Revenge Obsession

Revenge Obsession
Revenge Obsession : Cp.19


__ADS_3

Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


...****************...


“Bibiku tidak mungkin terlibat” sahut Hana yakin


“Tapi sesuai yang kami dapatkan, bibimu mengambil sebuah berkas yang dititipkan Kim Yeon-U, jika dia tidak ada kaitannya bagaimana dia bisa tahu jika Kim Yeon-U menyembunyikan sebuah barang di sana” jelas Yoon Wo


Hana hanya menggeleng pelan


“tidak. Bibiku tidak mungkin terlibat ini pasti hanya kebetulan saja.” Sahut Hana


“Jika ini kebetulan, apa kau masih ingat saat kau dan Ayahmu pergi ke tempat ini” ujarnya seraya memperlihatkan sebuah foto ruko dimana berkas itu di simpan.


Wanita itu diam sejenak seakan mengingat sesuatu namun tidak terlalu jelas.


“Apa saat kau tinggal Bersama bibimu ada hal yang tidak kau ketahui?”


“Aku tidak tahu” sahut Hana


Yoon Wo menghela pelan napasnya seraya mengangguk pelan.


“Tidak apa, kau bisa memberitahuku jika sudah ingat- “Tapi kenapa bapak membantuku?” potongnya.


“Sebelumnya kau sudah pernah menanyakan ini, dan jawabanku tetap sama. Aku hanya tidak ingin Jae Hwan membuat kesalahan dengan salah menargetkan korbannya, dan aku juga ingin mengetahui alasan dibalik kematian paman dan bibiku" Jawabnya, dan hanya di angguki paham oleh Hana.


“yasudah, aku pulang dulu” ujarnya menepuk pelan pucuk kepala Hana hingga membuat Wanita itu menatapnya tidak percaya atas perlakuan lembut yang di berikan pria ini padanya.


Setelah memastikan Yoon Wo pulang , Ia segera melangkah masuk kedalam rumah sakit untuk menjaga bibinya, tapi sepanjang langkahnya Hana masih memikirkan ucapan Yoon Wo sebelumnya.


Ia mencoba mengingat-ingat lagi, apakah bibinya pernah terlihat bersikap aneh atau tidak.


...****************...


"Hyung!!" kaget nya sambil mengelus dadanya, saat melihat Seok Hyun tiba-tiba menyuruhnya untuk diam serta menahannya untuk tidak masuk dulu kedalam rumah.


"Why?" sahutnya dengan gerakan bibir.


Tapi Seok Hyun hanya memberinya kode untuk putar balik dan membawanya kehalaman depan.

__ADS_1


"Sebenarnya ada apa? kenapa hyung malah membawaku ke sini?" tanyanya heran.


"Yoon Wo sedang berlatih pedang di ruang tamu, dari pada pedangnya melayang. lebih baik kau pulang nanti saja." jelasnya.


Bukannya mendengarkan ucapan pria itu , ia malah dengan santainya masuk kedalam rumah meninggalkan Seok Hyun yang hanya bisa menggeleng pelan karena ucapannya tidak di dengarkan oleh sang adik.


"Dasar keras kepala" cicitnya, lalu melangkah masuk untuk menyusul Jae Hwan.


"Nah,kan! kubilang apa. kalau di kasih tahu ngeyel sih" cibir Seok Hyun seraya mendudukkan dirinya di sofa panjang yang ada di sana.


Sedangkan Jae Hwan sedang berdiri tegak di hadapannya, dengan mata melotot dan urat leher yang menegang.


"Ini hukuman, karena kau tidak mau mendengarkanku"


Srettt....


Jae Hwan hanya bisa menggigit bibir bawahnya kala pedang tajam itu menggores bahunya, walau itu terlihat tipis tapi hal itu berhasil membuat Jae Hwan menahan rasa sakit.


"Sebelumnya,kan sudah ku bilang . Sa..bar! ... bagaimana jika ternyata Hana sama sekali tidak terlibat, apa yang akan kau lakukan?!" tukas Yoon Wo seraya mendudukkan dirinya di sofa setelah meletakkan pedang kesayangannya di tempat seharusnya.


"Jangan bersikap ke kanak-ksnakan. kau ketua mafia bukan ketua tawuran." sambungnya.


