
Rista membuka matanya saat mendengar seseorang menyibakan tirai tempat tidurnya.
" Ta... maafin Aku " kata Agi penuh rasa bersalah. Rista hanya tersenyum menjawab ucapan Agi, mengkin karena pengaruh obat Rista merasa lemas dan sedikit sakit.
" bagian mana yang sakit Ta" Tanya Rafa kemudian,dia berdiri sebelah Agi, sedih melihat keadaan Rista
" maafin ngerepotin kalian ya" ujar Rista lirih, dia masih belum bisa membuka mulutnya lebar lebar, ada rasa kaku dan kebas disana,
" kamu ga ngerepotin Ta, kita sayang sama kamu " Jawab Rafa sambil mengusap tangan Rista, Agi melihat pemandangan itu dengan rasa sakit. mungkinkah Rafa juga sayang ke Rista, sama seperti dirinya, tapi Rafa kan sudah punya Marinda, ucap Agi dalan hati.
" Ta, kamu akan pindah ke ruang perawatan, aku mau urus administrasi nya sebentar ya... " pamit Agi dengan lembut, di usapnya kening Rista. Rafa melihat pemandangan itu, Apa Agi sayang juga ke Rista sama seperti dirinya,
Rista menggangguk mengiyakan Agi. Selepas Agi pergi, Rafa duduk di sebelahnya. tangannya menyentuh tangan Rista yang sakit.
" Kamu seharusnya ngga belajar motor Ta, lihat sekarang kamu kaya gini" ujar Rafa sedih
" maaf ya Fa, kamu jadi ikutan repot, mungkin tadi aku kurang hati hati"
" Lagian Agi juga, kenapa ngizinin kamu buat belajar motor dia sih, motornya kan besar" Raga agak kesal
" Aku yang maksa Fa, udah ya Fa, jangan marah marah ya...mmmhhhh.... " ujar Rista lagi, sambil memegang kepalanya, dia merasa kepalanya tiba berdenyut sakit, dia sedikit mengerang kesakitan.
" Kenapa Ta" Rafa tiba tiba panik melihat Rista kesakitan, bukankah harusnya dia tidak merasa sakit lagi karena sudah di berikan obat oleh dokter
" Kepala aku sakit Fa, " Rista merasakan kepalanya semakin sakit, sekelilingnya terasa berputar, Dia tidak bisa lagi mendengar Rafa yang menyebut namanya dengan panik, beberapa detik kemudian, Rista sudah tak sadarkan diri.
Rafa berlari ke meja IGD, didapatinya Dr. Reza sedang berbincang dengan suster
__ADS_1
" Dok.. itu... Rista ... " ujar Rafa panik, tanpa menunggu kalimat Rafa selesai Dr. Reza langsung menuju tempat Rista. Rafa mengikutinya dengan cemas.
Dokter Reza segera memeriksa keadaan Rista, tadi keadaan Rista baik baik saja, Dokter Reza membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut guna memastikan keadaan Rista, Dr. Reza khawatir ada benturan lain di kepalanya, tidak hanya benturan yang mengenai giginya. Agi yang baru tiba dari bagian administrasi terkejut melihat Rafa yang panik di dekat Rista.
" Ada apa Fa?" Tanya Agi
" Rista ngga sadar lagi " jawab Rafa cemas
Agi menghela nafas berat, dia benar benar khawatir, baru beberapa menit yang lalu dia masih bisa berkomunikasi dengan Rista, padahal Agi memperoleh kabar baik, dia sudah mendapatkan kamar perawatan bagi Rista, dia memilihkan kamar VIP agar Rista tidak terganggu dengan pasien yang lain, dan dia dapat leluasa menemani dan mengurus Rista.
Dokter Reza keluar dari tempat Rista dengan wajah gusar
" Mas, boleh minta waktunya lagi, ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan" ujar dokter Reza. dia mempersilahkan Agi dan Rafa menuju ruang dokter.
Dokter Reza menjelaskan kemungkinan yang terjadi, kekhawatiran karena rasa sakit di kepala Rista bisa saja diakibatkan karena benturan, mengingat Rista mengendarai motor tidak menggunakan helm.
" Saya masih berharap sakit di kepala mbak Rista karena pengaruh benturan di gigi dan berpengaruh pada syaraf giginya di kepala, namun saya juga harus memastikan, apakah ada benturan lain selain di area mulut dan gigi?" tanya Dokter Reza
Di sebelahnya Rafa melihatnya dengan tatapan tajam, bagaimana mungkin Agi tidak bersama Rista saat itu, bukannya mereka sedang belajar motor, ujar Rafa dalam hati
" Hhhmmm baiklah kalau begitu, saya akan meminta persetujuan untuk CT Scan, siapa diantara mas berdua ini yang bersedia menandatangani persetujuannya " Tanya dokter Reza. Rafa dan Agi saling bertatapan, mereka berdua tidak mungkin menandatangani dokumen penting seperti itu, harus wali sah Rista yang menandatanganinya, dan daritadi mereka lupa untuk mengabari keluarga Rista.
" Hhhmmm begini dok, sebetulnya kami bukan wali sahnya Rista " Jelas Agi. Rafa menatap Agi lagi, Dia padahal sudah bersedia untuk menandatangani persetujuan CT Scan Rista, dia bahkan siap menandatangani berapapun biaya yang harus di keluarkan basal Rista pulih.
