
Biasakan Like bab-nyađ...
Masukin list Fav juga yađ„°
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiahđ„°
So... I Hope Enjoy The Story
...****************...
"Berikan ini pada Hana" ucap Jae Hwan seraya memberikan sebuah paper bag pada Jung Wo.
Namun Jung Wo hanya menaikkan salah satu alisnya heran sekaligus bingung dengan permintaan bos-nya kali ini.
"Kompensasi, karena musuhku dia malah jadi sasaran" kata Jae Hwan seakan tahu dari ekspresi wajah tangan kanannya ini.
Setelah Jung Wo pergi, Yoon Wo beserta Sarah dan anaknya masuk kekamarnya.
Setelah menjalani perawatan ia memilih untuk istirahat dirumah ketimbang dirumah sakit.
Seketika ekspresi wajahnya berubah dan memilih untuk memalingkan posisinya ke kiri membelakangi Yoon Wo dan Sarah.
Sarah yang sadar akan perubahan Jae Hwan merasa tidak enak mengingat kesalahan yang pernah dilakukannya.
"Apa aku keluar saja?!" bisiknya pada Yoon Wo
"Tidak perlu, suatu saat kalian juga pasti harus berhadapan untuk menyelesaikan masalah ini" ucap Yoon Wo dengan nada pelan menoleh pada wanita yang berdiri di sampingnya.
Tidak berselang lama, masuk dua orang yang membuat ketiganya menatap kearah pintu.
"Kita keluar sekarang" bisik Seok Hyun mengajak Yoon Wo dan Sarah untuk keluar karena menurutnya Hana dan Jae Hwan harus meluruskan masalah mereka.
Sebelumnya, Seok Hyun sudah bicara dengan Hana dan menjelaskan semua yang telah terjadi dan siapa yang membuat Ayahnya menjadi seorang tersangka, hingga membuat Hana sedikit lunak akan Jae Hwan.
Seperginya mereka bertiga, Hana yang berdiri di dekat pintu merasa canggung dengan suasana yang sedang meliputi mereka berdua, bahkan Jae Hwan terdiam sambil sesekali melirik Hana namun tidak ada niatan untuk buka suara.
Ingin meminta maaf pun, rasanya gengsi baginya mengingat apa saja yang di lakukannya pada Hana selama ini sudah begitu keterlaluan.
"Apa kau tidak punya niat untuk minta maaf padaku?" celetuk Hana sukses membuat Jae Hwan menatap kearahnya.
"Maaf" ujarnya yang langsung buang muka karena tidak ingin berkontak langsung dengan Hana.
Baru saja wanita itu ingin buka mulut, ponselnya berdering.
Segera ia mengambil ponselnya di dalam tas dan mengangkatnya.
"Aku akan segera kesana" ujarnya mengakhiri panggilan telpon dan berlari keluar kamar Jae Hwan tanpa sekalipun menghiraukan pria itu.
"kemana dia?" gumamnya pelan karena melihat Hana yang tiba-tiba langsung pergi.
"apa dia tidak terima karena aku minta maaf seperti itu?!" pikirnya tanpa sekalipun mengalihkan tatapannya dari pintu kamar yang masih terbuka.
...****************...
Terlihat seorang wanita yang sedang berjalan masuk kesebuah rumah mewah dengan rahang tegas dan mata yang menatap lurus kedepan.
Baru saja ia akan duduk, terlihat seorang pria paruh baya yang berjalan menuruni anak tangga bersama putrinya.
__ADS_1
âTuan, saya Sudah membawa nona Jeslyn kemariâ ujar sang bawahan yang tadi menjemput gadis itu dari bandara.
âsaya pamit undur diri, nona dan Tuanâ ujarnya membungkuk lalu segera pergi dari sana membiarkan ketiganya bicara.
âHai, senang bertemu denganmu lagi. Ku dengar kau tengah sibuk, jadi maaf telah memberikanmu kasus yang mendadakâ
âakhirinya sadar juga. Kau tahu, misi ini sangat membuang waktuku yang berharga. Untung saja kau membayarku mahalâujar gadis itu dengan tatapan jengkelnya.
Pria paruh baya itu hanya tertawa memaklumi, sebab ia tahu tabiatnya.
âjadi apa yang kau minta?â tanya Jeslyn tanpa basa-basi.
âaku ingin kau membereskan penghalang di kerajaan bisniskuâ ucap pria itu dengan nada santai, sementara sang putri yang sudah tau siapa yang dimaksud sang ayah memilih diam untuk mendengarkan semuanya lalu setelah itu ia akan ambil keputusan.
