Revenge Obsession

Revenge Obsession
Revenge Obsession : Cp.86


__ADS_3

Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapat hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


Typo bergentayangan, mohon di maklumi


...****************...


"Apa mau mu?"


Hanna mengusap pergelangan tangannya yang terasa sakit akibat cengkeraman kuat Park Tae Il.


"Aku hanya ingin menyapamu! sekarang sulit untukku menemuimu" jawab Tae Il menyeringai pada Hanna.


"Kau jangan macam-macam Park Tae Il, kuperingatkan kau!!!"


"Kenapa kau semakin lama semakin se*y Hanna" ujar Tae Il yang tanpa permisi menarik pinggang Hanna hingga jarak mereka terkikis.


"Lepas!!!"


Hanna mendorong Tae Il dengan sekuat tenaga hingga pria itu terhuyung namun ia masih kokoh berdiri.


Tanpa bicara Hanna langsung mengambil ponsel di dompetnya berniat untuk menelpon Jae Hwan, namun sayang gerakan Tae Il jauh lebih cepat dan berhasil mengambilnya.


"Aku tak akan membiarkan Jae Hwan, hyung menggangguku malam ini"


"Pria Gila!!!"


"Berikan ponselku, atau aku teriak!!!"


"Coba saja teriak!!!-


"Tolong!!! Ada pria gi-


Hanna membulatkan matanya saat Tae Il mendorongnya ke dinding dan mengunci seluruh pergerakannya


Dengan lihai pria itu ******* kasar bibir Hanna hibgga gadis itu tak bisa bernapas.


Plakkk


"Brengs*k!!!"


Mata Hanna memerah, ingin sekali ia menangis tapi ia tahan, dan memilih untuk memperlihatkan jika dirinya punya sisi garang.


Hanna mengusap kasar bibirnya, lalu beralih menatap pria yang masih mengurung dirinya dengan kedua tangannya.


"Dengarkan aku baik-baik Park Tae Il!!! ini terakhir kalinya aku diam atas perbuatan tidak senonohmu ini padaku. Setelah ini, akan ku pastikan kau mendekam di penjara. Camkan itu!!!"


Duagghhh~


Arghhh


Dengan segala keberanian yang terkumpul, Hanna menendang kuat kelemahan Tae Il dan segera berlari menuju pintu keluar.


"Yak! Kim Hanna.... Sampai kapanpun kau tak akan bisa lepas dariku!!!" teriaknya sambil menahan sakit.


Hanna hanya fokus berlari, ia melihat tanda di depan toilet yang membuat orang tidak masuk karena peringatan rusak.


"Park Tae Il sudah benar-benar tak waras" pikir Hanna bergegas menuju ruang acara.


Bruk~

__ADS_1


Akhhh~


Hanna Jatuh dengan cukup kuat saat tak sengaja bertabrakan dengan pelayan hingga pakaiannya basah terkena tumpahan wine.


"Kau baik-baik saja?"


Nampak Jae Hwan khawatir dan langsung melepas jasnya untuk Hanna.


"Kau darimana saja?" sahut Hanna dengan nada bergetar ketakutan.


"Tenanglah, aku disini sekarang" ucap Jae Hwan mencoba menangkan Hanna seraya membantunya berdiri.


Baru saja Hanna berdiri dibantu Jae Hwan, Park Tae Il terlihat berjalan melewati mereka berdua setelah tersenyum pada Hanna.


Hanna sudah tak tahan, ia benar-benar muak atas perbuatan Tae Il yang terkesan begitu merendahkan dirinya.


Tangan Hanna menunjuk ke arah Tae Il yang sedang berjalan masuk kedalam ballroom, hingga membuat atensi Jae Hwan ikut melihat ke arah mana jari Hanna menunjuk.


"Kenapa?"


"Park Tae Il mengunciku di toilet"


Spontan Jae Hwan membulatkan matanya tak percaya, "Aku tak tahan, pria itu terus saja melec*hkanku" ucap Hanna pelan namun jelas terdengar oleh Jae Hwan.


"Sekarang kita pulang, aku akan mengurus itu nanti" jawab Jae Hwan


Namun, Hanna tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri , untungnya Jae Hwan sigap menangkap tubuh Hanna.


"Tuan, kaki Nona Hanna berdarah" ujar Jung Wo yang baru saja datang berbarengan dengan Hanna yang jatuh tak sadarkan diri.


Melihat itu membuat Jae Hwan semakin panik, ia langsung mengangkat Hanna ala brydal style berlari menuju mobil yang sudah menunggu di depan loby.


"Kita kerumah sakit"


Jung Wo langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.


...****************...


"Saya dok!" Sahut Jae Hwan yang sedari tadi tak mau diam dan terus mondar-mandir.


