Revenge Obsession

Revenge Obsession
Revenge Obsession : Cp.64


__ADS_3

Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


...****************...


Hanna berjalan ke meja rias setelah selesai membersihkan tubuhnya, ia berkaca sejenak lalu memakai beberapa produk kecantikan miliknya.


Setelah itu ia melepas handuk yang membungkus rambutnya. Rambut basah terurai, ia menyisir-nya pelan lalu mengeringkannya menggunkan Hair Dryer


Belum ada satu atau dua kata yang terucap dari mulut mereka berdua, semuanya sibuk sendiri-sendiri.


Hingga Jae Hwan meletakkan laptopnya dan memecah suasana hening yang meliputi kamarnya, setelah menutup laptopnya pria itu berjalan ke arah Hanna dan berdiri di belakang gadis itu.


"Ya!"


"Hmm?" sahut Hanna sambil menatap Jae Hwan melalui pantulan cermin.


Jae Hwan menghela nafas panjang lalu memasukkan kedua tangan di saku celana trainingnya.


"Apa? Kau ini kenapa?" sambung Hanna lagi begitu melihat Jae Hwan terus memperhatikannya.


"Tidak.." Sahut Jae Hwan dingin dan sedikit ketus lalu ia pergi menuju ranjang.


"Tck.. Dasar aneh" gumam Hanna.


Jae Hwan berbaring lalu menarik selimut menutupi setengah tubuhnya hingga sebatas dada.


Setelah mengeringkan rambut, Hanna pun segera mengenakan baju tidur terusan berwarna hitam.


Ia berbaring di sebelah Jae Hwan yang sudah lebih dulu tidur.


Rasanya tubuh Hanna serasa remuk, ia benar-benar kelelahan membereskan seluruh pakaian yang berhamburan tadi.


Hanna melirik sekilas saat merasakan kasurnya agak bergerak saat pria di ujung kasur itu mengubah posisi tidurnya.


Dengan jarak setengah meter, Hanna merasa posisinya aman dari Jae Hwan.


Saat ia berusaha untuk memejamkan matanya dan tidur, dering ponsel Jae Hwan membuat Hanna terganggu dan memilih mengubah posisinya membelakangi Jae Hwan.


"Aish~ siapa yang menelpon malam-malam seperti ini" gerutu Jae Hwan sambil meraba ponselnya yang ada di atas nakas.


"Ada apa?"


"....................


"aku akan pergi sekarang"


Tut!


Menyudahi panggilan telponnya, Jae Hwan langsung bangkit dan meraih kunci mobilnya, sedangkan Hanna. gadis itu memilih cuek dan tetap melanjutkan tidurnya.


...****************...


...Pukul 02.05...


Jae Hwan pergi kesebuah club dan duduk disana, entah apa yang pria itu lakukan disana.


Satu botol minuman keras sudah ia habiskan, untuk sekedar membuang kebosanan sambil menunggu seseorang yang tadi menelponnya.


Ia duduk seorang diri, sesekali wanita malam menggodanya namun ia belum tertarik.


Jae Hwan menatap kearah depan. Orang-orang berlalu lalang di depan mejanya.


Ia menenggak sisa minuman yang ada di gelasnya lalu meletakkan uang cash di bawah gelas. dan kali ini ia membiarkan beberapa wanita malam menghampirinya.

__ADS_1


Sungguh risih bagi Jae Hwan, saat para wanita ini bergerak agresif didekatnya.


"Hyung!"


Jae Hwan mengacungkan tangannya, meminta Si Hwan untuk menemuinya.


"Tumben Hyung.! tidak biasanya" kata Si Hwan heran, tiba-tiba pria ini datang ke club sendirian, apalagi ada beberapa wanita malam yang sedang bergelayut manja di dekatnya.


"Mana Tae il?"


"Tae il?" ekspresi Si Hwan terlihat jelas sedang kebingungan sekarang.


"Iyaa, tadi dia menelponku. katanya ingin bicara penting denganku" jelas Jae Hwan sama seperti yang ia dengar saat di telpon.


Si Hwan mulai berpikir tapi tetap saja ia bingung, "Tae Il sudah pulang Hyung. dia saja mabuk berat, jadi aku meminta pelayan untuk mencarikannya taxi"


Seketika dua pria itu menatap satu sama lain, "Aku pergi sekarang" ucap Jae Hwan di angguki setuju oleh Si Hwan yang juga langsung menyusul dengan sopirnya.


...****************...


Hanna melihat samar pintu yang terbuka, memperlihatkan seorang pria berjalan masuk kedalam kamar.


Tak.


Pintu terkunci, pria itu lantas meletakkan ponselnya lalu melepaskan dasinya.


"Hanna-ya" suara berat itu terdengar jelas di telinga Hanna hingga membuatnya langsung terbangun.


"Ya, Park Tae Il! bagaimana bisa kau ada disini" seru Hanna yang langsung berdiri walau sebenarnya kepalanya agak pusing karena begitu tiba-tiba.


Tae Il tidak menghiraukannya, ia bangun lalu berjalan menuju Hanna dengan sempoyongan.


"Kau mabuk?"


Hanna mencium bau minuman yang melekat di pakaian pria itu.


"Kau jangan macam-macam, ada banyak penjaga disini"peringat Hanna saat pria didepannya ini semakin dekat dengannya.


"Hanna-ya, kenapa kau menikah dengan Jae Hwan Hyung, seharusnya kau milikku" rucaunya, dengan ekspresi frustasi.


"Aish. kenapa airnya harus habis sekarang" gumam Hanna saat meraih gelas yang ada di nakas, berniat untuk menyadarkan Tae Il.


