Revenge Obsession

Revenge Obsession
Revenge Obsession : Cp.92


__ADS_3

Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapat hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


Typo bergentayangan, mohon di maklumi


...****************...


Hanna memoles lipstik merah nya. Sedangkan Jae Hwan, pria itu hanya menatap Hanna dari pantulan kaca sambil memasang jam tangannya.


"Ayo pergi" ajak Jae Hwan.


Hanna mengangguk, lalu meraih tas dan kacamata hitamnya, tak lupa milik Jae Hwan.


...****************...


Sepulang dari pemakaman, Jae Hwan mengajak Hanna untuk makan siang sebentar di sebuah rumah makan biasa tempat Jae Hwan sering datangi bersama bibi Cha sewaktu dulu.


Mereka bertiga makan di tempat itu kurang lebih 30 menit sebelum kembali kedalam mobil.


Sopir melajukan mobilnya saat ketiganya sudah masuk.


"Hye Soo tidak mungkin bunuh diri" celetuk Hanna lalu beralih menatap suaminya.


Jae Hwan hanya menaikkan salah satu alisnya menuntut Hanna untuk melanjutkan pembicaraannya.


"Bisa kau selidiki untukku?"


"Aku?!"


Hanna mengangguk. "Hubungan Hye Soo denganku apa?"


Bahkan Jae Hwan tak akan pergi ke pemakaman jika bukan karena Hanna memaksanya.


Mendengar jawaban Jae Hwan barusan membuat Hanna menampakkan wajah kesalnya.


"Yasudah, aku sendiri yang akan mencari tahu" ucap Hanna yang langsung memalingkan wajahnya menatap keluar jendela mobil.


Jae Hwan hanya diam, ia enggan untuk membantu istrinya itu.


Saat mobil berhenti dihalaman rumah, Hanna langsung turun tanpa menghiraukan Jae Hwan.


"Lihat wanita itu kalau sudah kesal karena tak dituruti" cibirnya seraya turun dari mobil


Masih belum selesai rasa kesal Hanna pada Jae Hwan, pria yang kini duduk di sofa ruang tamu semakin membuat kekesalan serta amarahnya memuncak.


Tae il, pria itu melambaikan tangannya saat Hanna masuk kedalam rumah.


Gadis itu hanya menampakkan wajah datarnya lalu melangkah masuk kedalam kamar.


"Kau datang" seru Jae Hwan yang baru saja masuk bersama Jung Wo.


Heran, bagaimana bisa seorang Jung Jae Hwan masih berlaku baik pada pria satu ini, padahal jelas jika Hanna keguguran karena ulah Park Tae Il.


Tae Il meletakkan sebuah berkas yang diminta Jae Hwan darinya.


"Kau tidak berniat membodohiku,kan?"


"Ayolah hyung, aku tidak akan melakukan itu untuk hal serius ini"

__ADS_1


"Tapi kenapa tiba-tiba?" ujar Tae Il lagi


"Ada yang ingin ku periksa" sahut Jae Hwan yang sedang memeriksa daftar nama yang tertera di berkas itu.


Hanna lewat begitu saja tanpa ada niatan menyapa atau membuatkan minuman untuk keduanya.


"Berhenti menatap milikku, jika kau tak ingin bola matamu ku keluarkan"


"Calm down, hyung"


"Kau tak lupa kalau aku selalu menepati janjiku,kan?!"


Saat itu juga Tae Il langsung mengalihkan tatapannya dari Hanna yang sedang berdiri di dapur.


Baik Hanna maupun siluetnya sekalipun masih mampu menarik perhatian seorang Park Tae Il yang begitu terobsesi dengannya.


Jika Hanna tidak tinggal dirumah Jae Hwan, mungkin Park Tae Il sudah lama menjadikannya sebagai istri dengan segala rencana dan tipu dayanya.


"Aku ingin kau membuatkan pertemuan untukku sesegera mungkin"


"Kau yakin, hyung?!"


"mereka para bedebah sialan itu??" sambungnya dan langsung di angguki oleh Jae Hwan.


"Oke, aku akan mengabarimu lagi nanti" ucap Tae Il seraya bangkit dari duduknya.


"Aku ingin ke toilet"


"Ke toilet! jangan ketempat lain"


"Iyaa"


Tae Il berjalan dengan santai menyusuri rumah besar itu, sambil sesekali ia bersiul menuju toilet yang berada satu lorong dengan ruang keluarga.


Sementara Tae Il ke toilet, Jae Hwan masih setia duduk di sofa single sambil melihat lagi daftar nama para pengunjung club.


"......"


Ia masih saja merasakan jika ada yang mengelus bahunya.


"Aromamu tidak pernah berubah"


Damn!


