
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
...****************...
Hanna berdiri di balkon kamar dengan dress berwarna coklat selutut yang tengah ia kenakan.
Rambut terurai dengan hembusan angin yang menerpa tubuhnya, mata Hanna terlihat sedang mengawasi sesuatu.
Para bodyguard yang ada di bawah tampak berlarian menuju gerbang utama.
Aneh, Hanna merasa ada yang tak beres. Ia bergegas lari menuju halaman depan tanpa menggunakan alas kaki.
"Apa yang terjadi?"
"Tak ada apa-apa Nyonya! Sebagian pengawal hanya melakukan pelatihan rutin" jelasnya, namun Hanna sama sekali tak percaya.
Sebuah mobil melaju pergi dari depan gerbang utama setelah sebelumnya Hanna melihat ada keramaian.
Apa lagi yang para bawahan Jae Hwan ini lakukan? dan apa yang sebelumnya terjadi?!
"Nyonya, saatnya masuk" Pinta Jung Wo yang baru saja kembali dari gerbang utama.
Jarak dari posisi Hanna kegerbang utama hanya berjarak sekitar 250 meter.
Ia tak menghiraukan ucapan Jung Wo, dan tetap melangkahkan kakinya menuju Jalan aspal di depan.
Selama ini, Hanna masih tidak mengetahui seluruh keburukan dan operasi apa saja yang telah di perbuat oleh suaminya.
"Seret Nyonya Hanna masuk, sebelum Tuan datang" perintah Jung Wo.
Dua orang pria bertubuh kekar itu lantas menarik lengan Hanna dengan cukup kasar untuk membawanya masuk.
Hanna yang sudah mendekati gerbang utama langsung berontak, ia sadar ada yang tak beres.
Tapi para pengawal bersikeras membawa Hanna untuk masuk kedalam mansion besar tersebut.
Darah? Hanna melihatnya, tepat di tempat mobil sebelumnya pergi.
Tak biasanya Hanna melihat darah di kawasan mansion besar itu, kecuali di markas J'Devils.
Gadis itu terus menoleh kebelakang dengan kedua tangannya yang masih di seret masuk.
Jam menunjukkan pukul 17.10, mobil mewah milik Jae Hwan terlihat memasuki kawasan rumahnya berselang beberapa menit setelah Hanna masuk.
Ia turun dari mobil sambil menenteng jas hitam miliknya.
"Mana Hanna?" tanyanya saat melihat Jung Wo menuruni anak tangga.
"Nyonya Hanna ada di kamar Tuan" jawabnya.
__ADS_1
Jae Hwan mengangguk, "Jangan biarkan Hanna mengetahui hal lain" ucapnya, karena sebelumnya Jung Wo telah melapor jika Hanna melihat mobil yang membawa Jeslyn pergi.
Benar, itu adalah mobil yang didalamnya ada Jeslyn yang tentunya sudah tak bernyawa. Jangan tanya siapa yang menghabisinya, karena kalian pasti sudah tahu jawabannya.
"Kunci ruang bawah tanah, dan tingkatkan keamannya" tambahnya sebelum pergi menuju kamarnya.
Sebenarnya pria yang berstatus sebagai suami Hanna ini, tak lebih dari bedebah gila yang sadis dan kejam.
Jika seandainya para penegak keadilan mencium perbuatan Jae Hwan, bisa saja pria itu mendekam selamanya di penjara.
"Kau menyembunyikan sesuatu dariku?" tembak Hanna, yang entah kenapa wanita ini mulai menginginkan hal lebih. Ya, ia menginginkan semua yang Jae Hwan lakukan harus ia ketahui.
Namun tak menutup kebenaran jika sebenarnya Hanna membenci profesi Jae Hwan sebagai seorang bos mafia.
"Kau tak perlu tahu" sahut Jae Hwan datar seraya meletakkan jasnya di tempat pakaian kotor.
"Kau membunuh seseorang?"
Jae Hwan terdiam, ia kini berdiri membelakangi posisi istrinya.
Jae Hwan lantas berbalik, lalu perlahan melangkah menuju posisi Hanna berdiri.
"Fokus saja sebagai Nyonya Jung, jangan bertindak diluar batas Jung Hanna" ucap Jae Hwan dengan nada pelan namun terkesan bagai ancaman.
Hanna menatap nanar mata Jae Hwan, ia pernah melihat tatapan ini! tatapan saat Jae Hwan memukulinya sampai babak belur waktu itu.
Tanpa sadar Hanna terduduk di ujung ranjang bagai orang tak berdaya.
