
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
...****************...
Baru saja Tae Il datang, Jae Hwan sudah lebih dulu mendelik tajam padanya.
Namun pria itu menahan emosinya dan memilih untuk melanjutkan kegiatannya yang sedang memanggang daging bersama Si Hwan.
Sementara Hanna, gadis itu fokus pada anak kecil yang saat ini berada di pangkuan Sarah.
Saat Tae Il akan duduk, ponselnya berdering pertanda ada yang menghubunginya saat ini.
Lekas pria itu pergi untuk mengangkat telponnya.
Jae Hwan duduk di kursi yang ada di samping Hanna, sikapnya mulai melunak pada Hanna, bahkan gadis itu juga melakukan hal yang sama.
Jika biasanya mereka adu mulut, sekarang tak terlihat adanya niat untuk memulai pertengkaran.
Biarkan mereka damai sebentar, author cape kalo liat mereka berantem.
"Apa yang Tae Il bicarakan?" tanya Jae Hwan seraya meletakkan beberapa daging di piring Hanna.
"Tidak ada, ia hanya meminta maaf untuk yang waktu itu" bohong Hanna.
Jae Hwan menatap curiga istrinya ini. Tapi Hanna langsung membantah tatapannya itu dengan sebuah daging yang ia jejalkan pada mulut Jae Hwan.
"Makan ini, berhenti menatapku seperitu" kata Hanna tapi Jae Hwan hanya terkekeh kecil mendapati wanita ini menggerutu sendiri.
...----------------...
Acara bakar-bakaran mereka hampir selesai, bahkan Si Hwan sudah pergi ke kamar tamu bersama Jin Sung untuk tidur lebih dulu. Dasar bayi.
Hanna melihat jika Jae Hwan sudah mabuk berat, gelagat pria itu terlihat seperti orang gila baru. Merucau sendiri sambil sesekali diam saja selama setengah jam tanpa bicara.
Melihat itu membuat Hanna mulai mengambil lengan Jae Hwan lalu membawanya masuk, sedangkan yang lain masih asik dengan dunia masing-masing terkecuali Sarah yang juga sudah masuk lebih dulu.
"Kenapa badan wanita harus di ciptakan lebih kecil dari pria? Contohnya seperti saat ini... aku yang kewalahan."
Akhirnya Hanna bisa menyeret tubuh besar pria ini kedalam kamar. Benar-benar, rasanya seluruh tulang Hanna ingin patah.
Setelah membaringkan tubuhnya di atas ranjang, Hanna membenarkan posisi tubuh Jae Hwan.
"Hanna," Pergerakan Hanna sontak teralih padanya.
"Wae?" tanya Hanna.
"Hm, Sakit," gumam Jae Hwan yang sebenarnya kurang Hanna tangkap.
"Kenapa? Ya, jika bicara itu yang jelas! Dasar orang mabuk," sahut Hanna yang tak terlalu menghiraukan perkataan Jae Hwan. Orang mabuk memang selalu begitu. Selalu mengigau.
"Hanna Sakit," ujar Jae Hwan yang kali ini bisa Hanna dengar dengan jelas.
"Sakit? Dimana?" tanya Hanna seraya kembali mendekati Jae Hwan, pasalnya ia sempat ingin pergi ke kamar mandi.
Pria itu menunjuk dadanya. "Hatiku."
Sabar Hanna. Untung bedebah sialan ini mabuk. Jika tidak, ku jamin ia akan mendengar amarahku.
"Dasar pembual."
"Kau," ia menunjuk Hanna. "Kau yang membuat hatiku sakit."
"Hah, pria ini. Apakah otaknya tidak berfungsi jika mabuk seperti ini? Merepotkan," Hanna menghiraukan ucapan Jae Hwan yang terdengar mengada-ngada.
"Kau membuatku bingung!" Sontak Hanna terkejut. Bisa-bisanya pria tak sadar ini membentaknya disaat seperti ini. "Apa dia tahu bagaimana perjuanganku membawanya kemari?!"
__ADS_1
"Apa maksudmu! Bicara itu yang jelas," sentak Hanna. Anggap angin lalu saja, mungkin esok setelah sadar ia akan menyesali ucapannya itu.
"Aku tak pernah menyukaimu-"
"Tapi kenapa saat itu aku menikahimu?"
"Itu karena kau ingin balas dendam denganku bodoh" sahut Hanna memutar malas bola matanya.
"kenapa kita menikah? Padahal aku tak mencintaimu. Benar, takdir memang selalu mengejutkan," balas Jae Hwan pelan, terkesan bergumam sendiri.
"Siapa bilang aku mencintaimu" sahut Hanna
"Kau yakin?" Pria itu malah bertanya.
"Sangat yakin" ujar Hanna yang masih saja menanggapi orang mabuk satu ini.
"Bagaimana jika kau mencintaiku?"
"Tak akan terjadi."
"Bisa terjadi."
"Tidak akan. yang kemarin hanya kesalahan"
"Bisa saja."
"Hah, kenapa dia yang bersikeras" gumam Hanna menggeleng pelan.
Hanna menghela kasar nafasnya, dan memilih pergi untuk mengganti pakaiannya karena ia juga harus tidur.
Tidak butuh waktu lama untuk Hanna selesai mengganti pakaiannya.
Ia perlahan naik keatas ranjang dan membaringkan tubuhnya di posisi biasa ia tidur. Berjarak setengah meter dengan Jae Hwan.
Hanna tak lagi mendengar rucauan suaminya itu, membuatnya bernafas lega.
Baru saja Hanna ingin menutup matanya, Jae Hwan tiba-tiba menarik tubuhnya yang mungkin dianggap pria itu ringan.
