
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
...****************...
Sambil memejamkan matanya, Jae Hwan duduk di kursi kejayaannya dengan kaki yang ia letakkan di atas meja.
Ia memilih untuk tidak pulang, dan tetap berada di mansion besar tersebut. tidak, lebih tepatnya itu adalah markas JDevils.
Ting~
Lekas Jae Hwan meraih ponselnya yang ada di atas meja.
Sebuah titik kordinat di kirimkan padanya, disusul sebuah pesan teks yang berhasil membuatnya membelalakkan matanya.
Sontak ia langsung berdiri dari posisinya sambil mengepal kuat tangannya.
"Kepar*t" umpatnya diiringi dengan wajah bringasnya.
Tanpa buang waktu, ia langsung pergi keluar untuk menemui Jung Wo.
"Apa maksudnya ini?" tanyanya meminta kejelasan dari sang tangan kanan.
Dengan ekspresi ragu, Jung Wo mencoba menjelaskan semuanya di iringi dengan beberapa data pendukung yang membuat Jae Hwan semakin habis kesabaran.
"Jadi selama ini aku dibodohi lagi setelah Shin Myung Il! maksudmu begitu??" tanyanya dengan nada tenang namun ada penuh penekanan di setiap katanya.
Jung Wo mengangguk pelan meng-iyakan pertanyaan bosnya ini, dan sadar jika ia dan bawahannya akan segera mendapat malapetaka.
"Kenapa... kalian membiarkan kelinci kecil itu pergi sejauh ini!!!" ucapnya menepuk pipi Jung Wo beberapa kali.
Tidak ada yang berani menjawab ucapan Jae Hwan, mereka semua hanya menatap lurus kedepan.
Brakkk....
"Brengs*k"
"Mari kita lihat! aku akan membuat hidupmu menderita setiap hari.!" gumamnya pelan, lalu meraih ponsel yang ada di saku celananya, untuk menelpon Yoon Wo.
"Bawa mereka kehadapanku 1 jam lagi!" perintahnya, lalu pergi untuk bicara di telpon dengan Yoon Wo.
...****************...
Tok...tok...tok...
"Kau masih tidur!" seru Tae il, sambil mengetuk pintu kamar Hana.
"Sebentar!" ujar Hana menyaut dari dalam kamar.
Tidak beberapa lama, pintu terbuka dan memperlihatkan wanita yang selalu ingin ia lihat.
"Aku ingin mengajakmu ketempat lain! apa kau mau?" tanyanya, dimana pria ini sudah rapi dengan pakaian casualnya.
"Kemana?" tanya Hana bingung.
__ADS_1
"Perasaan, dia tidak tahu banyak tentangku. tapi kenapa sok sok an ingin memulihkan ingatanku" gumam Hana dalam hatinya.
Mengingat kemarin Tae Il mengajaknya ke apartemen serta tempat lain yang mungkin akan membuat Hana ingat, walau sebenarnya itu hanya akal-akalannya agar bisa jalan dengan Hana.
"Apa tidak bisa besok saja? aku sedang tidak enak badan" ucap Hana sontak Tae il langsung menanyakan keadaannya.
"Kau baik-baik saja? apa kau pusing? dimana yang sakit?" tanyanya tanpa membiarkaHana menjawab dulu.
"aku hanya perlu istirahat, tidak ada yang lain" jawab Hana tersenyum lembut pada pria dihadapan-nya ini.
Tanpa sadar, jika ada panggilan tidak terjawab dari ponsel pintar miliknya.
Tae il menghela napasnya, dan memilih untuk membiarkan Hanna istirahat.
"Yasudah! kau istirahat saja.. aku ada dibawah, jika perlu sesuatu panggil saja" ucapnya seraya menepuk lembut pucuk kepala Hanna, hingga membuat gadis itu salah tingkah sendiri karena kali pertamanya mendapatkan perlakuan seperti ini dari seorang pria tampan seperti Park Tae Il.
Hanna mengangguk dan masuk kembali kedalam kamar, sedangkan Tae il! ia turun kelantai satu untuk duduk santai di ruang keluarga.
Tidak berselang lama, terdengar suara ribut dilantai bawah hingga membuat Hanna yang mendengarnya keluar dari kamar.
Namun saat ia turun, dirinya tidak mendapati satu orangpun disana.
Bughhh....
...****************...
Ruangan itu terlihat biasa saja. Tidak ada yang spesial, tapi sebuah ingatan seketika terlintas dipikirannya. sebuah tempat yang dulu pernah membuat memori kelam untuknya.
"Hmmm, akh!"
Hanna membuka matanya perlahan dengan rasa sakit dipunggungnya, akibat pukulan dari tongkat bisbol.
