
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
...****************...
"Akan ku buat dia sendiri yang menceraikanku" gumam Hanna tersenyum penuh arti sambil memasang kembali kacamata hitamnya.
Setelah meninggalkan halaman parkir, Hanna melaju dengan mobilnya membelah jalanan Seoul yang padat.
Hanna mulai mencari tempat parkir yang pas untuk mobilnya. Dirasa cukup, Hanna mematikan mesin mobil dan menguncinya.
3 jam lamanya Hanna berkeliling di mall. Sudah banyak barang yang ia bawa tapi hatinya masih menggebu-gebu untuk membeli barang berkilau itu.
Dulu dirinya harus berpura-pura irit di hadapan banyak orang, hanya demi melancarkan aktingnya sebagai gadis miskin untuk menjebak circle Jae Hwan percaya padanya.
"Akh, aku lapar." gumamnya sambil memegang perutnya.
Hanna mencari tempat di sebuah restoran yang tidak jauh dari mall tadi.
Setelah memesan makanan yang diinginkan-nya, gadis itu segera meluruskan kakinya yang terasa penat.
Saat Hanna memeriksa beberapa barang belanjaannya, bunyi telpon tiba-tiba mengganggunya.
📳Jangan di Angkat! Bahaya!
"Kep*rat ini," Ujar Hanna dengan tatapan sebal.
Ia enggan menjawab telponnya, dan memilih untuk mengambil ponsel lain yang sebelumnya diberikan Hyun Il saat akan kembali kerumah Jae Hwan.
"Kita lihat Jung Jae Hwan, seberapa kuat kau bisa bertahan" gumamnya tersenyum puas.
Hampir 5 kali pria itu menghubungi Hanna, tapi sama sekali tidak dihiraukan olehnya.
Tiba-tiba ada yang menepuk pelan bahunya saat ia ingin makan.
Gadis itu tersentak kaget dan langsung menoleh kebelakang.
"Kau sendiri saja?"
"seperti yang bisa dilihat" sahut Hanna
"Aku bisa duduk disini?"
"Silahkan" ujar Hanna mempersilahkan Jae Kyung untuk duduk.
Cukup lama mereka mengobrol, hingga tak terasa langit telah berubah warna.
"Ah, tak terasa. Ternyata sudah malam, aku duluan Oppa," pamit Hanna pada Jae Kyung.
"Tunggu!" Jae Kyung mencegah Hanna.
Ia menyerahkan ponselnya pada Hanna. "Bisa minta nomormu?"
"Tentu" jawab Hanna sambil tersenyum.
Setelah menekan beberapa digit angka, terdengar bunyi yang berasal dari ponsel Hanna.
"Aku akan menyimpannya, aku pergi!" Setelah itu punggung Hanna semakin lama semakin kecil hingga tak terlihat saat ia masuk ke mobil.
"Kuharap, ia bidadari yang dikirim Tuhan untukku" gumam Jae Kyung sambil menghela berat nafasnya.
...****************...
Hanna memarkirkan mobilnya di garasi bersiap untuk masuk rumah.
Saat masuk dan menutup pintu, ia di kejutkan dengan Jae Hwan yang berada di depannya hanya berjarak 30cm.
"Kau dari mana?" Terdengar mengerikan bagi Hanna, sampai bulu kuduknya merinding.
"Dari mana pun, yang penting bukan urusanmu." Hanna berjalan melewati Jae Hwan begitu saja.
"AKU BERTANYA PADAMU KIM HANNA!!!"
Hanna berbalik menatap tajam Jae Hwan. "Kenapa kau harus bertanya, itu bukan urusanmu, Jung Jae Hwan."
Jae Hwan lantas berjalan mendekati Hanna dan memegang erat tangan Hanna.
"Lepaskan! sakit, bod*h!" teriak Hanna.
"Kau istriku, jadi urusanmu adalah urusanku. Aku berhak bertanya padamu dan kau harus menjawab pertanyaanku," ujar Jae Hwan tegas tak ingin dibantah.
__ADS_1
"Egois," gumam Hanna dengan tawa remeh. Hanna menyentak keras jemari Jae Hwan dan berhasil.
"Kau egois, Jung Jae Hwan. Aku istrimu? kita hanya menikah diatas kertas, berapa kali aku harus mengingatkanmu!!! lagian aku tak sudi menjadi istri dari iblis sepertimu," ujar Hanna sembari menatap tajam Jae Hwan.
"Mau bagaimanapun, kau itu tetap istriku. Istri Jung Jae Hwan, Jung Hanna!" teriak Jae Hwan keras.
"TUTUP MULUTMU, SIAL*N!"
"SAMPAI MATIPUN AKU TAK SUDI BERSAMAMU!"
Dengan kemarahan yang meluap, Hanna berjalan meninggalkan Jae Hwan dan berjalan menuju kamar.
Brak!
Hanna menutup pintu dengan keras hingga terdengar kelantai bawah.
Ia menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Hanna tahu, jiwanya ini sudah lelah untuk menghadapi kep*rat sejenis Jae Hwan.
"Apa tadi aku terlalu keras?" gumamnya, sambil melihat kearah langit-langit kamar.
Mengingat ucapannya yang terdengar sarkastik terhadap Jae Hwan barusan.
Tring!
Sebuah pesan masuk ke ponsel Hanna yang berhasil membuat perhatiannya teralihkan.
📨Message
Unknown
Hanna, ini aku Jae Kyung:)
"Ah, Jae Kyung." Hanna tersenyum begitu melihat bagaimana dulu ia pernah menaksir seorang kaka kelas seperti Park Jae Kyung.
