Revenge Obsession

Revenge Obsession
Revenge Obsession : Cp.38


__ADS_3

Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


...****************...


"Bagaimana keadaan bibi?!" tanya Jae Hwan sambil menormalkan deru nafasnya yang tidak beraturan.


"Dokter sudah menanganinya, sekarang biarkan dia istirahat" ucap Yoon Wo menepuk pelan pundak adiknya, lalu keluar dari sana bersama yang lain selain Jae Hwan dan seorang wanita yang sedang duduk di tepi ranjang.


"Sebenarnya apa yang membuat kondisi bibi sampai seperti ini?" tanya nya pelan pada Seok Hyun.


"Kau-


"Kau alasan kondisi bibi memburuk" tekan Seok Hyun menunjuk dada pria di hadapannya.


Jae Hwan mengerutkan dahinya. bingung, apa yang dimaksud oleh Seok Hyun.


"Bibi sudah tahu jika kau menyiksa Hana dengan begitu mengenaskan" Jelas Seok Hyun seraya menghela pelan napasnya, lalu beranjak pergi dari sana meninggalkan Jae Hwan yang membeku di posisinya setelah mendapati jawaban dari pertanyaan-nya.


Ia melangkah pergi dari kamar Cha Ji Ah, menyusul yang lain.


.........


"Siapa yang mengadukan itu pada bibi" lontar Jae Hwan dengan nada datar.


"Apa ini perbuatanmu" sambung Jae Hwan melirik tajam kearah Sarah.


"Dia tidak ada sangkut pautnya dengan ini, bibi tau karena tidak sengaja mendengar pembicaraan kami" jawab Yoon Wo yang langsung pasang badan di depan Sarah, sebelum Jae Hwan melakukan sesuatu padanya.


"Lalu kenapa wanita itu ada di sini?" bermaksud menanyakan kehadiran Hana di mansionnya.


"Bibi yang menyuruh memanggil Hana untuk minta maaf atas perbuatanmu" kata Yoon Wo berhasil membuat Jae Hwan bungkam.


"Perkecil gengsimu, lalu pergi ke kamar bibi dan minta maaf pada Hana di hadapan bibi." perintah Yoon Wo


"Benar apa yang dikatakan Yoon Wo, selesaikan masalahmu sendiri, dan akhiri ini sekarang, bukankah Hana sudah terbukti tidak bersalah" sambung Seok Hyun.


Jauh dalam lubuk hati, Jae Hwan benar-benar tidak ada niat untuk meminta maaf pada Hana karen merasa dirinya tidak salah.


"Cepat! kenapa diam saja" tegur Yoon Wo yang melihat adiknya itu hanya diam saja.

__ADS_1


"Iyaa" sahutnya, lalu kembali ke kamar bibinya.


...


Tinggal beberapa langkah lagi, ia sampai di kamar sang bibi yang ada di lantai dua namun sebuah hal membuat Jae Hwan membulatkan matanya saat baru saja melangkah masuk kedalam kamar.


Ia melihat darah segar mengalir kearahnya, hingga membuat matanya mengikuti aliran darah, sebelum akhirnya melihat apa yang telah terjadi di kamar itu.


Tubuhnya bergetar saat melihat selimut bibinya penuh dengan simbahan darah, begitu juga dengan lantainya.


Ia sempat terdiam, sebelum akhirnya teriak dan berlari menuju ranjang dimana bibinya sudah tidak sadarkan diri dengan luka tusukan di lehernya.


Mendengar teriakan dari lantai atas, membuat Yoon Wo serta yang lain langsung pergi ke lantai atas.


"Bibi... Bi bangun Bi, tidak! ini tidak benar... bibi kau mendengarku?" rucaunya sambil menutup luka yang terus mengeluarkan darah tanpa henti.


Ia langsung memeluk wanita yang sudah lemah itu tanpa menghiraukan yang lain.


"Apa yang terjadi??" celetuk Yoon Wo dan Seok Hyun berbarengan dan langsung berlari menghampiri ketiganya.


"Hana! Han" panggil Yoon Wo sambil menepuk pelan pipi gadis itu.


"Hyung kepalanya berdarah" ucap Tae il menatap Yoon Wo.


Sedangkan Jae Hwan dan yang lain juga sibuk dengan Bibi Cha.


"Kita kerumah sakit sekarang" ajak Seok Hyun.


