
" Ta... " Ahmad memeluk pundak Rista, bila ada yang lebih dari kata maaf pasti sudah di sampaikan pada Rista saat itu. Dulu dia kia perasaan cinta akan tumbuh seiring waktu, namun ternyata bukan pada Rista-lah perasaan itu tertuju, semakin kesini Ahmad semakin yakin bahwa peduli dan sayangnya ke Rista, hanya sebatas sayang kakak ke adiknya.
" berhentilah meluk Aku Mad, kamu tau itu hanya memperburuk rasa sakit aku" ujar Rista,dia berusaha agar air matanya tidak tumpah saat itu. perasaannya masih terus berkecamuk. fikirannya bingung. " Adakah kejutan lain yang ingin kamu sampaikan padaku hari ini? " tanya Rista lagi pada Ahmad, rasanya dia sudah mati rasa akan apapun hari itu.
" bila ada yang lebih dari kata maaf, pasti sudah aku berikan " Ujar Ahmad sambil menggenggam tangan Rista. dia bersungguh sungguh untuk itu, jauh di dasar hatinya dia begitu peduli pada Rista.
Rista memegangi keningnya, pening sekali terasa, semua penjelasan Ahmad tadi masih terngiang ngiang di otaknya.
" Aku mau pulang Mad " ujar Rista sambil beranjak menuju pintu, reflek Ahmad menarik tangan Rista.
" Aku anterin kamu Ta, aku tuh sayang Ta sama kamu, percaya itu "
" Sayang kata mu? terus yang kamu ucapkan tadi apa? basa basi aja? bahkan kamu tau bagaimana aku dulu terluka oleh Fahry " teriak Rista, dari tadi dia berusaha menguasai diri, namun akhirnya runtuh juga. " Terimakasih untuk semuanya Mad, dan jangan ikuti aku" ujar Rista sambil berjalan keluar dan menuruni tangga.
Mana mungkin Ahmad tega membiarkan Rista pulang sendiri, bagaimanapun juga siang tadi Ahmad menjemput Rista dan disambut perasaan suka cita, dan sore ini, dia menabur garam di luka Rista.
Ahmad buru buru menyusul Rista, menuruni tangga dan menyambar kunci mobil yang terletak di meja resepsionis, kemudian dia menarik tangan Rista, beberapa pegawai tampak kebingungan melihat tingkah laku majikannya itu. namun mereka memilih cuek dan masa bodo.
" Aku anterin kamu Ta " ujar Ahmad sambil menarik tangan Rista dan membawanya ke mobilnya. Rista tak punya pilihan lain selain menuruti perintah Ahmad, apalagi beberapa karyawan memperhatikan mereka.
Selama perjalanan pulang tak satu patah katapun keluar dari mulut Rista, dan Ahmad terlalu ciut nyalinya untuk memulai percakapan, Rista memandang keluar jendela mobil, senja yang indah, namun tak seindah suasana hatinya.
" Ta, apapun yang terjadi dengan kita, aku masih selalu sayang dan peduli padamu " Ujar Ahmad begitu mereka sampai di kostan Rista. namun tak sepatah katapun keluar dari mulut Rista,dia sudah mengunci rapat rapat mulutnya. sekali saja dia berbicara, tangisnya bisa pecah saat itu juga.
***
hari hari selanjutnya bagi Rista adalah hari yang terasa lambat dan berat, Ahmad memang masih menghubunginya, sekedar bertanya apakah dia baik baik saya, dan Rista hanya menjawab seperlunya, kadang tidak menjawabnya.
Berkali kali dia menangis sendiri memeluk bantal, merasakan sakit yang teramat sangat,merasakan sesak di dadanya, betapa hancur hatinya, dalan satu tahun dua laki laki dapat menghancurkan hatinya. Namun sekarang untungnya tidak sedang ujian, Rista tak perlu bersusah payah menguatkan diri ke kampus, dia sedang menunggu hasil ujian semesternya keluar, namun ternyata mengurung diri di kostan hanya memperburuk suasana.
pagi itu pintu kostannya tiba tiba diketuk, Dede dan Tami berteriak teriak depan pintu kamar,mangagetkan Rista yang rasanya baru saja terlelap beberapa menit.
" Ta... kamu ngga apa apa" cecar Tami begitu pintu di buka.
__ADS_1
Dede langsung menyerobot masuk melihat keadaan Rista, sudah hampir satu minggu mereka ngga ketemu, Dede dan Tami kebetulan pulang kampung ke Tasikmalaya sedangkan Via mengikuti kerja sampingan sedangkan Ane katanya pulang kampung juga. Seminggu yang lalu setelah putus dari Ahmad, Rista hanya mengabari ke liliputh kalau hpnya rusak,mungkin agak susah di hubungi,dan hanya membalas pesan singkat. tidak ada yang curiga sama sekali, mereka pun tidak mengkonfirmasi berita itu ke Ahmad. hanya tadi pagi Ane menyarankan agar melihat keadaan Rista, Ane khawatir karena mendengar kabar dari Agi bahwa Rista dan Ahmad putus.
Dede dan Tami yang kebetulan sedang dalam peejalanan ke Bandung langsung menuju Kostan Rista. selama perjalanan menuju kostan, mereka sempat menghubungi Ahmad, dan Ahmad membenarkan berita itu, semakin paniklah mereka, ditambah Ahmad juga mengabarkan dia belum mendapat kabar lagi dari Rista sejak dua hari yang lalu.