Pria itu sangat perfect dimata Hanna, apalagi dengan senyum ramahnya itu membuatnya terlihat penuh karisma.
"Ku namai apa, ya?" Hanna berpikir keras.
"Jae Kyung Oppa tak masalah'kan?" gumamnya sambil berguling-guling di ranjang.
Suasana hatinya berubah, dari marah menjadi senang dan salah tingkah sendiri saat Jae Kyung mengiriminya pesan.
To: Jae Kyung Oppa
Iya, kenapa?
From : Jae Kyung Oppa
Kau belum tidur?
"Oh! dia membalasnya!" Seru Hanna kaget.
"Aku jawab apa?" kini, Hanna tengah berperang dengan otaknya sendiri.
To : Jae Kyung Oppa
Belum. Kau sendiri?
Hanya berselang beberapa detik, ponsel Hanna kembali berbunyi.
From : Jae Kyung Oppa
Kalau aku sudah tidur, jadi siapa yang membalas pesanmu ini?
"Benar juga. Ck, bodohnya aku!" maki Hanna pada dirinya sendiri
Saat jari Hanna ingin mengetik balasannya, tiba-tiba Jae Kyung menghubungi.
📞Jae Kyung Oppa is Calling...
Saking kagetnya, Hanna sampai melempar ponsel miliknya sembarangan.
"Kenapa aku harus nervous?"
Dengan keberanian penuh, Hanna perlahan memungut kembali dan mengangkat panggilan dari Jae Kyung.
"Iyaa?"
"Lama sekali kau menjawab panggilanku, kenapa?"
"Tadi aku haus, jadi minum sebentar."
Jujur, hati Hanna kini entah kenapa merasa ingin meledak!
"Hm, kau sudah mengantuk?"
"Belum, kenapa?"
__ADS_1
"Temani aku malam ini, ya. Insomnia ku kambuh."
Hanna sempat berpikir, takutnya Jae Hwan masuk ke kamar.
"Dengan senang hati!"
Lekas Hanna menuju pintu untuk menguncinya.
Mereka berdua akhirnya mengobrol lebih dari 1 jam. Banyak hal yang mereka bagi dan curahkan.
Tanpa mereka tahu, jauh dalam hatinya, terdapat secuil harapan yang tak disadari.
"Ku harap, ia adalah jodohku."
Mengakhiri panggilan, Hanna meletakkan ponselnya di atas nakas untuk di isi daya, lalu ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.
Jae Hwan masuk kedalam kamar setelah menyelesaikan seluruh pekerjaan-nya. lebih tepatnya pekerjaan mengenai barang haram miliknya yang sedang dalam perjalanan menuju para pelanggan setianya.
Sambil memeriksa ponsel pintar miliknya, Jae Hwan duduk bersandar di punggung ranjang.
Tanpa sengaja ia masuk ke aplikasi pesan, dan melihat ada banyak pesan dari kartu debitnya.
📨Message
Dana Rp 27.000.000,00 Won keluar dari rekening 0034***1763 pada 19/06/22 16:09:43. Ket.:60130************0009861
Perasaannya mulai tak enak, Jae Hwan kembali men scroll pesannya sampai bawah.
Ada sedikitnya 17 transaksi dengan nominal yang berbeda-beda, mungkin kalau ia totalkan, jumlahnya mencapai 207.628.940,00 Won.
Jae Hwan diam sejenak, berpikir kapan ia menghabiskan uang sebanyak ini hanya dalam hitungan jam.
Pria itu lantas memeriksa dompetnya, guna memastikan semua kartu aman di tempatnya.
"Ah, segarnya" gumam Hanna, sambil berjalan menuju meja rias.
Hanna menatap suaminya yang terlihat bingung dari pantulan kaca.
Tapi ia enggan untuk menanyakannya, dan memilih acuh.
"Kau mengambil kartuku?"
Sontak Hanna menghentikan tangannya yang sedang memoles cream wajah.
"Aku hanya meminjam, bukankah aku ini IS-TRIMU! Jadi uangmu adalah uangku" sahut Hanna enteng.
"Sebanyak ini?" Jawab Jae Hwan lagi.
Ia tak marah, hanya heran saja.
"Kenapa? apa kau keberatan? kalau begitu, aku akan meminta Hyun Il mengganti uangnya" ucap Hanna.
"Tidak, tidak perlu. anggap saja aku beramal padamu" ujarnya terdengar santai namun tersirat kesan merendahkan.
Hanna yang tak terima, langsung memberikan tatapan tajamnya pada Jae Hwan.
Dengan wajah kesal, Hanna menyelesaikan sesi mengoles crem wajah, disambung dengan mengganti pakaiannya dengan dress terusan berwarna ungu selutut.
Tring!
From : Jae Kyung Oppa
Maaf Hanna, aku baru dari luar. Terimakasih untuk waktunya tadi
"Tck, dia masih saja berhubungan dengan pria itu" gumam Jae Hwan saat melihat notifikasi pesan di ponsel Hanna.
Ia segera kembali ke tempatnya saat Hanna keluar dari clooset room.
Jae Hwan menatap Hanna dengan tatapan yang begitu intens ditambah senyum remeh yang tertarik di bibirnya.
Hanna duduk di tepi ranjang, bersiap untuk tidur.
Sebenarnya Hanna ingin sekali pisah kamar dengan Jae Hwan, tapi pria ini sama sekali tidak mengijinkan-nya.
Sedangkan Jae Hwan, pria itu tengah membenarkan posisinya untuk segera tidur. Begitu juga dengan Hanna.
...****************...
.
.
.
Jangan Lupa like, tinggalin jejak di komen, vote, dan share, biar author semangat up ep-nya.🥰
.
__ADS_1
.