
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
...****************...
Sambil mengecek produk perusahaan-nya, Jae Hwan hampir duduk seharian di kursi kejayaannya itu.
Namun suara langkah kaki terdengar mendekat kearahnya, hingga pria itu menoleh kesumber suara.
Terlihat sekertarisnya itu sedang mengantarkan seorang wanita yang sudah bisa kita duga itu siapa? Jelsyn! gadis cantik yang menyimpan banyak misteri.
"Kau-
"Tidak masalah,kan kalau aku datang kesini?" tanyanya tersenyum manis.
"Kau bisa keluar" perintah Jae Hwan pada Nam Jeon Soo
Setelah kepergian sekertaris-nya itu, Jae Hwan mempersilahkan Jeslyn untuk duduk di sofa.
Teringat ucapan Hanna waktu itu, Jae Hwan sontak melirik kearah lengan Jelsyn. dan sama seperti yang Hanna bilang itu sama persis dengan tato yang digambarkan oleh Hanna.
"Sudah lama sekali sejak hari itu" kata Jae Hwan basa-basi.
"Hmmm~ Apa sekarang kau sudah berpaling dariku?" tanyanya menatap nanar mata Jae Hwan.
"Maksudnya?"
"Oh. bukankah yang waktu itu istrimu? aku mendengarnya dari para tamu" jawabnya.
"Kau benar! aku kira kau sudah benar-benar tewas, jadi aku perlu mencari orang lain. tidak mungkin bukan aku melajang seumur hidup" kasar namun ia sampaikan dengan nada santai.
Jeslyn hanya menarik tipis senyumnya, "Dua hari setelah ledakan hari itu, beberapa warga menemukan dan menyelamatkanku, butuh waktu bertahun-tahun untukku bisa pulih setelah melewati berbagai macam rehabilitasi penyembuhan" tuturnya seraya merubah posisi duduknya untuk duduk di samping Jae Hwan.
"Kenapa kau tidak mengabariku saja? aku pasti akan menjemputmu dimanapun itu" kata Jae Hwan menolehkan wajahnya menatap wanita yang duduk di sampingnya ini.
"Aku sama sekali tidak bisa menghubungi kalian", setiap kali aku menghubungi nomor telponmu yang ada di New Zealand, itu selalu teralihkan" bohongnya.
"Jika Sarah tidak membuat kesalahan waktu itu, bom-nya pasti tidak akan meledak secepat itu"
"Jelaskan lebih detail padaku" pinta Jae Hwan.
"Sebenarnya kami sempat berdebat hari itu, Sarah bersikeras kalau bomnya tidak akan meledak sebelum aku berhasil keluar dari sana! tapi aku merasa ada yang aneh dengan bom-nya dan Sarah terus mendesakku untuk menyelesaikan operasi hari itu dengan sempurna seperti biasanya, karena itu aku tidak menghiraukan-nya dan melanjutkan tugas yang kau berikan padaku... saat aku akan keluar bom-nya tiba-tiba meledak jauh dari perkiraan Sarah."
Beberapa tahun yang lalu, saat Jae Hwan baru saja terjun kedalam dunia gelap para Mafia, ia merampas seluruh harta milik musuhnya yang sudah menghianatinya, dan Sarah serta Jelsyn dulunya adalah bawahannya. Sarah handal dalam masalah Bom sedangkan Jeslyn, dia salah satu tentara bayaran yang sangat muda serta terlatih dan merambah menjadi pembunuh bayaran.
__ADS_1
Sayangnya keduanya terlibat asmara, Jae Hwan menjatuhkan hatinya pada Jeslyn sebagai wanita yang ia kagumi, tapi setelah Jesyn dinyatakan tewas dalam ledakan. permusuhan nya dengan Sarah bermula.
Mendengar cerita Jeslyn.. Jae Hwan hanya mengangguk, sebenarnya ia bingung. karena ia juga mendengar penjelasan versi Sarah dan itu sama sekali berbeda dengan yang ia lihat dilapangan dan cerita dari Jeslyn barusan.
...----------------...
Flashback
"Aku tidak pernah membuat kecerobohan dalam setiap misiku! ini murni karena sabotase" kata Sarah sekaligus sebagai pembelaan diri dihadapan Jae Hwan.
"Apa maksudmu?"
"Aku sengaja tidak mengatakan ini karena tidak mau menyakiti perasaanmu, aku tahu kalian sedang pacaran waktu itu" kata Sarah
"Jelsyn bekerja untuk dua orang, satu untukmu tapi aku tidak tahu siapa Tuan keduanya, Setiap kali kau pergi keluar negri untuk urusan bisnis, Jelsyn selalu keluar dengan seorang pria, aku tidak tahu itu selingkuhannya atau bos keduanya...
