Revenge Obsession

Revenge Obsession
Revenge Obsession : Cp.49


__ADS_3

Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapethadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


...****************...


1. Pihak kedua tidak boleh merugikan pihak pertama.


2. Pihak kedua harus tunduk pada pihak pertama.


3. Pihak kedua tidak boleh melawan atau menyebabkan pihak pertama merasa tidak nyaman atau mengalami kerugian.


4. Pihak kedua tidak boleh memiliki hubungan dengan orang lain selain pihak pertama.


5. Jika pihak kedua telah melanggar satu peraturan, maka bersedia menerima konsekuensi.


"Sempurna," gumam Jae Hwan dengan senyum misterius, sebelum ia memanggil Hanna.


Hanna duduk di sofa dengan wajah malasnya.


"Ada apa?!"


Jae Hwan hanya memberikan selembar kertas seperti sebuah peraturan, tidak! lebih tepatnya itu adalah sebuah persyaratan dimana jika Hanna melanggar peraturan didalamnya akan bisa diperkarakan.


Hanna mengerutkan keningnya, lalu segera membaca apa isi dari kertas tersebut.


"Apa lagi ini!" tanya Hanna merasa tidak terima.


"Persyaratan... ah, maksudku perjanjian. jangan banyak bicara cepat tanda tangani saja. "


"Apa! apa kau bercanda? kenapa aku harus menandatangani-nya?!"


"Sebagai jaminan, kau tidak akan macam-macam. jika kau melanggar satu saja apa yang tertulis di sana.. maka aku akan membuatmu mendekam di penjara sebagai pembunuh bibiku, kau mau itu!!!" jelas Jae Hwan sukses membuat Hanna menatapnya tidak percaya.


"Dia lebih mengerikan dari pada Bae Han Ju" gumam Hanna dalam hati.


Hanna menghela nafasnya, dan memilih untuk meneliti kertas tersebut, namun ada yang janggal.


"Pihak kedua tidak boleh memiliki hubungan dengan orang lain selain pihak pertama!" seru Hanna dengan berkerut tak suka.


"Kau tidak boleh berhubungan dengan pria lain selain diriku. dengar! sekarang kau berstatus sebagai istri dari pemilik JH Group... jika nanti tersebar kabar kau selingkuh, maka saham perusahaan akan down dan aku tidak ingin itu terjadi"


"Nanti kalau aku sudah menjadi janda, siapa yang mau denganku?! aku tak ingin jadi perawan tua" ucap Hanna


"Memangnya kau tak perlu pasangan jika nanti bercerai denganku? pasti butuh, kan? jadi biarkan aku bebas!"


"Tidak. siapa bilang aku butuh pasangan? mereka merepotkan," jawab Jae Hwan dengan santai.


Hanna mendelik tajam. "Oh, aku baru ingat. Pantas kau tak ingin mencari pasangan. Apa kau akan memilih acak para jal*ng itu, hah?"


"Untuk apa aku memilih mereka. Menyusahkan," jawab Jae Hwan kembali.

__ADS_1


"Kalau aku. Apakah aku menyusahkan bagumu?" Entah ada angin apa Hanna memilih untuk bertanya hal seperti itu.


Jae Hwan menolehkan wajah-nya kearah Hanna dan menatap wanita itu dengan serius.


"Kau....


"Kau sangat menyusahkan! maka dari itu aku tidak ingin menambah bebanku... dan ingat! aku menikahimu karena ingin memastikanmu menderita!!!"


Seketika wajah Hanna berubah datar, pikirnya ia akan mendapatkan jawaban lain selain ini.


"Mungkin seperti, Tidak. kau istriku, memang seharusnya aku yang direpotkan olehmu." misalnya. tapi itu hanyalah sebuah kiasan belaka yang terlintas di pikiran Hanna.


"Lalu... bagaimana denganmu! bagaimana jika kau melanggar ini dan kembali pada Arin?!" celetuk Hanna yang fokus pada kertas yang ada di tangannya.


"Apa kau tidak punya akal? untuk apa aku kembali pada anak pembunuh orang tuaku"


"Tapi sekarang aku hidup dengan pembunuh ayahku!" sahut Hanna santai namun sukses memberikan sindiran keras pada orang di sampingnya.


"Ya! dengar baik-baik. aku tidak pernah membunuh ayahmu... orang dibalik itu semua adalah Bae Han Ju, agar ayahmu tutup mulut" jelas Jae Hwan.


"Lalu siapa pemicu dia dibunuh! kau bukan?!"


Damn


Jae Hwan mati kutu tidak bisa menjawab ucapan Hanna, karena benar adanya jika dialah pemicu Kim Yeon-U dibunuh.


"Mau kemana?"


Jae Hwan menahan lengan Hanna saat gadis ini akan pergi.


"Istirahat! dan aku tidak akan menandatangani persyaratan konyolmu ini" tekan Hanna lalu menepis tangan Jae Hwan.


