Revenge Obsession

Revenge Obsession
Revenge Obsession : Cp.68


__ADS_3

Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


...****************...


Hari ini Hanna tampak rapi dengan dress selutut ia tak lagi memakai lipstik merah nya.


"Kau ingin kemana, rapi sekali?" Tiba-tiba Jae Hwan muncul dari tangga, hendak mengambil minuman untuk mengisi dahaganya.


"Kau tak perlu tahu." Hanna berjalan keluar rumah dengan muka datarnya.


Tapi Jae Hwan lebih dulu menghalangi jalan Hanna keluar.


"Minggir."


"Aku tak mengizinkanmu Jung Hanna," ujar Jae Hwan tegas.


"Apa pedulimu? Ku bilang minggir!"


Hanna berusaha menghalau Jae Hwan dengan sekuat tenaga.


"Berhenti;" Tapi ia adalah Hanna. Gadis yang sama sekali tak mau kalah dari Jae Hwan.


"KU BILANG BERHENTI!"


Terlambat. Hanna kini sudah mulai mengendarai mobilnya meninggalkan pekarangan rumah.


"SIAL*N!"


Jae Hwan menekan beberapa digit angka dan menghubungi nomor itu. "Kau, ikuti istriku. Jangan sampai kehilangan jejak!"


"Baik, Tuan."


"Tunggu saja Jung Hanna. Kau akan menjadi milikku seutuhnya, dengan persetujuan atau tanpa persetujuanmu." gummanya seraya melangkah menuju kamar.


...****************...


Rasanya tulang Si Hwan akan benar-benar patah. Mengangkat beban seberat Hanna adalah kesengsaraan baginya.


"YAK! BUKA PINTUNYA"


Singkat cerita, mereka berdua tadi minum di salah satu kedai dekat tempat kerja Hye Soo. Bukannya merasa senang justru Si Hwan harus menanggung beban seberat Hanna.


Tak lama pintu mansion Jae Hwan terbuka. Menampakkan wajah Jae Hwan yang seperti orang mengantuk.


"Ada apa?" tanya Jae Hwan masih di bawah alam sadarnya.


"Istrimu! dia mabuk!" Teriak Si Hwan yang berhasil membuat mata Jae Hwan terisi 100 persen.


Jae Hwan melihat kearah bawah dimana terdapat seonggok manusia memeluk kaki Si Hwan sembari bergumam tidak jelas.


"Sini," Jae Hwan menarik tangan Hanna guna membawanya kedalam kamar.


"Terimakasih" ucap Jae Hwan pada Si Hwan.


Sedangkan pria itu, ia langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa empuk ruang tamu.

__ADS_1


Dengan susah payah, Jae Hwan membawa Hanna ke kamarnya, ia takut jika Hanna nanti terjatuh atau apapun itu jadi ini untuk antisipasi.


"Dasar menyusahkan," gumam Jae Hwan sambil membuka sepatu dan blazer Hanna.


Saat Jae Hwan ingin meninggalkan Hanna, tiba-tiba tangannya di tarik. Sontak ia menolehkan wajahnya pada Hanna.


"Bersihkan wajahku! Aku tak mau berjerawat. Bersihkan!" Layaknya sang atasan yang memberikan perintah pada bawahannya.


"Aish. padahal kondisimu masih mabuk tapi kau tetap saja menyebalkan" gumam Jae Hwan.


"Kau sama menyebalkan nya" sahut Hanna, padahal gadis itu sedang dalam pengaruh alkohol.


Akhirnya Jae Hwan meredakan keegoisannya dan bertanya.


"Dimana pembersih nya?" tanya Jae Hwan pada Hanna yang tampak linglung.


Hanna pun sontak menunjuk ke arah luar dan tersenyum seperti orang idiot. "Disana!!" seru Hanna.


"Hah. Baiklah, kau tunggu disini. Aku akan mengambilnya.


Gadis itu hanya manggut-manggut sesekali ia tersenyum kadang juga menampakkan wajah datarnya itu.


"Duduk," perintah Jae Hwan yang langsung dituruti Hanna.


Ingat, Hanna itu sedang mabuk garis keras.


Jae Hwan mulai menungkan pembersih itu ke sebuah kapas kemudian di sapukan ke wajah Hanna. "Lihatlah seberapa kotornya wajahmu ini."


"Kan sudah dibersihkan," jawab Hanna sambil mengerucutkan bibirnya.


"Maksudku, riasan wajahmu terlalu tebal," koreksi Jae Hwan dalam pengucapannya.


Hanna hanya mengangguk tanpa menjawab, mungkin itu efek ia mengantuk. Lihatlah matanya saja sudah setengah tertutup.


