
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
...****************...
Hanna tampak tengah berkutat dengan bahan-bahan dapur. Yap, ia akan membuat makan siang.
"Kau masak makan siang?" tanya Jae Hwan yang hanya Hanna balas dengan dehaman.
"Ah, jangan lupakan susu coklat untukku" Sahut Jae Hwan yang hanya di dengar oleh Hanna.
Setelah selesai dengan acara masak memasak, Hanna menanggalkan celemek miliknya dan membawa makanan dan susu coklat ke atas meja makan.
"Kenapa hanya susu coklat? Makanan-nya mana?" tanya Jae Hwan dengan alis berkerut.
"Oh. kau mau makan? Aku kira kau hanya ingin susu coklat" jawab Hanna santai sambil memakan makan siangnya.
"Kau tak memasak untukku?" Tanya Jae Hwan dengan tatapan tidak percaya.
"Kau punya tangan. Jadi, kau bisa memasak sendiri," ujar Hanna santai.
"Wah, baru kali ini aku melihat seorang istri yang begitu kejam pada suaminya," Sindir Jae Hwan sembari melihat Hanna tajam.
"Kau menganggapku istrimu? Aku tak merasa begitu." jawab Hanna sarkastik.
Jae Hwan tak menjawab perkataan Hanna, ia melangkah meninggalkan Hanna di meja makan sendirian.
Sedangkan Hanna tersenyum dengan kemenangan. "Bagus Hanna, kau harus sadar posisimu. Ini bukan saatnya untuk terlena dengan rumah tangga konyol ini, tujuanmu hanya balas dendam. Ingat balas dendam!"
Dilain tempat, tampak Jae Hwan yang tengah memakai jam tangannya bersiap untuk pergi, setelah dibuat kesal oleh istrinya sendiri.
Sebenarnya, sungguh ia lapar.
"Ukh, rasanya aku akan mati kelaparan," ujar Jae Hwan yang terus saja menggerutu dari tadi.
Ingatkan Jae Hwan untuk menguliti Hanna nanti!
...****************...
Matahari telah berganti posisi dengan bulan. Ya, hari sudah gelap dan Jae Hwan masih berada diluar. Entah kemana pria itu pergi.
Apakah ia memikirkan Hanna?
Tentunya, tidak.
Setelah dibuat kesal dan kelaparan, Jae Hwan pergi keluar dengan mengendarai mobil sendiri tanpa Jung Wo maupun supir.
"Dimana laki-laki itu? Mengapa tak ada tanda-tanda kedatangannya." gumamnya.
Kemudian Hanna segera pergi keruang keluarga, setelah tadi mengambil air dan beberapa cemilan di dapur.
Apa kali ini dia menunggu Jae Hwan lagi?
Ya, gadis itu takut, jika Tae il datang dalam kondisi mabuk seperti malam itu.
Hal itu terus saja mengganggu pikiran Hanna, ingatan buruk yang tak seharusnya Hanna ingat.
"Kemana dia? kenapa jam segini masih belum pulang?" ujarnya, dengan wajah yang terlihat risau.
Hanna sudah menanyakan perihal Jae Hwan pada Jung Wo tapi pria itu juga tak tahu kemana bosnya itu pergi, atau memang Jae Hwan yang memintanya tidak memberitahu keberadaannya pada Hanna.
Sudah banyak posisi duduk yang Hanna coba, bahkan sesekali ia berbaring di sofa, tapi Jae Hwan sama sekali tak pulang.
Jam sudah menunjukkan pukul 1 malam, "Sudahlah Hanna, kita ke kamar sekarang" gumamnya seraya berdiri.
Gadis itu tertawa garing, sambil berjalan menuju kamar. "Jung Wo'kan ada, tak mungkin ada yang macam-macam"
Menghempaskan tubuhnya di ranjang, Hanna menatap langit-langit kamar. "Aku ingin menghabiskan waktu dengan kekasihku"
"Lagi!!! sadarlah Hanna, Aish. pria itu membuatku kepikiran saja... Apa sekarang dia benar-benar bersama kekasihnya?"
"Kekasih yang mana?"
"Arin?"
"Jeslyn?"
Hanna merucau sendiri di kamarnya, sambil berguling-guling diranjang hingga alas kasur itu kusut.
