Revenge Obsession

Revenge Obsession
Revenge Obsession : Cp.72


__ADS_3

Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


...****************...


"Kau baik-baik saja?" tanyanya seraya ikut duduk di samping Hanna.


Pria itu mengangkat pelan dagu Hanna agar menatap dirinya.


"Aku mencarimu kemana-mana, ternyata kau disini. Maafkan aku atas kejadian malam itu, aku sama sekali tak berniat jahat padamu" ucap Tae Il dengan nada yang begitu lembut.


Hanna hanya terdiam, ia tak tahu harus bicara apa. Jikapun ia memberitahu orang-orang bahwa dirinya sedang sakit hati atas suaminya, maka orang-orang hanya menganggapnya kalah dari Jae Hwan.


Ingin terlihat tegar, sementara hatinya sudah tak mampu melawan perasaannya.


"Apa kau seperti ini karena Jae Hwan, Hyung.?" tanya Tae Il.


Hanna hanya menggeleng pelan, ia lantas mengusap air matanya dan coba menampakkan senyumnya, yang bahkan bulan saja tahu itu senyum palsu.


Jam sudah menunjukkan pukul 08.01 malam, dan suhu udara juga mulai semakin dingin.


Tae Il melepas jaketnya dan membiarkan Hanna memakainya, karena gadis itu hanya menggunakan dress yang tadi pagi ia pakai.


"Ah, sudah jam segini. Jae Hwan pasti mencariku, aku harus pulang" ucap Hanna seraya bangkit dari duduknya.


"Hanna tunggu!" cekal Tae Il yang langsung menarik Hanna kedalam pelukannya, hingga membuat gadis itu kaget bukan main.


"Aku tahu, kau pasti tak pernah bahagia'kan! jujur saja padaku Hanna" Kata Tae Il yang sadar Hanna berontak dari tadi, tapi ia terus saja menahan Hanna dalam pelukannya.


"Tae Il lepas, kau membuatku tak bisa bernafas" ujar Hanna mencoba lepas dari pelukan Tae Il.


Dimana sebenarnya ia juga takut, saat ingatan malam itu muncul di pikirannya.


"Aku pulang dulu" ujar Hanna yang langsung pergi begitu Tae Il melepaskan pelukannya.


Brukh!


Hanna jatuh tak sadarkan diri setelah balok kayu menghantam punggungnya.


"Bawa dia ke mobil" perintahnya.


"Baik, Tuan"


Tae Il menyeringai, "Maafkan aku Hanna, tapi aku tak bisa melihatmu menangis lagi seperti tadi, hanya karena Jae Hwan Hyung"


Mobil sedan itu langsung pergi saat sang pemilik memerintahkan untuk pergi.


...****************...


"Kau menemukannya?" tanya Jae Hwan pada Ye Jun, dimana kini ia sedang berada di rumah Jae Hwan


"Tidak bisa, Hyung. ponsel Hanna mati" jawab Ye Jun.


Plak.


Tamparan keras Jae Hwan dapat dari Yoon Wo yang baru datang bersama Seok Hyun, Si Hwan, Jin Sung dan Tae il.


Ini kali pertamanya Yoon Wo menampar sang adik setelah beberapa bulan lamanya.


"Bagaimana Hanna bisa hilang?" tanyanya dengan tatapan mengintimidasi.


Sedangkan Jae Hwan, ia hanya bisa merasakan pipinya yang panas akibat tamparan dari sang kakak.


"Ini salahku, Hyung" ujarnya mengaku tanpa berani menatap Yoon Wo.


Sebenarnya Yoon Wo selama ini selalu mengawasi Jae Hwan dan Hanna, walau sebelumnya ia sempat marah pada Hanna, tapi itu hanya sebentar.


Pria itu sudah menganggap Hanna lebih dari karyawannya. Mungkin seperti adiknya?


Tae Il hanya menarik tipis senyumnya yang hampir tidak terlihat itu.


📨Message


To : ........


"Kirim fotonya sekarang"


Ia langsung memasukkan lagi ponselnya kedalam saku celananya.


"Hyung!" seru Ye Jun

__ADS_1


"Kau menemukannya?"


Tapi Ye Jun hanya menampakkan ekspresi anehnya.


"Ya, Daebak" celetuk Jin Sung yang dibuat menganga saat melihat layar laptop kakaknya.


Sontak mereka semua langsung melihat apa yang baru saja Ye Jun dan Jin Sung lihat.


Foto Hanna sedang tidur bersama pria lain di kamar hotel.