"Aku akan turun, pakaianmu sudah ku siapkan" kata Hanna yang langsung mengalihkan pandangannya.
Jae Hwan hanya menatap datar punggung Hanna yang perlahan menghilang dari jarak pandangnya.
Mungkin kalimat sadis nya, Jae Hwan hanya menggunakan Hanna untuk memenuhi kepuasannya dengan beralasan jika ia mencintainya.
Bullshit, tentu! perasaan Jae Hwan tak bisa di gambarkan hanya karena hubungannya dengan Hanna semakin dekat, tapi itu bisa saja menjadi tolak ukur sejauh mana pria itu membalaskan dendamnya.
Mungkin pikirnya saat ini, Hanna adalah musuh sekaligus gadis paling bodoh yang mau terjerat hubungan pernikahan dengannya.
"Kim Hanna." gumam Jae Hwan tersenyum tipis, lalu melangkah masuk kedalam kamar mandi.
...****************...
Sudah setengah bulan sejak Jeslyn tak ada kabar, Jae Hwan terlihat biasa saja, tak ada rasa bersalah maupun penyesalan dalam dirinya.
Tanpa dipungkiri jika orang tahu bahwa Jae Hwan dulu sangat menyayangi Jeslyn.
Tapi Hanna merasa jika sikap Jae Hwan perlahan mulai berubah terhadap dirinya, pria itu semakin protektif dan tak membiarkan Hanna pergi kemanapun.
Tapi ada hal lain yang membuat Hanna kepikiran sampai saat ini.
Kenapa Jae Hwan tiba-tiba berubah dan menjadi lebih hangat padanya, bahkan kata kasar atau nada tinggi sama sekali tak pernah Hanna dengar lagi.
Hanna duduk termenung di kursi meja makan, sambil menatap hidangan yang sudah selesai ia masak untuk menu makan malam.
"Kau sudah makan?"
Suara Jae Hwan memecah suasana hening dan membuyarkan lamunan Hanna.
__ADS_1
"Belum, mari makan" sahut Hanna tersenyum singkat, lalu meraih sumpitnya untuk segera makan malam.
Jae Hwan hanya melirik Hanna sekilas lalu melanjutkan makannya.
"Hanna."
Gadis itu hanya menanggapi-nya dengan dehaman pelan.
"Kau tak sedang dalam masa subur bukan" tanya Jae Hwan dengan nada bicara yang terkesan tak mengenakkan bagi Hanna
Hanna terdiam, bahkan ia meletakkan sumpitnya lalu beralih menatap Jae Hwan.
"Kenapa? kau takut aku hamil?!" sahut Hanna dengan nada bicara yang begitu tenang.
"Aku hanya bertanya" sahut Jae Hwan, lalu melanjutkan makannya.
"Kau tenang saja, aku tak akan menjadi beban untukmu."
Hanna tersenyum tipis, lalu menghentikan makan malamnya karena tak berselera lagi.
"Mau kemana?" Cegat Jae Hwan.
"Bukan urusanmu" sahut Hanna menepis lengan suaminya dan pergi begitu saja. Entah apa maksud pertanyaan Jae Hwan sebelumnya? tapi itu membuat mood Hanna hancur berantakan.
Jae Hwan menghela pelan nafasnya, lalu memanggil Jung Wo karena ada beberapa hal yang harus ia bicarakan.
Hanna duduk diam, ia merasa ada yang aneh. begitu juga dengan perubahan sifat Jae Hwan beberapa hari terakhir.
Jika biasanya mereka beradu mulut, dua minggu terakhir ini Hanna tak mendapati perdebatan diantara mereka lagi.
Hanna melihat tanggal di ponselnya, lalu beralih pada laci meja riasnya.
Gadis itu hanya tersenyum lalu merebahkan tubuhnya di ranjang, berharap hari esok bisa lebih membuat moodnya kembali bagus.
...****************...
"Tuan yakin? " sahut Jung Wo memastikan ucapan Tuannya ini.
"Tapi, bagaimana jika itu pilihan yang salah?" tanya Jung Wo lagi.
"Hanya dengan begitu, mereka tak akan berani menagganggunya lagi" sahut Jae Hwan dengan keputusan finalnya.
Jung Wo hanya bisa menghela kasar nafasnya dan menuruti perintah atasannya.
Setelah Jae Hwan pergi ke kamarnya, Jung Wo langsung merogoh ponselnya untuk menghubungi seseorang.
...****************...
.
.
.
Jangan Lupa like, tinggalin jejak di komen, vote, dan share, biar author semangat up ep-nya.🥰
.
__ADS_1
.