"Akh, sudahlah. Hanna ayo tidur" gumamnya lalu segera membenarkan posisinya untuk mencoba menutup matanya.
"Besok kau tidur di kamar tamu dulu. Aku ingin menghabiskan waktu dengan kekasihku"
__ADS_1
Mata Hanna kembali terbuka 100 persen, "YAK! JUNG JAE HWAN, TAK BISAKAH KAU MEMBIARKANKU TENANG SEDETIK SAJA!!!"
"Arghhh, Na jinjja Michyeoso"
Hanna bangun dan mengacak frustasi rambutnya setelah tadi menendang-nendang selimut, hingga keadaan kasur berantakan.
"Tenang Hanna. Tenangkan dirimu, kau sekarang tak peduli mau jam berapa pria itu datang" Hanna menjentikkan jarinya guna membuatnya sadar.
Ia menghela nafasnya dan mulai menutup kembali matanya.
Kali ini usahanya berhasil, setelah bertempur dengan pikiran dan hatinya. Hanna bisa tidur walau over thingking-nya terhadap Jae Hwan masih belum hilang.
Perasaan aneh itu benar-benar membuat Hanna tidak tenang.
...****************...
Hari telah berganti, tapi Hanna tak kunjung melihat kehadiran Jae Hwan.
Pria itu tak pulang semalaman.
Hanna mengumpulkan nyawanya, sambil melihat kearah kasur Jae Hwan.
Kosong!
Hanya itu yang Hanna lihat, ia lantas bangkit dari duduknya lalu pergi ke kamar mandi.
Tak beberapa lama, terdengar suara pintu kamar terbuka, memperlihatkan Jae Hwan yang terlihat masih mengantuk.
Melepas jaketnya, pria itu langsung menghempaskan tubuhnya ke ranjang dengan posisi tengkurap.
Wajah lelah dan mata yang terlihat menghitam. Mungkin pria itu tak tidur kemarin malam.
Hanna yang baru saja keluar dari kamar mandi, kaget saat melihat Jae Hwan tiba-tiba sudah ada di kamar.
Ia berjalan mendekat ke arah pria itu sambil memperhatikan penampilannya.
"Darimana saja pria ini" gumam Hanna.
"Lihatlah, bahkan pakaiannya saja terbalik! apa dia tak sadar saat pergi kemarin?"
Hanna perlahan membalik tubuh Jae Hwan yang sudah tertidur pulas.
"Ya, bangun! Apa kau tak akan ke Kantor? Ini sudah jam 9"
"Aish, Pria ini berat dosa sepertinya" gumam Hanna setelah susah payah membalik posisi Jae Hwan.
Tidak, pria itu tidak gendut.
Tanpa Hanna sadar Jae Hwan terbangun dan kini tengah menatap datar Hanna yang sedang bicara sendiri.
"Dari mana saja kau?"
"Apa pedulimu?" bukannya menjawab Jae Hwan malah membuat Hanna kesal dengan jawabannya itu.
Pria itu lantas bangun dan duduk di tepi ranjang.
Ia tiba-tiba menarik Hanna hingga terduduk menyamping di pangkuannya.
Deg...
Jantung Hanna tidak bisa di ajak kompromi, semakin Jae Hwan menatapnya, semakin jantung Hanna berdegup kencang.
Wajah Hanna tiba-tiba memerah, hingga tanpa sadar ia mulai cegukan.
"Tck" Jae Hwan tersenyum remeh, lalu tanpa persaan menjatuhkan Hanna di kasur.
Ia melangkah pergi masuk ke kamar mandi meninggalkan Hanna yang masih cegukan di ranjang.
Hampir 5 menit Hanna terdiam di posisinya yang masih berbaring dengan wajah merah yang mungkin karena merasa malu.
Tidak ingin berlama-lama, Hanna bangun dan pergi ke clooset room untuk mengganti pakaiannya, sebelum Jae Hwan keluar dari kamar mandi.
Hanna selesai memakai pakaiannya, ia mengenakan dress terusan berwarna hitam selutut mirip seperti dress tidur miliknya.
📳Drrt
Getaran ponsel Jae Hwan memanggil perhatian Hanna yang kala itu tengah duduk di meja rias.
📨Message
Kim Yu Na
"Gold Palace. 1.243 , 20.30"
"Kim Yu Na?" gumamnya pelan.
