Revenge Obsession

Revenge Obsession
Revenge Obsession : Cp.96


__ADS_3

Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapat hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


Typo bergentayangan, mohon di maklumi


...****************...


Dengan wajah datarnya pria yang masih memakai pakaian kantornya itu meletakkan sebuah berkas di atas meja dengan kasar hingga membuat Hanna yang baru saja masuk kamar kaget.


Hanna hanya lewat menuju meja rias tapi Jae Hwan sudah lebih dulu mencekal lengannya.


"Apa?" sahut Hanna yang langsung menepis tangan lelakinya.


Setelah malam itu, sifat Hanna sedikit berubah ia cenderung banyak diam daripada meladeni Jae Hwan berdebat.


Jae Hwan mengambil kembali berkas yang ada di atas meja, untuk diberikan pada Hanna.


.


"Dana Taktis" gumam Hanna pelan, perlahan tubuhnya merasakan hawa dingin tapi anehnya dahinya malah berkeringat. Benar, ia sedang panas dingin sekarang.


"Bagai- "Bagaimana aku tahu?! Ingat Hanna! Aku bisa saja mengetahui semua yang kau sembunyikan... Berapa banyak lukisan dan barang mahal lainnya yang kau sembunyikan??"


Sial, bagaimana pria ini mengetahui hal yang sudah Hanna simpan dengan rapi, apa ini perbuatan Park Tae Il,


"Jangan menyalahkan Park Tae Il"


"Sudah kuduga" gumam Hanna dalam hati.


"Aku hanya ingin mengambil hak ku, kau pikir ucapanku saat itu adalah yang sebenarnya? Memaafkan Tuan Kang dengan mudah?... Ck. Tidak akan" Hanna mendudukkan dirinya di kursi meja rias.


"Kalau begitu sembunyikan dengan rapi, jika media memcium ini, nama baikku akan tercoreng"


"Kau,kan bisa membereskan semuanya" sahut Hanna enteng menatap Jae Hwan lewat pantulan cermin.


"Iyaa, tapi-


"Tuan," Jung Wo masuk kedalam kamar lalu membisikkan sesuatu pada majikannya itu.


Tanpa buang waktu, Jae Hwan langsung pergi bersama tangan kanannya tanpa melanjutkan ucapannya.


"Dasar aneh" gumam Hanna.


Tapi untunglah pria itu tidak memperpanjang masalah Dana gelap yang Hanna kumpulkan sedikit demi sedikit.


Bagaimanapun, Hanna tak bisa menerima begitu saja mengenai masa lalu ibunya dan Tuan Kang.


Gadis itu mungkin diam dan berlagak semuanya baik-baik saja di hadapan Tuan Kang.

__ADS_1


Jika ratu drama sepertinya menipu Jae Hwan dan circlenya, kenapa Tuan Kang tidak?!


Hanna meraih berkas yang yang sebelumnya diberikan Jae Hwan padanya.


"Jika aku bisa menguasai setengah kekayaan Jae Hwan, semuanya akan baik-baik saja" gumamnya pelan seraya mendudukkan dirinya di ujung kasur.


Jangan berpikir ia melakukan ini karena uang dan kekuasaan, Hanna hanya ingin membalaskan seluruh dendamnya pada orang-orang yang tak pernah menghargainya, hidup belasan tahun dengan label sebagai anak pembunuh bukanlah hal yang mudah, belum lagi bullying yang di dapatnya, bahkan ia harus menemui psikolog di usia muda karena paranoid yang berlebihan.


Rencana balas dendamnya pada Jae Hwan sudah hancur berantakan, setidaknya balasan setimpal untuk Bae Han Ju tak akan sia-sia.


Hanna meremas kertas itu sampai tak berbentuk, matanya memerah saat menapaki kehidupan sederhana keluarganya hancur karena dendam seseorang, jadi jangan salahkan Hanna jika ada dendam yang begitu besar dalam dirinya.


"Kau tunggu saja Bae Han Ju, aku akan membuat putrimu menderita di tanganku" kali ini dia lebih terlihat seperti istri mafia sungguhan.


Tatapan tajam dengan segala kebencian yang tertanam dalam dirinya.


Hanna melangkah pergi dari kamar setelah tadi menghabiskan waktu sekitar 15 menit untuk mengganti pakaiannya.


"Mari kita gunakan fasilitas yang diberikan Jae Hwan" gumamnya.


Dibalik kacamata hitam dan lipstik merah miliknya, Hanna tersenyum layaknya wanita psikopat.


"Kita lihat Eun Ji Hyo! Kau pikir aku akan diam saja"


Sopir melajukan mobilnya menuju club mewah yang sebelumnya ia datangi.


Dengan pengawalan ketat, istri dari pemilik JH Group itu masuk melewati para tamu yang sedang mengantri masuk.


