Rafa Rista

Rafa Rista
Eps. 102 ( Tentang Perasaan II)


__ADS_3

Back to Rafa dan Marinda.


Rafa menggenggam lembut tangan Marinda Gadis manis yang luar biasa baiknya ini memang begitu tulus mencintainya. Bodoh bila Rafa menyianyiakan Marinda, sementara di luar sana begitu banyak lelaki yang rela antre demi mendapatkan perhatian dari kekasihnya ini. Semilir angin dari balkon menerpa wajah keduanya.


" Aku minta maaf sebelumnya untukvideo itu Nda " Ujar Rafa lembut. Bila ada yang lebih dari kata maaf pasti sudah dia berikan untuk Marinda saat itu. Marinda masih terdiam, dia tahu Rafa masih akan meneruskan ucapannya. " Aku menyerahkan semua keputusannya kepadamu, aku terlalu malu untuk membuat keputusan tentang hubungan kita" ujar Rafa lagi.


Marinda sedikit menahan nafasnya, seperti ada sesuatu tersangkut di tenggorokannya namun yang paling dia rasakan saat ini adalah,, dadanya yang terasa sesak. Beberapa saat yang lalu dia masih berharap Rafa akan mengeluarkan kata kata bahwa dia masih ingin memperbaiki hubungan ini. Namun dengan statment Rafa barusan, ternyata Marinda lah yang akhirnya harus memberikan keputusan.


"Aku nanya tentang perasaan kamu Fa, bukan tentang hubungan kita" Marinda mempertegas lagi pertanyaannnya.


"Aku sayang sama kamu Nda, kamu tahu persis itu dari dulu " jawab Rafa dengan nada sedikit meninggi


"Sayang, iya aku tahu kamu selalu sayang aku Fa, tapi sebagai apa? " Desak Marinda


Rafa menghela nafas, dari dulu dia tahu Marinda akan melontarkan pertanyaan ini pada akhirnya. Dan mungkin ini memang saat yang tepat bagi keduanya.


"Nda, ngga pernah sedetikpun aku ngga kefikiran dan ngga khawatir sama kamu, kamu tahu kan kamu selalu ada di prioritas aku : jelas Rafa. Marinda mulai merasa jengah, kini menawab pertanyaan sesimple Rafa menganggap Marinda apa - pun Rafa ngga bisa. Marinda menglepaskan jemari Rafa yang sedari tadi masih menggengganya.


Marinda menghela nafas berat " Aku semakin bingung dengan hubungan kita, mungkin memang aku ngga se- spesial itu buat kamu Fa, " Ujar Marinda sambil berdiri " Mungkin aku memang harus menyelesaikan ini sendiri" ujar Marinda lagi, kakinya kini sudah melangkah menuju pintu kamar Rafa dan keluar, percuma ternyata dia mendatangi Rafa malam ini.


"Nda... " Panggil Rafa dirinya langsung membuntuti Marinda yang keluar dari kamarnya, meskipun enggan Rafa harus mengantarkan Marinda malam itu, setidaknya di hadapan orang tua Rafa mereka harus terlihat baik baik saja terlebih dahulu.


" Hay sayang, gimana udah ngobrolnya? " Tanya Ibunda Rafa begitu melihat Rafa dan Marinda turun dari kamar


" Sudah tante, barusan kita udah ngobrol, oh iya tante, kata bunda, kalo memang tante dan Rafa ngga keberatan kita mau ngundang tante untuk makan malam di rumah "Aak Marinda. Rafa mengernyitkan dahi mendengar ucapan Marinda. Saat di kamar tadi mereka sama sekali tidak membahas masalah itu, kenapa tiba tiba sekarang Marinda mengundang keluarga Rafa untuk makan malam.


" Ahh.. iya sayang, setelah acara pertunangan kemarin kita memang beum sempat ngobrol dan bertemu lagi ya, oke deh nanti tante akan ajak om uga sekalian ya, mungkin besok atau lusa, maaf ya sayang kita belum ke sana, sampaikan maaf untuk bunda juga ya nak" ujar ibunda Rafa, baginya Marinda sudah seperti anaknya sendiri, Ibunda Rafa begitu mengingikan Marinda menjadi menantunya, bagaimana tidak, Marinda adalah sosok menantu idaman, sudah baik pintar pula.


