Revenge Obsession

Revenge Obsession
Revenge Obsession : Cp.53


__ADS_3

Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


...****************...


Tanpa melanjutkan ucapannya, pria ini langsung keluar dari dapur menuju ruang tamu. dimana Jae Hwan baru saja datang sambil menenteng sebuah paperbag berukuran cukup besar.


"Kau curang Hyung! bagaimana bisa kau mendahuluiku?!" ucapnya saat pria bermarga Jung itu baru saja kembali dari luar.


"Kau kenapa?" sahut Jae Hwan, seraya memberikan paperbag tersebut pada Hanna, dimana sebelumnya ia keluar untuk mengambil makanan yang tertinggal di mobil.


Dengan santainya Hanna menyambut paperbag itu, dan mengintip isi-nya.


Tae Il menarik Jae Hwan menjauh dari Hanna dan membisikkan sesuatu padanya.


"Dasar otak s*x" kata Jae Hwan sambil memukul tengkuk leher Tae Il.


"Tapi kalau itu terjadi, juga bukan urusanmu" tambahnya seraya mendudukkan dirinya di sofa.


"Oh tentu tidak bisa! yang lebih dulu kenal siapa? yang lebih dulu suka siapa?" cercanya sembari ikut duduk di sofa.


"Apa sekarang kalian sedang mengataiku?" tanya Hanna menatap curiga dua pria dihadapannya ini.


"Kau makan saja , bukannya tadi kau kelaparan" suruh Jae Hwan.


Hanna melirik tajam keduanya, lalu pergi ke dapur untuk makan.


"Aku melihat tanda dileher Hanna, itu ulahmu,kan Hyung!" ujarnya tidak terima, dimana sebenarnya ia sama sekali tidak punya hak untuk mencampuri urusan Hanna dan Jae Hwan.


"Ah itu" sahutnya yang langsung memalingkan wajahnya, sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


"itu hanya untuk menyamarkan sesuatu" sambungnya.


Saat itu juga ekspresi Tae Il berubah jadi masam karena tidak dipungkiri. dari awal dia sudah menargetkan Hanna untuk jadi istrinya.


"Tapi- "Tapi apa?" potong Tae Il yang langsung menarik kerah baju Jae Hwan.


"Ternyata dengan Hanna jauh lebih menyenangkan dari pada dengan Arin" ucap Jae Hwan semakin menggoda Tae Il yang sekarang sedang merengek karena saking kesalnya dengan Jae Hwan.


"Kau curang Hyung! kau curang!!!" ujarnya mendengus kesal lalu segera pergi dari mansion itu, meninggalkan Jae Hwan yang tertawa puas karena berhasil membuat Tae Il merengek.


Ia tahu jika adiknya itu sama sekali tidak bisa di goda kalau masalah seperti itu.


"Kemana Tae Il?" tanya Hanna yang baru saja keluar dari dapur, sambil membawa nampan berisi makanan yang ingin ia bawa keruang keluarga.


Jae Hwan hanya menggendikkan bahunya, "Untukku mana?"


"Ambil sendiri" sahut Hanna, dan lebih parahnya ia langsung pergi meninggalkan Jae Hwan.


"Dasar tidak tahu di untung, sudah baik kubelikaan makanan, kalau tidak! dia pasti akan kelaparan sampai pagi" gumam Jae Hwan.


"Dengar Tuan! aku tidak meminta ini. tapi kau sendiri yang ber inisiatif membelinya, jadi jangan salahkan aku" sahut Hanna yang masih tidak terlalu jauh dari ruang tamu.

__ADS_1


Sontak Jae Hwan menoleh kebelakang, lalu pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan-nya sendiri.


Sepanjang jalan menuju dapur, pria itu terus saja menggerutu karena istrinya itu sama sekali jauh dari ekspetasi-nya, dimana ia menginginkan wanita cantik, sexy dan penurut serta bisa mengurus rumah tangga di kala posisinya sebagai ketua mafia. ia tetap menginginkan istri seperti itu, tidak tahu diri! sudahlah Jae Hwan tidak menghiraukan itu.


Tapi saat ia sampai di dapur, mulutnya berhenti mengumpat. dan malah tersenyum salah tingkah sendiri saat melihat makanan untuknya sudah tertata rapi di atas meja makan.


Sebenarnya kalau dipikir-pikir lagi, Hanna sangat pas untuk kriterianya, pintar, cantik, se*y, cuek tapi perhatian, terlihat lugu tapi sebenarnya diluar dugaan, siapa yang tidak terpukau dengan identitas asli seorang Kim Hanna, bahkan pewaris Park Group saja terobsesi dengannya.


Hanya saja sekarang gadis itu malah terjebak dalam pernikahan yang sama sekali tidak ia inginkan.


Tinggal satu atap dengan musuh sekaligus targetnya sendiri.


Tidak ada yang tahu, apakah pernikahan mereka akan berakhir happy ending, atau malah sebaliknya.


...****************...


Pagi-pagi Hanna sudah siap, ia bahkan sudah selesai mandi.


Mengenakan piyama dress selutut, gadis itu pergi kedapur dengan siulan nakal lalu membuat makanan dengan senyum miring, memikirkan rencana untuk membuat Jae Hwan jera.


Jae Hwan ingin membalas Hanna dan membuatnya berlinang air mata dan Hanna ingin membuat Jae Hwan jera. Sungguh pasangan yang aneh.


Hari ini Hanna tampak memiliki mood yang bagus, ia bahkan bernyanyi pelan sambil memasak.


