Revenge Obsession

Revenge Obsession
Revenge Obsession : Cp.79


__ADS_3

Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


...****************...


Hanna kini tengah memperjelas pandangannya, ia melihat tangan kekar melingkar di pinggangnya. Jae Hwan?


Benar itu tangannya, Jae Hwan masih tertidur pulas, sedangkan Hanna. Gadis itu kembali terdiam menatap lembut wajah sang pria.


Perasaan bodoh yang Hanna miliki terhadap Jae Hwan adalah sebuah kesalahan yang tak seharusnya tumbuh.


Ia membangunkan pria itu, dan memintanya untuk bersiap kekantor.


"Kau tak akan kekantor?" kata Hanna tersenyum manis menatap wajah Jae Hwan.


"Sebentar lagi" sahutnya sambil memeluk tubuh Hanna semakin erat.


"Jangan pergi, kumohon tetaplah seperti ini" gumam Jae Hwan ditengah dirinya yang masih setengah sadar.


Hanna hanya tersenyum miris, ia tak tahu apakah hubungan ini akan berakhir happy ending, atau mereka harus saling membunuh satu sama lain?


Semua perlakuan manis Jae Hwan benar-benar mengikat Hanna hingga gadis itu tak bisa pergi.


"Bangunlah, ini sudah terlambat." ucap Hanna mencoba membangunkan sang suami.


"5 menit lagi" sahutnya malas.


Hanna hanya bisa memutar malas bola matanya dan bangkit dari posisinya, tapi nyatanya Jae Hwan sama sekali tak melepaskan kalungan tangannya dari pinggang Hanna.


Sebenarnya Hanna bingung, apa mau pria ini. Kadang kala ia terlihat sangat manis dan baik tapi terkadang hal itu bisa berubah menjadi kejam dan sadis.


"Jangan menyuruhku ke kantor hari ini, karena aku sudah mengambil cuti" ucap Jae Hwan yang membuat Hanna heran.


"kenapa?"


"Aku ingin menghabiskan waktu denganmu seharian" sahutnya enteng, namun itu berhasil membuat pipi Hanna memerah.


Jae Hwan kembali menarik Hanna untuk masuk kedalam pelukannya, bahkan gadis itu pun sama sekali tak menolak.


Hanna senang sekarang, suasana hatinya sedang baik ditambah Jae Hwan yang mulai semakin manja terhadapnya.


Mereka berdua kembali tertidur dengan posisi saling memeluk satu sama lain, tat kala Jae Hwan sesekali menciumi wajah istrinya itu.


Terlihat manis untuk sekedar mengisi suasana hati dua pasutri itu.


...****************...


Sedangkan di tempat lain, Jung Wo tengah berbicara dengan seorang pria yang merupakan pengacara Jae Hwan.

__ADS_1


Mereka berdua saling menyimpan sebuah berkas satu sama lain.


"Terimakasih pengacara Yoo" ucap Jung Wo sebelum pergi dari ruangan pengacara itu.


...****************...


"semuanya sudah di siapkan Tuan," ujar Jung Wo seraya meletakkan sebuah berkas di atas meja.


Jae Hwan lantas meraih berkas tersebut, lalu meminta salah satu pelayan untuk memanggilkan Hanna.


Namun yang ingin dipanggil terlihat lebih dulu menuruni anak tangga.


"Hanna, kemari lah" pinta Jae Hwan menepuk sofa di sampingnya.


Hanna menunjuk dirinya sendiri dan di angguki oleh Jae Hwan.


Baru saja Hanna duduk, Jae Hwan sudah memberikan sebuah kertas padanya.


"Apa ini?"


Sebelum mata Hanna menangkap satu persatu kalimat yang tertulis di kertas itu, Yoon Wo sudah lebih dulu merebutnya.


"Apa otakmu sudah tak bekerja lagi?" ucap Yoon Wo menatap tajam sang adik.


"Hyung, sejak kapan? tidak, bagaimana bisa?!" Jae Hwan langsung berdiri dan menatap tak percaya jika Yoon Wo ada di hadapannya saat ini.


Karena sehari sebelumnya pria itu telah melakukan perjalanan ke New Zealand untuk urusan penting.


Srak~


Hanna bingung dengan apa yang terjadi, bahkan ia belum sempat membaca isi kertas tersebut.


