Revenge Obsession

Revenge Obsession
Revenge Obsession : Cp.56


__ADS_3

Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


...****************...


📳Jangan diangkat bahaya!


Hanna langsung meraih ponselnya untuk mengangkat telpon.


📞In Call-


"Kenapa?"


"Bisa kau bawakan berkasku yang ada di atas meja, aku ada meeting hari ini"


"Yang mana satu?"


"Peluncuran Game baru"


"Minta tolong yang benar, baru ku antarkan"


"Nyonya Hanna, tolong bawakan berkas itu ke kantorku,,, sudah,kan?"


"Oke! tunggu 20 menit"


📞End Call-


Hanna tampak bersiap seadanya, dan langsung pergi keluar sambil membawa berkas yang dimaksud Jae Hwan.


Ia segera pergi menuju perusahaan Jae Hwan dengan sebuah motor sport milik suaminya yang ia pilih sembarang.


Kurang dari 20 menit Hanna sampai, ia turun dengan nafas tersengal "Akhirnya sampai" gumam Hanna.


Saat Hanna masuk, mereka semua menatap dirinya dengan pandangan cemooh.


Kenapa?


Lihatlah rambut yang terurai serta kusut, wajah tanpa riasan apapun, belum lagi ia menenteng helm seperti menggapit bola basket dilengannya.


Tapi namanya Hanna, ia tidak peduli. gadis sepertinya sudah terbiasa mendapat cemoohan dari orang lain yang suka memandang dirinya rendah.


Hanna berjalan menuju bagian resepsionis untuk menanyakan dimana ruangan Jae Hwan, karena ini kali pertamanya dia masuk ke perusahaan Jae Hwan.


"Permisi, apa kau tahu dimana ruangan Jae- maksudku Direktur Jung?"


Astaga, hampir saja kau ketahuan bodoh


Wanita itu memandangi Hanna dari bawah hingga ke atas dan menatap dengan sinis. "Direktur Jung sedang sibuk. Memang kau siapa?"


"Aku-"


"Kau pasti dikirim oleh perusahaan lain untuk memata-matai perusahan kami bukan? kau pasti ingin menjawab kalau kau kekasihnya,kan? ingat, aku ini calon istrinya!"


Mata Hanna membelalak kaget mendengar penuturan wanita ini. Dasar tak tahu malu, istrinya di depanmu bodoh!


Hanna mulai menghubungi Jae Hwan dengan ponselnya dan ternyata diangkat.


"Kau dimana? kenapa belum sampai?"


Hanna menarik nafas panjang sebelum bicara "Oppa! Wanita resepsionis ini menghadangku bertemu denganmu, katanya dia calon istrimu!" ujar Hanna dengan suara imut.


"Kau kenapa?"


"Apa? kau ingin memecatnya? Baiklah, bagus Oppa!" Hanna melirik wanita itu dengan alis terangkat.


"Kau ingin bicara?" kata Hanna dengan tatapan sombong.


Hanna memberikan ponselnya pada wanita tersebut. "Bicaralah."

__ADS_1


"Ha-halo Tuan," jawab wanita itu dengan gugup.


"Kau tak niat untuk bekerja lagi?"


"kalau saya boleh tahu. Gadis ini siapa, Tuan?"


"Dia istriku b*doh! berikan dia jalan, aku ada meeting penting. jangan sampai itu gagal karena kau!!!"


Siapapun pasti tahu maksud perkataan Jae Hwan itu dengan jelas. Wanita itu langsung mengembalikan ponsel Hanna dan meminta maaf.


"Maafkan saya, Nyonya."


"Apa kau tidak malu, didepan istrinya sendiri kau mengatakan kalau kau itu calon istrinya?" sindir Hanna sebelum memilih untuk meninggalkan tempat itu. Membuat dirinya gerah saja.


Saat tiba didepan lift, Hanna menepuk jidatnya. Astaga, ia lupa menanyakan ruangan Jae Hwan.


"Dasar bodoh, tidak mungkin aku ke sana lagi dan menanyakan perihal ini. Yang ada aku akan menjadi bahan tertawaan oleh mereka."


Setelah berpikir, Hanna memutuskan untuk kembali menghubungi Jae Hwan sekali lagi.


"Kenapa lagi istriku?"


"Menjijikan. Dimana ruanganmu? aku lupa bertanya pada wanita centil tadi," ujar Hanna.


"Ruanganku ada di lantai 20 ruangan paling ujung."


Hanna mulai menaiki lift dan menekan angka duapuluh. "Ujung yang -"


Tut!


Sial dia mematikan sambungan-nya.


Akhirnya mau tak mau Hanna mencari ruangan Jae Hwan.


"Tapi bagaimana mencarinya?"


Lantai ini sangat besar dan luas, Sangat tak memungkinkan untuk Hanna mencari seorang diri.


"Lantai 20 paling ujung? dimana?" gumam Hanna dengan tatapan bingung.


Sedangkan pria itu, dengan tampang tidak bersalahnya malah membentak Hanna karena terlambat


"Kau dari mana saja? Dasar lambat,,, kalau sampai gagal awas kau!"


"Sudah untung aku berbaik hati membawakan untukmu!" sahut Hanna mendengus kesal, bukannya minta maaf suaminya ini malah memarahinya.


"Ruanganku sebelah sana, nanti Kau lurus saja terus belok kanan, tunggu disana" perintahnya, lalu segera pergi bersama sekertaris-nya.