Saat sedang melihat ke sekitar, matanya tertuju pada seorang pria yang duduk terikat sama dengannya.
Saat menyadari siapa pria itu, ia langsung berontak agar lepas dari tali yang mengikat tubuhnya, namun sayang itu sia-sia.
"Hyun Il!" gumamnya.
"Yak Kang Hyun Il, sadarlah!!!" teriaknya pada pria yang sudah terlihat babak belur itu.
Pria itu perlahan membuka matanya, ia kaget saat melihat Hana berada diruangan yang sama dengannya.
"Hanna!" gumam Hyun il dengan suara yang begitu lemah.
"Siapa yang melakukan ini?" tanya Hanna.
"Targetmu. Jung Jae Hwan!" jawab Hyung Il sambil menahan rasa sakit akibat pukulan-pukulan yang ia terima.
Tunggu,
Jung Jae Hwan?
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang mendekat tampak jelas pria keparat itu. Ia, Jae Hwan.
"Bagaimana keadaanmu KANG HAN-NA??"
Tampak Hanna membeku setelah Jae Hwan mengucapkan kata itu. Seolah ia mati rasa
"Bagaimana kau-"
"Bagaimana aku tahu? itu tidak penting! sekarang aku sudah menggagalkan seluruh rencanamu" kata Jae Hwan seraya menghidupkan rokoknya.
__ADS_1
"Dasar keparat!" teriak Hanna dengan keras. Tampak urat lehernya yang timbul.
"Hilang ingatan! Ck. jika otakmu dangkal, jangan pernah berpikir untuk jadi berani seperti ini. tapi perlu ku akui kau sangat berani untuk sampai ketitik ini. berani mengambil data penting milikku?! bukan begitu Kang Hanna ssi!"
"Ah. aku juga punya hal lain, kau ingin dengar?"
"Hentikan!" raung Hanna saat melihat anak buah Jae Hwan menodongkan senjatanya pada Hyung Il. diiringi dengan peluh yang membanjir ditubuhnya.
"Kau anak miskin yang di adobsi oleh pemilik Kang's Dynamics setelah ayahmu dinyatakan bersalah, lalu menyusun rencana untuk melakukan hal yang bahkan aku tidak tahu! dan setelah itu merekayasa seluruh pertemuan kita termasuk saat dikantor polisi dan seterusnya.. benar?"
Tampak Hanna diam lalu buka suara, "Apa yang kau inginkan?" tanya Hanna.
"Tidak ada" sahut Jae Hwan yang membuat Hanna muak.
Pria itu melangkah perlahan mendekati Hanna, dengan sebuah pisau bedah di tangannya.
"Kau tahu apa akibatnya jika main-main denganku? kurasa aku tidak perlu menjelaskannya lagi padamu. karena aku yakin! saat kau berfikir untuk membodohiku, kau sudah tahu konsekuensi-nya jika tertangkap olehku!" ucap Jae Hwan yang sedang memotong tali yang mengikat tubuh Hanna.
"Identitas yang selama ini kau pakai, semuanya adalah palsu. kau juga memanfaatkan Lee Bong Cha untuk melakukan pencucian dana dengan beberapa lukisan yang ada di Canada, sebenarnya aku tidak memerlukan alasanmu kenapa melakukan ini tapi-"
(note : ingat, ada Seorang pria yang datang kerumah sakit, sebelum dokter menyatakan waktu kematian. cp:40)
Pria itu berdiri di belakangnya, dan perlahan membungkuk dan berkata "kau akan menderita disisa hidupmu Kim Hanna! ah. maksudku.. Kang Hanna" bisiknya, hingga membuat gadis ini bergidik ngeri.
"Kau akan membayar semuanya!" sambungnya.
"Kita akhiri saja ini" ucap Hanna lalu merebut pisau bedah yang ada di tangan Jae Hwan.
Ia segera balik badan, dan mengayunkan tangannya dengan pisau yang tertuju pada perut Jae Hwan.
Bruk!
Bukan. Itu bukan suara Jae Hwan terjatuh melainkan Hanna.
Sebuah luka telah dilukis diperut Hanna dengan amat parah. sehingga Hanna dibuat meringis kesakitan.
"Dasar kau baj*ngan" teriak Hanna sebelum hilang kesadaran.
Dengan perlahan Jae Hwan mendekati Hanna yang terbaring. "Akan ku buat hidupmu dipenuhi linang air mata dan penderitaan, Hanna."
...----------------...
Preview next ep-
"Ada dimana aku?"
"Tunggu! ini bukan kamarku?"
...****************...
.
.
.
Jangan Lupa like, tinggalin jejak di koment, vote, dan share, biar author semangat up ep-nya.🥰
.
.
__ADS_1