Melihat itu tentunya Jae Hwan tak terima, ia mengepal kuat-kuat kedua tangannya.


"Sudah, stop mencari gadis itu. Kita khawatir dia malah enak-enakkan di kamar hotel bersama pria lain" ucap Jae Hwan dingin.


"Jung Wo, minta pengacara Yoo untuk membawakan surat cerai besok pagi" perintahnya tanpa ada yang bisa membantah.


"Jika itu yang dia mau, baiklah. Aku akan berhenti Hanna" gumamnya dengan emosi yang memuncak.


Mendengar keputusan Jae Hwan, membuat Tae Il diam-diam tersenyum puas. Karena ini yang dia mau.


"Kau yakin. Akan mencerahkan Hanna?" ucap Yoon Wo dengan nada teramat tenang.


"Aku yakin Hyung! aku tak sudi wanita jal*ng itu memiliki gelar sebagai Nyonya Jung" jawab Jae Hwan finis.


"Kalau begitu, apa bedanya dengan dirimu yang bercumbu di kamar utama?" sentak Yoon Wo sukses membuat Jae Hwan terdiam.


Karena menurutnya Jae Hwan bisa saja mencari cara lain dan itu juga tidak dihadapan Hanna agar tak menyakiti perasaan gadis itu.


"Aku melakukan itu karena kepentingan lain, bukan untuk senang-senang, aku yakin gadis itu ingin menghibur dirinya dengan berhubungan dengan pria lain." Jawab Jae Hwan lagi.


"Kalau begitu kenapa dia sampai takut saat Tae Il hampir memperk*sanya?" tembak Yoon Wo hingga membuat Tae Il menatapnya.


Jae Hwan tiba-tiba teringat akan hal itu, ia ingat bagaimana ekspresi ketakutan Hanna malam itu.


"Hyung, aku menemukan posisi Hanna" ujar Ye Jun yang berhasil melacak alamat IP si pengirim foto.


Merasa kondisi tidak kondusif, Tae il lantas kembali membuka ponselnya untuk mengirim pesan pada seseorang.


To : ..........


"Tinggalkan Hanna sendirian, dan jangan tinggalkan jejak apapun"


"Aku pergi sekarang" ucap Jae Hwan yang langsung berlari menuju mobilnya yang terparkir depan rumah.


Sedangkan Seok Hyun dan Yoon Wo beserta yang lain tetap tinggal, dan membiarkan Jae Hwan pergi sendiri untuk menjemput istrinya.


Bahkan Seok Hyun dan yang lain ikut menatap Tae Il.


Karena jika Yoon Wo mengucapkan hal itu, pasti dia tahu atau sadar sesuatu.


"Kau mencurigaiku, Hyung?" sahut Tae Il berusaha untuk tetap tenang.


"Tidak, aku hanya bertanya. Kau tak perlu tegang seperti itu" jawab Yoon Wo.


...****************...


Tidak butuh waktu lama untuk Jae Hwan sampai di posisi Hanna. yang ada di Hotel 30 lantai tersebut.


Ia segera masuk ke loby lalu mencari lift untuk naik kelantai atas.


Ting~


Pintu lift terbuka, dengan berbekal titik kordinat yang diberikan Ye Jun, Jae Hwan berlari mencari nomor kamar hotel di mana Hanna berada.


Pria itu terlihat panik, takut Hanna celaka.


Dan baru kali ini juga seorang Jung Jae Hwan berlari seperti orang gila dengan perasaan khawatir.


Cklek.


Pintu kamar terbuka setelah salah satu pegawai hotel membukakan pintu, Jae Hwan langsung berlari masuk kedalam kamar yang terbilang cukup besar itu.


"Hanna-ya" seru Jae Hwan saat melihat Hanna terbangun sambil memegangi kepalanya serta merasakan sakit di punggungnya.


Pria itu duduk di tepi kasur dan langsung memeluk Hanna hingga gadis itu tak bisa berucap apapun.


"Kau baik-baik saja?" tanya Jae Hwan melepaskan pelukannya untuk memeriksa keadaan Hanna.


Hanna hanya mengangguk pelan.


"Maafkan aku" seru Jae Hwan yang kembali memeluk Hanna, hingga tak terasa air mata Hanna kembali mengalir, ia teringat pemandangan tadi siang yang tak seharusnya ia lihat.


"Kau jahat, Kau... Kau kenapa kejam sekali" rucau Hanna sambil sesegukan.


Mendengar itu membuat Jae Hwan semakin mengeratkan pelukannya.


