Revenge Obsession

Revenge Obsession
Revenge Obsession : Cp.77


__ADS_3

Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


...****************...


Jae Hwan melepas jaketnya, lalu meletakkan kunci mobilnya di atas nakas.


Ia merangkak naik keatas ranjang, dimana malam telah larut, saatnya untuk dirinya beristirahat karena besok ia perlu tenaga untuk menertawai Bae Han Ju.


Mungkin sebenarnya, ia saat ini sedang tertawa di atas kekalahan awal Bae Han Ju.


"Ini baru awal Bae Han Ju, penderitaanmu akan segera dimulai! aku sendiri yang akan membuatmu bertekuk lutut di kakiku untuk minta segera di bunuh" gumamnya.


Hanna yang merasa terusik karena kehadiran Jae Hwan mulai membuka perlahan matanya.


"Aku menginginkanmu malam ini. Jangan menolak"


Bagai perintah mutlak, Hanna hanya bisa tertegun saat Jae Hwan kini sudah mengurung dirinya di bawah kungkungannya.


Hanna melihat senyum manis suaminya yang sama sekali tak pernah ia lihat itu, lesung pipit kecil dikedua ujung bibirnya membuat jantung Hanna berdetak tak karuan.


Jae Hwan mengelus lembut surai pipi Hanna yang masih terdiam dari tadi.


"Apa masih sakit?" tanyanya mengelus lembut leher Hanna yang tadi terluka.


"Kau gugup" tanya pria itu lagi sambil tersenyum mengejek, saat melihat pipi Hanna mulai memerah.


"Jangan mengejekku, kau tidur saja sana" kesal Hanna yang langsung memalingkan wajahnya yang masih memerah.


"Menyingkirlah, kau berat" kata Hanna lagi, tapi Jae Hwan sama sekali tak beralih dari posisinya.


"Tak ada penolakan, suasana hatiku sedang bagus jangan merusaknya" balas Jae Hwan mengelus lembut paha mulus istrinya yang tertutup dress selutut yang biasa Hanna gunakan untuk tidur.


Dalam seperkian detik, Jae Hwan langsung ******* agresif bibir Hanna hingga gadis itu memukul dada suaminya karena merasa tak bisa bernafas.


Jae Hwan tak menghiraukannya dan tetap melanjutkan aktifitas yang menurutnya sangat candu akhir-akhir ini.


Ia tiba-tiba menghentikan aktifitasnya, "Balas Hanna, aku tak ingin melakukannya secara kasar" perintah Jae Hwan, karena Hanna sedari tadi tak membalas lumatannya.


Tangan Jae Hwan semakin liar, pria itu bahkan sudah selesai melepaskan pakaiannya hingga menyisakan celana saja.


Hanna hanya diam tak bicara, logikanya mungkin menolak, tapi jiwa dan tubuhnya mengingikannya lagi setelah malam itu.


Ia mengikut alur permainan yang dibuat Jae Hwan, hingga se isi kamar di isi dengan alunan dari penyatuan keduanya.


...****************...


Hanna membuka matanya, saat merasakan sinar matahari yang menembus jendela kaca.


Hanna merasa tubuhnya tak berdaya, Apa kemarin malam mereka melakukannya terlalu bersemangat? entahlah, hanya mereka berdua yang tahu itu.


Gadis itu menatap pria yang saat ini sedang memeluk tubuhnya.


"Seharusnya aku tak jatuh dalam pesona pria psikopat ini" gumam Hanna tersenyum malu.

__ADS_1


Tapi semuanya terlambat, perasaan yang dijaganya tak berhasil mengalahkan pesona seorang Jung Jae Hwan, lelaki tampan yang begitu digilai para wanita.


Ia memainkan jari telunjuknya di dada bidang suaminya.


"Kau sudah bangun?" gumam Jae Hwan yang masih memperjelas pandangannya.


Hanna hanya menanggapinya dengan dehaman tanpa berani menatap nanar mata pria ini.


Ia malu saat ini, saat mengingat kegilaan mereka tadi malam.


"Terimakasih" gumam Jae Hwan tiba-tiba, sukses membuat Hanna mendongakkan wajahnya.


Cup!


"Kau melakukannya lagi" kesal Hanna sambil mengusap pipinya yang baru saja di cium oleh Jae Hwan.


"Hari ini jangan pergi kemana-mana, para pria kemarin mungkin saja masih mengincarmu" ucap Jae Hwan sebelum beranjak dari ranjang.


Hanna hanya mengangguk, ditengah dirinya tahu siapa identitas para pria yang kemarin hampir menculiknya.


Jae Hwan pergi ke kamar mandi karena ia harus bersiap ke kantor, sedangkan Hanna. Gadis itu masuh berada di ranjang dengan selimut yang menutup tubuh polosnya.


"Aish, pria itu kebiasaan" gumam Hanna jengkel, saat melihat bagian leher ke dada indahnya penuh dengar warna karena perbuatan suaminya.


Tring!


Hanna melirik sekilas ponsel Jae Hwan yang berada di atas nakas, dengan rasa penasaran yang mendominasi. Gadis itu memberanikan dirinya untuk melihat pesan teks yang masuk.


From : Yoon Wo


"Anak buah berhasil menemukan Jeslyn, mau kau apakan dia?"


"Apa dia masih saja berhubungan dengan wanita itu? jika benar bagaimana dengan dirimu Hanna? kau sudah menyerahkan semuanya?!" Gumam Hanna bingung, dimana di sisi lain ia takut jika dirinya akan ditinggalkan setelah semua yang terjadi.


Pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan Jae Hwan yang baru saja selesai membersihkan tubuhnya.


"Kau tak akan mandi?" tanyanya seraya berjalan menuju kaca besar yang ada di kamar.


"Hmm, aku pergi sekarang" sahut Hanna yang lekas bangkit dari ranjang.


Jae Hwan melihat gadis itu agak kesusahan berjalan ditambah selimut besar yang juga ia bawa untuk menutup tubuhnya.


Tanpa aba-aba, ia langsung mengangkat Hanna ala bridal style dan membawanya ke kamar mandi.


"Maafkan aku, aku tak akan kasar lain kali" kata Jae Hwan lalu mengecup lembut kening istrinya.


Ia keluar dari kamar mandi untuk membiarkan Hanna mandi.


Jae Hwan meraih ponselnya, setelah selesai bersiap.


Ia melihat pesan yang dikirim Yoon Wo dan bergegas pergi ke alamat yang dikirimkan padanya.


Hanna keluar dari kamar mandi dengan pikiran yang terus menghantui dirinya.


Terutama tentang Jeslyn, dimana Jae Hwan bisa saja membuangnya dan kembali pada Jeslyn, mengingat pria itu masih memiliki perasaan terhadapnya.


Ditambah, Hanna sadar jika dirinya adalah musuh suaminya sendiri.


...****************...


"Kirim dia, setidaknya beberapa organ tubuhnya masih berguna untuk menghasilkan uang" perintah Jae Hwan tanpa sedikitpun luluh walau sekalipun Itu Jeslyn.

__ADS_1


"Tidak, Jae Hwan-ah. Apa kau yakin tak mencintaiku lagi? kumohon jangan lakukan ini" Jeslyn memohon di kaki Jae Hwan dengan wajah dan tubuh yang penuh luka.


Sudah bisa dipastikan jika itu perbuatan anak buahnya.


"Kirim dia sekarang, aku muak melihat jal*ng satu ini" perintahnya lagi dengan nada tinggi.


Ia menendang Jeslyn hingga gadis itu melepaskan kakinya.


Pria itu menyamakan tingginya dan jongkok di hadapan Jeslyn.


"Dasar wanita sialan, mengingat diriku pernah menyukaimu. Membuatku jijik" ucap Jae Hwan begitu sarkastik terhadap Jeslyn.


Ia mencengkeram kuat dagu Jelsyn "Kau yang membunuh bibiku, bukan? mengaku saja. sebelum aku bertindak lebih jauh"


"Bukan aku, Hanna yang merencanakan semua itu!!!"


Jae Hwan tersentak atas penuturan Jeslyn "Apa maksudmu, Hah!!!"


"Kau tak tahu itu,kan? Semuanya sudah direncanakan, wanita licik itu. Dia mengancam ku agar aku menurut padanya! kau bisa bertanya padanya"


"Dia bahkan memegang kelemahanku, menurutmu siapa yang paling di untungkan atas kematian bibi Cha? Bukankah Hanna bisa masuk dan mengambil beberapa data rahasia milikmu, karena kau membiarkanya tinggal setelah kematian bibi Cha?"


Damn


Jae Hwan terdiam, ia tak bisa membalas ucapan wanita yang ada di hadapannya saat ini.


Jeslyn benar-benar wanita ular, dia dengan lihainya memperdaya mangsanya.


"Seharusnya kau sadar itu!" ucap Jeslyn tersenyum licik, dibalik darah yang mengalir dibibirnya.


Jae Hwan tersenyum remeh, "Kau pikir aku percaya dengan bualanmu itu? Jeslyn Jeslyn... Wanita sepertimu tak akan membiarkan dirimu kalah dari orang lain, tapi barusan kau katakan kalau Hanna memegang kelemahan dan mengancammu? Bukankah itu sebaliknya?"


"Kau mengirim pesan pada Hanna, untuk membuatnya membangkang padaku? Dengar Jal*ng! jangan berani kau menyebut nama istriku dengan mulut kotormu itu" tekan Jae Hwan lalu menampar kasar pipi Jeslyn hingga wanita itu merintih pelan.


Ponsel Hanna bisa Jae Hwan akses dengan mudah menggunakan pengendali jarak jauh yang diciptakan Ye Jun untuknya, dan tentunya ia juga menerima pesan yang dikirimkan orang lain pada Hanna termasuk pesan Park Jae Kyung yang sempat membuatnya kesal sendiri.


"Terima saja takdir yang sudah kubuat untukmu!"


Jae Hwan lantas berdiri, lalu meraih tisu yang disiapkan bawahannya.


"urus wanita sialan ini segera!" titahnya lalu melempar tisu tersebut kearah Jeslyn bagai membuang tisu ketempat sampah.


Dua orang pria yang merupakan anak buah Jae Hwan itu langsung membangunkan Jeslyn bersiap untuk mengirim gadis itu menemui ajalnya.


Pria itu memang tak pandang bulu, terutama pada wanita yang memang menurutnya melakukan kesalahan padanya.


Padahal Hanna juga melakukan kesalahan, tapi pria itu malah mengurungnya dalam pernikahan gila dan pesona dirinya, dan bukannya membunuh atau menjualnya seperti Jeslyn saat ini.


...****************...


.


.


.


Jangan Lupa like, tinggalin jejak di komen, vote, dan share, biar author semangat up ep-nya.🥰


.


.

__ADS_1


__ADS_2