âlalu bayarannya?â jawab Jeslyn dengan ringan
"aku akan memberi saham mayoritas perusahaanku yang ada di New Zealand untukmuâ jawabnya dengan tegas.
âDealâ kata Jeslyn sambil bersalaman dengan Han Ju
âaku ingin melihat keberhasilanmu sekali lagi nona Jeslynâ sambungnya dengan senyum penuh arti.
...****************...
Hana pergi ke sebuah restoran daging untuk menemui sahabatnya yang sudah Mabok berat karena menenggak beberapa botol alcohol, entah apa masalah yang di miliki sahabatnya ini.
"Yak! bangun sekarang" kata Hana sambil berusaha untuk membopong Hye Soo.
"Berapa banyak yang dia minum sampai bisa seperti ini" gumamnya sambil membawanya Keluar dari restoran tersebut.
Saat mereka berdiri di pinggir jalan untuk menghentikan taxi, seorang wanita dengan rambut lurus seleher serta kacamata hitamnya menatap lekat kearah keduanya dari seberang jalan.
Disisi lain, Hana telah berhasil menghentikan taxi untuk mengantar sahabatnya itu pulang.
...****************...
Hana terbangun dari tidur ketika kamarnya dipenuhi cahaya matahari.
Kepala Hana mendongak menatap jam yang ada di unit apartemen kecil ini.
"Oh, sudah jam 7 pagi"
Hana menyibak selimutnya lalu berjalan menuju kamar mandi dengan setengah sadar.
"......"
Selesai mandi dan bersiap, ia bergegas pergi menuju halte bus sebelum hari semakin siang dan ia terlambat bahkan sarapan saja tidak.
Dengan kemeja putih dan rok hitam selutut dipadukan dengan makeup simple
Ia melangkah masuk kedalam bus yang baru saja berhenti menandakan ia bisa masuk sekarang.
Sekitar 25 menit perjalanan, Hana bergegas masuk kedalam lift sebelum makin banyak karyawan yang masuk.
"Syukurlah tidak terlambat" gumam Hana sambil melihat jam di layar ponsel.
Tiba-tiba ada yang menghentikan pintu lift yang hampir tertutup itu hingga kembali terbuka.
Tampak seorang pria yang sangat ia kenal masuk kedalam lift dengan wajah angkuh dan dua tangan yang dimasukkan kedalam saku celana, pria itu berdiri tepat di depan Hana.
__ADS_1
"Sejak kapan pria ini menggunakan lift karyawan" ujarnya dalam hati sambil melirik Jae Hwan yang ada di depannya.
"Kau-"
Sontak Hana menoleh karena hanya ada mereka berdua di dalam sana.
"Apa kau punya rencana untuk bibimu?" tanyanya tiba-tiba hingga membuat hana kaget bukan main, karena tidak biasanya pria satu ini bicara dan terlihat peduli.
"Kau sendiri?" balas Hana menatap Jae Hwan tanpa ditatap balas olehnya.
"balas dendam"
Jawaban pertama yang keluar dari pikirannya ia katakan pada Hana.
"Sama sepertiku waktu itu" tanya Hana yang sebenarnya adalah sindiran.
Ting~
Pintu lift terbuka, dan pria itu memilih untuk pergi tanpa menjawab ucapan Hana.
"Dasar aneh" ujarnya menggeleng pelan lalu segera keluar dari lift sebelum pintunya kembali tertutup.
....
Jae Hwan sedang asik duduk di sofa ruangan Seok Hyun sambil memainkan game di ponselnya, sang kakak hanya melirik sekilas adiknya itu
"Apa kau tidak punya kerjaan?" tanya Seok Hyun heran
Bukannya menjawab, Jae Hwan malah mengumpat setelah mati di game permainan yang ia mainkan. "it's a f*ck"
"br*ngs*k"
"j*la**"
"Sial*n"
Tidak habis sampai di sana, ia kembali mengumpat saat ada panggilan masuk .
"WHY!!!" sahutnya emosi
"Polisi mencurigai produksi kita yang ada di ilsan"
"Aku kesana sekarang"
Tanpa basa-basi ia langsung keluar dari Seok Hyun dengan raut wajah yang begitu emosi, bahkan saat Hana yang baru saja ingin masuk kaget dengan ekspresi bringas ketua JDevils itu.
"Akan kuhabisi kalian sampai ke akar-akar" gumamnya saat berjalan menuju lift.
...****************...
.
.
.
Jangan Lupa like, tinggalin jejak di koment, vote, dan share, biar author semangat up ep-nya.đ„°
.
__ADS_1
.