
Rafa menikmati secangkir kopi kesukaannya sambil di temani rokok di balkon. Pertemuan dengan Marinda tadi pagi memang masih mengganjal di hatinya, beberapa waktu yang lalu dia memang berencana untuk berpisah dengan Marinda, namun sungguh bukan perpisahan seperti ini yang di harapkannya. Kini justru semuanya berbalik, saat keinginan untuk berpisah dengan Marinda sudah di depan mata, bahkan nyaris terlaksana, justru saat itu juga Rafa merasa tidak ingin melepaskan Marinda. Info dari grup liliputh menyebutkan Rista pulang ke kediamannya malam ini, selain itu Rona juga sudah tiba dari Bali. Rafa menghela nafas, mungkin seharusnya dulu dia mengikuti saran Rona , untuk menjauhi Rista. Andai saja Rafa tahu akan seperti ini kejadiannya.
tok.. tok.. tok...
Tiba tiba pintu kamar Rafa di ketuk dari luar, tak berapa lama ibunya masuk di ikuti Marinda di belakangnya. Rafa mengernyitkan dahi, seingat dia, setelah percakapannya tadi pagi Marinda pergi begitu saja dan tidak menyiratkan kalau mereka akan berbaikan, bahkan Marinda seolah memutuskan hubungan mereka.
" Fa, ini ada Marinda, katanya sejak kejadian di acara itu kalian belom sempet ngobrol ya" Ujar Ibunda Rafa sambil memasuki kamar putra semata wayangnya.
" Eh Hay Nda, aku kirain kamu ngga akan ke sini " Ujar Rafa terkejut. Marinda hanya diam seribu bahasa, tak ada yang tahu apa yang di fikirannya, namun dalam hatinya dia berucap "Kalo aja bunda ku ngga nyuruh aku ke sini aku juga ga akan mau, "
"Yaudah kalian ngobrol dulu aja ya, Oke Nda, tante tinggal ke bawah dulu ya " Pamit ibu Rafa.
"Iya tante, makasih banyak ya" Ujar Marinda ramah, sekilas senyum manis menghiasi wajahnya. Ah, dulu senyum itu selalu ada untuk Rafa.
__ADS_1
"Aku kirain kamu ngga akan ke sini setelah kita ngobrol tadi pagi " Ujar Rafa, dia mematikan rokoknya dan kemudian duduk di sebelah Marinda, diatas ranjang.
" Bunda pengen masalah kita cepet selesai, dia ngga enak juga dengan keluarga Rista, mereka kan berteman baik " Ujar marinda sambil mengela nafas.
" Kata anak anak liliputh Rista ada di rumahnya sekarang, kita ke sana aja atau gimana?" Tanya Rafa.
" Aku kan udah bilang tapi pagi Fa, masalah konferensi pers itungga terlalu sulit, ada yang lebih penting dari itu" ujar Marinda sedikit kesal.
" Perasaan kamu ke aku" Ujar Marinda. Rafa menghela nafas, lagi lagi hal itu yang di debatkan Marinda
" Aku ingin kamu jujur, sebenarnya seperti apa perasaan kamu ke aku, ujar Marinda tajam.
Rafa kemudian meraih tangan Marinda ke pangkuannya " Nda, denganrkan aku ya .." Ujar Rafa lembut, kedua mata mereka saling bertatapan. Nafas Marinda tercekat di tenggorokannya.
__ADS_1
***
Flash back...
Setelah pertemuan pagi hari dengan Rafa, Marinda segera bergegas menuju mobilnya, dia tidak ingin siapapun mengetahui keberadaannya. Marinda sempat termenung beberapa saat di dalam mobilnya, Apa yang telah dia ucapkan barusan, Tanyanya dalam hati, dengan perkataannya barusan bisa saja Rafa memilih untuk meninggalkannya dan kemudian kembali mengejar Rista. Jujur Marinda memang sakit hari sekali dengan ucapan Rafa di video tersebut, Bagaimana mungkin Rafa dengan tenangnya bisa menyebutkan bahwa dia mencintai Rista sementara mereka masih menjalin hubungan. Namun jauh di dalam lubuk hari Marinda, Marinda tahu, bahwa dia masih mencintai Rafa.
Marinda memukul kesal mobilnya, menyesali ucapannya terhadap Rafa, namun nasi terlanjur menjadi bubur, Marinda juga tidak mungkin menarik kembali ucapannya kepada Rafa. " Bodohnya akuuu " Sesal Marinda. Marinda akhirnya memutuskan untuk melesatkan mobilnya menuju apartemenna, sebelumnya dia telah memberitahu bundanya bahwa dia akan pulang ke Apartemennya, dengan alasan takut ada media yang menunggu di rumah, meskipun Marinda tahu, apabila ada awak media di sekitar rumahnya, itu akan di handle oleh keamanan dan assistennya.
