Revenge Obsession

Revenge Obsession
Revenge Obsession : Cp.87


__ADS_3

Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapat hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


Typo bergentayangan, mohon di maklumi


...****************...


Hanna duduk termenung di kursi. Angin berhembus semilir menambah kesan sejuk balkon rumah ini.


Ia syok saat tahu dirinya keguguran, bahkan Jae Hwan sadar jika Hanna akhir-akhir ini terlihat murung, sekalipun pria itu mencoba menghibur, tak ada respon positif dari gadis itu.


Entah kenapa, pandangan Hanna tak sengaja mengarah pada sebuah taman yang tak jauh dari mansion besar tersebut.


Senyumnya perlahan tertarik saat melihat beberapa anak kecil sedang berlarian dan tertawa riang satu sama lain.


Namun itu tak berlangsung lama, senyumnya pudar saat melihat Park Tae Il berada di pekarangan belakang rumah, entah sejak kapan pria itu ada di sana.


Tae Il melambaikan tangannya pada Hanna, tak lupa senyum manisnya yang bagai mimpi buruk bagi Hanna.


"Mau apa lagi pria itu datang ke sini" gumam Hanna, lalu beranjak dari duduknya untuk segera masuk kedalam kamar.


Tidak beberapa lama masuk Jung Wo setelah Hanna memintanya untuk datang.


"Antar aku ke kantor Jae Hwan" pintanya seraya meraih tas kecil dan kaca mata hitam yang ada di atas meja rias.


Hanna telah siap sebelum ia memanggil tangan kanan suaminya itu.


Dengan dress berwarna wine yang di padukan dengan tas tangan berwarna senada dan kaca mata hitam, membuat penampilan Hanna tampak elegan.


Hanna masuk kedalam mobil dan langsung meminta sopir untuk segera pergi, karena ia melihat Tae Il sedang berjalan menghampirinya.


Senyum tipis tertarik dari bibir pria itu kala melihat Hanna yang begitu jelas menghindari dirinya.


Hanna heran kenapa pria itu masih bisa masuk kekawasan mansion Jae Hwan yang penuh dengan pengawalan itu.


Hanna merasa Tae Il bagai hantu yang bergentayangan dimana saja dan entah dari mana.


Tak dipungkiri jika gadis itu merasa takut saat melihat pria itu, takut ia di lec*hkan lagi.


Pria itu datang, karena ingin mengambil senjata api yang ada di ruang bawah tanah yang sudah di pastikan Hanna tak tahu tentang keberadaan tempat itu.


Tak heran jika Tae Il datang ke sana, karena Jae Hwan memang menjual benda ilegal tersebut selama ia aktif sebagai ketua mafia.


Jangan heran jika Jae Hwan masih mengizinkan Tae Il membelinya, karena uang tetap nomor satu bagi pemilik JH Group itu.


...****************...


Hanna berjalan memasuki lift tanpa melepas kacamata hitam nya.


Baru saja ia masuk keruangan Jae Hwan, kehadiran seseorang langsung membuat Hanna muak.


"Kenapa tidak bilang mau ke sini?" Jae Hwan segera bangkit dari duduknya.


"Apa ada alasan untukku tidak boleh kesini?!" sahut Hanna


Belum lagi Jae Hwan buka suara, Yu Na langsung mengalungkan tangannya pada lengan kekar suami Hanna itu.

__ADS_1


"Jangan memperlihatkan jika kau itu jal*ng Nona Yu Na si... Menjijikan " sarkas Hanna yang sudah habis kesabaran dengan wanita satu ini.


"Lebih menjijikan mana daripada mendapatkan julukan jal*ng dimalam pesta" sindir gadis yang bersama Jae Hwan.


Mengingat wanita itu juga hadir saat pesta anniversary YJ Group


Rasanya ingin sekali Hanna menjambak rambut Yu Na sekarang, tapi ia mengurungkan niatnya lalu tersenyum pada dua insan yang berdiri dihadapannya saat ini.


"Apa kau ingin ku belikan obat?"


"Untuk apa?" sahut Yu Na


"Oh... bukankah kah sedang kegatelan sekarang?! Apa aku salah?"


"YA!!!"


"Turunkan nada bicaramu Yu Na" sentak Jae Hwan hingga wanita yang berdiri di sampingnya itu kaget.


"Sekarang kau pulang dulu"


"Kau mengusirku?" Yu Na langsung memperlihatkan ekspresi kesalnya yang membuat Hanna semakin gemas ingin menjambak rambut wanita satu ini.


"Untuk saat ini iya, pergilah" ujar Jae Hwan


Yu Na mendengus kesal lalu meraih tasnya dan pergi dari ruangan Jae Hwan tapi sebelum itu ia dengan sengaja menabrak bahu Hanna.


