
sementara itu Rafa dan Rista...
Rafa masih melesatkan mobilnnya menjauh dari kota Jakarta, di iringi lembut lantuna lagu dari penyanyi favorit Rista.
" di tepian nestapa, hasrat terbungkam sunyi.
entah aku pengecut, entah kau tidak peka.
Ku mendambakanmu, mendambakanku
bila kau butuh telingan tuk mendengar, bahu tuk bersandar
raga tuk berlindung.
pastikan kau temukanku di garis terdepan
bertepuk dengan sebelah tangan.
Rista ikut mendendangkan potongan lagu yang di dengarnya.
Rafa melihat ke arah Rista sekilas, dia faham lagu itu kemungkinan besar di tujukan Rista untuknya. terlihat dari cara rista menyanyikan lagu itu, begitu di hayati, apalagi Rafa sudah tau kalau Rista menyimpan perasaan untuknya.
Rafa mengajak Rista menikmati kawasan puncak Bogor malam itu, udara dingin langsung terasa begitu Rista keluar dari mobil,apalagi dia hanya memakai kaos lengan pendek. Rafa langsung memakaikan hoodienya yang dibawanya dari hotel.
" Makasih Fa" ujar Rista, begitu dia tau Rafa menyelimutkan jaketnya itu, aroma parfum Rafa langsung memenuhi indera penciuman Rista.
" Sama sama. gimana suka pemandangannya? " Tanya Rafa sambil berdiri di sebelah Rista.
Rista mengangguk. Di hadapannya kini terhampar pemandangan lampu malam berkelap kerlip. pemandangan yang selalu Rista sukai setelah pantai.
"sukurlah kalo kamu suka, ngga sia sia aku ajak kamu jauh jauh ke sini.dan ga sia sia juga aku jauh jauh dari Bandung buat ketemu kamu"
Rista menengok ke arag Rafa. sedikit heran dengan ucapan Rafa barusan,
"apa mungkin Rafa juga punya perasaan sa. a aku" Tanya Rista dalam hati.
__ADS_1
" Makasih ya Ta udah mau pakai hadian dari aku" ujar Rafa sambil tersenyum ke arah Rista, dia cantik dengan kalung itu.
Rista refleks memegang kalung pemberian Rafa. " aku yang harusnya bilang makasih, kalung ini cantik banget".
Rista sungguh senang malam itu, sampai rasanya ingin terus tersenyum. bertemu Rafa, jalan jalan, menikmati malam berdua. Sejenak dia melupakan kalau Rafa sudah bertunangan dengan Marinda.
ddrryytt.... drrttt...
Rafa merasakan hpnya bergerat di saku nya,dia merogoh dan melihat nama my. M di sana, nickname untuk Marinda di hpnya. Rista mempersilahkan Rafa mengangkat telepon dari Marinda. sementara Rista sendiri tersenyum dan menghela nafas, Rista kink sadar Rafa sudah ada yang memiliki.
Rafa sedikit menjauh dari Rista saat mengangkat telepon dari Marinda, dia takut Rista ngga enak apabila mendengar percakapannga dengan Marinda, dan dia juga tidak ingin Marinda menaruh curiga pada Rista. Begitu selesai berbincang dengan Marinda Rafa langsung menghampiri Rista lagi. Ingin Rafa berbicara " maaf, sebetulnya hati aku sudah sama kamu" namun kata kata Rafa itu hanya tercekat di tenggorokan nya. tidak sampai pada Rista.
" Gimana kabar Marinda? " tanya Rista tiba tiba.
" Eh... dia.. dia baik, barusan dia ngabarin, masih di Jogja, mungkin sekitar 2mingguan lagi " jawab Rafa sambil menjelaskan . padahal Rista hanya bertanya kabarnya Marinda saja.
"Oh... kerja? " tanya Rista lagi, penasaran juga apa yang di lakukan tunangan Rafa itu sebenarnya, karena setahu Rista,Marinda sering sekali berada di luar kota.
"Iya, dia lagi ada pemotretan dan shooting"
Rista memang jauh merasa lebih nyaman saat jaketnya benar benar dia gunakan, dari tadi dia memang merasa udara sidah menusuk nusuk ke kulitnya.
