Revenge Obsession

Revenge Obsession
Revenge Obsession : Cp.95


__ADS_3

Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapat hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


Typo bergentayangan, mohon di maklumi


...****************...


Jae Hwan menyuruh Hanna untuk duduk bersamanya di sofa ruang tamu.


Ia memberikan beberapa kertas pada Hanna yang langsung di sambut oleh gadis itu.


Hanna menatap satu-persatu berkas yang ada di tangannya tanpa bertanya lebih dulu pada pria di sampingnya.


"Apa ini sudah menjawab rasa penasaranmu tentang kematian Hye Soo?!"


"Apa manusia sekejam ini benar-benar ada?" sahut Hanna yang masih melihat berkas di tangannya


"Ada! disampingmu bukti nyata" ujar Ye Jun dengan seenaknya nyelonong masuk bahkan kini pria yang datang bersama Si Hwan dan adiknya itu, sedang membaringkan tubuh mereka di sofa mahal milik Jae Hwan.


Jae Hwan langsung mengambil bantal sofa yang ada di belakangnya lalu melemparkannya pada Ye Jun.


"Kali ini kau meleset hyung," ujarnya lalu mereka bertiga tertawa tanpa ada beban.


"Apa semuanya karena pria ini?" Hanna bertanya serius pada Jae Hwan.


"Hye Soo mengandung anak Han Il Guk, dua minggu sebelum kematiannya, temanmu meminta pertanggung jawaban darinya yang tentu saja itu tidak akan mungkin." jawab Jae Hwan


"Bagaimana bisa?!" Hanna sudah tak bisa berkata-kata lagi, ia bingung kenapa Hye Soo bisa terlibat dengan pria seperti Han Il Guk.


Jae Hwan meletakkan sebuah tablet dimana di sana ada sebuah rekaman cctv.


"Mereka berdua tidak sengaja bertemu, dan saat itu pria ini dalam pengaruh alkohol dan memaksa Hye Soo melayaninya. Hye Soo meminta tuntutan uang.. jika tidak, dia akan melaporkannya sebagai kasus pel*cehan" jelasnya pada sang istri.


Sekarang Hanna paham, dan kemungkinan apa yang ingin disampaikan Hye Soo waktu itu dalam sambungan telpon adalah mengenai kehamilannya.


"Kalau begitu ini bukan salah Hye Soo, dia punya hak menuntut pertanggung jawaban"


"Benar, tapi yang salah adalah dia berurusan dengan Han Il Guk penerus Yayasan Hannam."


Hanna menghela pelan nafasnya, sahabatnya terlalu muda untuk terjerat dalam masalah ini.


"Tapi kasus ini sudah di tutup sebagai kasus bunuh diri, apa kasusnya hanya akan sampai disana?!"


"Menurutmu! Pihak mereka tidak akan membiarkan masalah ini berlarut-larut, terutama Han Il Guk mempunyai koneksi dengan Bae Han Ju yang otomatis, dengan mudah mereka memerintahkan kejaksaan maupun kepolisian untuk menutup kasusnya sebelum tercium media"


"Keadilan di dunia ini mahal Hanna" sambung Jae Hwan.


"Keadilan memang mahal, bahkan Ayahku saja harus dihukum 16 tahun padahal dia tidak bersalah" ujar Hanna yang entah kenapa ia terbawa emosi dan begitu sensitif mengenai hal yang berbau keadilan.

__ADS_1


Hanna langsung bangkit dari duduknya setelah ucapannya tadi.


"Ada apa dengannya? Apa sedang datang bulan?!" gumam Jae Hwan heran saat melihat wanitanya itu tiba-tiba pergi tanpa sepatah katapun.


"Itu artinya, dia marah hyung" sahut Jin Sung.


"Aku juga tahu kalau itu"


"Kalian kenapa kesini?" tanya Jae Hwan melirik tajam 3 pria yang sedang cengengesan di hadapannya.


"Anu hyung, hmm.. "Apa?!"


"Si Hwan hyung ingin minjam uang" saat itu juga Si Hwan langsung menyikut lengan Jin Sung, "Yak, kenapa aku"


"Sudah, hyung diam saja" balas Jin Sung kembali berbisik, padahal Jae Hwan dengan jelas mendengar pembicaraan tom and jery itu.


Jae Hwan menyilangkan tangannya, tanpa bicara sepatah katapun ia menunggu mereka bicara to the point.


"Apa orang tua kalian tidak memberi uang?!" ujar Jae Hwan buka suara.


"Kalian berdua tidak mau bicara?"


"Mereka berdua menabrak bemper belakang mobilmu hyung" ucap Ye Jun, karena ia tahu dua pria disampingnya itu tidak akan mengaku.


"Maaf hyung" sesal keduanya yang langsung beralih posisi duduk di sisi kanan dan kiri Jae Hwan.


"Bagaimana?" tanya Jae Hwan pada Jung Wo yang baru selesai mengecek kerusakan yang di perbuat oleh dua bocah tengil ini.


