
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapat hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
Typo bergentayangan, mohon di maklumi
...****************...
Hanna benar-benar tak menyangka jika Jae Kyung nekat melakukan itu padanya.
"Apa alasanmu berani membawa istriku?" tanya Jae Hwan yang kini duduk di hadapan Park Jae Kyung yang sudah berlutut didepannya.
"Ck. istri kau bilang? jangan kau pikir aku tidak tahu bagaimana kau dengan licik membuat Hanna terjebak dalam pernikahan sialan yang kau buat!!!" tanpa rasa takut sedikitpun Jae Kyung yang sudah di penuhi luka lebam di wajah dan tubuhnya masih saja berani mengatakannya.
Jae Hwan hanya tersenyum tipis, lalu menyuruh bawahannya untuk menyeret satu orang lagi kehadapannya.
Dengan kasar salah satu bawahan Jae Hwan mendorong Oh Se Rin yang kini bernasib sama seperti Jae Kyung.
"Kenapa? kau kaget melihat jal*ngmu tertangkap?!" katanya seraya menatap keduanya secara bergantian.
Hanna tak ada diruangan itu, hanya ada ia dan anak buahnya.
Jae Kyung melihat ke sekitar, dan melihat banyak sekali sel-sel penjara di sana.
"Dengar! Jangan sampai aku mengincar keluargamu yang ada di jepang" ancamnya, lalu menendang wajah Jae Kyung hingga ia terjatuh dengan tangan dan kaki yang masih terikat.
"Kurung mereka dalam satu sel" setelah memberikan perintahnya, Jae Hwan pergi menaiki anak tangga untuk naik kelantai 1 rumahnya.
...****************...
Hanna terlihat sudah tertidur, Jae Hwan hanya menatapnya sebentar lalu masuk kekamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Butuh waktu sekitar 30 menit untuknya selesai dari kamar mandi sebelum akhirnya ia keluar dari sana dengan handuk yang melingkar di pinggangnya.
Jae Hwan duduk di tepi ranjang setelah selesai memakai bajunya.
Padahal tadi terbesit dalam pikirannya untuk menegur Hanna agar tidak ceroboh dan bepergian sendiri tanpa dirinya.
...****************...
Hari berlalu, Hanna masih memulihkan kondisinya dengan beristirahat 2 hari terakhir ini.
Bahkan ia tak tahu apa yang telah di perbuat Jae Hwan pada pria itu.
"Ingat Hanna! Jangan bepergian tanpa seizinku" peringatnya, lalu ia keluar setelah mengambil kunci mobil di laci nakas, bahkan Hanna tak sempat bertanya kemana pria itu pergi dengan pakaian rapi seperti itu.
Sudahlah, Hanna tidak terlalu menghiraukan itu, ia turun kelantai bawah untuk sekedar mengambil minum dan mencari sesuatu untuk menghilangkan rasa bosannya.
...****************...
Jae Hwan kini tampak memasuki sebuah ballroom hotel dengan di ikuti oleh tangan kanannya.
Jika kondisi Hanna sudah baik, mungkin ia akan mengajaknya dan bukannya datang bersama Jung Wo.
"Bae Han Ju masuk kedalam daftar tamu, dan dia sedang berada di loby" bisik Jung Wo.
Jae Hwan hanya mengangguk pelan, lalu meraih sebuah gelas berisi jus.
Mereka duduk sambil melihat staff yang bersiap memulai acara.
Ini benar-benar hal yang sangat membosankan bagi Jae Hwan.
Selesai acara mereka bersiap untuk pulang, tapi sebelum itu ia bergabung dengan para anggota dewan yang sedang bicara.
Mengingat posisinya tidak bisa di remehkan membuat para anggota dewan itu menyambutnya dimana di sana juga ada Bae Han Ju.
Beberapa kali Jae Hwan melontarkan kalimat yang terdengar menyinggung pria tua itu, tapi Bae Han Ju sama sekali tak ambil pusing seolah itu bukan kesalahannya.
"Mafia bodoh sepertimu tidak perlu banyak bicara, disini bukan tempat yang pas untuk preman rendahan sepertimu" ucapnya pelan tepat di samping Jae Hwan.