"Baik tante, nanti Rinda sampaikan ke bunda, Rinda pamit dulu ya tante, salam buat om " Ujar Marinda sambil menciun tangan Ibunda Rafa


"Iya sayang, hati hati ya nak" Ujar Ibunda Rafa


"Aku anter Marinda dulu ya bu" Ujar Rafa sambil menciun tangan ibundanya. Kini Marinda yang mengernyitkan dahi, saat tadi mereka di kamar, mereka ngga ada perbincangan Rafa akan mengantar Marinda, selain itu Marinda membawa mobi sendiri, bagaimana ceritanya Rafa akan mengantar dia.


" Eh Tapi aku kan bawa mobil Fa, aku jalan sendiri aja" Cegah Marinda

__ADS_1


" Aku antar" jawab Rafa tegas " Mobil kamu simpan di sini, besok minta supir kamu ambil di sini,atau bisa aku antar ke rumah kamu " . Marinda tidak menjawab kembali perkataan Rafa, dia sudah cukup tahu bahwa apabila sudah seperti itu, Rafa tidak bisa di debat.


Marinda akhirnya mengekor Rafa keluar rumahnya, tentu saa setelah berpamitan dengan ibundanya, namun bukan menuu garasi mobil Rafa malah mengeluarkan motor sport kesayangannya.


"Tunggu sebentar aku ambil jaket dan helm dulu " Ujar Rafa sambil kembali masuk ke dalam rumah kemudian telah kembali dengan dua buah helm dan satu jaket kulir untuk Marinda


"Kamu ngga alergi naik motor kan setelah jadi artis?" Tanya Rafa sambil tersenyum, Marinda kemudian tersenyum manis sambil meraih jaket dari tangan Rafa


"Malam ini kita nostalgiaan, kaya waktu kamu belum jadi terkenal" Ujar Rafa sambil menaiki motornya di susul oleh Marinda. Tak lama dari itu motor Rafa telah membelah jalanan kota Bandung yang mulai sepi.


***


Sementara itu di tempat Riesta


Rona, Rista dan Agi masih asyik ngobrol di halaman belakang, ketiganya seang astik bercerita tentang bisnisnya masing masing, Agi bercerita bagaimana dulu keluarganya merintis bisnis alat kesehatan, kebetulan ayah Agi adalah seorang dokter yang sudah cukup terkenal di ibukota, sedangkan ibunya memang lahir dari keluarga pebisnis, setelah riset dan mempertimbangkan cukup lama akhirnya mereka memulai usaha bisnis alat kesehatan, awalnya hanya peralatan untuk para calon dokter namun usaha terus berkembang hingga kini menadi suplier alat kesehatan bagi klinik dan beberapa rumah sakit. Dulu orang tua Agi berharap Agi mengikuti jejak salah satu dari mereka, entah itu dokter atau menadi pebisnis, namun ternyata Agi malah memilih menadi programer dan hirah ke Bandung.


" Tapi kalo kamu  ngga kuliah di Bandung, kamu ngga akan ketemu Rista ya Gi" Ujar Rona


" Ahahahah iya bener kak, kalo aku kuliah kedokteran mungkin aku ngga akan ketemu Rista" Ujar Agi sambil menatap waah Rista di sampingnya,, Rista yang di lihat seperti itu oleh Agi menadi tersipu.


