Revenge Obsession

Revenge Obsession
Revenge Obsession : Cp.40


__ADS_3

Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


...****************...


Jae Hwan terdiam sejenak sebelum Hana kembali merucau.


"ADA APA DENGANMU?!" teriaknya hingga membuat wanita itu kembali terdiam, "cukup hyung" tegur Tae Il yang langsung menarik Hana untuk kembali ke kamar


Tit!


Terdengar suara pintu terbuka, sontak membuat Jae Hwan yang masih berdiri di posisinya, melihat kearah pintu dan tampak seorang pria yang menenteng sebuah paket ayam dan 2 botol soju.


"hyung!" Tariak Si Hwan dengan senyum khasnya.


Si Hwan dengan riang menghampiri Jae Hwan dan bersiap memeluknya, tapi pria itu sudah lebih dulu menjaga jaraknya dengan sang adik.


"Hisss," desisnya kesal karena gagal memeluk Jae Hwan.


"Sudahlah, kau minum dengan Tae Il saja, aku sedang tidak enak badan," Ujar Jae Hwan dengan bumbu kebohongan.


"Dimana Hana?" tanya Si Hwan.


"dikamarnya" sahutnya singkat.


"sebenarnya apa kau baik-baik saja hyung, memelihara wanita itu dirumahmu? bukankah kau sangat membencinya" tukas Si Hwan berhasil membuat Jae Hwan kembali berbalik menghadap dirinya.


"Aku menampungnya hanya sampai dia ingat kembali, setelah itu aku akan mengusirnya"


"kalau begitu kenapa tidak suruh tinggal dengan Tae Il hyung saja"


"Sudah jangan banyak tanya, aku mau istirahat" jawabnya lalu segera pergi dari sana sebelum Si Hwan kembali bertanya padanya.


Si Hwan menghela kasar napasnya, lalu berjalan menaiki anak tangga menyusul Tae Il dan Hana yang ada di lantai dua.


...****************...


"Dengarkan aku baik-baik, kamu tidak perlu takut padanya, jika nanti kamu melihatnya lagi, pastikan untuk berpura-pura tidak melihatnya. anggap saja hanya kita berdua yang tinggal disini! kamu paham?!" diktenya.


"Apa kau sedang mencuci otaknya?" tegur seorang pria yang sedang bersandar di ambang pintu dengan tangan yang ia lipat ke dada.


Sontak keduanya melihat kearah pintu kamar.


"Sejak kapan kau berdiri di sana?"


" Sejak kau mencuci otak gadis ini" sahut Si Hwan to the point.


Mendengar itu membuat Tae Il segera bangkit dari duduknya, ia menyuruh Hana untuk kembali tidur lalu mendorong Si Hwan keluar dari kamar.


Setelah keduanya keluar, tersisa Hana di kamar itu.


Entah apa yang ada di dalam pikirannya, tapi gadis itu tersenyum tipis mengisyaratkan sesuatu yang berbau kemenangan.

__ADS_1


...****************...


Seorang pria berpakaian rapi tampak masuk ke sebuah kamar rumah sakit.


"Bagaimana keadaannya? apa sama sekali tidak ada perkembangan?!" tanyanya pada suster wanita yang baru saja menyuntikkan sebuah obat kedalam infus pasien.


"Sejauh ini masih tidak ada respon dari otaknya, ditambah pasien mengidap kanker stadium akhir. ini membuat persentase dia bisa sadar sangat kecil" jelasnya.


Pria itu mengangguk, lalu diam sejenak sambil memperhatikan wanita yang masih terbaring di banker rumah sakit itu.


namun tidak berlangsung lama, ia keluar dari sana dengan berlari seolah ada hal darurat.


Berbarengan dengan itu, para dokter dan suster, langsung masuk keruangan tadi. karena ada sinyal peringatan dari komputer akan kondisi pasien.


Setelah melakukan pemeriksaan, dokter menghela napasnya dan mengatakan "Waktu kematian pukul 20.45"


Suster menarik kain putih untuk menutup seluruh tubuh pasien, setelah seluruh alat bantu rumah sakit dilepaskan.


...****************...


Jae Hwan membaringkan tubuhnya di atas ranjang, sambil memejamkan matanya mencoba istirahat, karena akhir-akhir ini ia jarang sekali tidur walau hanya sebentar.


Ia mulai masuk kedalam alam bawah sadarnya, lama kelamaan ia semakin terlelap.


Terlihat seorang gadis dengan dress putih masuk kedalam kamarnya dengan sebuah senjata api di tangannya


Gadis itu berjalan perlahan hingga berdiri tepat di samping tempat tidur Jae Hwan, ia mengangkat perlahan tangannya dan menodongkan pistol yang ada di tangannya tepat di kening Jae Hwan.