Hanna langsung berbalik saat mendengar pintu kamar mandi terbuka.
Jae Hwan hanya meliriknya dengan alis terangkat, lalu pergi untuk memakai pakaiannya.
__ADS_1
Terbiasa?
Mungkin Hanna sudah mulai terbiasa melihat otot perut suaminya itu, hingga reaksinya biasa saja walau kadang suka salah fokus.
Baru saja selesai memakai kemejanya, Jae Hwan langsung mengambil ponselnya, tak seperti biasanya.
Karena se pengamatan Hanna, Jae Hwan bukan tipe orang yang harus selalu memegang ponselnya saat di kamar.
"Siapa Kim Yu Na?" ujar Hanna yang sudah tak tahan lagi menahan pertanyaan itu di pikirannya.
Bukannya menjawab, pria itu hanya melanjutkan memasang dasinya.
"Ya, kau tak mendengar ku?" kata Hanna lagi.
"Jangan terlalu mencampuri urusanku. Bukankah waktu itu kau bilang, aku tak diterima di duniamu?"
Damn.
Hanna terdiam, ia ingat betul bagaimana dirinya mengatakan jika ia tak pernah sudi memiliki suami seperti Jae Hwan.
Selesai memang dasinya, Jae Hwan keluar dari kamar setelah sengaja menyenggol bahu Hanna.
Sedangkan gadis itu, ia hanya tercengang. Tapi dirinya kesal saat mendengar penuturan pria barusan.
Hanna lantas turun, menyusul Jae Hwan yang mungkin masih ada di lantai bawah.
"Hm, nanti malam aku akan kesana" Jae Hwan memasukkan kembali ponselnya kedalam saku celananya.
Ia hanya melirik Hanna sekilas, ia sadar akan keberadaan Hanna yang baru saja datang.
Hanna hanya berjalan melewati Jae Hwan menuju dapur.
Sekitar 20 menit lamanya, Hanna akhirnya kembali ke meja makan dengan dua piring sarapan yang tadi ia buat.
Meletakkan piring di meja makan, tiba-tiba Jae Hwan bangkit dari duduknya.
"Kau mau kemana?"
"Kekantor" sahutnya singkat sambil merapikan pakaiannya.
"Kau tak makan?" tanya Hanna lagi.
"Sepertinya tak sempat. Kau buang saja," Mudah sekali pria ini bicara. Ia tak tahu bagaimana perjuanganku melawan ego agar membuat ini untuknya.
Hanna mulai meninggalkan meja makan dengan kekesalan yang mendominasi. Ia berjalan menuju kamar dan menutup pintu dengan keras.
Brak!
"Kenapa dia?" gumam Jae Hwan yang baru saja akan melewati pintu utama.
......................
Sekitar satu jam lamanya Hanna berdiam diri dalam kamar. Tak melakukan hal penting dan unfaedah. Hanya berbaring dan sesekali melihat notifikasi yang masuk ke ponselnya.
Karena bosan, Hanna memilih untuk keluar kamar dan menemukan Jae Hwan sudah pergi.
Merasa haus, ia berjalan menuju dapur berniat ingin mengambil segelas air untuk mengisi dahaganya.
Sempat pandangannya teralihkan oleh sarapan yang sama sekali belum di sentuh. Masih utuh.
Melihat itu membuat Hanna mendecak kesal dan memandang datar sarapan itu. Habis sudah kesabarannya.
"Selain tak tahu cara berterimakasih, baj*ngan itu juga tak tahu cara menghargai!" gumam Hanna.
Hanna mengambil dua piring sandwich itu dan membuangnya ke tempat sampah. Dengan helaan nafas panjang.
Jadi, rasanya seperti ini?
Berjuang tapi tak di hargai?
Aku baru tahu,
Ternyata sesakit ini.
Entah ada apa dengan diri Hanna hari ini, ia lebih sensitif dari biasanya.
"Baiklah, aku akan menanyakan ini pada Ye Jun" ujarnya seraya berjalan menaiki anak tangga untuk pergi ke kamarnya
...****************...
.
.
.
Bantu likenya dong guys, biar author tambah semangat lagi gitu, ehe.
Jangan Lupa like, tinggalin jejak di komen, vote, dan share, biar author semangat up ep-nya.🥰
__ADS_1
.
.