Jung Wo hanya menggeleng pelan, seolah paham Jae Hwan langsung menatap bergantian Jin Sung dan Si Hwan dengan tatapan tajamnya.


Suara teriakan tiba-tiba terdengar dari kamar Hanna yang langsung membuat Jae Hwan berlari ke kamar.


"Kalian selamat karena Hanna" ucap Ye Jun menyusul Jae Hwan, karena dari awal ia hanya menemani dua adiknya itu untuk mengaku pada sang pemilik mobil dari pada Jae Hwan tahu sendiri.


"Ada apa?" ujar Jae Hwan membuka pintu kamar sambil menormalkan deru nafasnya.


Hanna menoleh dan saat itu juga ia berlari menuju pria yang menghampirinya.


Jae Hwan melihat sebuah kotak yang dibuka Hanna sudah tergeletak di lantai.


Tangan Hanna masih gemetar setelah membuka kotak berisi kepala seseorang yang masih berlumuran darah.


"Ye Jun bawa Hanna keluar" perintahnya


Hanna berjalan mengikuti Ye Jun sambil teringat bayang-bayang isi kotak tadi.


"Kenapa benda seperti ini lolos pemeriksaan?" Jae Hwan menuntut jawaban dari bawahannya sekarang.


"Tapi tidak ada kiriman yang masuk hari ini, Tuan" jawab Jung Wo memperlihatkan data pemeriksaan dari pos jaga utama di gerbang masuk.


"Kalau begitu, bagaimana ini bisa ada di sini!!!"


"Apa kalian semua ingin ku pecat hah!!!" bentaknya menendang satu-persatu tulang kering para bawahannya termasuk Jung Wo.


"Maafkan saya Tuan, mungkin ini ulah pelayan baru" ujarnya tanpa berani menatap Jae Hwan.

__ADS_1


"Sejak kapan ada pelayan baru? Kau tidak memberi laporan pada Jung Wo?!"


"B-Baru hari ini Tuan, saya belum sempat melaporkannya pada Tuan Jung Wo" jawab pelayan itu dengan perasaan gugup takut ia akan di pecat.


"Kalian semua keluar, kecuali Jung Wo" ucap Jae Hwan yang berdiri membelakangi pelayan dan para penjaga.


"Identifikasi identitas pemilik kepala itu, dan pastikan untuk memberikan laporan mengenai rumah ini, siapa nama para pengawal dan siapa saja para pelayan maupun pengawal yang berhenti bekerja"


"Baik, Tuan"


Disisi lain, Ye Jun mencoba memberikan gelas berisi air pada Hanna.


"Kau tenang saja, Jae Hwan hyung pasti akan membereskan masalah ini" ucap Ye Jun kembali menyodorkan gelasnya pada Hanna.


Hanna minum, lalu mengembalikan gelasnya pada Ye Jun.


Hidup dalam lingkup ruang kehidupan seorang Jung Jae Hwan benar-benar membuat Hanna menemui hal-hal yang belum pernah ia lalui.


Jika hal seperti ini terus berulang, mungkin Hanna tak akan bisa bertahan dengan statusnya sebagai istri seorang Mafia.


"Kau baik-baik saja?" seru Jae Hwan yang baru saja turun bersama Jung Wo.


Hanna hanya mengangguk pelan, ia menyandarkan tubuhnya lalu memijat kepalanya sambil memejamkan matanya.


Ye Jun yang saat itu sedang duduk disamping Hanna, langsung peka dan duduk di sofa lain.


Tiga pria itu saling tatap satu sama lain, karena suasana benar-benar sunyi tanpa ada yang buka suara.


Dengan cepat, Ye Jun mengambil keputusan untuk pergi bersama yang lain menyisakan Jae Hwan dan Hanna karena Jung Wo juga pergi dari ruang tamu.


"Baru kali ini aku melihat orang se kejam Jae Hwan hyung tunduk di hadapan seorang wanita seperti Hanna" celetuk Jin Sung seraya masuk kedalam mobil.


"Aku yakin mereka tidak akan bertahan lama, mengingat Tae Il juga mengincar Hanna" sahut Si Hwan.


Tapi disini, Ye Jun memilih untuk diam dan tidak menyuarakan pendapatnya. Karena jujur, Ye Jun juga sependapat dengan Si Hwan.


"Melihat hal tadi, membuatku berpikir jika ucapan Jae Hwan hyung benar" kata Ye Jun sambil fokus pada setir nya


"Maksudnya?" dengan cepat keduanya langsung menuntut jawaban dari Ye Jun.


"Kalau dia tidak akan bisa mendapatkan kehidupan normal seperti kebanyakan pasangan di usianya"


Jin Sung dan Si Hwan menghela pelan nafasnya, mereka tahu jika dari awal jalan kehidupan yang di ambil Jae Hwan memang salah dengan bergelut di dunia kejahatan.


...****************...


.


.


.


Jangan Lupa like, tinggalin jejak di komen, vote, dan share, biar author semangat up ep-nya.🥰


.

__ADS_1


.


__ADS_2