Ia menarik Hanna dan mengurung gadis itu di bawah kungkungannya.
Plak.
Hanna memukul cukup kuat lengan Jae Hwan, "Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan, Sialan" umpat Hanna yang baru saja ingin tenang dengan tidurnya.
Akh,
Pria itu hanya mengaduh sakit saat Hanna memukul lengannya.
"Ayolah, aku menginginkannya" ucap Jae Hwan dengan wajah memelasnya.
Astaga!
"Kenapa pria ini masih bisa tampan dan imut disaat bersamaan seperti ini" gumam Hanna.
"Tidak, pokoknya tidak. Aku masih tak terbiasa" kata Hanna menolak dengan keputusan final. Lekas ia mendorong tubuh Jae Hwan untuk kembali berbaring di posisi nya.
"Untung dia masih mudah di ajak kompromi." gumam Hanna pelan.
Sedangkan Jae Hwan, pria itu nyatanya malah langsung tertidur seperti tidak terjadi apa-apa.
...****************...
Pagi ini mungkin menjadi waktu yang paling lama bagi Hanna berada di dapur, sebab dirinya harus memasak sup penghilang mabuk yang biasanya orang makan.
Siapa lagi, jika bukan untuk Jae Hwan.
Oh ayolah. Jae Hwan itu beruntung memiliki istri seperti Hanna. Sudah cantik, walau sedikit melawan dan bar-bar tapi gadis itu pandai dalam urusan dapur.
"Apa para pria itu masih tidur" gumam Hanna sambil menata beberapa mangkok di atas meja makan.
"morning"
Hanna tersentak kaget saat tangan kekar melingkar sempurna di pinggang rampingnya.
__ADS_1
Tapi tak berlangsung lama, karena Hanna sudah lebih dulu melepaskannya.
"Kenapa kau melakukan ini?" tanya Hanna tak habis pikir.
"Duduklah, aku tak ingin berdebat" kata Hanna lagi. Dan dengan perasaan kesal Hanna menaiki anak tangga menuju kamar untuk membangunkan beruang yang masih hibernasi itu. Jae Hwan.
Si Hwan hanya terdiam saat melihat suasana yang membingungkan baginya.
Ia melihat Tae Il memeluk Hanna dari belakang layaknya suami yang sedang memeluk istrinya.
Namun ia juga melihat penolakan dari Hanna yang tampak sangat tidak menyukai hal itu.
"Dia masih saja melakukannya" gumam Si Hwan menggeleng pelan, dan memilih untuk masuk lagi kekamar untuk membangunkan Jin Sung.
"......".
"Ya! Jung Jae Hwan" sentak Hanna di depan telinga Jae Hwan langsung.
"TELINGAKU BERDENGUNG BODOH!"
Akhirnya tak sia-sia suara Hanna keluar. Setelah sempat tak didengar oleh Jae Hwan yang bersikeras masih ingin tidur.
"Bangun, aku sudah membuatkan sarapan."
"Jangan berpikiran untuk menolaknya lagi, aku tak akan memasak lagi jika kau berani menolaknya" ancam Hanna, dengan wajah dongkol saat mengingat sebelumnya Jae Hwan pernah menolak makanannya.
Pria itu hanya berdeham malas, dan kembali menarik selimutnya.
"Kalau tak mau, aku akan memberikannya untuk Tae Il" ujar Hanna lagi sembari berjalan keluar kamar.
Saat itu juga dengan kecepatan kilat, Jae Hwan langsung bangun dan pergi ke meja makan bersama Hanna.
"Lihatlah pasangan itu mereka masih saja tak akur" celetuk Seok Hyun yang sedang ada di meja makan bersama yang lain. Kala melihat Jae Hwan dan Hanna yang terlihat adu mulut sambil menuruni anak tangga.
Tae Il hanya melirik sekilas dengan ekor matanya, saat Hanna dan Jae Hwan tiba di meja makan.
"Kau yang masak!" tanya Jae Hwan seraya menarik kursi untuk duduk.
"Kau meragukanku?" tanya Hanna balik dengan rasa tersinggung.
"Aku takut makananmu bisa membawaku kerumah sakit" sindir Jae Hwan.
"Kalau begitu jangan di makan" sahut Hanna kesal.
"Terimakasih untuk sup nya, selain cantik kau juga pintar masak" ucap Tae Il menatap lembut pada Hanna.
"Terimakasih" sahut Hanna datar.
Sontak Jae Hwan langsung mengambil segelas susu yang ada di hadapannya.
"Ini bagus untuk ibu hamil" ujar Jae Hwan memberikannya pada Hanna yang saat ini sedang tersedak.
"Kau hamil?" tanya Seok Hyun langsung.
Hanna hanya menjawabnya dengan gelengan sembari meneguk air putih yang diberikan Jae Hwan.
"Sebentar lagi, bayi-bayi kecilku sudah ada pada tempatnya. Benarkah sayang" jawab Jae Hwan mengelus lembut pundak Hanna yang duduk di sampingnya, membuat gadis itu semakin tersedak.
Dimana Hanna yakini, itu hanya cara Jae Hwan untuk memanas-manasi Tae Il.
"Lebih baik kita sarapan dengan tenang sekarang " Hanna langsung mengalihkan suasana, agar tak terpaku dengan ucapan pria gila barusan.
Tae Il hanya tersenyum remeh dalam hatinya saat mendengar penuturan Jae Hwan barusan, kemungkinan hubungan mereka akan semakin renggang, dengan perasaan dan obsesi Tae Il yang semakin menginginkan Hanna.
...****************...
.
.
.
Jangan Lupa like, tinggalin jejak di komen, vote, dan share, biar author semangat up ep-nya.🥰
__ADS_1
.
.