...****************...


"Berapa banyak yang kau perlukan?!" dengan bahasa informal, pria itu menyahut ucapan anggota Dewan Wo Song Woon, calon presiden yang bersaing dengan antek-antek Bae Han Ju.


"Tapi aku ingin kau memberikannya secara bertahap tanpa ada yang sadar, terutama bawahan Bae Han Ju" pinta Tuan Wo


"Kau tenang saja, itu mudah bagiku... Tapi aku ingin kau mengambil alih kursi kepresidenan yang di siapkan Bae Han Ju untuk bonekanya."


"Selama kau mau mendukungku, aku akan memastikan itu"


"Oke, deal" Jae Hwan langsung menjabat tangan Tuan Wo sambil tersenyum penuh arti.


"Cairkan Dananya sekarang" perintah Jae Hwan, saat itu juga Jung Wo langsung memerintahkan bawahannya untuk segera melakukan pembersihan Dana dari hasil penjualan ilegal miliknya.


"Kau tahu Lee Min Jun?! Anak pimpinan Lee Tae Jun?" ujar Jae Hwan membuka pembicaraan seraya mengisi gelas Tuang Wo


Tuan Wo hanya mengangguk, tanda ia tahu siapa yang dimaksud oleh pria dihadapannya ini.


"Aku akan memberikan hadiah untukmu besok" ucap Jae Hwan tiba-tiba, lalu ia bangkit dari dudukanya.


Tapi sebelum ia keluar dari ruang privat restoran itu, ia sempat membisikkan sesuatu pada Tuan Wo yang berakhir dengan senyuman puas dari bibir pria tua itu.


"Apa ini keputusan yang tepat?" celetuk Jung Wo seraya memasang sabuk pengamannya.


"Aku ingin mendudukkan Tuan Wo bukan karena aku mendukungnya, tapi..." Jae Hwan menggantung ucapannya, lalu menatap kaca dimana tatapannya bertemu dengan tatapan Jung Wo.


Seolah tahu apa maksud Jae Hwan, Jung Wo langsung mengangguk pelan lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk pulang.

__ADS_1


Saat ini Jae Hwan masih tidak tahu jika wanitanya itu berkeliaran di club.


...****************...


Pukul 23.48 KST.


Hanna tampak meneguk segelas wine putih yang tersedia di meja bartender.


"Nyonya, Tuan mencari anda" ujar pengawal memperlihatkan beberapa panggilan telpon tak terjawab dari Jung Wo.


Hanna yang notabennya tidak terlalu kuat minum, membatasi dirinya agar tak melewati batas kemampuannya.


"Kita pulang saja, wanita itu mungkin tidak akan datang malam ini" kata Hanna seraya turun dari kursi.


Namun tanpa ia sadari ternyata Park Tae Il dari awal memperhatikannya, tapi yang aneh. Pria itu hanya diam tak ada niatan untuk menemui Hanna padahal seperti yang kita tahu, Tae Il pasti akan mengambil kesempatan itu selagi Jae Hwan tidak bersamanya.


Saat Hanna akan melewati pintu keluar, tampak gerombolan pria bertubuh besar dan kekar berjalan ke arahnya.


"Apa kau Jung Hanna?!" tanya salah satu perwakilan dari para lelaki itu.


Sebelum Hanna menjawab, pengawal sekaligus para bawahan Jae Hwan itu langsung membentuk posisi perisai, agar Hanna tak terluka.


"Tenang, kami tidak akan menyerangnya... melainkan! Aku ingin bicara baik-baik dengan Nyonya kalian" ujar pria tadi.


Hanna melepas kacamatanya, lalu menatap para pria itu satu-persatu.


"Denganku?!"


Pria di depannya mengangguk, "hanya 10 menit"


"Flashdisk" ucap pria itu, seolah memberi Hanna kata kunci.


Hanna sempat berpikir, sebelum ia menyetujui untuk ikut kedalam mobil dan bicara dengan salah satu pria itu, yang mungkin saja ketuanya.


"Apa kau suruhan wanita itu?"


"Kami datang untuk menjemput anda menemui Nona Se Rin" jawabnya seraya memperlihatkan sebuah pesan serta panggilan telpon dari Oh Se Rin pada Hanna.


Hanna hanya mengangguk untuk menyetujui ajakan dari pria yang duduk di sebelahnya itu.


Tanpa memberitahu para pengawalnya, mobil itu langsung pergi menuju sebuah tempat.


Melihat itu tentunya para pengawalnya kalang kabut, dan langsung pergi mengikuti kemana mobil itu membawa Hanna pergi.


...****************...


.


.


.


Jangan Lupa like, tinggalin jejak di komen, vote, dan share, biar author semangat up ep-nya.🥰


.

__ADS_1


.


__ADS_2