Revenge Obsession

Revenge Obsession
Revenge Obsession : Cp.41


__ADS_3

Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


...****************...


Jae Hwan bangun dari tidurnya dengan nafas yang memburu, seolah ia baru saja di kejar setan.


Keringatnya menetes dari keningnya, sudah satu minggu ini ia terus di hantui oleh mimpi yang sama. seorang gadis yang mengenakan dress putih menembaknya berulang kali.


"siapa gadis itu?" gumamnya


"apa itu Jeslyn?! tidak mungkin, gadis itu berambut panjang" ujarnya bicara pada dirinya sendiri.


"kau kenapa?"


mendengar pertanyaan itu membuat Jae Hwan terperanjat kaget, karena Yoon Wo yang saat ini sedang berdiri di ambang pintu kamarnya.


"Sejak kapan?"


"5 menit yang lalu" sahut Yoon Wo melihat sekilas jam tangannya.


"Apa hyung punya kenalan psikiater?" ujarnya tiba-tiba bertanya.


"Apa kau gila?" sahut Yoon Wo blak-blakkan.


Seketika wajah Jae Hwan berubah menjadi masam dengan bibir yang di tekuk.


"Iyaa gila, karena mimpi hal yang sama terus menerus" sahutnya bangun dari ranjang.


"Mimpi yang itu?" tanya Yoon Wo yang sebenarnya tahu mampi apa yang dimaksud sang adik.


Pria itu lantas mengangguk, lalu dengan santainya ia melepaskan piyama-nya dan berjalan masuk ke kamar mandi meninggalkan Yoon Wo yang masih berada di posisinya.


.....


Terdengar pintu kamar mandi yang dibuka, muncul Jae Hwan dengan kondisi masih bert*lanjang dada.


Mata Hana melebar, dan langsung berbalik membelakangi Jae Hwan.


"Sejak kapan kau disini? jangan-jangan kau mengintipku?!" ujarnya tanpa membiarkan Hana bicara.


"Lebih baik kau pakai dulu pakaianmu" sahut Hana.


"Wah~ menang banyak kau Kim Hana" kata Jae Hwan sambil mengancing kemejanya.


"Sekarang katakan kenapa kau ada disini?"


Hana berbalik, lalu membuka mata kanannya di susul yang kiri guna memastikan Jae Hwan sudah selesai memakai pakaian-nya.


"Bukankah tadi kau yang memanggilku? aku kesini karena pria yang diluar mengatakan kau memanggilku?" jawab Hana.

__ADS_1


"Sebenernya ada keperluan apa sampai memanggilku?" sambungnya.


"Aku memanggilmu? kau tidak sepenting itu sampai orang seperti diriku mencarimu" tunjuk Jae Hwan dengan jari telunjuk-nya.


"Aku ingin kalian menikah"


Sontak keduanya langsung menatap ke arah pintu, dimana Yoon Wo, sarah, dan Seok Hyun sedang berdiri di sana.


"Apa aku tidak salah dengar hyung?!" sahut Jae Hwan sambil tertawa dibuat-buat.


"Untuk apa aku bercanda?" sahut Yoon Wo tanpa beban sedikitpun.


"Aku tidak terima" sambar Tae Il yang baru saja bangun dan pergi kekamar Jae Hwan saat melihat Yoon Wo pergi.


"Maaf Tuan, anda siapa sampai berani mengambil keputusan seperti ini.? menikah dengannya! melihat wajahnya saja aku tidak tahan" sahut Hana melirik Jae Hwan dengan tatapan tidak sukanya.


"Ah, aku lupa kalau kau hilang ingatan? tapi selama ini aku sudah membantumu bahkan memberimu pekerjaan... jadi sekarang aku minta imbalan atas perbuatan baikku padamu" jelas Yoon Wo sukses membuat Hana menatap-nya tidak percaya.


"Aku ingat semuanya Min Yoon Wo" batin Hana


"Apa seperti itu?" sahut Hana, karena ia sama sekali tidak mengingat apapun. bisa di tampung dirumah besar ini saja sudah membuatnya tenang karena tidak tinggal dijalanan.


"Tapi tetap saja hyung, kesepakatan yang su- "kesepakatan apa?" potong Hana beralih menatap Tae Il.


"ah, maksudku kesempatan bukan kesepakatan" elaknya.


"Ini tidak seperti yang kita bicarakan sebelumnya" ujar Tae Il bersikeras.


"tapi kau bukan siapa-siapanya, jadi kau tidak punya hak melarangnya bukan" jawab Yoon Wo.


"Tunggu dulu! kalian punya hak apa sampai berani memutuskan aku harus menikah dengan siapa?" kata Jae Hwan tidak habis pikir, sedangkan Hana. ia masih bingung dengan keadaan di hadapannya sekarang ini.


"Kenapa semuanya tidak berjalan sesuai rencana" Hana bergumam dalam hatinya, sambil terus menatap orang-orang yang ada di kamar itu secara bergantian.


"Hana mungkin tidak ingat, tapi semua orang diruangan itu mendengar ucapan bibi sebelum ditemukan tewas olehmu. bahkan kau Tae il! kau juga mendengarnya" tutur Yoon Wo berhasil membuat Tae Il terdiam.


"Aku tidak mau, kalian pasti memanfaatkanku karena aku hilang ingatan,kan?" ucap Hana tidak terima.