Sesampainya di Apartemennya Marinda langsung mengempaskan tubuhnya di atas ranjang, Apartemen dengan satu bedroom itu di beli dengan hasil jerih payahnya di dunia entertaiment, awal karir menjadi photo model hingga kini dia menjadi seorang aktris di jalaninya dengan sungguh sungguh, Marinda sebisa mungkin menjauhi semua potensi gosip miring, salah satunya adalah membatasi diri dalam bergaul dengan laki laki. Selain itu memang hatinya hanya di serahkan pada satu lelaki. Lelaki yang sedari dulu berhasil mencuri perhatian Marinda dengan sikapnya yang sederhana, perhatian terkesan cuek namun sebenarnya memiliki hati yang hangat. di sela kesibukannya Rafa lah yang selalu menjadi penyemangat, di sela liburannya pasti Rafa lah yang menjadi tujuan pulangnya.Meskipun Marinda tahu, perasaan Rafa terhadapnya bukan cinta, melainkan sayang seperti kakak pada adiknya, bertahun lamanya Marinda menjaga perasaannya terhadap Rafa, begitupun rafa, mereka berusaha menjalani hubungan sebagaimana layaknya pasangan. Meski marinda tahu, Rafa kerap lebih memperhatikan teman temannya, Rista salah satunya, seringkali Marinda di buat cemburu oleh perhatian Rafa kepada Rista, namun berkalikali pula Marinda menegaskan kepada dirinya sendiri bahwa Rista dan Rafa hanyalah sebatas temn tak lebih. hingga suatu hari video saat Rafa di Artemis merebak di media, Kala itu Marinda masih shooting di Jogja sedangkan setahu Mainda Rafa berada di Bandung, apa yang dia saksikan di video tersebut benar benar melukai hatinya, kepercayaan dan perasaan yang dia bangun selama ini untuk Rafa hilang sudah. Namun Marinda pun tetap berusaha meyakinkan diri bahwa Rafa masih miliki perasaan padanya dan diapun sama, hingga akhirnya rencana pertunangan mereka dapat di gelar sebagaimana mestinya. Namun di tengah perujuangan hati Marinda, siapa yang menyangka, video tersebut malah tersebar di acara yang begitu di nantinya.
Malam itu hancur semua pertahanan, harga diri, perasaan , kepercayaan Marinda terhadap Rafa, Marinda sudah tidak mampu lagi berkata kata, tanpa memperdulikan Rafa sedikitpun Marinda berlari keluar venue acara. Tak peduli lagi seperti apa nanti pemberitaan media, tak peduli lagi bagaimana hubungannya dengan Rafa, hatinya terlanjur sakit, teramat sakit sekali. Malam itu Marinda langsung melesatkan mobilnya menuju partemennya, Tangisnya langsung pecah begitu kakinya menjejakan kaki di apartemennya. Tak lama dari itu ponselnya berdering ratusan kali menandakan assisten dan keluarganya mencari keberadaannya, Marinda hanya membalas pesan kepada managernya, mengatakan bahwa dia berada di apartemennya dan menenangkan diri sebenrat dan akan langsung pulang.
Beruntungnya logika Marinda masih bisa berfikir menggunakan logikanya, meski hatinya porak poranda,, malam itu juga dia pulang ke rumahnya, langsung bertemu dengan kedua orangtuanya dan Managernya. Tentu saa hal yang terberat adalah menjelaskan perihal video itu kepada kedua orang tuanya juga kepada kedua orang tua Rafa. Hingga akhirnya Marinda memutuskan managernya akan segera menggelar konferensi pers sementara, tidak akan ada pembahasan apapun sampai Marinda dan Rafa mengkonfirmasi kebenaran perasaan Rafa pada video itu. Karena ternyata keluarga Marinda pun terluka hatinya dengan pernyataan Rafa seperti itu, tentu saa terluka. orang tua mana yang tak sakit hatinya mendengarkan calon suami putri mereka menyatakan perasaan pada perempuan lain di hari pertunangan mereka. Namun akhirnya kedua orangtua Marinda menyerahkan sepenuhnya keputusan hubungan mereka pada Marinda dan Rafa, Namun mereka berdua harus bisa menyelesaikannya dengan segera.
__ADS_1