
Rista langsung berlari ke kamar Agi begitu selesai memarkirkan mobilnya di basemen.
" Kenapa lift lama banget sih" Ujar Rista sambil mengetuk ngetukan kakinyanke lantai. Begitu puntu lift terbuka buru buru dia masuk dan menekan tombol lantai Agi. di tangannya kini sudah ada obat Agi dan dua porsi bubur ayam untuk Agi makan.
" Assalamualaikum.. " Rista membuka pintu kamar Agi, Agi reflek berlari ke arah Rista dan memeluknya
" Ta, maafin aku Ta... kami ngga apa apa?" Tanya aGi panik. Rista masih diam mematung. Saat ini justru dirinyalah yang sangat khawatir dengan keadaan Agi.
" Aku ngga apa apa Gi, aku baik baik aja. justru aku khawatir sama kamu" Ujar Rista sambil melepaskan pelukan Agi, dia meraba kening Agi, demamnya sudah agak turun, namun masih pucat.
" maaf kalau aku lama " Ujar Rista sambil meletakkan bawaannya di atas meja makan
" ngga ada yang jahatin kamu kan di jalan?" tanya Agi lagi. Rista menggeleng, dia aneh dengan jawaban Agi. Selama di luar tadi tak ada satupun kejadian aneh.
" Kamu ngga usah khawatir Gi,aku ga apa apa ,aku bisa jaga diri aku "
" Mulai sekarang, kemanapun kamu pergi,harus ada yang nemenin kamu" Ujar Agi sambil duduk di meja makan dan menatap Rista dengan serius
__ADS_1
" Udah deh Gi, kamu yang lagi sakit, kok malah aku yang di khawatirin. udah ya, sekarang kamu makan dulu terus minum obat" Ujar Rista sambil menyodorkan semangkuk bubur ayam.
Sambil menunggu Agi menyelesaikan makannya Rista merebahkan dirinya sofa depan televisi. Dia sambil berfikir bagaimana caranya agar dia tidak meninggalkan Agi, sementara dia juga ngga mungkin meminta izin ke mami untuk tidur di hotel bersama Agi. Akhirnya Rista mempunyai ide, Agi harus ikut bersamanya ke rumahnya. Dia kemudian mengirim pesan ke mami dan menceritakan kondisi Agi. Mami malah memarahi Rista mengapa Agi di biarkan menginap di hotel, padahal Agi bisa menginap di rumah mereka. Setelah mami setuju untuk membawa Agi ke rumah, kini tinggal membujuk Agi agar dia mau mengikuti saran Rista.
Setelah selesai makan Agi hendak membereskan mangkuk dan sendok, namun Rista buru buru melarangnya.
" Duduk aja, ngga ribet apa Gi beresin bekas makan sambil megangin infusan gitu" Ujar Rista sambil neraih mangkuk dari tangan Agi, kemudian menaruhnya di kitchen sink. Agi hanya tersenyum melihat tingkah Rista. Rista kemudian menyodorkan segelas air ke tangan Agi.
" bentar lagi minum obat yah" ujar Rista sambil membuka obat obatan Agi yang udah di belinya di apotek. kemudian Rista duduk di depan Agi.
" Gi, malam ini kamu tidur di rumahku ya, aku ga mungkin tinggalin kamu sendirian di sini" Ujar Rista sambil menatap Agi
" Iya, malam ini kamu tidur di rumah aku. aku ga mau ninggalin kamu sendirian di sini"
" tapi Ta, aku ga kenapa kenapa, kamu ga usah khawatir.
Rista melengoskan kepalanya, sudah dia duga akan sulit membujuk Agi agar mau tidur di rumahnya.
__ADS_1
" Apa alasannya kamu ga mau istrht di rumah aku, kamu lagi sakit Gi, ngga ada yang bisa nungguin kamu di sini, aku ngga mungkin tidur di hotel bareng kamu. aku khawatir ninggalin kamu sendirian" Ujar Rista menjelaskan .
Agu tersenyum, kemudian menjawab " Aku beneran ngga apa apa Ta, kamu pulang aja, aku pasti kabarin kamu kalau kenapa kenapa" Ijar Agi sambil mulai meminum obatnya. meski demam dan mualnya sudah berangsur hilang, namun dia masih harus tetap meminum obat.
" Gi, aku khawatir sama kamu. pokoknya kamu malam ini pulang ke rumah aku. mami juga sudah setuju dengan ide aku. ngga ada debat lagi. pokoknya kamu pulang bareng aku. titik " Ujar Rista sambil berdiri dan beranjak menuju jendela. Agi menjengkelkannya, apa Agi ngga sadar kalau Rista begitu mengkhawatirkan dia. Rista menatap ke jalan, dia bertanya dalam hati, mengapa dia begitu mengkhawatirkan Agi,apakah dia sudah mulai membuka hati untuk Agi, apakah sebenarnya dia mempunyai perasaan untuk Agi namun Rista tak menyadarinya.
Agi giba tiba memeluknya dari belakang
" Kamu betul betul khawatir sama aku?" tanya Agi, Rista terkejut dengan pelukan Agi. Namun dia juga enggan melepaskan
" Apa kamu udah membuka hati kamu buat aku Ta?" Tanya Agi lagi. Rista membalikan badannya. matanya menatap Agi. mata yang selalu menangkannya. Agi menarik Rista ke dalam dekapannya. " Kamu harus tau Ta, perasaan aku ke kamu ngga pernah berubah, terimakasih udah khawatir ke aku"
Rista menatap jernihnya mata Agi, ya, kini dia sadar,rasa khawatirnya ke Agi sebetulnya karena dia memiliki perasaan. Rista begitu bahagia saat agi mempehatikannya,khawatir dan marah saat Agi tidak memberinya kabar, dan bahkan rRista cemburu saat Agi di kelilingi pegawai pegawai wanitanya. Rista lambat menyadari perasaannya. Namun diaa sadar, sebelum semuanya terlambat.
Rista mengengecup lembut bibir Agi.
" Maaf aku terlambat menyadari perasaanku" Ujar Rista sambil memeluk Agi. " Aku baru menyadari, aku khawatir karena aku ngga mau kehilangan kamu "
__ADS_1
Agi mendekap Rista erat, perasaannya campur aduk, yang jelas Agi sangat sangat bahagia mendengar ucapan Rista. Akhirnya Rista dapat membuka hatinya untuk Agi. Kedua insan itu larut dalam pelukan diiringi langit malam kota Bandung. Akhirnya Rista menyadari, perasaannya pada Agi lebih dari sekedar teman dekat. dan dia pun akhirnya sadar, perasaannya terhadap Rafa mungkin hanya obsesi semata.