Hanna terdiam, tubuhnya kaku bahkan buku yang sedang ia pegang jatuh kelantai.


Park Tae Il!


"Sstt... Jangan teriak! Jika kau membuka mulutmu sedikit saja, akan kupastikan Jae Hwan hyung mengetahui Dana gelap yang kau sembunyikan!!!"


Sial, darimana pria brengsek ini mengetahui masalah Dana gelapnya.


"Apa kau mengancamku sekarang!"


"Ani, aku hanya memberitahumu agar tidak berisik"


"Sama saja bodoh!!!"


"Apa kau masih tidak kapok melakukan hal menjijikan ini padaku?" kata Hanna lagi, padahal jauh dalam lubuk hatinya ia sedang merasa terancam akan kehadiran Tae Il.


"Aku hanya merindukanmu! Apa itu salah?"


"Tentu salah, Aku wanita bersuami Park Tae Il! tidak sewajarnya kau melakukan ini pada istri kakakmu sendiri!!!"


"Tidak ada hubungan darah antara aku dan Jae Hwan hyung, kakak dan adik itu hanya sebatas sebutan"

__ADS_1


"Benar ternyata, darah lebih kental daripada air.. "


"Tentu, bahkan jika aku punya kesempatan untuk membunuh Jae Hwan hyung , pasti sudah kulakukan! Maka sekarang, kau tak akan duduk di sini, melainkan dirumahku!" ucap Tae Il tersenyum miring.


"Singkirkan tangan kotormu itu dariku! Kau masih ada disini karena aku diam, jika aku speak up.. kau pasti sudah mendekam dipenjara!!!"


"Silahkan Hanna, dengan senang hati. Kau bisa melaporkanku, tapi perlu kau ingat jika aku bisa dengan mudah keluar"


"Sialan" Umpat Hanna mendelik tajam pada pria yang sedang ada di belakang sofanya.


"Jika kau tak ingin Jae Hwan hyung mengetahui hal itu, datanglah ke alamat yang ku kirimkan"


Hanna langsung mengecek ponselnya, dan benar saja jika Tae Il telah mengirim sebuah alamat padanya.


"Kau akan tahu nanti" bisik Tae Il lalu menepuk pundak Hanna tak lupa senyum manisnya.


Pria itu pergi begitu saja meninggalkan Hanna yang masih duduk di sofa sambil bergumam sendiri.


"......"


"Hyung, aku pulang" ujar Tae Il melambaikan tangannya sambil melangkah keluar dari mansion besar itu.


Tak lama setelah Tae Il, Hanna lewat untuk masuk ke kamarnya.


"Kau daritadi diruang keluarga?"


"Menurutmu"


"Apa anak kurangajar itu mengganggu mu lagi?"


Hanna menghentikan langkahnya, lalu menolehkan wajahnya pada sang suami.


"Dia baru saja memelukku! bukankah itu yang kau mau dengan mengijinkannya datang kerumah" sahut Hanna seraya menyilangkan tangannya.


Jae Hwan langsung bangkit dari duduknya "Anak itu" gumamnya kesal sambil menoleh kearah pintu utama.


"Sudahlah, tidak ada gunanya kau marah."


"Kenapa ruang bawah tanah dikunci?" tanya Hanna, karena saat ia pertama kali datang bahkan sampai sekarang gadis itu masih tak berhasil masuk keruang bawah tanah.


"Daripada kau masuk keruang bawah tanah yang kotor, kenapa tidak ke kamar saja denganku?" ujar Jae Hwan merangkul bahu Hanna tak lupa ia menggerakkan alisnya untuk menggoda Hanna.


"Sampai aku berhasil mengetahui alasan kematian Hye So, jangan mencoba untuk menggodaku, apalagi yang lain!" peringat Hanna lalu melepas tangan Jae Hwan yang bertengger di pinggangnya.


"Ya, itu tidak adil?!" protes Jae Hwan.


Hanna yang kala itu ada di anak tangga lantas berbalik dan menoleh, "Kalau begitu suruh anak buahmu mencari informasi! Kau,kan ketua Mafia."


"Kalau aku dapat?"


"Aku akan melayanimu dengan senang hati, Tuan Jung.. Jae Hwan..." ucap Hanna, tersenyum paksa lalu ia segera pergi sebelum pria satu ini mencari kesempatan dalam kesempitan.


"Tepati ucapanmu Nyonya Jung... Jangan mengeluh nanti" teriak Jae Hwan tersenyum puas setelah mendapati jawaban dari Hanna tadi.


...****************...


.


.


.


Jangan Lupa like, tinggalin jejak di komen, vote, dan share, biar author semangat up ep-nya.🥰


.

__ADS_1


.


__ADS_2