


Rafa mendongkakan kepala


"Terimakasih kak " jawabnya sambil menerima minuman tersebut,Rona kemudian duduk di sampingnya


" Makasih ya Fa, kamu udah membantu memperlihatkan siapa Ahmad sebenernya" kata Rona


" huuufffhhh... " Rafa menghela nafas, Ahmad, lelaki itu, akhirnya Rafa bisa memukulnya juga


" Kamu punya dendam tersendiri ke Ahmad" tanya Rona penasaran, dia aneh mengapa Rafa bisa seemosi tadi, padahal Rista hanya temannya saja,bukan seseorang yang spesial


" Ngga ada kak, hanya kesal saja dengan tingkahnya, aku melihat semua kebohongan Ahmad dengan mata kepala aku sendiri, dan aku juga melihat bagaimana dia memperlakukan Rista"


"Ohhh.... begitu..." jawab Rona, padahal dia berharap Rafa memiliki perasaan pada Rista.


" Kamu belum jawab pertanyaan kakak yang dulu fa" kata Rona sambil menatap Rafa


" pertanyaan yang mana kak?" Seingatnya setiap Rona bertanya sesuatu tentang Rista, Rafa selalu menjawabnya.


" pertanyaan yang kamu sudah punya pacar belum , atau kamu sudah punya seseorang yang ada di hati kamu belum?"


Rona melemparkan pertanyaan yang enggan dia jawab, dulu saat Rona bertanya begitu, dia bisa menghindar, sekarang dia harus menjawab apa, apakah Rafa harus jujur, dia mencintai Rista, namun dia juga masih berpacaran dengan Marinda. Sama saja dengan Ahmad kalau begitu.


" Kok ngga di jawab" Tanya Rona lagi


Mau ngga mau Rafa harus menjawab


" Sudah kak, Aku sudah punya pacar, Marinda namanya" Jawab Rafa sambil menunduk, namun hatinya berbisik, tapi sebenarnya aku mencintai Rista.


" Apa Rista tau kalau kamu sudah punya pacar?" tanya Rona lagi


" tau kak" Jawab Rafa pelan, kepalanya menunduk, ingin sekali dia jujur pada Rona, meski dia memiliki Marinda, namun hatinya untuk sudah jadi milik Rista


Ron menghela nafas, Hah.... hari ini sungguh melelahkan baginya


" Kalau begitu, Jauhi Rista" Ujar Rona sambil menepuk pundak Rafa dan melangkah pergi.


Rafa terperangah mendengar ucapan Rona, bagaimana mungkin Rona menyuruhnya menjauhi Rista. Selama Rista sakit Rafa setia menemani, selama operasi, Rafa tidak beranjak, bahkan Rafa sudah janji akan makan cake bersama Rona dan Rista saat Rista sudah sembuh nanti. Lalu... mengapa Rona memintanya untuk menjauhi Rista, hanya karena dia sudah memiliki pacar.


Rista pasti sangat terluka bila mengetahui permintaan kakaknya itu.


💔💔💔💔

__ADS_1


__ADS_2