" Ohh begitu, baiklah, kita tunggu sampai wali sahnya datang kalau begitu, sementara itu, Rista akan saya pindahkan ke ruang perawatan terlebih dahulu" jelas dokter Reza. Setelah di rasa tidak ada yang harus di jelaskan lagi, dokter Reza mempersilahkan mereka untuk keluar.
" Gi.... " Ujar Rafa, dia menarik tangan Agi dengan kesal. Jelas yang di ucapkan Agi tadi menyulut amarahnya
__ADS_1
" Kenapa harus menunggu keluarga Rista datang Gi untuk CT Scan? Aku bersedia menandatangani dokumennya, Aku juga bahkan bersedia menanggung semua biaya perawatan Rista, agar Rista bisa di tangani secepatnya,kalau terjadi sesuatu pada Rista gimana?" Ujar Rafa kesal
Agi menghempaskan tangan Rafa dengan kesal, Rafa bukan satu satunya yang peduli pada Rista di sana, Agi pun sama pedulinya, Agi sama khawatir pada Rista malah sangat khawatir, dan masalah bertanggung jawab Agipun merasa seharusnya dialah yang lebih bertanggung jawab terhadap Rista.
" Jangan gegabah Fa, CT Scan bukan tindakan yang bisa di lakukan tanpa persetujuan pihak keluarga, apabila terjadi apa apa pada Rista, karena proses CT Scan, apa kamu mau bertanggung jawab, Aku yakin dokter Reza pun mengusahakan yang terbaik" jawab Agi kesal. dia yakin Rafa mempunyai perasaan pada Rista.
" Kamu taukan akibatnya kalau Rista terlambat di tangani Gi " jawab Rafa sambil berlalu meninggalkan Agi.
Agi menghela nafas, ternyata ini lebih rumit dari yang di bayangkan. Agi berjalan menuju tempat Rista, dia harus bersiap siap untuk memindahkan Rista ke ruang perawatan.
Sesampainya di tempat Rista, dilihatnya Rafa sedang menggenggam jemari Rista, menurut keterangan suster, Rista masih belum sadarkan diri, namun sudah melewati masa kritis, Agi segera membantu suster itu untuk memindahkan mereka. Selama memindahkan Rista ke ruang perawatan, Tangan Rafa terus menggenggam tangan Rista, dan itu membuat Agi jengah.
***
jam sudah menunjukan pukul 12 malam.
Diruang perawatan melihat Rista seperti sedang tertidur pulas, rasa bersalahnya selalu hadir saat melihat Rista, bila mampu menangis, ingin rasanya dia menangis. sementara di sofa dia melihat Rafa sedang menonton film di tv. Ruang VIP yang di pilihkan Agi memang miliki fasilitas yang lengkap. Agi mengambil hanpdone Rista dari dalam tasnya, dari tadi dia mau menghungi keluarga Rista namun selalu lupa. Ahh ternyata handphonenya di kunci, namun dari notifikasinya Agi dapat melihat beberapa percakapan, dari liliputh, dari grup futsal, dari Dede, dari Rafa dan juga dari Rona, Agi mengernyitkan dahi, siapakah Rona ini, Rona juga sempat menelfon Rista beberapa kali.
" Kamu sudah menghubungi keluarga Rista" Tanya Rafa tiba tiba, dia melihat Agi memegang handphone Rista. Agi langsung memberikan benda itu ke Rafa, membiarkan Rafa menebak sendiri. kemudian dia sendiri berjalan ke arah Rista dan duduk di bangku sebelahnya. Dia berharap saat Rista sadar nanti,dia lah yang dilihatnya pertama. di sentuhnya tangan Rista yang putih dan mulus.. kini beberapa memar ada di sana, sedangkan tangan kirinya di balut dengan perban. sejauh ini pihak rumah sakit belum berani melakukan tindakan operasi atau apapun, pihak rumah sakit hanya memberikan pertolongan pertama dan meberikan obat obatan agar rasa sakit tidak terlalu parah.
Rafa mengotak-atik handphone Rista dan berhasil membuka kata sandinya, siapa yang menyangka kalau kata sandinya adalah rangkaian angka seperti tanggal lahir. setelah memindahkan beberapa nomor ke handphonenya, Rafa menyerahkan handphone Rista kembali ke Agi. kemudian dia berjalan keluar. mata Agi tampak mengikuti Rafa, dia yakin Rafa akan menelepon seseorang, Agi menghidupkan kembali handphone Rista, anehnya sekarang sudah tidak terkunci lagi.
Agi sendiri langsung mengeluarkan handphonenya, dia harus mengabari Ane tentang kondisi Rista.
" Ne, Rista kecelakaan, kondisinya ngga terlalu baik, sekarang ada di rumah sakit Harapan "
Agi mengimin pesan singkat ke Ane. Tak lama kemudian Handphone Agi bergetar, ternyata balasan dari Ane, Ane belum tidur rupanya.
__ADS_1
" Ya ampun, Innalilahi... makasih udah di kabarin Gi, aku kabarin ke anak anak liliputh yang lain ya, semoga Rista cepet membaik" Jawab Ane, dia sama sekali tidak curiga mengapa Agi memberi kabar Rista kecelakaan.
Ane langsung mengabarkan kondisi Rista ke Grup Liliputh.