"Terutama kau" sambungnya menunjuk Yoon Wo, bahkan pria itu kaget saat gadis ini menunjuk wajahnya berbeda sekali seperti Hana yang sebelumnya ia kenal.


"Aku tidak akan sudi menikah dengan pria ini"


"Hei, kau kira aku sudi menikah dengan gadis sepertimu, sudah tepos.. rata pula" balas Jae Hwan menatap Hana dengan tatapan julidnya.


"Yak! begini-begini tubuhku masuk standar permodelan dunia" jawab Hana tidak terima sambil menenggerkan dua tangannya di pinggang serta mengatur posisi menghadap Jae Hwan.


"Modelan seperti ini standar dunia" tatap Jae Hwan dengan tatapan remehnya.


"Heh bapa, tuh mulut di jaga ya. ini termasuk pelecehan verbal, bapak tau itu!!!" balasnya tidak terima.


Sedangkan yang lain malah terdiam heran karena dua orang ini sedang adu mulut dan nyolot satu sama lain.


"Sudah-sudah, jika kalian tidak ada yang setuju. maka pernikahan akan dilangsungkan satu minggu lagi. titik! tidak ada perdebatan!!!"


"Apa?!" sahut keduanya tidak luput tatapan tajam yang bersamaan tertuju pada Yoon Wo.


"Aku hanya menjalankan keinginan terakhir bibi, dia memilih Hana. mungkin ini yang terbaik untukmu" ucap Yoon Wo menepuk pelan pundak Jae Hwan.

__ADS_1


"Yang terbaik! ini mungkin terbaik untuknya tapi terburuk untukku" sahut Hana yang kekeh pada keputusan awalnya.


"Apa? kau bilang apa tadi! Heh wanita, dengar baik-baik, dari ujung kaki sampai ujung kepala saja kau tidak memenuhi kriteriaku!!! bagaimana bisa terbaik?!" Jae Hwan juga tidak mau kalah.


"Kalian lanjutkan saja, yang penting kami sudah menyampaikan pesan bibi." kata Seok Hyun lalu menggiring Yoon Wo dan Sarah untuk keluar.


Sebenarnya ia juga mengajak Tae il untuk keluar, tapi pria itu tidak menjawab sama sekali dan tetap membiarkan-nya berada di kamar bersama Jae Hwan dan Hana.


"Ikut aku" ucap Tae il menarik lengan Hana tapi langsung di tepis olehnya.


"Dengar pria tua, sampai kapanpun pernikahan ini tidak akan terjadi" tekan Hana lalu keluar dari sana dengan emosi yang masih menggebu, diikuti Tae Il yang juga keluar dari sana.


"Kurang ajar, kalau saja tidak ada yang lain sudah ku cekik dia" ujarnya mengacak frustasi rambutnya.


Karena di sisi lain, jika dia tidak mengabulkan permintaan terakhir bibinya. ia akan merasa bersalah, karena bagaimanapun seluruh permintaan bibinya selalu ia kabulkan. tapi mungkin yang terakhir adalah sebuah pengecualian.


...****************...


"Sampai kapan aku harus seperti ini, lama-lama aku bisa gila!" ucapnya bicara pada seseorang dari dalam telpon


"Tahan! bukankah kau sudah melakukannya dengan baik selama ini?"


"Iyaa, tapi- "tahan sebentar saja, aku sedang memikirkan cara untuk menjatuhkan pria tua bangka itu dengan sekali bidikan"


"Iyaa, tapi mungkin nanti mereka akan sadar kalau aku pura-pura hilang ingatan"


"makanya kau usahakan untuk tidak terlihat menonjol, diam saja seperti sebelum-sebelumnya. sejauh ini kau sudah memiliki citra wanita bodoh dan lugu di depan mereka"


"Bagaimana aku tidak menonjol? mereka mau menikahkanku dengan musuhku sendiri. disiksa waktu itu mungkin aku masih terima, tapi kalau harus terikat dengannya.. lebih baik aku berhenti saja"


"Apa!!! bagaimana bisa?! menikah!"


"Kau saja kaget, bagaimana aku?"


"Ya, tapi mau bagaimana lagi. kita sudah hampir dekat dengan tujuan kita, Jae Hwan juga mengincar Bae Han Ju dan aku juga sudah melacak dimana saja produksi milik Jae Hwan dengan data yang kau berikan.. dengan satu panah kita bisa dapat dua burung sekaligus, jika kau sabar sebentar saja"


"Oke oke, aku akan menahan sebisaku. tapi kau juga harus tetap melakukan pekerjaanmu agar belas dendam ini selesai dengan sempurna."


"Hana... buka pintunya"


"Aku akan menelponmu lagi nanti" tut...tut...tut


Hana segera mematikan telponnya lalu bangkit dari duduknya untuk membukakan pintu.


Karena sebelumnya ia berbohong, dan meminta Tae il untuk membuatkannya makanan di kesempatan itu tadi ia bisa menelpon.


...****************...


.


.


.


Kepo ya! makanya pantengin terus ya, dan perhatikan judulnya baik-baik dan ingat setiap clue yang ada.


Jangan Lupa like, tinggalin jejak di koment, vote, dan share, biar author semangat up ep-nya.🥰

__ADS_1


.


.


__ADS_2