
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapat hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
Typo bergentayangan, mohon di maklumi
...****************...
Sebulan sebelumnya, Jae Hwan mendapatkan informasi dari bawahannya yang memang ia perintahkan untuk mengawasi Tuan Kang, Bahwa Hanna masuk kedalam list hak ahli waris keluarga Kang. Dan apa yang ia katakan dirumah sakit, semuanya hanyalah bualan dan tak pernah berpikir untuk menghancurkan hidup Hanna.
Justru tujuan-nya, adalah mendapatkan kembali hak Hanna yang memang seharusnya menjadi miliknya.
Dan untuk menguasai Kang Dynamics, itu memang sebuah kebenaran yang sedang Jae Hwan rencanakan untuk memperkuat kekuasaannya.
Karena hal itu ia menyelidiki Tuan Kang sampai ke akarnya dan mendapati jika Hanna adalah anak kandung Tuan Kang yang lahir karena sebuah kesalahan.
Namun dibalik itu semua, Jae Hwan semakin dibuat tak habis pikir setelah mengetahui jika selama beberapa tahun ibu Hanna adalah budak s*x Tuan Kang tanpa sepengetahuan siapapun.
Kim Yeon-U mengetahui itu semua, ia tahu jika Hanna adalah anak Tuan Kang dan bersikeras untuk mengurusnya sendiri setelah istrinya meninggal, tanpa membiarkan Hanna tahu siapa identitas aslinya.
Dari sana Jae Hwan yakin, jika Hanna memang wanita tepat yang harus mendapatkan perlindungan darinya.
Tapi pria itu malah membuat semua nya semakin runyam, dengan menghilangkan kepercayaan Hanna dan membuatnya kecewa.
"......"
Hyun il masuk ke kamarnya tanpa bicara dengan sang kakek, karena merasa kecewa dan dibohongi selama ini.
Sedangkan Tuan Kang! Pria tua itu hanya terduduk di sofa ruang tamu memikirkan cara agar Jae Hwan tak membocorkan informasi itu ke media dan membuat saham Kang Dynamics merosot karena scandal besar.
Dan Jae Kyung, pria itu sudah pergi mengikuti kemana mobil Jae Hwan membawa Hanna.
...****************...
Jae Hwan duduk di tepi ranjang sambil mengelus lembut surai hitam Hanna.
Karena Hanna terus berontak, Jae Hwan memutuskan untuk membiusnya agar istrinya itu jinak.
Ada kalanya pria itu melirik kearah perut Hanna yang masih terlihat rata.
"Maaf" serunya dengan nada yang teramat pelan.
Dengan setia ketua mafia itu menunggu istrinya sadar dari pengaruh obat bius yang ia berikan.
"Tuan, Ada Park Jae Kyung di gerbang utama, memaksa untuk masuk" ujar Jung Wo dari luar kamar.
__ADS_1
"Biarkan saja dia masuk, aku akan keluar sebentar lagi" sahutnya.
"......"
"Apa kau bosan hidup" ujar Jae Hwan yang kini sedang menuruni anak tangga untuk menemui Jae Kyung diruang tamu.
Pria itu lantas berdiri dari duduknya, dan menatap Jae Hwan dengan tatapan tak sukanya.
"Jadi kau orang yang membuat Hanna menderita selama ini?"
Jae Kyung terlalu berani untuk mengatakan itu di hadapan ketua mafia seperti Jae Hwan.
"Tidak ada yang bisa menilai apakah Hanna bahagia atau tidak, selain diriku" sahut Jae Hwan enteng.
"Brengs*k" umpat Jae Kyung pelan.
Jae Hwan hanya menatap pria yang duduk di hadapannya dengan tatapan remeh dan sombong.
"Seharusnya disini kau yang harus sadar diri. Hanna adalah istriku, dan apapun yang berkaitan dengannya adalah urusanku." ucap Jae Hwan telak satu kosong menang dari Jae Kyung.
"Apa tujuanmu datang kesini?"
"Jika kau berpikir aku akan membiarkan Hanna pergi, Kau salah besar. Pintu keluar ada di belakangmu,,, jadi silahkah keluar dengan damai selagi aku berbaik hati." sambungnya.
Jae Kyung hanya bisa di buat kesal atas penuturan pria songong di hadapannya.
"Selama Hanna tidak mencintai siapapun, jalan untukku akan tetap ada." ucap Jae Kyung lalu bangkit dari duduknya untuk segera enyah dari mansion besar tersebut.
