
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
...****************...
Jae Hwan tiba di kantornya. Ia memasang wajah dingin dan angkuh yang malah membuat semua wanita menjerit tak karuan.
Terjawab mengapa dari sekian banyak karyawan perempuan ada yang berani memakai pakaian yang transparant jika bos-nya saja seperti itu.
Yoon Wo dan Seok Hyun menghampiri adiknya itu. "Kita punya meeting penting hari ini, jam 10 tukas Seok Hyun.
"Baiklah, Hyung." ujar Jae Hwan sebelum mereka menaiki lift dan menekan angka 20. Dimana ruangannya berada.
Ting!
Pintu lift terbuka, mereka bertiga masuk ke ruangan Jae Hwan.
"Hyung." panggil Jae Hwan pada Yoon Wo.
"Wae?"
"Apa kau sudah menemukannya?" tanya Jae Hwan sambil mengalihkan pandangannya pada Yoon Wo.
"Siapa?" tanya Seok Hyung penasaran.
"Jeslyn."
Mulut Seok Hyung menganga saat Yoon Wo mengucapkan nama itu. "Kau masih mengharapkan wanita itu? Jae Hwan, dengarkan aku. Disisi mu sudah ada wanita yang lebih baik darinya."
"Hanna?" tanya Jae Hwan memastikan.
"Ya. ia adalah wanita yang baik untukmu, Jae Hwan. Percaya padaku," Jawab Seok Hyun seolah ingin meyakinkan adiknya.
Jae Hwan tertawa remeh. "Baik untukku? Hyung, malah ia lebih buruk dari Jeslyn. Dia berselingkuh terang-terangan padaku."
"Maksudmu apa, Jae Hwan? Berselingkuh?" ujar Seok Hyun tak percaya.
"Ya. Ia berselingkuh dengan ahli waris NC.Corp, Park Jae Kyung." Jae Hwan berkata dengan tegas.
"Mana mungkin?!" sahut Seok Hyun masih tak percaya.
Jae Hwan membuka kunci ponselnya dan mencari sesuatu. Setelah menemukannya, ia menunjukan pada Seok Hyun.
"HEOL! DAEBAK!"
"Ternyata istrimu benar-benar bernyali besar. Wanita lain saja takut untuk mengkhianatimu," sahut Seok Hyun setelah melihat gambar itu. Sepertinya gambar itu di ambil oleh salah satu orang suruhan Jae Hwan.
"Bukan takut. Mereka memang tidak bisa melupakan pesonaku," jawab Jae Hwan dengan senyum pongahnya.
__ADS_1
"Kesimpulannya, istrimu itu adalah spesies langka." ujar Seok Hyun.
Jae Hwan hanya mengendikkan bahunya acuh lantas kembali pada berkasnya, melakukan aktifitas kantornya seperti biasa.
...****************...
Dirumah Hanna hanya menonton televisi. Rasanya sangat tak enak tinggal dirumah ini tanpa ada seorangpun yang bisa ia ajak bicara, kecuali para pelayan yang berlalu lalang melakukan pekerjaannya.
Hanna ingin sekali menambah beberapa penghuni rumah ini.
Bukan anak!
Hanya, Hanna merasa rumah ini terlalu hampa dan juga besar untuk di tinggali ia dan Jae Hwan saja, karena para pelayan akan pulang jika sudah melewati jam kerjanya.
Hanna diam disofa ruang tamu sambil sesekali melihat ponselnya yang hanya ada game saja, mau menelpon Jae Kyung pun, mungkin bukan waktu yang tepat karena pasti pria itu sibuk dengan pekerjaannya.
Tanpa Hanna sadari, ia mulai terlelap dalam mimpinya di sofa ruang tamu.
Ternyata matahari sudah berganti posisi dengan bulan tanpa Hanna ketahui. Saat membuka mata, tampak semuanya terasa gelap dan dingin.
Tak tersentuh dan menakutkan tempat ini. sunyi dan lengang tak bersuara. Lantas membuat bulu kuduk Hanna merinding disaat tidak tepat.
Ia menoleh ke arah jam yang telah menunjukkan pukul 11 malam. Sudah jam segini, tapi Jae Hwan masih belum berniat untuk pulang?
Hanna termenung di sofa ruang tamu dengan wajah datar, sambil mengumpulkan nyawanya setelah tertidur hampir 10 jam lamanya.
Suara pintu terbuka, tapi Hanna sama sekali tak ada niat untuk sekedar melihat siapa yang membuka pintu. Karena Hanna sudah tahu jawabannya. Jae Hwan.
"Kau menungguku?" bukannya menyapa istrinya, Jae Hwan malah bertanya hal bodoh, yang membuat mood Hanna berantakan.