"Aku bisa saja mengarang, kalau kau pelakunya dan kau menyamarkan perbuatanmu dengan melukai diri sendiri" sambungnya dengan nada bicara yang begitu santai, sambil menyelonjorkan kakinya di atas meja.


Hanna menghentikan langkahnya lalu melirik tajam dengan ekor matanya, ia menarik senyum paksanya lalu berbalik.


"Kalau begitu aku akan mengekspose seluruh tempat produksi barang harammu itu!"


"Silahkan! tapi Kang's Dynamics akan bangkrut... sekarang kau pilih mana? menandatangani persyaratan ini! atau kau akan menjadi terdakwa dan Kang's Dynamics akan berada di bawah kekuasaan-ku"


"Aku tidak main-main Hanna, selama kau tidak tertangkap olehku selama ini kau aman! tapi sekarang jalan ceritanya berubah..." Ucapnya sambil mengeluarkan ponsel yang ada di saku jas-nya.


Hanna hanya bisa menahan kekesalannya, ia ingin sekali memukul pria yang duduk di hadapannya sekarang juga.


Ia perlahan berjalan kearah Jae Hwan sambil mengepal kuat kedua tangannya.


"Eitss! tidak untuk yang kedua" ujar Jae Hwan yang berhasil menahan lengan Hanna yang akan mendaratkan pukulan di wajahnya.


"Hisss! dasar menyebalkan" kesalnya sambil melepaskan tangannya dari Jae Hwan.


"Tanda tangani sebelum aku kembali" tekannya bangkit dari sofa, dan pergi meninggalkan Hanna sendirian dikamar dengan persyaratan-nya.


"Kalau bukan karena Kang's Dynamic! aku pasti akan mencabik-cabik tubuhnya itu." umpat Hanna seraya meraih sebuah bolpoint yang sebelumnya sudah Jae Hwan sediakan.


...****************...


Hari telah berganti, hari ini tepat satu minggu mereka menjadi pasutri. Mungkin mereka ini bisa disebut pasutri gaje kelompok sadisnya.

__ADS_1


Hanna menatap langit-langit kamar, lalu menolehkan kesamping kanan. ia lantas bangun dan meraih sebuah jam yang ada di atas nakas.


Sambil tersenyum jahil, ia mengubah alarm-nya lalu meletakkannya tepat di samping telinga Jae Hwan yang masih tertidur pulas.


3 .. 2.. 1 ...


Hitungan mundurnya berakhir dengan dering alarm yang berbunyi dengan nyaringnya hingga membuat beruang yang tengah hibernasi itu langsung terbangun.


Pagi-pagi, Jae Hwan sudah dibuat emosi oleh Hanna, sedangkan gadis itu hanya tersenyum mengejek lalu masuk kedalam kamar mandi.


"Yak! Kang Hanna!!!"


Teriakan Jae Hwan sama sekali tidak ia gubris dan tetap asik berdiri di bawah guyuran shower.


"Oh! ini cara main yang kau mau... kita lihat siapa yang akan menang disini" Jae Hwan bergumam sambil menampakkan smirknya.


Ia lantas pergi menuju ruang ganti untuk mengambil sesuatu di laci.


Menempelkan kartu akses pada pintu, pria itu membuka pintunya dan berdiri diambang pintu sambil menyenderkan bahunya.


"YAK! DASAR MES*M"


"BR*NGSEK, KELUAR KAU!!! SEBELUM BOTOL SAMPO INI MELAYANG" Teriak Hanna yang langsung menyilangkan tangannya, namun beruntungnya sebagian shower room tidak tembus, hingga tidak mengekspose tubuhnya.


Sedangkan Jae Hwan, ia masih berdiri di posisinya sambil menyilangkan tangannya, diiringi ekspresi santainya.


"Oh! tidak mau pergi. Oke.."


Tanpa aba-aba Hanna langsung meraih apapun yang ada di shower room dan melempari kearah pria itu.


"Dasar gila!!!" umpat Hanna dengan kekesalan teramat.


Sambil menangkap beberapa barang yang di lempar Hanna dari shower room.


"Sekali lagi kau melempar barang, aku akan masuk" kata Jae Hwan santai.


Mata Hanna melotot marah, dan menghentikan aksinya, karena ia sadar jika ucapan suaminya barusan mungkin bukan main-main.


"seharusnya kau tidak membangunkanku, kalau sudah begini.. artinya kau yang memancingku!" ujarnya melangkah masuk menuju wastafel dengan santainya.


"Oke! tapi bisakah kau keluar dari sini?!" pinta Hanna.


Baru kali ini Hanna meminta pada Jae Hwan dengan nada yang tidak kasar.


Pria itu lantas melirik sekilas lewat kaca, lalu menghela nafasnya dan melangkah keluar dari kamar mandi.


...****************...


.


.


.


Jangan Lupa like, tinggalin jejak di koment, vote, dan share, biar author semangat up ep-nya.🥰


.

__ADS_1


.


__ADS_2