Apakah Jae Hwan terpengaruh? Tentunya tidak, pria itu malah terlihat santai tanpa beban apapun sekalipun Jae Kyung memberikan nya sebuah ancaman.
...****************...
#BRAK!
Pintu terdobrak di salah satu rumah dan masuklah para anggota kepolisan lengkap dengan senjata dan pelurunya.
Mereka menggerebek salah satu kediaman yang di duga markas pengedar obat-obatan terlarang, yang secara garis besar lebih mengarah pada barang haram seperti nark*ba.
Semua orang yang berada di rumah itu langsung mengangkat tangan menyerah. Para anggota kepolisan itu langsung melemahkan satu-persatu para tersangka.
Di lain sisi, Jung Wo keluar melewati pintu rahasia dan kini sedang berjalan menuju mobil seraya menghubungi seseorang yang sudah bisa kita pastikan itu adalah bosnya.
Akhir-akhir ini hal yang sama terus terulang, tambang emas milik pria bernama Jung Jae Hwan itu mulai terungkap satu-persatu.
“Bae Han Ju… Ingat… Hari itu pasti akan tiba, hari dimana aku menghancurkan dirimu.”
Pria itu tersenyum lalu mendorong apa saja yang ada di meja hingga hancur berantakan.
“Bawa Arin ke markas sekarang juga!.”
“Kami masih melacak keberadaan Arin Tuan, Bae Han Ju mengirim Arin pergi beberapa hari yang lalu. Sinyal ponselnya juga belum bisa di lacak. Tapi beberapa anak buah sudah dikirim untuk mencari keberadaannya yang mungkin masih berada di jepang.” Jelas bawahannya.
__ADS_1
Jae Hwan hanya mengangguk, lalu memasukkan ponselnya kedalam saku celananya.
Saat ia berbalik, Terlihat Hanna sedang menuruni anak tangga dengan wajah datarnya itu.
Sama sekali tak ada ekspresi yang Nampak di wajahnya setelah kejadian kemarin.
“mau kemana?” tahan Jae Hwan saat Hanna melewati dirinya.
“Bukan urusanmu.” Sahut Hanna lalu menepis tangan Jae Hwan hingga tautan mereka terlepas.
“Masuk kamar! atau aku potong kakimu agar tak bisa jalan” ujar Jae Hwan bersuara dengan nada berat.
Mengerikan! Hanna sebenarnya takut, tapi egonya jauh lebih besar untuk melawan dan pergi melewati pintu utama tanpa sepatah katapun.
Jae Hwan langsung berlari menyusul Hanna dan mencegatnya tepat di tengah halaman dekat air mancur.
Baru saja pria itu akan buka suara, sebuah peluru meleset dan mengenai tebing kolam yang berjarak sangat dekat dengan posisi Hanna saat ini.
Jae Hwan tentunya langsung menoleh mencari dari mana asal bidikan tersebut, sedangkan Hanna. Gadis itu langsung terduduk. Kakinya lemas tak berdaya.
Jika saja Jae hwan tak mengcegatnya, mungkin peluru itu akan bersarang di kakinya sekarang.
Seluruh pengawal berlari menuju halaman tengah dimana Hanna dan Jae Hwan masih ada di sana.
“cek seluruh cctv yang ada di dekat rumah” perintahnya, lalu membawa Hanna yang masih terdiam kaku masuk kedalam rumah.
Jae Hwan mendudukkan Hanna di sofa ruang tamu di susul dirinya yang juga duduk.
“Mulai sekarang, tingkatkan kemanan dirumahku, jangan sampai hal tadi terjadi lagi”
“baik Tuan.”
Jung Wo baru saja datang dengan membawa tablet di tangannya, bersiap memperlihatkan apa yang berhasil ia dan tim IT dapatkan.
“Jika terus didiamkan, Go Hyun Tae dan bawahannya akan semakin bertingkah ,Tuan” ucap Jung Wo yang langsung di angguki setuju oleh Jae Hwan.
Hanna tiba-tiba bangkit dari duduknya, “Mau kemana lagi?”
“aku ingin ke kamar” sahut Hanna dingin, lalu ia segera melangkah pergi menuju kamar meninggalkan Jae Hwan dan beberapa anak buahnya.
“Kita beri mereka peringatan malam ini.” Ucap Jae Hwan tak lupa senyum liciknya.
...****************...
.
.
.
Jangan Lupa like, tinggalin jejak di komen, vote, dan share, biar author semangat up ep-nya.🥰
__ADS_1
.
.