Revenge Obsession

Revenge Obsession
Revenge Obsession : Cp.46


__ADS_3

Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi hadiah&votenya🥰


So... I Hope Enjoy The Story


...****************...


Hanna perlahan membuka matanya setelah tertidur entah berapa hari, namun yang pasti. dirinya masih berbaring di sebuah ranjang berukuran besar.


"Akhhh..."


Gadis itu perlahan bangun dan menyandarkan tubuhnya pada punggung ranjang sambil memperjelas pandangannya.


"Tunggu! ini bukan kamarku?" gumamnya yang langsung melihat kesekitar ruangan besar itu.


"Tentu! karena ini kamarku."


Hanna terkejut dengan kedatangan pria itu tiba-tiba. saat tau itu siapa seketika wajahnya mulai datar dan terkesan sinis.


"Kenapa aku ada disini?" tanyanya menuntut penjelasan dari Jae Hwan yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Bukannya menjawab, pria itu malah berjalan santai menuju ruang ganti untuk mengambil pakainnya.


Hanna yang melihat dirinya di hiraukan lantas berucap "Yak! kau tidak menjawab!!!"


"Sebenarnya apa maumu brengs*k! kenapa tidak membunuhku saja hari itu" teriaknya dengan mata memerah.


Ia bangkit sambil menahan rasa sakitnya dan menghampiri Jae Hwan yang berdiri di depan kaca sambil mengancing kemejanya.


"Yak! kau tuli..." kini tangan Hanna berada dikerah baju Jae Hwan.


Pria itu lantas menatapnya "Mauku? tidak ada." jawabnya tanpa gemetar.


"Lalu kenapa kau mempermainkanku? kenapa tidak kau selesaikan saja hari itu!!!" tekan Hanna, karena ia sadar semua rencananya telah kacau.


Sedangkan Jae Hwan dengan santai berjalan menuju nakas untuk mengambil ponselnya, setelah Hanna melepaskan kerah bajunya.


"Oh, iya. Omong-omong margamu telah berganti, Nyonya Jung." Jae Hwan berkata dengan santai sambil menatap layar televisi yang sedang menyala.


Dan Hanna, ia hanya bisa mengerutkan dahinya bingung "maksudmu?."


"Lihatlah jari manismu, Nyonya." Jae Hwan berkata sambil melirik Hanna sesekali.


Sesuai instruksi Hanna melihat kearah jari manisnya takut-takut sudah tidak ada. tapi prediksi Hanna salah, bukan jari manisnya yang hilang tapi ada benda aneh yang di ukir dengan cantik disana, Cincin.


Tapi ia masih belum mencerna apa yang dimaksud oleh Jae Hwan dan apa hubungan cincin dan marganya yang telah berubah.


"Aku masih tak mengerti," gumam Hanna pelan, namun masih terdengar oleh Jae Hwan.


Lantas Jae Hwan memperlihatkan jari manisnya juga dan betapa terkejutnya Hanna melihat cincin yang sama persih melingkar di jari manis Jae Hwan.

__ADS_1


Sama persis?


Artinya,


Tunggu!


"SIAL*N!"


Hanna langsung menghampiri Jae Hwan kemudian kembali meraih kerah bajunya, sontak membuat Jae Hwan sedikit terbatuk karena merasa tercekik.


"Kau menikahiku! untuk apa?"


"untuk bermain, mungkin."


"Kau pikir aku ini barang yang dengan seenaknya kau mainkan? Benar-benar baj*ngan gila!" maki Hanna dengan lantang.


"Lepaskan, kau membuat suamimu tak nyaman" lagi-lagi Jae Hwan berkata dengan santainya, sedangkan Hanna menahan emosinya. terlihat dari nafasnya yang tidak teratur.


"Dasar br*ngs*k"


Bugh!


Dengan kekesalan dan kemarahan yang memuncak, Hanna meninju Jae Hwan di tulang pipinya, yang mengakibatkan sudut bibir Jae Hwan berdarah.


"Kau berani memukulku?" ujar Jae Hwan sambil mengelap darah yang ada di sudut bibirnya akibat pukulan istrinya ini.


"Apa ini sifat aslimu hah! dasar jal*ng sialan"


Tiba-tiba Hanna jatuh tidak sadarkan diri, dengan darah yang perlahan mengalir dari bekas luka jahitannya.


yang ia kenakan.


"Yak! bangun." ujarnya sekali lagi menyenggol lengan sang istri dengan sepatu mahalnya.


Namun sayangnya, Hanna kali ini benar-benar tidak bangun, wajahnya semakin memucat dan pendarahan di perutnya mulai merembes ke piyama yang ia kenakan.


"Yak! Kim Hanna.. Aishhh, maksudku Kang Hanna! bangun sekarang atau aku akan menendangmu sekarang!" ujarnya kesal karena hari ini ia ada meeting.