"Baguslah. Ku kira kau sebodoh itu menungguku pulang" ujar Jae Hwan, yang berpikir Hanna menunggunya karena takut kejadian malam itu terulang lagi.
Terdengar tawa remeh dari Hanna, ia menatap Jae Hwan dengan tatapan datarnya "Kau tidak begitu penting bagiku, sampai aku harus menunggumu pulang. Maaf Tuan, aku tidak pernah berniat menjadi istri sungguhan."
Hanna berdiri dan mulai berjalan menuju tangga setelah melewati Jae Hwan dengan tatapan menusuknya.
"Ya, aku bodoh, Jae Hwan. Aku takut menunggumu dikamar sebesar itu sendirian."
"Ah. Besok malam kau tidur di kamar tamu dulu," ucap Jae Hwan sukses membuat langkah Hanna terhenti.
Ingin sekali Hanna bertanya alasannya, tapi mulutnya serasa tertahan dan berakhir tak menanyakannya.
"Aku ingin menghabiskan waktu dengan kekasihku besok" bisik Jae Hwan tepat disamping Hanna
Deg...
"Perasaan apa ini, kenapa dengan diriku?" gumam Hanna yang merasa dadanya tiba-tiba sesak.
Tangan Jae Hwan mengusap lembut tengkuk leher Hanna setelah berbisik padanya, sambil menampakkan senyum yang tidak biasa Hanna lihat, senyum asli dari seorang Jung Jae Hwan.
Hanna terdiam kala Jae Hwan begitu dekat dengannya.
"Aku kemar dulu" ucap Jae Hwan, lalu mendahului Hanna menuju kamar.
Kaki Hanna terasa berat, ia merasa tidak bisa melangkah lagi setelah ucapan Jae Hwan barusan "Aku ingin menghabiskan waktu dengan kekasihku"
__ADS_1
......................
Sudah tengah malam, tapi mata Hanna belum juga terpejam ingin melihat bulan dan bintang yang seakan menertawai dirinya dengan kejam.
Ya, Hanna memang bodoh. Bodoh menunggu Jae Hwan dengan harapan semu dan berakhir dengan ingatan kelabu.
Kini Hanna hanya di temani sebotol anggur, dengan dress putihnya dan paras yang rupawan membuat Hanna terlihat seperti bidadari dimalam hari.
Sedangkan Jae Hwan, pria itu tengah asik berada dalam dunia mimpinya tanpa menyadari jika Hanna masih belum tidur.
Hanna merasakan hawa dingin kota Seoul menyentuh kulitnya, hingga membuatnya memutuskan untuk segera masuk ke kamar.
Hanna menutup pelan pintu balkon agar tidak membangunkan Jae Hwan.
Perasaannya sedang tidak karuan sekarang, setelah suaminya itu tiba-tiba memintanya pindah kamar walau sebenarnya itu juga keinginannya.
Hanna berjalan tanpa sadar dan kini tengah berdiri di samping kasur Jae Hwan.
Perasaan dan logikanya sedang bertengkar sekarang, ia duduk di tepi ranjang seraya menatap lekat wajah Jae Hwan.
"Ayo Hanna, kau tak boleh menyukainya. semuanya, bahkan pernikahan ini! itu akan segera berakhir" ucapnya dalam hati.
Ada apa dengan Hanna malam ini, apa saat ini perasaannya yang ikut andil untuk menguasai pikirannya.
Grep!
Jae Hwan tanpa sadar menarik Hanna hingga gadis itu kini terjatuh tepat di sampingnya.
Pikirnya, Hanna adalah bantal yang biasa ia peluk saat tidur.
Hanna gugup, sekali lagi logikanya ingin berontak, namun tubuhnya mengisyaratkan untuk diam.
Tangan kekar Jae Hwan sama sekali tak melepaskan pelukannya dan tetap melanjutkan tidurnya yang sudah begitu lelap.
Hanna mencium aroma maskulin dari tubuh Jae Hwan yang begitu membuatnya terlena.
Nyaman!
Hanna merasakan itu sekarang, ia merasa pelukan Jae Hwan jauh lebih nyaman dan menenangkan baginya dari pada Yoon Wo dan Hyun il.
"Malam ini saja Hanna, besok kau tak boleh seperti ini lagi" Hanna lagi-lagi bicara dalam hatinya.
Di jam 2 pagi, Hanna berhasil membuat matanya tertutup untuk menuju alam mimpi, dengan posisi dirinya ada dalam pelukan Jae Hwan.
...****************...
.
.
.
Jangan Lupa like, tinggalin jejak di komen, vote, dan share, biar author semangat up ep-nya.🥰
.
__ADS_1
.