Mendengar itu Jae Hwan hanya tersenyum tipis, "tidak ada bedanya dengan pria sepertimu yang membunuh orang-orang tak bersalah"
"Kau tunggu saja hadiah dariku" sambungnya, lalu ia pergi dari sana setelah pamit dengan orang-orang tadi.
Bae Han Ju hanya menatap kepergian Jae Hwan lalu meneguk segelas jusnya.
...****************...
"Minta kepala jaksa untuk menghadapku"
Pria yang merupakan sekertaris sekaligus tangan kanannya itu langsung pergi untuk menelpon kepala Jaksa.
"......"
Kini mereka duduk di sofa yang ada di ruangan Bae Han Ju, pria itu lantas memberikan sebuah map coklat padanya.
Pria yang memiliki posisi sebagai kepala kejaksaan itu lantas meraihnya dan membuka apa isi berkas tersebut.
__ADS_1
"Aku ingin kau membentuk tim khusus untuk menyelidikinya"
"tapi- "Kenapa? kau tak berani,?!"
"Tidak Tuan, aku akan segera menyelidikinya" sahutnya
"tambahkan atau buat jika tidak ada"
"Baik Tuan" lantas pria itu langsung pergi dari hadapan pria tua itu.
"Kita lihat Jung Jae Hwan, sebentar lagi kepolisian, kejaksaan akan menjadi milikku" gumamnya tersenyum puas.
...****************...
"Oke, lanjutkan pekerjaanmu"
Jae Hwan segera menutup telponnya saat Hanna baru saja turun.
"Mau kemana?"
Hanna hanya memperlihatkan botol air tanpa bicara sepatah kata, lalu ia segera melangkah pergi menuju dapur.
"Batalkan seluruh pengiriman malam ini dan hubungi para klien kalau pesanan mereka akan di kirim melalui pengiriman lain,"
"Baik Tuan"
"Ah, satu lagi. pastikan ruang bawah tanah tertutup dengan rapat"
Jung Wo mengangguk, lalu pergi dari hadapan Jae Hwan.
Pria itu nampak mendudukkan dirinya sambil memikirkan sesuatu.
"Kau kenapa?" seru Hanna yang baru saja kembali dari dapur sambil memegang botol minumnya.
"Bae Han Ju membuat tim khsusus untuk menyelidiki peredaranku"
"Bukakah itu bagus, kau bisa berhenti sekarang menjual barang haram itu."
"Apa kau mendukung Bae Han Ju?" Jae Hwan nampak kesal setelah ucapan Hanna barusan.
"yang kau jual itu barang ilegal, apa pendapatan JH Group masih tidak cukup?"
"Atau jangan-jangan..." Hanna menolehkan wajahnya lalu melanjutkan ucapannya.
"Apa kau membiayai anak-anak dengan uang hasil penjualan- " Aku tidak sejahat itu Hanna" potong Jae Hwan yang sudah tahu kemana arah pembicaraan istrinya itu.
"Baguslah kalau begitu..." lalu ia bangkit dari duduknya untuk pergi ke kamar, tapi Jae Hwan mengcekal lengannya hingga gadis itu kembali menoleh padanya.
"Apa?"
Hanna memicingkan matanya seraya duduk, seolah ia sadar pria ini ingin melakukan sesuatu yang mencurigakan.
Baru saja pria itu akan buka suara, terdengar ribut-ribut di halaman rumah hingga keduanya menoleh ke arah pintu.
Hanna dan Jae Hwan melihat Jung Wo yang berlari ke arah merek dengan di ikuti beberapa orang berpakaian rapi lengkap dengan nametag mereka masing-masing.
Salah satu dari pria itu maju dan memperlihatkan sebuah surat penangkapan tepat di depan wajah Jae Hwan.
"JUng Jae Hwan! anda ditangkap atas kepemilikan nark*ba, apapun yang anda lakukan dapat digunakan untuk melawan anda di pengadilan, tentu saja anda berhak menerima bantuan dari penasehat hukum" ujar salah satu pria seraya memborgol kedua tangan Jae Hwan
Hanna tak bisa berkutik, ia tahu ini semua pasti akan terjadi tapi hatinya tidak bisa berhong, dirinya memiliki penolakan besar atas kenyataan yang terpampang jelas di hadapannya selama ini.