"Dasar jal*ng" umpat Hanna kesal


Setelah Yu Na pergi dari ruangan Jae Hwan, Hanna langsung mendudukkan dirinya di sofa dengan kekesalan yang masih ada dalam dirinya.


"Kenapa kau kesini?" tanya Jae Hwan sekali lagi.


"Kenapa Park Tae Il masih bisa masuk kerumah? Apa perbuatan-nya sejauh ini masih tidak membuatmu paham?!"


Hanna hanya bisa terdiam setelah kalimat itu keluar dari mulut suaminya.


📳Drttt!!!


"Ada apa?"


"Lihat berita"


Jae Hwan langsung meraih remot tv dan menyalakannya.


"Ini belum seberapa Bae Han Ju" gumam Jae Hwan di iringi smirk andalannya, saat melihat berita scandal yang dibuatnya dengan memanipulasi seluruh kebenaran.


"Kau yang melakukannya?"


"Menurutmu?" sahut Jae Hwan, ada rasa puas dalam dirinya saat memukul kelemahan lawannya.


"Bagaimana jika kita bekerja sama saja? Aku juga ingin melihat Bae Han Ju hancur"


Mendengar itu tentunya membuat Jae Hwan langsung menatap sang istri.


"Berikan aku alasan, agar bisa mempertimbangkan tawaranmu?!"


"Kau tak percaya istrimu?"


Jae Hwan menaikkan satu alisnya lalu menatap Hanna dengan tatapan anehnya itu.


"Dengar Nyonya! Kau menipuku beberapa kali, menurutmu aku akan percaya begitu saja?"


Mendengar itu membuat Hanna mendengus kesal, lalu ia kembali buka suara "Aku janji, aku tidak akan mengecewakanmu"

__ADS_1


"Katakan apa rencanamu?"


Hanna menghela nafasnya, "Kirim beberapa orang untuk memasuki perusahaan Bae Han Ju... Perintahkan mereka untuk membuat tim dan berjalan melawan arus dari ketentuan perusahaan- "maksudnya?"


"Dengarkan dulu" Jae Hwan mengangguk


"Tapi sebelum itu, kita harus menempatkan seseorang di posisi penting... selama kita mempunyai pion penting di perusahaan pria itu, maka semuanya akan lebih mudah"


"Maksudmu posisi CEO?"


Hanna mengangguk, "Tidak mudah untuk mendudukkan orang luar di posisi itu, apalagi perusahaan itu milik Bae Han Ju... pria tua bangka itu pasti akan tahu alur rencana sebelum rencana nya dijalankan." ujar Jae Hwan lagi.


"Selain itu, kita juga harus memiliki saham mayoritas agar bisa menjalankan rencana nya" sambung Jae Hwan.


"Maka dari itu aku mengajakmu bekerja sama! Selama ini aku sudah memikirkan ribuan rencana untuk menjatuhkan Bae Han Ju, hanya saja itu tak pernah berhasil" ucap Hanna, ia merasa kasian terhadap dirinya sendiri.


Sepintar apapun gadis itu, tetap saja beberapa hal membatasi rencananya agar terwujud, bahkan rencananya untuk membalas dendam pada Jae Hwan malah berbalik bagai boomerang padanya.


"Aku akan memikirkan itu..."


"Kau setuju?" sahut Hanna di iringi senyum manisnya.


"Kau diam, artinya kau setuju. Oke" sentak Hanna langsung mengambil keputusan final.


"Ya, aku belum bicara"


"Sudahlah, jangan berdebat denganku" jawab Hanna


Jae Hwan hanya memutar malas bola matanya dan membiarkan apapun itu keputusan sang istri.


"Ah, satu lagi-


Hanna menggantung ucapannya lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.


Flashdisk?


Hanna berdiri lalu berjalan kearah meja kerja Jae Hwan dan duduk di sana.


Hanna memberi kode dengan jaranya agar Jae Hwan mendatanginya.


Dengan langkah malas pria itu berjalan menghampiri Hanna.


"Kami menemukan ini saat menyelidiki Bae Han Ju" Hanna mengklik mousenya dan seperkian detik setelahnya muncul laporan medis terkait dua operasi yang berlangsung dihari yang bersamaan.


Jae Hwan mengerutkan dahinya dan menapaki layar komputernya seolah sedang membandingkan apa yang sedang ia lihat.


"Darimana kau mendapatkan ini?" seru Jae Hwan seraya mengambil alih mousenya dan tatapannya beralih pada Hanna


Jae Hwan kembali menatap layar komputer dengan seksama.


"Jadi... ini alasan orang tuaku dibunuh?"


...****************...


.


.


.


Jangan Lupa like, tinggalin jejak di komen, vote, dan share, biar author semangat up ep-nya.🥰


.

__ADS_1


.


__ADS_2