Revenge Obsession

Revenge Obsession
Revenge Obsession : Cp.30


__ADS_3

Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


...****************...


Tae Il berdiri di depan meja kerja Hana dan Se Jin dengan tangan yang menyangga pipinya serta terus menatap Hana seperti orang gila yang senyum-senyum sendiri.


"apa kau punya janji sepulang kerja ?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya dari Hana.


"Aku punya kencan buta setelah ini, bagaimana? kau ingin ikut" sahut Hana


Pria itu malah tersenyum tanpa menjawab.


Hana sengaja bicara seperti itu agar Tae il enyah dari pandangannya.


Terlihat seorang pria yang berdiri di depan pintu dengan dengan satu tangan yang bertengger di pinggangnya menatap ke arah meja sekertaris.


Hanya dengan memberikan kode dengan tangannya, Seok Hyun berhasil membuat Tae Il beranjak dari meja kerja sekertaris-nya.


"Kalau dilihat-lihat, akhir-akhir ini kau sering sekali kesini?!" tukas Seok Hyun memberikan sebuah apel yang baru saja ia ambil dari kulkasnya.


"Eyy hyung, kau tau bukan. kalau adikmu ini tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang di inginkan" sahutnya sambil nyengir di hadapan sang kakak.


"Sampai kapan kau akan seperti ini, apa kau tidak berniat menikah?!" tanya Seok Hyun yang tiba-tiba membahas pernikahan.


"Aku akan menikah, jika berhasil mendapatkan Hana" sahutnya sambil memakan apel miliknya.


"Tidak Yoon Wo, tidak kau sama saja..." cicit Seok Hyun menggeleng pelan.


"Kau tau hyung"


"Apa?"


"Kenapa aku terobsesi dengan Hana?"


"Kenapa??"


"Itu karena.... aku merasa dia baik dan tulus, wanita sepertinya sulit untuk kudapatkan, karena apa? karena hampir semua wanita hanya mengincar kekayaan keluargaku..


Saat aku kesakitan di depan Bank waktu itu, tatapannya persis seperti almarhum ibuku, tatapan khawatir yang tidak pernah kulihat setelah ibuku meninggal" ujarnya menatap sendu layar ponselnya, dimana walpaper ponselnya adalah fotonya bersama sang ibu saat kecil.


Seok Hyun hanya bisa menepuk pelan pundak pria yang duduk di sampingnya ini, seakan paham maksud dari ceritanya.


Itulah alasan kenapa Tae Il tidak pernah mau menyetujui perjodohannya dengan Si Ho, pertama itu di lakukan oleh ibu tirinya yaitu Nyonya Park, kedua Tae il tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ibu darinya sedari kecil, karena itu ia sangat membenci wanita itu.


Dan sikapnya saat pesta atau acara lain hanyalah formalitas di hadapan sang Ayah, agar pewaris perusahaan tidak jatuh ketangan ibu tirinya, yang gila kerja seperti Ayahnya.

__ADS_1


"Kalau begitu berhenti menjadi penjahat s*x, ingat Tae Il karma itu ada.. hyung hanya takut nanti kau akan merasakan penyesalan dikemudian hari, dan bukan hanya kau. tapi aku juga khawatir dengan Jae Hwan, anak itu sampai sekarang tidak mau melepaskan jabatannya sebagai ketua JDevils" tutur Seok Hyun.


"Aku rasa dia tidak akan pernah melepaskan jabatannya, kau tau sendiri hyung. JH Group berdiri karena adanya JDevil's" sahut Tae Il, di angguki setuju oleh Seok Hyun.


"Kudengar Sarah kembali, apa kali ini hyung yakin dia tidak akan membuat kesalahan lagi?!"


"Entahlah, sebenarnya Sarah wanita yang baik. tapi kesalahannya waktu itu benar-benar fatal, bahkan Jae Hwan sampai sekarang masih tidak menyukainya."


"Kau benar hyung, tapi Yoon Wo hyung sudah tidak bisa berpaling lagi dari sarah, ditambah sarah melahirkan anaknya" ucap Tae il


"Makanya" sahut Seok Hyun, ia juga bingung dengan situasi sekarang ini, apakah harus memihak Jae Hwan atau Yoon Wo.


"Terlalu memikirkan itu, membuatku pusing. lebih baik aku pergi" ujar Tae il bangkit dari duduknya lalu melangkah pergi dari sana meninggalkan Seok Hyun seorang diri diruangannya.


...****************...


Dengan sabar seorang pria bermarga Min itu menunggu wanita yang selama ini ia rindukan.