" Uhuk... " Rona terbatuk mendengar pertanyaan Agi " Aku? Cewe? ahahhahah belom lah Gi " Ujar Rona lagi dengan nada yang terdengar di paksakan


" Agi.. Agi.. Kak Rona tuh masih belom move on dari mantannya Gi, padahal udah lama banget ga pacaran " Ujar Rista


" Oh ya? kak Rona dulu punya pacar? "


" Punya, " jawab ROna singkat, sepilas kesedihan membayang di wajahnya,


"Lalu? Putus?" Tanya Agi lagi, dia tidak menyangka ternyata seorang Kak Rona bisa patah hati begitu mendalam


" ngga, kita ga putus, dia keburu meninggal" jawab Rona dalam, raut kesedihan jelas membayang di wajahnya. dilihatnya Rista mengusap punggung kakak sematawayangnya itu, seolah menguatkan Rona.


"Ohh.. Maaf kak" Ujar Agi penuh penyesalan


" It's Oke ngga apa apa Gi, udah lama uga keadiannya, sebelum Rista masuk kuliah, cuma yaa.. gitulah, aku masih belum bisa move on " jelas Rona

__ADS_1


" Aku turut sedih ya kak, semoga cepet ketemu penggantinya" ujar Agi. Rona hanya menawabnya dengan senyuman, kehilangan Laras, kekasih Rona, memang tidak semudah itu hilang dari ingatan.


"Yaudah, kalian lanut aja ya, aku mau ngecek mami, masih tereponan dengan papi atau ngga" Uar Rona sambil beranjak dari kursinya dan masuk ke dalam rumah.


Tinggalah Agi dan Rista kini di halaman belakang. Perbincangan tentang mantan kekasih Rona yang meninggal masih membuat Agi penasaran, namun sepertinya Rista enggan membahas hal itu.


" Kamu malam ini tidur di sini ya" pinta Rista pada Agi


"Masa aku tidur di sini, aku balik ke hotel aja ya, ngga enak masa aku udah nginep lagi di sini " ujar Agi,


" Ya ngga apa apa dong, mami juga ngga akan ngizinin kamu pulang ke hotel " Rista berkata lagi


" Next ya sayang aku pasti nginep lagi disini, kenapa kamu kangen yaaa?" goda Agi


" Yey apaan, masa kangen orang ini kamu ada di depan aku" ujar Rista gengsi, padahal sebetulnya dia memang ingin Agi menginap di rumahnya malam itu


" sabar ya sayang, nanti kalo udah nikah kita bakalan serumah kok ehhehehe " goda Agi, otomatis Rista langsung melongo mendengar perkataan Agi barusa


"Apaan sih Gi, malu tauuuu " ujar Rista dengan pipi bersemu merah, kemudian mencubit pinggang Agi hingga lelaki itu berteriak kesakitan .


" Ihh jahat, udah ah, aku balik " ujar AGi sambil berlagak seperti marah sambil melangkah memasuki rumah untuk berpamitan dengan mami dan Rona. Meski seperti dugaan Rista, mami meminta Agi untuk menginap, namun dengan prelahan tapi pasti Agi menolak permintaan mami dengan sopan, namun dia beranji besok akan menjemput Rista. Selain sudah menadi tugas Agi untuk antar emput Rista, selain itu memang karena selama mereka di Bandung, mobil Rista lah yang di pergunakan untuk mereka pergi kemana mana. Setelah berpamitan dengan Mami dan Rona Agi kemudian berpamitan dengan kekasihnya itu, Rista mengantar Agi sampai ke depan pintu rumahnya.


"besok pagi aku diantar Mang Cecep Aja Gi, kamu siangan aja ke Cleanbozz" Ujar Rista


" Lihat besok lah, masa kamu jalan sama Mang Cecep, kalo emang aku bisa anter, ya aku anterin oke" Ujar Agi sambil memasuki mobil


" jangan maksain ya" Ujar Rista lagi


"Iya sayang, yaudah kamu masuk gih, Aku pulang dulu ya" Ujar Agi sambil mengecup kening Rista


"Iya, Take care sayang, jangan lupa ngabarin"Ujar Rista lagi,, Meskipun berat namun dia harus menahan rindunya dulu untuk malam ini


"Oke sayang, Bye"


" Bye" Ujar Agi sambil melambaikan tangan kemudian melesatkan mobilnya menuu hotel. Sementara itu Rista kembali ke kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2