
Rafa menghela nafas sambil melihat kepergian Rona, mungkin maksud Rona baik, ingin melindungi adiknya dari sakit hati, bagaimanapun juga Rafa masih berhubungan dengan Marinda. Rafa mengajak acak rambutnya, bingung harus berbuat apa.
Semenjak Rona meminta Rafa menjauhi Rista, Rafa mulai mengurangi intensitas kedatangannya ke Rumah sakit. Salah satu informan terpercayanya adalah Agi. Kak Rona pun sepertinya mendukung Agi untuk berpacaran dengan Rista, tampak dari perilakunya yang lebih sering membiarkan Rista berdua dengan Agi di Rumah sakit.
Rista bukan tidak menyadari hal itu, semenjak perkelahian Rafa dan Ahmad waktu itu, Rafa memang jarang mengunjunginya, teleponnya kadang di angkat kadang tidak, namun lebih sering ngga di angkat, kalau Rista mengirim pesan pun, pasti lama sekali di balas oleh Rafa. Rista berfikir mungkin Rafa sibuk kuliah atau mungkin sedang bertemu dengan Marinda. padahal Rista ingin sekali cerita, ingin ngobrol ingin bercanda, namun sepertinya keinginan Rista hanyalah angan angan saja.
Pagi ini,gips di tangan Rista sudah bisa di lepas,Dokter Reza sudah memeriksanya dan semua dalam keadaan baik
" Gimana perasaannya sekarang?" Tanya Dokter Reza begitu gips sudah terlepas semua
" Feel free and happy Dok " jawab Rista ceria
" Enak ya sekarang, jadi ngga kaku lagi " ujar dokter Reza sambil tersenyum
" Hehehehe, iya dok, dari kemarin kemarin kaya robot "
" Tangannya sudah bisa mulai di latih ya, tapi jangan yang berat berat, dan masih belum boleh angkat yang berat berat ya " Saran dokter Reza. Rista mengangguk patuh, nyaman sekali rasanya bisa terlepas dari gips, sekarang dia bebas menggerakkan tangannya,dia tinggal memulihkan kakinya,pemulihan pasca operasi memang memakan waktu agak lama, kadang Rista jenuh berada di kamar terus, namun bagaimana lagi, Rista harus sabar agar dia bisa cepat pulih dan pulang.
" Ingat ya Mbak Rista, jangan angkat yang berat berat dulu, semoga lekas pulih ya, saya pamit dulu" ujar dokter Reza lagi sambil tersenyum. kemudian meninggalkan Rista di kamarnya.
Rista mengamati tangan kirinya, kini sudah leluasa menggerakkan. Dia tersenyum sendirian, gipsnya sudah di lepas, namun tidak ada yang menemaninya saat itu. Rona sedang ada meeting kantor, Agi sedang kuliah dan tidak mungkin di tinggalkan, sedangkan Rafa, dari semalam pesannya belum di balas, padahal Rista semalam Rista mengabarkan kalau hari itu dia akan di lepas gips dan kemungkinan tidak akan ada yang menemani. Namun sampai Dokter Reza datang melepas gipsnya, Rafa tidak kunjung datang, Ahh, jangankan datang, membalas pesannyapun tidak.
Rista meraih remote tv di sebelahnya. Hiburannya sekarang hanyalah acara acara di tivi.
__ADS_1
***
sementara itu di kampus Rafa
Rafa bukan tidak tau kalau Rista membutuhkannya, Rafa sangat tau, dari pesan pesan yang dikirimkannya, dari telepon telepon yang kadang di abaikannya, Rafa tau, Rista menginginkan Rafa datang ke Rumah Sakit. Tapi permintaan Rona waktu itu yang membuat dia berat untuk melangkah ke sana. Rafa tau dia memiliki kewajiban untuk menyelesaikan urusannya dengan Marinda terlebih dahulu sebelum mendekati Rista.
"Hhhmmmmfff..... " Rafa menarik nafas panjang, kuliah pertamanya hari itu baru saja selesai
" Heh.. kenapa?" Tanya Agi sambil menepuk pundak Rafa dari bangku belakang
" Ngga apa apa, aku lagi kefikiran Rista aja"
" Tengokin dong, kamu ngga pernah ke RS lagi sekarang"
" Kan tau sendiri kuliah kita lagi padet, sama Marinda lagi sering banget minta ketemu" Jawab Rafa beralasan. padahal sebetulnya dia diminta Rona untuk menjauhi Rista
" segimana nanti deh Gi, Aku rencananya mau ketemu Marinda dulu. Kamu ngga akan ke Rumah Sakit?"