"Dan yang kau lakukan tadi siang benar-benar keterlaluan. bagaimana bisa kau membiarkan klien brengs*k mu itu menodai wanita yang kesalahannya saja masih belum bisa kau buktikan."


"Obsesi balas dendammu, mungkin nanti akan menjadi bumerang untuk dirumu sendiri" nasehat Yoon Wo lalu pergi untuk masuk ke kamarnya yang ada di lantai 2.


"Kontrol obsesi balas dendammu" ujar Seok Hyun menepuk pelan pundak sang adik.


...----------------...


Langkahnya terhenti saat akan masuk keruangannya, dan memilih untuk kembali tapi baru beberapa langkah ia malah kembali lagi masuk keruangannya.


Entah kenapa, tapi pria itu terlihat tidak tenang. ia duduk lalu berdiri hingga beberapa kali sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi dari sana.


"Buka pintunya" titahnya pada dua anak buahnya yang berjaga di depan bar, tapi saat ia akan melangkah masuk Yoon Wo yang ternyata juga datang langsung mendorongnya kesamping dan masuk bersama Seok Hyun.


Yoon Wo memang menyuruh salah satu anak buahnya yang berjaga di bar untuk mengawasi perbuatan adiknya, dan bahkan tidak beberapa lama setelah Jae Hwan membawa Hana. ia dan Seok Hyun juga pergi ke mansion tersebut.


Niatnya awal yang ingin mengeluarkan Hana dari tempatnya, malah didahului oleh sang kakak.


Ia lantas menarik tipis senyumnya dan memilih untuk kembali keruangannya.


...----------------...


Jae Hwan mengusap kasar wajahnya, baru kali ini ia merasakan adanya rasa bersalah dalam dirinya walau mungkin itu hanya sedikit.


...****************...

__ADS_1


Selama satu minggu ini, Hana terus bolak-balik kerumah sakit untuk menjaga bibinya, walau sudah ada perawat tapi Hana tetap saja merasa bersalah jika ia tidak merawat bibinya.


Gadis itu duduk di samping branker bibinya, sambil sesekali bicara padanya.


"Apa kau tau bibi, sekarang aku sudah bekerja di tempat yang lebih baik" ujarnya seraya mengelap tangan Lee Bong Cha dengan handuk yang sudah dibasahi dengan air hangat.


"Ternyata dia tidak sejahat itu, dia bahkan membantuku agar bibi bisa mendapatkan perawatan." lanjutnya


"Tapi aku masih penasaran, sebenarnya apa yang terjadi waktu itu. dan Apa yang kalian bertiga bicarakan hari itu?!"


"Cepatlah sadar, aku ingin mendengar jawaban darimu. semua bukti yang di tujukan semuanya mengarah pada Ayah! Jika Ayah benar-benar terlibat bagaimana aku bisa menatap wajah Yoon Wo"


Wanita itu bingung, ia bahkan sekarang mulai ragu dengan argumennya sendiri, setelah Yoon Wo menjelaskan setiap rinci bukti yang di dapatkan tentang perbuatan Ayahnya.


Kepalanya menunduk dengan dua tangan yang menyangga, kepalanya pusing sudah lama tragedy itu ia lupakan agar bisa bertahan hidup sampai saat ini, walau kadang masih mendapatkan cemoohan sebagai anak pembunuh.


Tapi itu sia-sia hal itu kembali menyeretnya masuk kedalam dugaan yang seharusnya tidak terlintas di benaknya pada Ayahnya sendiri.


Ting~


Nada ponsel membuatnya menoleh pada benda tipis yang terletak di atas nakas.


"Siapa yang mengirim pesan?!" Bingungnya saat melihat nomor tidak di kenal yang terpampang dilayar ponsel bibinya.


Ting~


Ia kembali menatap layar ponsel lalu beralih menatap bibinya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


Hana bangkit dari duduknya, lalu melangkah keluar dari ruangan bibinya tapi sebelum itu ia meminta suster untuk memastikan bibinya baik-baik saja.


Langkahnya semakin cepat hingga berakhir dengan larian menuju halaman depan rumah sakit .


Hana masuk kedalam taxi yang tadi ia berhentikan.


"Pak. tolong ke Sia-Bank"


"Baik" sahut sopir.


...****************...


.


.


.


Jangan Lupa like, tinggalin jejak di koment, vote, dan share, biar author semangat up ep-nya.🥰

__ADS_1


.


.


__ADS_2