Seorang mafia kejam seperti Jung Jae Hwan, bukan hanya ketel nark*ba tapi pria itu juga seorang pembunuh yang tak pandang bulu.
Jae Hwan hanya tersenyum, "tak kusangka pria tua itu secepat ini" gumamnya pelan lalu melangkah mengikuti para jaksa itu membawanya.
Sebelum itu ia sempat memberikan wink pada Jung Wo seolah itu adalah tanda apa tindakan yang harus di ambil Jung Wo setelah ini.
Hanna hanya diam ditempatnya, ia tak tahu harus apa.
"Nyonya?"
Sontak Hanna menoleh, "Apa dia bisa keluar?" itulah pertanyaan yang dilontarkannya.
Jung Wo hanya tersenyum seolah tak ada beban.
"Mari ikut saya Nyonya"
Jung Wo berjalan menuju sebuah dinding, dimana itu adalah akses menuju penjara bawah tanah.
Hanna hanya berjalan mengikuti Jung Wo sampai ia berhasil mendengar suara bising bawah tanah yang selama ini tak pernah ia dengar, suara jeritan kesakitan yang berada di bawahnya selama ini tanpa ia sadari sedikitpun.
Ia dengan jelas mencium bau amis darah sepanjang jalannya menuju sebuah ruangan rahasia yang tak pernah sekalipun ia ketahui apalagi masuk kedalamnya.
"Tuan Jung sudah menyiapkan ini selama bertahun-tahun, dan saat inilah akhirnya... Ia sengaja menekan Bae Han Ju untuk memenjarakannya agar dia berpikir semuanya sudah beres dengan Tuan di penjara"
"Dari semua orang yang ditahan di sini selama bertahun-tahun adalah saksi-saksi dari perbuatan Bae Han Ju, mantan anak buah, pembunuh bayaran, dan beberapa orang lagi yang digunakan Bae Han Ju untuk bisa berada di posisinya sekarang."
"Jadi selama ini- "Benar, Tuan Jung hanya diam dan membiarkan Bae Han Ju merasa menang sampai dia tidak sadar membuat celah kecil yang bisa membawa kehancuran padanya."
"Sebenarnya dia juga tahu jika Nyonya membodohinya selama ini..."
Hanna sontak terdiam, ia pikir dirinya dua langkah di depan Jae Hwan tapi nyatanya ia jauh tertinggal.
__ADS_1
"Tuan sengaja membiarkan Nyonya membodohinya karena itu rencana anda tidak berhasil karena Tuan sudah mengatur semuanya, kapan rencana Nyonya terbongkar seolah Nyonya berpikir bahwa rencana gagal saat baru mendapatkan beberapa catatan lokasi produksi milik Tuan"
"selama ini dia tahu aku korban dan bukannya pelaku?"
Jung Wo mengangguk, sedangkan Hanna benae-benar dibuat tak bisa bicara lagi atas penjelasan dari Jung Wo.
"Jalankan sekarang" gumam Jung Wo yang terhubung dengan earphonenya.
"Itulah alasan Nyonya tidak dihabisi seperti kebanyakan orang yang membuat masalah dengannya" ucap Jung Wo lagi.
"Mari kita jemput Tuan di penjar Nyonya" ajak Jung Wo seraya melangkah keluar dari ruang bawah tanah tersebut.
...****************...
Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai di kantor kejaksaan.
Terlihat jaksa Lee sedang berjalan menghampiri mereka berdua.
"Mari" ujarnya menuntun Hanna dan Jung Wo untuk menemui Jae Hwan yang berada di ruang penyelidikan.
"......"
"Sedang apa kau disini Jaksa Lee?"
"Kasus ini di alihkan padaku karena kau dalam proses penyelidikan atas penyuapan saat ini" ucap wanita itu, lalu memerintahkan dua bawahannya untuk menyeret Jaksa Jang untuk keluar dari ruang penyelidikan.
Saat Jaksa Jang akan menelpon seseorang, ia sudah lebih dulu melihat berita yang ada di tv yang nerada tidak jauh dari posisinya sekarang.
Dimana namanya masuk kedalam daftar penerima suap dari Bae Han Ju yang juga mulai di selidiki oleh pihak kejaksaan.
