
Rafa masih menggenggam lembut tangan Rista, tak sedikit pun dia beranjak, bahkan sudah hampir satu jam. Tangan Rista perlahan bergerak, dia merasakan ada seseorang yang menyentuhnya.
Rafa ...
Rista seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, di hadapannya kini ada orang yang selama ini dia rindukan, sosok yang begitu di nanti kehadirannya setiap hari.
" Halloo nona manis... " sapa Rafa lembut
" Hai Fa.... ko kamu bisa ada di sini?" tanya rista, senyum merekah di bibirnya
" Bisa dong "
" Kata Agi kalian ada kuliah yang ngga bisa di tinggalin "
" Iya, memang ada mata kuliah utama hari ini. Tapi kamu prioritas aku " Jawab Rafa lagi sambil membelai lembut rambut Rista. Rista tersenyum di perlakukan seperti itu. Kerinduannya terhadap Rafa seolah menguap keudara saat itu, dia senang sekali. Bahkan Rista tidak menyadarinya kalau dari tadi dia tersenyum.
" kamu udah banyak kemajuan ya " ujar Rafa sambil mengelus tangan kiri Rista
" Tadi pagi gipsnya di buka "
" Pasti ngerasa lebih leluasa ya sekarang "
" Iya... udah ngga kaya robot lagi "
__ADS_1
" Oh iya, aku bawa cake kesukaan kamu, kita makan yu" Ajak Rafa sambil membawakan Rista cake yang dari tadi di simpan di atas meja
" Waaaahh.... makasih yaa.... " ujar Rista kegirangan, kedua tangannya bertepuk tangan pelan. Sudah lama sekali rasanya tidak makan cake kesukaannya, biasanya Rona yang membelikannya di toko kue langganan Rista. Meskipun cake yang di bawa Rafa bukanlah cake dari toko kue langganan Rista, namun itu tidak mengurangi kebahagiaan tang Rista rasakan. Baginya justru opera cake saat itu sangat enak, di tambah dia memakannya bersama Rafa. Orang yang beberapa hari kebelakang ini dia rindukan.
mereka berdua begitu menikmati cake coklat itu, terkadang sambil saling menyuapi dan tertawa, Rista merasa hari itu dia luar biasa sehat, dia bersemangat sekali. Beberapa hari belakangan saat Rafa tidak menjenguknya, hari harinya terasa membosankan, padahal Rona dan Agi selalu menghiburnya, apapun yang dia inginkan pasti akan Rona dan Agi berikan. Namun hatinya hampa. Berbeda dengan saat ini, mungkin inilah yang di namakan jatuh cinta. Rista merasakan kembali bahagia, degdegan, khawatir dan perasaan yang lainnya. Begitupun Rafa, dia kembali merasakan hal yang sama. hal yang belum pernah dia rasakan dengan Marinda.
" cake aku habis duluan " Ujar Rafa sambil mengacungkan sendoknya
" Kamu kan cowo, makannya cepet " ujar Rista, cakenya masih tersisa beberapa potong lagi
" Hahahaha... tapi ini kan cake kesukaan kamu, harusnya kamu dong yang cepetan abis"
" Yeee... justru karena ini cake kesukaan aku jadi makannya harus di nikmati, ngga boleh cepet cepet, jadi semuanya terasa di lidah" Rista menjelaskan. Selain itu potongan cake Rista memang lebih besar dari cake Rafa.
Usai memakan cake mereka berdua asyik ngobrol sambil menonton film. sebuah film komedi romantis, tanpa sadar Rafa menggenggam tangan Rista dari tadi, Rista yang menyadari hal itu, ingin menarik tangannya namun sungkan, tapi kalau pegangan tangan terus Rista juga ngga enak, karena sebetulnya Rafa sudah punya pacar. Rafa yang menyadari hal itu kemudian melihat Rista
Rista terdiam mendengar ucapan Rafa, dalam hatinya berkata hal yang sama, namun mulutnya sulit mengucapkannya. akhirnya Rista hanya bengong menatap Rafa.
" Hey... ngelamun" ucap Rafa sambil mengusap muka Rista
" Eh hehehehe.... ngga apa apa... , aku kangen juga" Jawab Rista gelagapan
" Aku tau kok kamu kangen ehehhehe kan kamu sering telfon aku heehhehe " goda Rafa
__ADS_1
" Ihh... jelek... " Rista mencubit tangan Rafa
" Adududud....sakit tau" ujar Rafa sambil kesakitan
" Kamu jual mahal,telfon ga diangkat, message ngga di bales" ujar Rista dengan wajah di buat cemberut
" Hahahaha... ada yang ngambek... maaf ya, aku kadang sibuk pas kamu telfon " jawab Rafa beralasan, padahal alasan yang sebenarnya adalah jelas, karena Rona melarangnya.
Rafa di rumah sakit cukup lama, hingga sore menjelang barulah dia berpamitan dengan Rista, Alasannya dia cape dan ingin segera mandi dan beristirahat, padahal dari tadi dia hanya ngobrol dan makan bersama Rista di Rumah sakit. Mungkin karena tadi Rafa dari kampus, fikir Rista dalam hati. Namun yang sebenarnya, Rafa takut kedatangannya di ketahui oleh Rona.
" Aku pulang dulu ya nona manis " pamit Rafa sambil membelai rambut Rista
" Ngga nunggu sampe Kak Ona dateng aja" tanya Rista
" Aku kan tadi udah bilang, aku habis dari kampus, agak cape, nanti aku sering ke sini kaya dulu" Jawab Rafa beralasan
" Ya udah "
" Jangan cemberut dong, nanti manisnya ilang" goda Rafa sambil menjawil hidung Rista. Di perlakukan seperti itu, makin membuat Rista tidak mau di tinggal Rafa
" Hhhmmm.... "
" Aku pamit ya... cepet sehat ya nona manis " ujar Rafa sambil berpamitan, kemudian mengecup lembut rambut Rista. Ahh... Rafa sadar, dia sekarang menyayangi Rista.
__ADS_1
Sebetulnya berat sekali hari Rafa meninggalkan Rista di Rumah sakit sendirian, dia tidak terbiasa melihat Rista sendirian,namun baginya tidak ada pilihan lain, daripada dia ketauan oleh Rona, lebih baik dia bermain aman seperti sekarang. Semoga kedepannya Rafa bisa mengunjungi Rista lebih sering, bahkan inginnya tidak perlu sembunyi sembunyi seperti sekarang.
Selepas kepergian Rafa, Rista tersenyum sendirian, rasa rindunya sudah terobati meski bertemu Rafa hanya sebentar. Baginya itu sudah cukup di bandingkan tidak bertemu Rafa sama sekali. Hatiny berbunga bunga, semoga nanti Rona tidak bertanya yang aneh aneh karena melihat Rista senyum senyum sendiri.