Perasaan aneh itu datang lagi, Jae Hwan benar-benar tak bisa marah, ia malah mencemaskan keadaan Hanna saat ini.

__ADS_1


Tidak seperti Jae Hwan yang biasa Hanna kenal, pria yang selalu beradu mulut dengannya.


Hanna tiba-tiba melepaskan pelukannya, karena ia merasa ada yang aneh.


Hanna baru sadar jika ada yang melepas pakaiannya dan hanya menyisakan pakaian dalam saja.


Ia menatap Jae Hwan dan langsung menelusupkan tubuhnya kedalam selimut.


"Apa yang terjadi?" tanya Hanna yang mulai gugup, ia takut hal buruk terjadi saat ia tidak sadar.


"Ada apa denganmu?" Jae Hwan malah bertanya balik.


"Kenapa aku bisa disini, kemana pakaianku?" teriak Hanna dari dalam selimut.


Sontak Jae Hwan mulai melihat kesekitar dan mendapati dress Hanna ada di atas kursi.


Pria itu lantas mengambilkannya untuk Hanna, tapi saat akan memberikannya pada Hanna. Jae Hwan mencium bau parfum yang familiar dari pakaian Hanna.


"Pakai ini" ujar Jae Hwan.


Hanna memunculkan kepalanya dari dalam selimut, lalu segera meraih pakaiannya dari tangan Jae Hwan.


"Tunggu disini, jangan mengintip" ucap Hanna yang pergi ke kamar mandi dengan selimut yang membalut tubuhnya.


"Tck. aku tidak tertarik Nyonya" sahut Jae Hwan tersenyum tipis, saat mendengar nada bicara Hanna yang mulai terdengar seperti yang biasa ia dengar. Suara jika ia baik-baik saja.


Selagi Hanna di kamar mandi, Jae Hwan berjalan menyusuri kamar tersebut berniat mencari sesuatu.


Ia sedikit menyesal karena menganggap Hanna telah bermain gila dibelakangnya.


"Kau sudah selesai"


Hanna hanya berdeham, lalu duduk di tepi kasur sambil memikirkan sesuatu.


"Kau ingat kenapa bisa ada di sini?" tanya Jae Hwan yang juga ikut duduk di samping Hanna.


Hanna ingat jika sebelumnya ia bertemu dengan Tae Il, tapi setelah itu ia tak ingat lagi.


Gadis itu hanya diam, pikirnya masalah akan semakin runyam, jika ia memberitahu Jae Hwan bahwa dirinya bertemu dengan Tae Il sebelum ia berakhir dikamar hotel ini.


"Aku akan memastikannya dulu" gumam Hanna dalam hatinya.


"Ya, kau baik-baik saja?" tanya Jae Hwan karena gadis ini malah melamun.


"Aku baik-baik saja," sahut Hanna.


"Kenapa kau ke sini? dimana Yu Na, Yu Na mu itu" ucap Hanna dengan tatapan sinisnya.


"Kau cemburu"


"Ani, untuk apa aku cemburu" bantahnya.


"Sudahlah, mengaku saja"


"Apa ekspresiku terlihat berbohong" balas Hanna menunjukkan ekspresi datarnya.


Disaat-saat seperti ini, pasutri ini masih sempat-sempatnya beradu mulut. Sudahlah author cape.


"Lebih baik kita pulang sekarang" ujar Hanna bangkit dari duduknya, tapi Jae Hwan malah menarik pinggang ramping Hanna hingga jatuh kedalam pangkuannya.


"Ya, lepas."


"Sudah terlalu larut untuk pulang sekarang, kita tidur saja di sini, lagi pula ini sudah di bayar" bisik Jae Hwan hingga membuat bulu kuduk Hanna berdiri.


"Tapi lepaskankan tanganmu ini" pinta Hanna tapi tak di dengarkan oleh Jae Hwan, ia malah merebahkan tubuh Hanna tepat di sampingnya.


Nanar mata mereka saling menatap satu sama lain, hingga lama-lama tatapan itu berubah menjadi tatapan saling menginginkan satu sama lain.


Ingat, mungkin dua pasutri ini sedang dikuasai rasa suka mereka masing-masing.


Hanya saja tak ada yang mau mengaku.


Sementara disisi lain, ada orang lain yang sedang marah karena rencananya gagal, dan malah membuat dua pasutri itu menginap dihotel mewah tanpa membayar sepeserpun.


...****************...


.


.


.


Jangan Lupa like, tinggalin jejak di komen, vote, dan share, biar author semangat up ep-nya.🥰


.


.

__ADS_1


__ADS_2