"Fa, cari minuman hangat yuk" ajak Rista
" ayok" ujar Rafa sambil mengangguk, dia menggenaggam tangan Rista menuju ke tempat penjual minuman dekat situ.
ada penjual beraneka minuman dan makanan seperti jagung bakar, ketan bakar, dan roti bakar. Rafa memesan kopi hangat dan roti bakar, sedangkan Rista memesan bandrek dan juga roti seperti Rafa.
"ahh... enaknya" ujar Rista begitu mencicipi Bandrek hangat pesanannya. Aroma jahe langaung Teras, tenggorokan dan badannya terasa lebih hangat sekarang. Rista berharap semoga dirinya ngga masuk angin.
Setelah menghabiskan roti dan juga minumannya Rafa mengajak Rista untuk kembali ke Jakarta. Rafa terus tersenyum selama perjalann pulang mereka, dia bahagia akhirnya bisa bertemu Rista. Rindunya kini terbayar, dan dia semakin yakin dengan perasannya. Sekarang tinggal bagaiman Rafa berterus terang dengan Marinda.
Mobil Rafa memasuki basement Apartemen Rista saat jam menunjukan pukul 1 dinihari, selama Rista di Jakarta,dia baru pulang selarut itu, bahkan saat dengan Agi pun ngga pernah sampai jam 1 dinihari. Waktu bersama Rafa benar benar tidak terasa.
"aku antar ke atas" ujar Rafa begitu Rista keluar mobilnya. Rafa merasa harus bertanggung jawab karena sudah memulangkan selarut itu.
__ADS_1
" Ngga apa apa Fa, ngga usah, aku udah ngabarin kak Rona kok, kalaunaku hari ini pergi bareng liliputh dan kamu" jawab Rista.
Namun Rafa tetap mengantar Rista menuju ke kamarnya. Rona harus tahu kalau Rafa bertanggung jawab telah memulangkan Rista selarut itu.
ting.. tong...
Rafa memijit bel kamar Rista, sesuai perkiraannya Rona belum tidur dia pasti menunggu Rista pulan. Rafa menangkap tatapan aneh Rona saat dia membukakan pintu, begitubjuga Rona, dia merasa aneh mengapa Rafa yang mengantar Rista.
" Assalamualaikum Kak, maaf larut malam pulangnya" sapa Rafa
" Wa'alaikumsalam, Eh Rafa... Oh iya ga apa apa, darimana memangnya? "
"tadi saya Ngajak Rista jalan dulu, karena kebetulan Agi juga td ada keperluan mendadak, jadi aku yang anter Rista pulang" Rafa memberikan penjelasan
"Oh ya udah ngga apa apa, makasih ya"
"sama sama kak, aku langsung pulang ya" pamit Rafa pada Rona dan Rista.
"Makasih ya Fa" Ujar Rista sambil tersenyum. kemudian Rafa berlalu pulang ke hotel.
Rista langsung menjatuhkan badannya ke sofa depan tv, dia melihat Rona menatap ke arahnya
" jangan marah kak, Rie ngga tiap hari pulang malem" jelas Rista
" no.. kakak ga marah sama kamu, kakak marah sama Rafa"
" lho kenapa? " tanya Rista aneh
"dia udah punya tunangan, tapi masih ngajak kamu jalan" jawab Rona sambil duduk sebelah Rista. Rista kini menatap kakaknya, dia mengulum bibirnya dan menghela nafas, yang di ucapkan Rona memang benar.
" Jangan bermain api kalo kamu ga mau kebakar" ucap rona sambil mentoyor dahi Rista dengan jarinya.
" Ih.. Kak Ona" Rista menepis tangan kakaknya itu, namun Rona merasakan seusatu di dahi adiknya. Rona kemudian menempelkan telapak tangannya di kening adiknya. benar dugaannya, kening Rista terasa panas. Adiknya demam. Rista kemudian menempelkan tangannya ke keningnya juga, benar, dia merasa demam.
"kalo ngga biasa keluar malem ga usah kelayapan, masuk angin kan jadinya" ujar Rona sambil beranjak ke kotak obat, mancari obat penurun demam untuk adiknya. Rista hanya manyun di omelin seperti itu oleh kakaknya, dia memang gampang masuk angin. Namun kali ini dia menolak minim obat, nanti saja katanya. sebagai gantinya Rista memilih minyak kayuputih. setelah membersihkan badan dan berganti baju dia mengoleskan minyak kayuputih ke sekujur badannya kemudian beranjak tidur. Rista berharap semoga besok sudah membaik.
__ADS_1