Hanna menghela nafas jengkelnya, lalu berjalan menuju ruangan Jae Hwan.


Sampai di depan pintu ruangan Jae Hwan, Mr. Presiden? Sungguh Hanna ingin sekali mengubah itu, karena nama itu tak pantas digunakan oleh si baj*ngan seperti Jung Jae Hwan.


Hanna melangkah masuk keruangan Jae Hwan. Ia lantas mendudukkan dirinya di sofa seraya ingin membenarkan rambutnya.


Matanya menjelajah melihat setiap isi ruangan yang terbilang besar hanya untuk seorang pria seperti Jae Hwan.


Hampir 1 jam Hanna berada di ruangan itu, ia hanya duduk bersandar sambil memainkan ponselnya.


Tidak berselang lama terdengar suara dari beberapa orang pria yang terdengar sedang bercanda satu sama lain, berjalan kearah ruangan Jae Hwan.


Hanna sontak menoleh ke pintu, benar saja, Ye Jun, Jin Sung, Si Hwan, Tae Il dan Seok Hyun masuk ke ruangan Jae Hwan dimana sebenarnya ruangan Pemilik JH Group ini sudah seperti tempat tongkrongan untuk mereka.


Saat melihat Hanna ada di sana, Tae Il langsung menarik senyumnya dan langsung mengambil posisi untuk duduk disamping Hanna.


"Kau sendirian saja?"


"Hmm~ Jae Hwan masih belum selesai" jawabnya.


Tapi saat Tae il ingin kembali bertanya, Jae Hwan datang.


Pria itu hanya melirik sekilas para pria yang duduk disofa-nya, karena ia sudah terbiasa.


"Agenda apa lagi?" celetuk Jae Hwan sambil memeriksa berkasnya.


Tapi mereka tidak ada yang buka mulut perihal kedatangan mereka.

__ADS_1


"Kau pakai apa kesini?" tanya Jae Hwan tanpa menatap istrinya.


"Motor" sahut Hanna singkat. Jae Hwan hanya mengangguk dan tetap melanjutkan pekerjaan-nya.


"Nuna! apa hidup dengan mafia gila sepertinya menyenangkan?" tanya Jin Sung yang langsung pindah duduk disamping kanan Hanna, karena di kirinya ada Tae Il.


"Pastinya tidak" sahut Tae Il yang menjawab pertanyaan Jin Sung.


Hanna hanya tersenyum paksa, tanpa ada niatan untuk menjawab, karena yang dikatakan Tae Il tidak sepenuhnya salah.


Suasana terdengar hening setelah pertanyaan Jin Sung barusan, hanya suara keyboard yang terdengar.


"Nanti pulangnya denganku saja, temani aku sebentar ke swalayan. Ada yang ingin ku beli" ujar Jae Hwan tiba-tiba.


"Kalau aku tak mau?"


"Kau akan dapat sanksinya."


"Kau pikir aku takut?"


"Berani melawan suamimu?"


"Bukan hanya melawan, membunuh saja aku berani."


Terlihat Jae Hwan berdiri dan bersiap untuk menghampiri Hanna, entah apa yang ingin ia lakukan.


"Ck, Iya. Dasar sok berkuasa," gumam Hanna.


Sedangkan para pria yang ada diruangan itu hanya diam dan saling menatap satu sama lain, saat acara saling menyahut dari pasutri ini selesai.


"Nuna Hanna, lebih asik dengan sikap aslinya daripada berakting" Kata Jin Sung dengan ringannya tanpa merasa ucapannya salah atau tidak.


"Asik membantah" sahut Jae Hwan sukses mendapatkan tatapan sinis dari Hanna.


"Kalau kalian seperti ini terus, kapan aku punya keponakan?" ujar Seok Hyun yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari 3 orang sekaligus, Ya tiga orang. Jae Hwan, Hanna dan Tae Il.


"Why why... apa aku salah" katanya "Tidak akan pernah" bantah Jae Hwan yang langsung melirik Hanna dengan tatapan tidak sukanya, begitu juga dengan Hanna.


"Sudahlah, lama-lama aku gerah melihat pemandangan ini" ujar Si Hwan bangkit dari duduknya. sekaligus memberikan sindiran keras untuk Jae Hwan dan Hanna yang masih tidak mau akur.


"Mau kemana. Hyung!"


"Rooftop" sahutnya melangkah keluar dari ruangan Jae Hwan.


"Kenapa dengannya?" seru Seok Hyun heran "entahlah" sahut Tae il menggendikkan bahunya.


"Kita pergi sekarang" ujar Jae Hwan yang ternyata sudah siap untuk pulang.


"Kalian kalau keluar jangan lupa pintu ruanganku dikunci!" pesannya, laku menarik lengan Hanna.


"Bisakah kau lembut sedikit" ujar Hanna yang berjalan mengikuti kemana pria ini membawanya.


Tapi Jae Hwan sama sekali tidak menghiraukannya dan terus melanjutkan langkahnya memasuki lift.


Sementara itu, Seok Hyun dan yang lain asik bergosip di ruang direktur JH Group itu.


...****************...


Preview Next Chp:


"Kita mau kemana?"


"sudah jangan banyak tanya" sahut Jae Hwan yang terus melajukan mobilnya menuju sebuah tempat yang mengarah ke pedesan.


...****************...


.


.


.


Jangan Lupa like, tinggalin jejak di komen, vote, dan share, biar author semangat up ep-nya.🥰


.

__ADS_1


.


__ADS_2