"Sebelumnya kami tidak berhasil menyelamatkan janinnya, dan tolong untuk menjaga kondisi ibunya. pasien terlalu lemah dan terlalu berada di bawah tekanan, hingga membuat janinnya tak bisa bertahan" jelas dokter.


Damn


Jae Hwan tak bisa bicara, ia hanya mengangguk pelan lalu berlari masuk menghampiri banker Hanna.


"periksa cctv di dekat toilet hotel" perintahnya pada sang tangan kanan.


Jung Wo lekas pergi setelah mendapatkan perintah dari atasannya.


Pria itu hanya bisa menghantam dinding rumah sakit beberapa kali, melepaskan seluruh amarah yang ada dalam dirinya.


Jae Hwan tak terima jika anaknya yang masih berbentuk janin itu hilang sebelum ia bisa melihatnya.


Pria itu duduk di kursi seraya meraih tangan Hanna lalu menggenggamnya dengan erat.


Selama beberapa hari terakhir setelah ia dinyatakan hamil, tak di pungkiri jika gadis itu punya banyak pikiran ditambah Tae Il yang sebelumnya mengatakan sesuatu hingga membuat Hanna kepikiran.


"Akan ku pastikan, Jae Hwan Hyung sendiri yang membuangmu!"


Hanna terbangun dengan nafas memburu, seperti orang yang baru di kejar setan.


"Kau kenapa?"


Hanna menormalkan deru nafasnya tanpa sadar tangannya menggenggam kuat tangan Jae Hwan.


"Apa kau akan meninggalkanku?"

__ADS_1


Kalimat itu lolos begitu saja dari mulut Hanna, ia tak bisa berbohong pada perasaannya sendiri.


Jae Hwan terdiam, ia berpikir apa yang sebelumnya terjadi sampai istri nya bertanya seperti itu.


"Aku tak akan meninggalkanmu" sahut Jae Hwan mencoba memberi Hanna ketenangan.


"Sebenarnya apa yang terjadi?"


"Park Tae Il-


"Ada apa lagi dengannya?" potong Jae Hwan.


"Pria itu benar-benar keterlaluan" sambung Hanna dengan mata yang berkaca-kaca menahan tangis.


Tapi Hanna tiba-tiba merasakan sakit pada bagian perutnya.


Bahkan Jae Hwan merasakan jika genggaman Hanna terasa semakin kuat.


Buru-buru Jae Hwan menekan tombol agar suster dan dokter datang.


"......"


"Bagaimana dok?!"


"Pasien perlu istirahat total, untuk sementara mungkin pasien akan merasakan sakit pada bagian perut, atau demam dan yang lain sebagai efek samping dari keguguran"


"Apa dia bisa dirawat dirumah?!"


"Tentu, asal dengan perawatan yang tepat" jawab dokter


Jae Hwan mengangguk paham, lalu menelpon Jung Wo untuk mengurus semua administrasi rumah sakit.


Sedangkan Hanna, gadis itu sudah tertidur pulas setelah dokter memberikan obat pada cairan infusnya, tanpa ia tahu jika anaknya sudah tidak ada.


...****************...


3 hari semenjak kejadian malam itu, Hanna sama sekali tak di izinkan untuk keluar rumah, bahkan kehalaman saja Jae Hwan tak mengizinkan-nya.


"Itu bukan cinta, tapi kau terobsesi!!!" Jae Hwan menekan kalimatnya seraya mendudukkan dirinya di kursi kerjanya.


"Kau juga terobsesi hyung, jadi sadar diri" sahut Tae Il yang saat ini tengah duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.


"Kau tahu jika Hanna adalah orang yang mudah untuk di pengaruhi, karena itu kau mempengaruhi-nya agar membenciku,kan?!"


"Perbuatanmu yang membuat Hanna membencimu sekarang."


"Aku tak peduli. Sampai kapanpun, aku tidak akan membiarkan hubungan kalian baik-baik saja!" Tae Il bangkit dari duduknya, lalu memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana.


"Dan sampai kapanpun, aku tidak akan melepaskan Hanna!" Jae Hwan beralih menatap Tae Il dengan tatapan datarnya.


"Kita lihat, sejauh mana Hanna bisa bertahan dengan pria gila sepertimu!!!" Tae Il tersenyum miring dan pergi dari ruangan Jae Hwan.


"Aku juga akan melihat, sejauh mana usaha licikmu untuk menjauhkanku dari Hanna." gumam Jae Hwan, lalu ia kembali pada pekerjaannya.


Sejauh ini Jae Hwan masih bersikap manis terhadap Park Tae Il, pria itu hanya menunggu waktu yang tepat untuk memberikan pelajaran pada pria bermarga Park itu.


...****************...


.


.


.


Jangan Lupa like, tinggalin jejak di komen, vote, dan share, biar author semangat up ep-nya.🥰


.

__ADS_1


.


__ADS_2