Bahkan kau tidak tahu bukan, jika sebelum misi itu dimulai Jeslyn pergi kedokter untuk melakukan aborsi, aku tidak yakin itu anakmu atau bukan! tapi catatan rumah sakit menyatakan jika dia melakukan aborsi, bukan hanya itu-
"Saat misi berlangsung, aku sudah memperingati-nya untuk tidak membuang waktu, karena aku sadar bom-nya bermasalah dan bisa saja meledak walaupun timernya masih berjalan. karena kondisinya semakin tidak kondusif dan alat pengendali jarak jauhnya tidak berfungsi dengan baik, aku memerintahkannya untuk segera keluar tapi Jeslyn ngeyel dan tetap melanjutkan misinya"
"Setelah ledakan aku memeriksa apa pemicu dari kerusakan bom yang sudah kurancang sedemikian rupa seperti biasanya, tapi waktu itu aku menemukan jika ada satu kabel pemicu yang diletakkan untuk kendali jarak jauh... dari sana aku sadar jika semuanya sudah di atur dan kemungkinan besar, uang yang seharusnya menjadi milik kita didapatkan oleh orang lain"
Sarah menceritakan apa saja yang ia ketahui selama ini, sudah lama ia menyela jika dirinya tidak bersalah. tapi hati Jae Hwan tidak terbuka karena apa yang ia lihat itulah kebenaran-nya.
...----------------...
"Seseorang mengatakan kau pernah melakukan aborsi! apa itu anakku?" tanya Jae Hwan.
"Aku tidak pernah melakukan aborsi! untuk apa?" bantahnya.
"Tidak~ mungkin orang itu hanya asal bicara" Sahut Jae Hwan dengan tenang.
"Sekarang kau tinggal dimana?"
"Apartemen! kenapa? kau ingin mengajakku tinggal bersama lagi?!" ujarnya seakan tak punya urat malu.
"Aku hanya bertanya, sepertinya istriku tidak suka jika aku membawa wanita lain" ucapnya tersenyum tipis.
Jeslyn hanya menanggapi ucapan Jae Hwan dengan anggukan pelan.
"Oh iya, sejak kapan kau punya tato itu. kurasa dulu tidak ada?" tanya Jae Hwan dengan nanar mata yang tertuju pada pergelangan Jeslyn.
"Dua tahun yang lalu" sahutnya yang juga ikut memandang pergelangan tangannya.
Drrttt....
"Tunggu sebentar, sepertinya istriku menelpon" ujarnya bangkit dari duduk untuk mengangkat telpon dari Hanna.
Dimana sebelumnya saat Jeslyn bicara, Jae Hwan mengirim pesan pada Hanna untuk menelponnya beberapa menit setelah menerima pesan, entah untuk apa?
📞In Call-
__ADS_1
"Kenapa minta di telpon? apa kau segabut itu sampai minta dihubungi?"
"Sabar sayang, sebentar lagi aku akan pulang! kamu mau dibelikan apa?"
"Dih! sejak kapan anda semanis ini Tuan Jung, sudahlah jangan banyak basa-basi, katakan saja kau mau apa?"
"Hmmm~ aku tidak masalah, tapi kalau kau mau membuatkanku Galbi-jjim aku akan menyukai itu"
"Aku tidak bisa masak itu, yang lain saja atau kau beli saja saat pulang"
"Terimakasih sayang"
"Tuan Jung! kau baik-baik saja? apa bekerja seharian membuat otakmu stress??"
"Kalau begitu sampai jumpa"
📞End Call-
Mengakhiri telponnya dengan nada lembut dan hangat, Jae Hwan kembali duduk di sofa dengan senyum sumringah, ia sadar jika wajah Jeslyn terlihat sedang bosan.
"Bagaimana ya~ tapi aku harus pulang, Hanna sudah menungguku dirumah" ujarnya beralasan, padahal Jae Hwan hanya ingin keluar dari kantor untuk pergi ke markas-nya tanpa harus mengusir Jeslyn.
"Ah tidak masalah, aku juga ingin menemui orang lain setelah dari sini" kata Jeslyn sambil berdiri.
"Yasudah, kalau begitu aku mau bersiap dulu" ujarnya melangkah menuju kursi kerja untuk mengambil tas kerjanya.
Sedangkan Jeslyn, wanita itu sudah keluar lebih dulu.
Jae Hwan langsung mengirim pesan pada Jung Wo yang memang ada di loby,
📨Message
"Ikuti Jeslyn, aku akan pulang dengan Ye Jun"
Setelah mengirim pesan, ia langsung menemui Ye Jun untuk minta di antar pulang.
...****************...
"Dia memang menyusahkan ! seharusnya kau tinggal saja dia dilampu merah" kata Hanna menyetujui ucapan Ye Jun.
...****************...
.
.
.
Jangan Lupa like, tinggalin jejak di koment, vote, dan share, biar author semangat up ep-nya.🥰
.
__ADS_1
.