"aku bisa terlambat kalau begini caranya" Ujarnya bergumam.


"Aishhh~ dasar istri menyusahkan" umpat nya kesal, lalu mengangkat Hanna dan membaringkan-nya di ranjang King Size miliknya.


Lekas ia merogoh ponsel di saku jasnya, untuk menghubungi dokter yang sebelumnya menangani luka tusukan Hanna.


Sambil memainkan ponselnya, pria itu sesekali melirik kearah Hanna. dimana darahnya semakin merembes kemana-mana.


Melihat itu, membuat Jae Hwan segera mengambil tisu.


Dengan memalingkan wajahnya, ia perlahan mengangkat piyamanya hingga terlihat perut putih nan mulus milik Hanna, gadis yang sudah berstatus sebagai istrinya 4 hari yang lalu.


"Apa kemarin aku menusuknya terlalu dalam?" gumamnya sambil sesekali memastikan ia mengelap bagian yang tepat.


Tapi dibalik itu semua, tidak menutup kebenaran jika Jae Hwan juga seorang pria yang memiliki nafsu, ia hanya bisa menelan kasar salivanya sambil menunggu dokter yang tak kunjung datang.


Tiba-tiba pintu kamar di ketuk, tentu saja Jae Hwan langsung menyuruhnya masuk tanpa tahu siapa yang datang.

__ADS_1


Dengan ekspresi wajah datar, seorang pria masuk kekamarnya.


"sekarang kau apakan lagi dia?" tanyanya dingin.


"Sedang apa kau disini?" tanya Jae Hwan pada Tae il.. pria yang sampai saat ini masih mempunyai rasa terhadap Hanna, gadis yang ia nikahi dengan paksa tanpa sepengetahuan sang wanita.


Benar! Pria gila satu ini menyetujui permintaan Yoon Wo saat menelponnya sebelum Hanna dibawa kemarkasnya.


Saat Hanna selesai di obati, Jae Hwan langsung memanggil pengacaranya untuk mendaftarkan pernikahannya agar sah secara hukum. tentunya itu semua ia atur dengan tipu muslihatnya.


Mulai dari memalsukan dokumen hingga persyaratan lain, agar ia sah menikahi Hanna secara hukum.


"Apa menyakitinya waktu itu tidak cukup hyung! kau bahkan merebut orang yang kucintai!" kata Tae Il dengan rasa kekecewaan teramat pada pria dihadapannya ini.


"Dia tidak pantas untukmu, wanita manipulatif sepertinya tidak pantas bahagia. aku menikahinya karena dia punya kunci siapa pelaku yang membunuh bibi Cha, dan aku akan membalas setiap perbuatannya yang sudah mempermainkanku selama ini dengan akting lugunya itu!!!" jelas Jae Hwan, dimana sebelumnya ia sudah menjelaskan ini pada yang lain.


Apakah Yoon Wo diam saja? Ya, dia diam saja dan menyetujui permintaan sang adik karena merasa kecewa sebab Hanna juga telah membohonginya selam ini.


Tapi ia tetap meminta agar Jae Hwan tidak melewati batasnya.


Bagaimanapun, darah jauh lebih kental dari pada air.


Tae il hanya diam, ia lantas berjalan menuju ranjang dan duduk tepat di samping Hanna. dan dengan santainya ia mengambil tisu untuk mengambil alih apa yang sebelumnya Jae Hwan lakukan.


"Kau pergi ke kantor saja, lagian hyung juga tidak punya waktu untuk memperdulikan-nya, bukan?!" ucap Tae il tanpa menatap Jae Hwan.


Memang saat ini hubungan mereka sangat renggang, karena sebelumnya Jae Hwan berjanji tidak akan menyetujui pernikahan itu, tapi sekarang realita berkata lain.


Jae Hwan lantas bangun, lalu mengambil tas kerjanya. saat akan keluar ia melirik sekilas kearah istrinya dan Tae il.


Ia langsung menghapus semua pikirannya untuk cemburu, dan membuat gengsi serta egonya menguasai dirinya.


Berpapasan dengan Jae Hwan, seorang dokter wanita datang untuk segera memeriksa kondisi Hanna.


Melihat dokter sudah datang, entah kenapa ia merasa sedikit lega, lalu setelah itu ia langsung bergegas pergi ke kantor


...****************...


Preview Next Ep.


"Minta cerai saja darinya, aku akan membawamu pergi jauh darinya dan kita bisa memulai hidup baru"


...****************...


.


.


.


guys bantu like dan coment nya ya, biar author pinya semnagat buat nulis dan lanjutin ceritanya. terimakasih🥰


.


.

__ADS_1


__ADS_2