Jae Hwan membongkar seluruh bukti korupsi, pencucian dana, penyuapan , pembunuhan dan perdagangan organ ilegal milik Bae Han Ju yang tentunya secara hukum itu tidak di akui, namun Jae Hwan yakin masyarakat yang akan membuat penghukuman atas apa yang dilakukan Bae Han Ju dan antek-anteknya.
Jaksa Lee melepaskan borgol dari tangan Jae Hwan dan membiarkan lolos.
Tentunya karena Jaksa Lee berpihak pada Jae Hwan, orang tuanya adalah salah satu korban ketamakan Bae Han Ju yang dengan secara ilegal merebut perusahaan milik ayahnya.
"Terimakasih Direktur Jung" ucap Jaksa Lee lalu tersenyum dan dibalas anggukan pelan dari Jae Hwan
Hanna hanya diam sedari tadi, mereka bertiga berjalan keluar dari gedung kejaksaan dengan santai
Terlihat Bae Han Ju sedang berbicara di depan gedung kejaksaan dengan para wartawan untuk menjelaskan jika itu tidak benar, walau bukti sudah menyatakan dia bersalah.
Jae Hwan kembali tersenyum miring, lalu merangkul bahu Hanna memasuk mobil mewahnya.
"Kenapa kau diam saja?"
"Ternyata si bodoh sedang di bodohi sekarang" ujar Hanna menyindir keras pria di sampingnya.
"Itu agar semuanya terlihat alami" sahut Hae Hwan
"Apa kau ingin bersenang-senang?" ujarnya lagi menoleh pada Hanna.
Hanna hanya mengerutkan dahinya bingung.
"Bawa Bae Han Ju ke penjara bawah tanah tanpa membuat ribut"
Jung Wo hanya tersenyum lalu mengangguk pelan, sedangkan Jae Hwan. pria itu kini sedang asik mencumbu Hanna yang canggung karena ada Jung Wo.
...****************...
Jae Hwan duduk sambil menghisap rokonya, dimana kini ada dua pria di hadapannya yang sedang terikat dan kepala yang tertutup kain hitam.
Dan diruangan itu ada seluruh circlenya termasuk Tae Il dan para anak buah Jae Hwan.
Ia mematikan rokonya dengan menginjaknya, lalu menyuruh salah satu bawahannya untuk membuka kain hitam yang menutup kepala dua pria itu.
Saat selesai memperjelas pandangannya, pria paruh baya itu sedikit gugup saat melihat Jae Hwan berada di hadapannya dengan tatapan seorang psikopat.
Hanna tahu ini salah, karena jikapun ada pembunuhan malam itu tak bisa dibenarkan, tapi dendamnya tak bisa di bendung lagi.
Ia hanya duduk diam menyaksikan Bae Han Ju dan pelaku asli yang membunuh kedua orang tua Jae Hwan sedang di adili di hadapannya sekarang.
Hanna menyaksikan dengan jelas bagaimana Jae Hwan menyiksa orang-orang yang melakukan kesalahan dengan begitu kejam.
"Apa kau akan langsung membunuhnya hyung?" tanya Tae Il yang kini sedang duduk sambil memakan popcorn seolah mereka sedang melihat bioskop sekarang.
Di lain itu, Bae Han Ju sedang berteriak kesakitan saat kakinya perlahan di potong dengan kawat tali yang semakin kuat mengikatnya.
Oh Se Rin yang saat itu sedang berada di tahanan semakin gugup saat terintas dibenaknya jika suatu saat dia akan berada di posisi Bae Han Ju.
"Potong Jari kakinya satu-persatu, baru besok jari tangannya. Jung Wo kau buat saja jadwal apa saja yang dipotong selama 30 hari kedepan" ujarnya dan dengan santai nya pria itu meneguk segelas wine sambil mendengar alunan piano yang dimainkan pemutar musik.
Hanna berpikir jika suaminya bukan hanya Mafia, tapi juga seorang psikopat.
Tapi mungkin ia akan terbiasa kedepannya dengan apa yang saat ini terjadi selagi statusnya sebagai istri sah dari ketua Mafia J'Devils.
...****************...
...-TAMAT-...
...****************...
author tau kalian pasti punya pertanyaan, udah disimpan aja🤣
__ADS_1
Thank you for reading this novel, thank you very much.