"Selamat tinggal pria menjijikan" gumamnya pelan.


Dorrr....


"ada apa denganku?" gumamnya heran merasa tidak pernah mengalami mimpi seperti tadi.


"mungkin aku terlalu lelah" ujarnya mencoba untuk berpikir positif.


Ia turun dari ranjang bermaksud pergi ke dapur untuk mengambil air, karena air di kamarnya habis.


"Ah, segarnya" Jae Hwan bergumam dengan pelan.


Saat ia berbalik, tak disangka ia hampir bertabrakan dengan Hana yang kini berdiri di depannya dengan memegang sebuah gelas.


Hana yang teringat ucapan Tae Il sebelumnya hanya diam tanpa bicara dan segera mengambil langkah untuk berlalu dari hadapan Jae Hwan.


Sayang, Hana kalah cepat dengan Jae Hwan yang lebih dulu mencekal tangannya.


"Kau tak ingin mengatakan sesuatu?"


pertanyaan itu membuat Hana mengerutkan keningnya.


Bukannya menjawab wanita itu hanya diam tanpa menjawab sama seperti yang di dikte oleh Tae Il padanya tadi siang.


"Minta maaf, misalnya?" ujar Jae Hwan dengan tatapan sombongnya.


Hana menepis tautan tangannya dengan Jae Hwan, dan memilih untuk segera pergi.


Saat Hana ingin melangkah, lagi-lagi Jae Hwan menahannya, sontak Hana menghela nafas lelah.


"Maaf" sahutnya dengan nada yang begitu datar tanpa ekspresi apapun.

__ADS_1


Wanita itu berlalu dari hadapan Jae Hwan, namun sayangnya pria itu kembali meraih lengannya hingga wanita itu menyenggol sebuah gelas berisi jus bekas dan jatuh mengenai pakainnya.


bukan hanya itu , tapi gelas itu juga ikut pecah dan pecahannya ikut berserakan dilantai.


Seketika keduanya terdiam sejenak, baru setelah itu Hana tersadar dan segera pergi dari sana hingga tanpa sadar menginjak pecahan kaca.


Akhhh~


lirihan kecil terdengar dari bibir Hana, saat merasakan benda bening tersebut menggores kakinya.


Namun lain halnya dengan Jae Hwan, ia masih terdiam dengan ingatan tentang mimpinya yang baru saja ia mimpikan.


"pakaian itu ?" gumamnya pelan memperhatikan Hana yang berdiri membelakanginya.


Tapi itu tidak berlangsung lama, pria itu merasa tergerak saat melihat kaki gadis itu mulai mengeluarkan darah.


"biar ku bantu" ujarnya yang tanpa aba-aba langsung mempongong Hana layaknya karung beras.


"Yak! turunkan aku" teriak Hana yang juga kaget karena Jae Hwan tiba-tiba membopongnya.


Jae Hwan melemparnya ke sofa, lalu mengambil kotak obat yang ada di dalam nakas.


"Apa kau tidak bisa pelan-pelan" keluh Hana sambil membenarkan duduknya.


"Untung ku lempar ke sofa, bagaimana kalau keluar" sahut Jae Hwan.


"tidak biasanya kau bicara denganku? bukankah Tae Il sudah melarangmu untuk tidak bicara denganku?!" ujarnya seraya meraih kaki Hana untuk mengobatinya.


Suasana tiba-tiba hening, Jae Hwam fokus mengobati luka Hana. sedangkan ia hanya bisa menahan sakit dalam diam.


"apa kau percaya jika mimpi bisa jadi kenyataan?" celetuknya tanpa menatap wajah Hana.


"Kenapa? apa kau mimpi buruk" tanya Hana.


"Tidak. aku hanya bertanya" jawabnya seraya memasukkan kembali obat dan perban yang baru saja ia pakai kembali kedalam kotak obat.


"kembali saja kekamarmu, Tae Il pasti akan mencarimu jika kau tidak ada di kamar" ucap Jae Hwan


"memangnya aku siapanya, sampai dia harus mengurungku di kamar" gumamnya namun sukses terdengar oleh Jae Hwan yang kala itu baru saja akan menaiki anak tangga.


Pria itu hanya melirik Hana sekilas dengan beberapa pertanyaan di otaknya.


"kenapa nada bicaranya terdengar akrab?" Jae Hwan bergumam sambil menaiki anak tangga, sesekali ia melirik Hana yang masih duduk di sofa ruang tamu.


"itu baru permulaan" gumamnya menarik tipis senyumnya lalu bangkit dari duduknya untuk kembali ke kamar.


...****************...


.


.


.


Jangan Lupa like, tinggalin jejak di koment, vote, dan share, biar author semangat up ep-nya.🥰


.


.

__ADS_1


__ADS_2