" Ke sana, tapi kayanya malem. ada kerjaan dulu"
" Ohh gitu, berarti Rista sama Kak Rona yah sekarang?" tanya Rafa penasaran
" Kayanya engga deh, tadi kata Kak Rona, dia pagi ini meeting, mungkin baru ke RS nanti sore" Agi menjelaskan
__ADS_1
" Rista sendirian di RS?" Tanya Rafa sedikit kaget. Dia khawatir kalau tidak ada yang menjaga Rista, dia faham kondisi Rista belum pulih
"Kok kamu ngga bilang Rista sendirian" ujar Rafa sambil mengemasi buku buku kuliahnya kemudian memasukkan ke tasnya
" Mau kemana Fa?" Tanya Agi buru buru
" Ke Rumah Sakitlah, kamu ngga khawatir emang Rista ngga ada yang jagain? "
" Kan di titipin ke perawat Fa"
" Aku ngga percaya perawat bisa bener bener jagain Rista" Jawab Rafa sambil buru buru keluar kelas, meninggal Agi yang terbengong bengong. mereka kan masih ada jadwal kuliah, ujar Agi dalam hati.
Rafa tidak ingin menyianyiakan kesempatan ini, bagi dia ini adalah salah satu kesempatan bisa bertemu Rista tanpa sepengetahuan Rona, semoga Agi pun tidak memberitahu Rona bahwa dia berniat menemui Rista.
Rafa segera melesatkan mobilnya menuju Rumah Sakit Harapan, tujuannya ingin secepatnya menemui Rista, selama ini dia menahan diri untuk tidak bertemu dsn mengacuhkan telepon telepon Rista karena diminta Rona. Meskipun sebetulnya Rafa ingin sekali membalas pesan dari Rista ataupun mengangkat telepon Rista dan bilang kalau dia rindu sekali, dia rindu manis senyumnya Rista, dia rindu manjanya Rista, dia Rindu kelucuan Rista. Ahh .. Rafa merindukan apapun tentang Rista.
Sesampainya di Rumah Sakit, Rafa menyempatkan membeli opera cake di cafetaria, dia ingin melihat senyum manis Rista saat melihat cake kesukaannya itu. Setelah itu Rafa langsung menuju ke lantai 3, dimana Rista dirawat.
tok..tok..tok...
Rafa mengetuk pintu namun tidak ada jawaban. Dia menunggu beberapa saat, kemudian mengetuk pintu lagi, masih belum ada jawaban juga. Apa mungkin Rista sedang tidak di kamar? tapi dari pesan yang diterima dia semalam harusnya Rista ngga ada jadwal kemana mana Hari ini,agendanya hanya lepas gips dan monitoring hasil operasi. Akhirnya Raga memutuskan untuk langsung masuk ke dalam kamar. Rafa tersenyum sendiri begitu masuk ke dalam kamar rawat Rista
Pantesan ngga ada jawaban waktu aku ngetuk pintu. Rafa berkata di dalam hati sambil tersenyum dilihatnya Rista sedang tertidur pulas, sementara TV di depannya di biarkan menyala. Rafa melihat gips di tangan kiri Rista sudah di lepas. Rafa mengusap perlahan tangan itu, dia takut membangunkan Rista. kemudian dia duduk di sebelah Rista sambil menggenggam tangannya. Rafa rindu, sungguh rindu. tidak bertemu Rista berhari hari adalah siksaan baginya, dan sekarang, dia ingin terus menggenggam tangan Rista,ingin terus berada di samping Rista, untuk menuntaskan rindunya.
__ADS_1
"Ta, Aku kangen, selalu kangen, dan selalu kepikiran kamu, gimana keadaan kamu, gimana perkembangan kamu, aku selalu ingin tau. Aku selalu khawatir kalau ngga denger kabar dari kamu, meskipun sebetulnya aku sering mendengar kabar dari Agi, tapi mendengar kabar dari kamu adalah hal yang selalu aku nantikan. Maafin aku ya, sekarang aku jarang nengokin kamu, tapi aku janji, aku akan sering tengokin kamu kaya dulu, aku akan jagain kamu lagi kaya kemarin kemarin. Kamu sabar ya" Ujar Rafa sambil membelai rambut Rista yang tertidur pulas. Bahkan sekarang melihat Rista tidur saja sudah sangat membahagiakan.
Sabar ya Ta, aku akan secepatnya jujur tentang perasaanku pad Marinda,Ujar Rafa dalam hati.