"Ada apa?" tanya Jae Hwan bingung. Bingung, kenapa Hanna juga melihatnya seperti itu?


Tiba-tiba Hanna mengusap kepala Jae Hwan lembut. "Anak baik," ucap Hanna sambil tersenyum.


"Wajahmu juga tampan dan kau berasal dari keluarga kaya, tapi yang anehnya, mengapa aku tak bisa menerima statusmu sebagai suamiku?" gumam Hanna sambil terus melihat Jae Hwan dengan mata sayunya.


"Kau ingin tahu mengapa?" tanya Hanna yang hanya di tanggapi diam oleh Jae Hwan.


"Karena sikapmu. Coba saja kau tak menyebalkan dan kejam, mungkin aku sudah jatuh pada pesonamu Jung Jae Hwan."Jae Hwan hanya bisa tercengang mendengar penuturan dari Hanna.


"Ku harap, di kehidupan selanjutnya, kita tak usah bertemu lagi. Hanya jalani hidup bersama orang yang dicinta dan yang kita sayang. Kita tak usah bertemu lagi kalau hanya untuk membuat cerita yang berliku seperti ini saat ini, Jae Hwan," ujar Hanna dengan mata yang berkaca-kaca menahan tangis.


Sebenarnya Hanna tak ingin seperti ini, melawan dan keras kepala seperti sekarang.


Ia juga punya impian terhadap pernikahan-nya sendiri, tapi sayang. semuanya tidak berjalan seperti mimpinya. Balas dendamnya malah membawa Hanna menuju lobang yang tak berdasar.


Hanna melepaskan tangannya dari kepala Jae Hwan. "Kenapa?" tanya Jae Hwan.


"Karena di dalam hatimu masih ada Jeslyn."


Sontak mata Jae Hwan membulat, ia terdiam. Jujur dalam hatinya, ia masih tidak bisa melupakan Jeslyn bahkan Arin yang sekalipun anak dari pembunuh orang tuanya.


"Itu juga alasanku. Alasan untuk untuk tidak menyukaimu," gumam Hanna tersenyum dengan wajah linglungnya itu.


Brukh!


Tiba-tiba Hanna jatuh di atas kasur. Jae Hwan yang terlihat panik langsung memeriksa nyawa Hanna.


Ternyata ia tertidur, sial.

__ADS_1


...****************...


Hanna terbangun dari tidurnya setelah merasakan panas matahari yang membakar.


"Eukh, pukul berapa?" gumam Hanna sembari melihat kearah jam dinding.


"Ah, masih pa-"


Tunggu!


Bagaimana bisa aku dirumah?


Jangan-jangan,


JAE HWAN!


Ia juga melihat kearah tubuhnya. Perasaan Hanna, ini bukan pakaian yang terakhir kali ia pakai kemarin.


Merasa ada yang janggal, dengan kecepatan kilat Hanna berlari menuju lantai bawah.


Tampak si pelaku tengah duduk santai dimeja makan sambil menyantap sarapannya.


Jae Hwan merasakan kehadiran, Hanna. ia melirik dan mengajak Hanna untuk makan.


"Oh, kau sudah bangun. Ayo makan. tadi aku minta pelayan menyiapkan sup pereda pengar untukmu," Ajak Jae Hwan pada Hanna.


Kening Hanna terlihat mengerut sinis. "Mwoya? kenapa kau tiba-tiba baik padaku?"


"Makan saja. Jangan banyak bicara," jawab Jae Hwan sambil memakan roti tawarnya.


"Tck, dasar menyebalkan!" Hanna berdecak kesal dan mulai menggerutu.


"Berhenti menatapku seperti itu, aku tidak macam-macam tadi malam" ujar Jae Hwan yang merasa Hanna menatapnya begitu sinis.


"Aku tak bicara apapun" sahut Hanna sambil menghabiskan sup pengar miliknya.


"Pokoknya, buang jauh-jauh pikiranmu itu, aku sama sekali tidak tertarik denganmu" sambung Jae Hwan.


"Terserah" sahut Hanna singkat.


"Hm, kau ke kantor hari ini?" ucapnya lagi.


"Kenapa? kau mau ikut?" Jawab Jae Hwan sambil mengelap bibirnya dengan tisu.


"Ani, aku hanya bertanya"


"Tuan, saatnya pergi" ujar Jung Wo


Jae Hwan lantas bangkit dari duduknya dan pergi bersama Jung Wo untuk ke kantor, meninggalkan Hanna yang masih ada di meja makan.


...****************...


.


.


.


Jangan Lupa like, tinggalin jejak di komen, vote, dan share, biar author semangat up ep-nya.🥰


.


.

__ADS_1


__ADS_2