Tami memperhatikan Rista dengan seksama, kantung mata yang terlihat jelas, Rista yang makin kurus, karena makannya ngga teratur, kamar yang berantakan, Rista bahkan tidak tau kapan terakhir membereskan kamarnya.
Tami memeluk Rista " Kita akan selalu ada buat kamu Ta " ujar Tami,
" Huhuhuuu...." tak perlu waktu lama agar tangis Rista Tumpah, Tami bahkan membiarkan Rista puas menangis hingga sesegukan dalam pelukannya.
" Kita percaya kamu selalu kuat menghadapi semua ini " ujar Dede sambil mengusap punggung Rista.
setelah tangis Rista mereda, mereka bertiga duduk di sofa depan kamar Rista, Rista menceritakan semua yang terjadi hari itu, betapa berbunga bunganya dia, juga betapa tiba tiba semua itu hancur.
" Ternyata begitulah laki laki " Ujar Dede
" iya de, ternyata akhirnya sama dengan cerita Kak Fahry " ucap Rista sendu
" yang kuat ya Ta... " Dede ikut menambahkan sambil memeluk Rista. Mereka bertiga saling menguatkan, Ahh... ternyata lagi lagi dalam keadaan terpuruk, sahabat sahabatnya lah yang selalu setia menopang dirinya.
" Semoga ini jadi langkah yang baru, makasih yaaa selalu hadir buat aku " Ujar Rista memeluk kedua sahabatnya.
Seharian itu Dede dan Tami menemani Rista, mereka membereskan kostan Rista yang sudah seminggu ini di biarkan berantakan, biasanya Rista adalah orang resik dan peduli kebersihan, namun akibat patah hati oleh Ahmad, kamarnya hancur berantakan.
Rista membuka lemari pakaiannya, melemparkan beberapa potong baju dan dress yang sempat di belikan Ahmad, juga accesories yang lainnya. Dede sempat melarang untuk membuangnya, namun Rista tidak mau lagi mengingat Ahmad, sama seperti dulu dia ingin melupakan Fahry.
Menjelang tengah hari, mereka baru selesai membereskan kamar Rista, Rista tinggal mandi dan berdandan. meskipun mereka belum ada rencana kemana mana. Namun Rista merasa kalau dia harus move on. Setelah Rista selesai mandi, Tami dan Dede berpamitan kembali ke kostan Rista terlebih dahulu, nanti malam mereka janjian dengan Via dan Ane untuk hang out bareng sambil menghibur Rista.
***
18hours Caffe jam 9 malam.
Via, Ane, Rista,Tami dan Dede tampak Asyik menikmati suasana malam di caffe tersebut, mereka sengaja memilih caffe tersebut karena ada live music dan beberapa bir. Rista, Via, tami dan Dede sepakat untuk memesan minuman soda biasa, sedangkan Ane memesan bir, mereka tidak pernah mempermasalahkan sama sekali. selama Ane tidak aneh aneh dan baik baik saja, mereka mengizinkan mengizinkan saja.
__ADS_1
Rista menghabiskan cukup banyak rokok malam itu, geng liliputh sama sekali tidak melarangnya, mereka tau Rista sedang patah hati, dan sedang membutuhkan pelampiasan, namun di sela sela rokoknya Rista menyempatkan diri membalas pesan, dari tadi hpnya ngga berhenti bergetar.
" Sibuk amat sist " Ujar Ane sambil kepo ke hp Rista
" Yeee.. kepo deh" Ujar Rista sambil tertawa, hatinya sedikit terhibur dengan suasana malam itu. sebuah band membawakan musik yang up beat malam itu membuat Rista kembali bersemangat
" Emang lagi WA an ama siapa Ta?" tanya Dede sambil menghembuskan rokoknya
" Ada deh, temen doang " jawab Rista santai
" Eh baru aja putus dari Ahmad, udah nyari lagi" Ane bersuara lagi
" Yee... aku masih sakit hati tau sama dia, ini mah cuman temen aja "
" Iyalah patah hati ampe tadi siang di kostan nangis bombay " Ujar Tami sambil tertawa. di sambung tawa liliputh yang lain.
Memang tak butuh waku lama bagi Rista untuk patah hati asal ada gengnya itu, rasanya beban di hatinya sedikit berkurang.
" Cieee Ane lagi fallin love" Canda Rista, giliran dia yang kepo ke Ane di sebelahnya, yang kebetulan mengirim gambar hati ke seseorang.
" Ihhh.... ngintippp " Ujar Ane sambil menutupkan Hpnya ke dadanya, nanti ada saatnya liliputh tau pujaan hatinya.
" Lah Ne, sama kita main rahasia rahasiaan segala " ujar Via
" namti kalau udah saatnya dia balalan aku bawa kokz sekarang dia masih malu " Ujar Ane " lagi sibuk banget dia ngurusin kerjaannya"
" Ohh dia udah kerja " tanya Rista
" Udah, udah lumayan mapan sih, tapi ya gitu diamah, cuek kadang kadang" jelas Ane
" Cieee... Ane jatuh cinta " Ledek Tami sambil melemparkan kacang ke Ane.
Mereka semua menikmati malam itu. Rista pun begitu, sepertinya seseorang telah mengusik hatinya lagi, Ahh padahal baru tadi siang dia nangis.
__ADS_1