"Hanna, masuk kamarmu. Aku ingin bicara dengannya" perintah Yoon Wo tak bisa dibantah.


Hanna hanya mengangguk dan segera pergi ke kamar tanpa sepatah katapun.


Plak~


"Apa kau sudah hilang akal?" Yoon Wo menampar keras wajah adiknya, dengan emosi yang masih memuncak.


"Kau kenapa, Hyung? aku tak membuat kesalahan. Aku hanya ingin melindungi Hanna!" tekan Jae Hwan dengan nada yang mulai meninggi.


Dua pria itu kini nampak saling menatap tajam satu sama lain tanpa ada yang berani memisahkan mereka.


"Apa perceraian itu bisa melindunginya, Hah!!!" Yoon Wo mendorong tubuh Jae Hwan dengan telunjuknya membuat pria itu terpojok.


Brak~


Gelas kaca itu berhamburan jatuh berserakan di sekitar anak tangga.


"Hanna!" seru Jae Hwan pelan, saat tak sengaja ia melihat Hanna berdiri di anak tangga, entah sejak kapan wanita itu kembali.


Hanna terdiam, tubuhnya terasa kaku. Apa yang ia takutkan akhir-akhir ini sepertinya benar-benar terjadi.


Jae Hwan menginginkan perceraian setelah semua yang terjadi.

__ADS_1


"Pria Brengs*k" hanya umpatan itu yang bisa Hanna ucapkan sebelum ia kembali berlari ke kamarnya.


"Kau lihat! ini jadinya kalau kau tak berpikir panjang!!!" cerca Yoon Wo.


"Perbaiki masalah ini, aku tak ingin mendengar hal ini lagi." peringat Yoon Wo, lalu pergi dari mansion besar itu dengan rasa emosi yang masih meliputi dirinya.


Jae Hwan hanya bisa mendesah kesal, lalu segera pergi menemui Hanna. Tapi sayangnya gadis itu sama sekali tak membuka pintunya.


"Hanna? kau mendengarku? Buka pintunya. Kita bicarakan ini" teriak Jae Hwan dari luar sambil menggedor pintu.


Sama sekali tak ada jawaban, sudah beberapa kali pria itu menggedor pintu tapi Hanna tak kunjung menjawab bahkan meresponnya sedikitpun.


Merasa jalan-nya sudah buntu, ia meminta Yoon Wo untuk membawakan kartu akses cadangan untuk masuk ke kamarnya.


Matanya mengitari seluruh kamar yang terlihat gelap tanpa ada penerangan, selain cahaya bulan.


Lantai begitu terasa dingin, setelah hampir 10 menit Jae Hwan baru bisa masuk.


Ia tak mendapati Hanna, Jae Hwan perlahan mulai mengkhawatirkan gadis bodoh itu.


"Hanna-ya, kau didalam?" tanyanya sambil mengetuk pintu kamar mandi tapi tetap saja tak ada jawaban.


Jae Hwan menyusuri kamarnya yang besar itu, tapi sama sekali tak mendapati keberadaan Hanna. Kemana gadis itu?


"Kemana dia? belum setengah jam tapi ia sudah tak ada?!" gumam Jae Hwan sampai akhirnya ia tak sengaja melihat tangan putih nan mulus tergeletak begitu saja di lantai. Dibalik meja yang ada di clooset room.


"Hanna!"


Lekas Jae Hwan mengangkat tubuh Hanna yang mendingin keranjang.


Tubuhnya mendingin mengikuti suhu lantai yang begitu dingin.


Jae Hwan meminta Jung Wo untuk menelpon dokter kepercayaan-nya.


Ada rasa penyesalan dalam dirinya, karena telah membuat Hanna menjadi seperti sekarang.


Dokter wanita itu menghela napasnya. "Nyonya Jung baik-baik saja, dia hanya perlu istirahat, dan jangan biarkan dia stres untuk sementara waktu." pinta dokter itu setelah selesai mengobati Hanna.


"Baik dok" sahut Jae Hwan.


"Baiklah, aku akan kembali lagi besok untuk memeriksa keadaannya. Jika ada hal lain, aku akan bicara denganmu" ujarnya dan di angguki paham oleh Jae Hwan.


...****************...


.


.


.


Jangan Lupa like, tinggalin jejak di komen, vote, dan share, biar author semangat up ep-nya.🥰


.


.

__ADS_1


__ADS_2