Tanpa buang waktu mereka langsung mengangkat bibi Cha beserta Hana menuju mobil untuk segera pergi kerumah sakit.


Jae Hwan tidak bisa berpikir hal lain, maupun pelakunya. ia hanya terfokus pada kondisi wanita yang sudah merawatnya sepeninggal kedua orang tuanya itu.


Sedangkan Tae Il dan Jin Sung juga ikut menyusul dengan mobil mereka.


...****************...


Sementara itu, seorang wanita tersenyum puas setelah mendapati tugasnya selesai.


"Ternyata pertemuan kita kali ini, berakhir dengan naas lagi, Jung Jae Hwan" gumamnya, seraya memakai kacamata hitamnya dan menginjak pedal gasnya meninggalkan kawasan mansion mewah tersebut.


Dokter sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi terhadapnya, karena sudah terlalu banyak kehabisan darah.


"Maafka-


"APA MAKSUDMU HAH!!! CEPAT SELAMATKAN DIA SEKARANG... AKU TIDAK INGIN MENDENGAR OMONG KOSONGMU!.. SELAMATKAN DIA SEKARANG!!!" Teriaknya tidak terima tanpa melepaskan kerah jas dokter.


"Maaf tuan, tapi pasien kemungkinan sudah tidak bernyawa saat dibawa kerumah sakit" jelas dokter dengan nada tenang.

__ADS_1


"Cukup Jae Hwan, tenangkan dirimu" ujar Seok Hyun mencoba menenangkan adiknya, walau sebenarnya ia juga terpukul atas kepergian wanita yang sudah mengurus adiknya selama ini.


Jae Hwan mundur perlahan hingga tersandar di dinding rumah sakit dan terduduk dengan tenaga yang sudah tidak ada lagi, pria itu hanya diam sambil merasakan penyesalan serta rasa bersalah atas apa yang terjadi pada bibinya.


Bahkan Yoon Wo dan yang lain, baru kali ini melihat Jae Hwan selemah itu setelah kematian kedua orang tuanya.


Berbeda halnya dengan Tae Il yang masih setia menunggu Hana di depan ruang operasi.


Sebelumnya ia berdua dengan Jin Sung, tapi pria itu pergi menemui Jae Hwan dan yang lain untuk memeriksa keadaan.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya dokter keluar dari ruang operasi dengan ekspresi wajah yang tidak bisa ditebak.


Sama seperti sebelumnya, hanya Tae Il yang ada di sana setia menunggu Hana keluar dari ruang operasi, bahkan Yoon Wo saja tidak datang.


Mungkin karena sibuk dengan pemakaman bibi Cha, pikir Tae il yang sadar kondisi sekarang sedang tidak baik.


"Bagaimana keadaannya dok?" tanyanya yang langsung bangkit dari duduknya.


"Apa anda walinya?" tanya dokter dan langsung di angguki oleh pria ini.


"Saat kami melakukan operasi, jantung pasien sempat berhenti dan itu membuat aliran darah ke otak juga ikut terhenti, karena hal itu pasien mengalami kerusakan pada otaknya selain itu kami juga mendapati adanya bekas pukulan benda tumpul di bagian belakang kepalanya"


"Jadi-


"Kemungkinan besar... pasien akan kehilangan sebagian memorinya, untuk memastikan lebih jelasnya, saya akan memantau setelah pasien sadar" jelas dokter.


"Maksud dokter dia mengalami amnesia?" tanya Tae il dan di angguki oleh dokter.


"Apa ini permanen dok?" tanyanya lagi.


"Tergantung, amnesia bisa berlangsung sebentar maupun permanen tergantung orang-orang disekitar serta bagaimana ia dirawat" jelas dokter seraya permisi dari hadapannya.


Mendengar penjelasan dokter membuat Tae Il kehabisan kata-kata, ia tidak tahu harus bagaimana, ditambah Hana hanya tinggal sendiri sekarang karena bibi palsunya juga tidak bisa di harapkan.


"Kenapa hal buruk selalu menimpamu?" gumamnya pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari banker Hana yang sedang di pindahkan oleh suster.


...****************...


.


.


.


Jangan Lupa like, tinggalin jejak di koment, vote, dan share, biar author semangat up ep-nya.🥰


.

__ADS_1


.


__ADS_2