Hanna mengambil ancang-ancang untuk lari ke pintu, tapi sayang. Tae Il sudah lebih dulu mencekal tangannya.


Dengan kasar Tae Il mendorong Hanna hingga gadis itu jatuh ke kasur disusul dirinya.


Tenaganya yang sudah terkuras habis, mencoba berontak saat sahabat suaminya itu menahan kedua lengannya.


"Y..Ya Park Tae Il..."


Hanna mulai dibuat panik saat pria itu mengikat tangannya dengan dasi hitam miliknya.


Tubuh Tae Il terlalu berat untuk bisa Hanna dorong dengan sisa tenaga-nya.


"Hanya ada satu cara agar kau bisa menjadi milikku" bisiknya tepat di depan telinga Hanna.


"Ku mohon jangan seperti ini" kata Hanna karena nyalinya mulai menciut saat Tae Il benar-benar memblokir pergerakannya.


"Aku hanya perlu membuatmu mengandung anakku, maka semuanya beres" ucap Tae Il dengan tatapan nakalnya pada Hanna.


"Ya....mmpppth.."


Tae Il ber smirk saat melihat bibir Hanna basah karena ulahnya, pria itu semakin mencengkeram kuat tangan Hanna hingga gadis itu meringis kesakitan.


"Ini tidak benar" gumam Hanna, saat tangan nakal Tae Il mengelus pahanya.


"YA! PARK TAE IL!!!"


Pintu kamar dibuka dengan begitu kasar, memperlihatkan Jae Hwan, Jung Wo dan Si Hwan yang saat ini berada di depan pintu.


Ekspresi Jae Hwan tidak bisa digambarkan, ia begitu marah saat memergoki adiknya itu menciumi Hanna, yang jelas berstatus sebagai istrinya.

__ADS_1


Hanna mendongakkan wajahnya dengan mata berkaca-kaca, menatap kearah Jae Hwan yang ada di depan pintu.


"Hyung! apa kau sudah gila" ujar Si Hwan yang langsung menarik Tae Il bangun dari posisinya yang menindih tubuh Hanna.


"Kenapa? kenapa kau menghentikanku, sebentar lagi Hanna akan menjadi milikku"


PLAK!


Tamparan keras Hanna berikan pada Tae Il, setelah Jae Hwan melepaskan ikatannya.


Hanna tak bisa bicara lagi, tubuhnya kaku dengan pandangan kosong setelah memberikan tamparan kuat pada pipi Tae Il.


Tae Il memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan dari Hanna.


"sampai kapanpun, aku tak akan membiarkan hubungan kalian berjalan dengan baik" gumam Tae Il dalam hatinya, sebenarnya pria itu tak sepenuhnya mabuk, ia sadar saat melakukan hal tadi pada Hanna.


Si Hwan menyeretnya keluar dari kamar Jae Hwan bersama Jung Wo, meninggalkan pasutri itu di dalam kamar.


Hanna mengelap bibirnya, ia merasa dirinya begitu kotor saat Tae Il melakukan hal buruk itu padanya.


"Kau baik-baik saja?"


Suara Jae Hwan membuat atensi Hanna beralih padanya.


"Aku lelah, aku ingin tidur" sahut Hanna dengan nada lelah seraya berjalan menuju sofa.


"Tidurlah di kamar tamu, aku akan meminta pelayan untuk mengganti seprai-nya besok" tawar Jae Hwan.


Tapi Hanna hanya menggeleng pelan, sambil memposisikan tubuhnya untuk berbaring di sofa empuk milik Jae Hwan.


"Aku akan segera kembali"


"Mau kemana?" cegat Hanna tiba-tiba saat melihat pria itu melangkah keluar dari kamar.


"ada yang perlu ku bereskan" sahut Jae Hwan menoleh sekilas kearah Hanna.


"Tunggu-


"Kalau begitu aku ikut" ujarnya yang langsung bangkit dari posisinya.


Ia langsung meraih lengan kekar Jae Hwan bermaksud untuk ikut.


"aku hanya kelantai bawah, kau bisa istirahat"


"Tidak, aku ikut. kalau kau tak mau, jangan pergi.. aku tak mau sendirian di sini" pinta Hanna dengan wajah putus asa.


Jae Hwan menghela nafas berat, baru kali ini ia melihat Hanna seperti ini.


Mana Hanna yang selalu membantah ucapanku, mana Hanna yang selalu meninggikan suaranya dihadapanku?


"Aku tak akan pergi, sekarang tidurlah" ajak Jae Hwan sambil menggiring Hanna untuk tidur di ranjang saja agar tubuhnya tidak sakit besok pagi.


Hanna sama sekali tak melepaskan kalungan tangannya pada lengan Jae Hwan. ia merebahkan tubuhnya dengan suaminya yang duduk di sampingnya, dan ini untuk kali keduanya Jae Hwan sedekat ini dengan Hanna, setelah dirumah sakit waktu itu.


Pria itu menatap lekat wajah Hanna, sesekali ia menyisir lembut rambut yang menutupi wajah Hanna.


Sebenarnya rumus Hanna agar bisa damai dengan Jae Hwan hanya satu, tidak berkhianat, tidak membantah ucapannya dan tidak melakukan hal yang tidak ia suka, dalam artian patuh dengan ucapannya.


Jae Hwan perlahan menyibak rambut Hanna, hingga memperlihatkan tanda yang dibuat Tae Il di leher wanitanya.


"Anak itu benar-benar" gumam Jae Hwan, entah apa yang akan terjadi pada Tae Il besok pagi.


...****************...


.


.


.


Jangan Lupa like, tinggalin jejak di komen, vote, dan share, biar author semangat up ep-nya.🥰

__ADS_1


.


.


__ADS_2