Tiba-tiba Jae Hwan keluar dari kamar hanya dengan mengenakan handuk yang bertengger di pinggangnya.


Hanna hanya meliriknya sekilas, "Aah! Dasar pria cabul! kenapa kau tak memakai pakaianmu? sengaja ingin menyombong dengan perut kotak-kotak itu?!" teriak Hanna.


Sedangkan Jae Hwan malah menunjukkan senyum miringnya.


"kenapa? kau tergoda?"


Jae Hwan lantas berjalan menuju Hanna dan mengambil paksa tangannya hingga mereka saling berhadapan satu sama lain.


"Kenapa?" tanya Hanna sinis. padahal sebenarnya ia terpengaruh dengan oto perut suaminya itu. tapi Hanna berusaha hanya fokus pada wajah Jae Hwan. Ingat wajah!


"Kau tak menyiapkan pakaianku?" kata Jae Hwan .


"Kenapa aku? kau bisa melakukannya sendiri. Lagian, untuk apa tangan itu diciptakan, untuk dipajang?" gertak Hanna dengan nada merendahkan.


"Kau istriku, itu kewajibanmu."


Sekarang Hanna yang sekakmat.


"Y-ya, walaupun aku istrimu, kita hanya menikah diatas kertas, bukan? dan kau juga menikahi diriku dengan paksa," tukas Hanna dengan mata memicing.


"Yang terpenting disini adalah kau istriku. Cepat siapkan pakaianku," sebelum berlalu begitu saja.


"AKU TIDAK MAU!"


Tampak Jae Hwan berbalik menatap Hanna. "Jangan membuatku marah Nyonya Jung, atau-


Mata Hanna mulai memerah menahan amarah ketika mengingat bagaimana Jae Hwan mencekiknya waktu itu. "Keparat sial*n!"


"Oh, kau baru saja memaki suamimu. Aku tak suka, ini sudah kesekian kalinya. jika sekali lagi aku mendengar kau tahu akibatnya," ujar Jae Hwan. kemudian berjalan kembali menuju kamar untuk mandi. tapi sebelum itu ia menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Hanna.


"Waktumu hanya 5 menit!"


Mendengar hal itu lantas membuat Hanna terbirit-birit berlari menuju kamar dan mulai menggeledah semua isi lemari.

__ADS_1


Tiba-tiba Jae Hwan membuka pintu kamar mandi dan berkata, "Jika kau sengaja memilihkan warna yang norak, awas saja"


Lalu ia kembali menutup pintu, "Aish, padahal aku ingin memberinya pakaian bermotif macan, dasar cenayan. tau saja dia"


Akhirnya dengan rasa enggan Hanna menyusun setelan yang akan di pakai Jae Hwan, ia lihat pakaian itu dengan seksama. Bagus juga, pikir Hanna.


"SUDAH SELESAI?" teriak Jae Hwan yang baru saja keluar dari kamar mandi dimana Hanna saat ini masih berada di closet room


"SUDAH" balas Hanna dengan teriakan.


"Ini sudah ku pilihkan. aku pergi," ujar Hanna berniat ingin pergi, tapi tangannya di cekal oleh Jae Hwan sontak membuat Hanna bertanya.


"Apalagi?!"


"Tunggu disini. Sampai aku selesai." seperti perintah mutlak dari Raja, Hanna hanya duduk sesekali melirik kearah Jae Hwan yang sedang memakai pakaian di depan cermin.


Hanna berdiri dari duduknya setelah melihat Jae Hwan lengkap dengan pakaian. "Sudahkan, aku pergi."


"Tunggu!" cegah Jae Hwan dengan intonasi berat.


"Ada apa?" tanya Hanna dengan raut wajah lelah.


Jae Hwan memperlihatkan sebuah dasi ditangan kanannya. "pakaian aku ini, setelah itu kau boleh keluar"


Tampak Hanna merengut kesal, dan sesekali bergumam merutuki suaminya ini. Hanna mulai berjalan dengan enggan.


"Mana dasinya" pinta Hanna dengan wajah malas.


Jae Hwan pun memberikan dasi hitam bergaris putih itu pada Hanna dan di ambil kasar olehnya, "Dasar manja."


Saat Hanna mulai memasangkan dasi itu pada kerah baju Jae Hwan. Pria itu malah dengan tenang memandang wajah istrinya. Ternyata kalau dilihat lebih teliti, Hanna ini termasuk Jajaran gadis cantik.


Apalagi sekarang gadis ini tidak memakai riasan, dan memperlihatkan bibirnya yang jauh lebih manis dibanding saat ia berdandan. Karena Hanna akan terlihat lebih badas jika ia menggunakan lipstik merahnya.


Hanna yang sadar jika Jae Hwan menatapnya, mendongak menatap manik pria itu. kelam dan dalam seakan Hanna bisa saja tersedot karenanya. Lumayan lama mereka beradu tatapan tapi gagal karena,


Tok... Tok... Tok...


Sontak keduanya tersadar dan langsung mengalihkan pandangannya.


Hanna memilih untuk membuka pintu yang ternyata di kunci oleh Jae Hwan, sedangkan pria itu terduduk di tepi kasur memikirkan jantungnya yang berdegup kencang.


...****************...


Preview Next chp:


"Hmmm~ Apa sekarang kau sudah berpaling dariku?" tanyanya menatap nanar mata Jae Hwan.


...****************...


.


.


.


Jangan Lupa like, tinggalin jejak di komen, vote, dan share, biar author semangat up ep-nya.🥰


.

__ADS_1


.


__ADS_2