Jam sudah menunjukkan pukul 15.23 KST, tapi orang yang ia tunggu masih tak kunjung terlihat, bahkan penerbangan yang di gunakan juga sudah tiba.


Dengan di iringi dua bodyguardnya, Yoon Wo berjalan mencari keberadaan wanitanya.


Langkahnya berhenti kala melihat seorang wanita sedang menggendong seorang anak kecil berumur kisaran 1 tahun.


Senyumnya merekah, lantas melanjutkan langakahnya menuju pria yang sedang menunggu kedatangannya.


"Aku merindukanmu"


Tanpa bicara, Sarah membalas kec*pan Yoon Wo.


Senyum tertarik di bibir keduanya, lalu mereka beralih pada anak kecil yang sedang tertidur di bahu Sarah.


"Apa dia putraku?!"


Yoon Wo bertanya, tanpa sekalipun mengalihkan pandangannya dari anak kecil yang sedang mengalungkan tangannya di leher sang ibu.


Wanita itu mengangguk mengiyakan pertanyaan Yoon Wo.


Dengan perlahan ia melepaskan tautannya dari sang putra, lalu menyerahkannya pada Yoon Wo dan tentunya di sambut hangat olehnya.


"Sebaiknya kita pulang, tidak baik disini" ujar Yoon Wo menarik lembut lengan Sarah menuju keluar bandara di ikuti bodyguard-nya.


...****************...


Hana melangkah keluar dari gedung perusahaan, sambil sesekali melihat layar ponselnya ia berjalan menuju halte bus.


Hari ini ia pulang ke apartemennya karena kondisi bibinya masih sama seperti sebelumnya.


"Nona, ada kiriman untukmu" ujar seorang petugas keamanan apartemen.


Hana mengerutkan dahinya, karena ia merasa tidak memesan apapun.


Setelah menerima paketnya, Hana melanjutkan langkahnya menuju lift sambil melihat siapa pengirimnya.

__ADS_1


Sampai di unit apartemen-nya, Hana langsung membuka paket tersebut.


Keningnya berkerut saat melihat sebuah map coklat di dalamnya.


Sorot matanya tidak meloloskan satu katapun dari setiap kata yang tercetak di kertas tersebut.


Semakin jauh ia membaca, semakin banyak hal yang tidak seharusnya ia tahu tentang tragedi 16 tahun yang lalu.


"Jadi... selama ini apa yang dikatakan Jae Hwan benar??" gumamnya pelan, sambil menutup mulutnya seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja selesai ia baca.


Beberapa lembar kertas yang terdapat dalam map tersebut, memuat sebuah berkas perjanjian antara Kim Yeon-U dan otak dari kasus kematian orang tua Jae Hwan.


Tubuhnya bergetar, air matanya perlahan lolos dari pelupuk mata.


Kertas yang ia pegang tanpa sengaja lepas dari tangannya, saat mendengar bell apartemen-nya berbunyi.


Seperti orang yang melakukan kesalahan besar, Hana begitu gugup hingga tidak sengaja menjatuhkan sebuah gelas yang ada di atas meja, sedangkan bell apartemen terus berbunyi seakan tau Hana dalam keadaan tertekan dan membuat suasana semakin tidak kondusif.


Sampai di depan pintu, ia mengintip keluar dan mendapati seorang pria berdiri tepat di depan unit apartemennya.


Hana menggigit kuku jarinya, saat mendengar pria tersebut memanggil namanya.


"Hana! Kim Hana...."


"Kau didalam?"


"Apa kau baik-baik saja? aku mendengar suara pecahan kaca?! tolong buka pintunya..."


"Hana...."


Tidak ada jawaban, Hana bersandar di balik pintu, lalu bergegas kembali ke meja makan dimana di sana masih ada kertas yang berserakan.


Bahkan tanpa sadar ia menginjak pecahan kaca hingga membuat kakinya berdarah, namun ia tidak berhenti di situ saja. Hana segera menyembunyikan berkas dan map tersebut.


"Kau menyembunyikan apa??"


Suara yang begitu ia kenal, terdengar dari jarak dekat, sontak Hana langsung berbalik. matanya membulat sempurna saat melihat sosok pria berdiri di depannya dengan ekspresi yang tidak bisa di gambarkan.


"K-Kau.......


...****************...


.


.


.


Jangan Lupa like, tinggalin jejak di koment, vote, dan share, biar author semangat up ep-nya.🥰


.


.

__ADS_1


__ADS_2