Revenge Obsession

Revenge Obsession
Revenge Obsession : Cp.47


__ADS_3

Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


...****************...


Dengan telaten, pria bermarga Park itu mengelap keringat yang ada di dahi Hana.


Seakan mengalami mimpi yang begitu buruk, nafasnya mulai tidak beraturan. sudah hampir 5 jam setelah dokter mengobati gadis ini masih tak kunjung datang.


"Aku tidak peduli tentang rencanamu untuk balas dendam atau apapun itu, aku akan tetap menyukaimu" gumamnya menyisir beberapa helai rambut Hanna ke samping.


"Bisakah kita pergi berdua" rucaunya sambil mengelap lengan Hanna layaknya seorang suami yang sedang merawat istrinya.


"Aku tidak tahu kau selembut ini" celetuk Hanna agak terkekeh pelan.


"Kau sudah bangun?" sahutnya yang langsung menatap kearah Hanna.


Gadis itu mengangguk perlahan walau perutnya masih terasa sakit.


"Ya, Park Tae Il?"


"Why why?!"


"Bagaimana aku bisa menikah dengan pria biadab itu?!" tanyanya yang mulai kesal, saat mengingat kembali kini dirinya telah diperistri oleh ketua Mafia JDevils itu.


"Aku juga tidak tahu kapan terjadi, sebenarnya ini salahku. seharusnya aku tidak meninggalkanmu sendirian hari itu" sesalnya karena benar adanya jika ia pergi ke halaman belakang untuk mengangkat telpon saat itu terjadi.


Dan mungkin pikir Tae il, telpon itu sebenarnya hanyalah sebuah umpan. agar anak buah Jae Hwan bisa membawa Hanna.


"Saat Jae Hwan hyung membawamu pulang, status kalian sudah berubah." jelasnya.


Hanna hanya bisa diam tanpa menyaut ucapan Tae il.


"Sebenarnya Han! Jae Hwan hyung bukan orang yang bisa kau kalahkan hanya karena terlihat mudah. aku mengatakan ini karena tahu siapa dirinya, apalagi jika kau melawannya sendiri.. kurasa kau menggali kuburanmu sendiri" kata Tae Il yang mengenal betul siapa dan bagaimana sifat brutal Jae Hwan selama ini.


"Aku tahu itu, seharusnya aku tidak melawannya dengan tangan kosong" sesal Hanna.


"Apa aku bisa minta bantuanmu!"


"Katakan?!"


"Aku ingin menelpon seseorang, tolong pinjamkan ponselmu. Jae Hwan sama sekali tidak memberikan akses untukku menggunakan ponsel" pintanya yang tentu saja di iyakan lleh Tae Il.

__ADS_1


Seandainya, jika Tae Il bukan bagian dari circlenya. mungkin pria tampan satu ini juga akan dibunuh tanpa dasar.


"Pakailah, aku akan keluar sebentar untuk mengganti ini" ujarnya sambil memegang ember berisi air.


Hanna mengangguk paham, dan langsung menekan nomor yang ingin ia hubungi.


Panggilan pertama tidak dijawab, begitu juga panggilan kedua dan ketiga.


Menghela nafasnya, Hanna mencoba untuk terakhir kali, tapi sayangnya masih sama. tidak dijawab.


Namun saat ia akan meletakkan ponselnya, nomor telpon yang ia hubungi malah menghubunginya kembali, tentunya Hanna langsung mengangkatnya.


📞In Call-


"Hyun Il-ah... kau baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja! aku yang seharusnya menanyakan ini"


"Aku baik-baik saja. maaf karena aku sudah menyeretmu kedalam masalah ini.. seharusnya kita berhenti saja saat kau mengatakannya waktu itu"


"Sudahlah, jangan pikirkan itu. yang lebih mengkhawatirkan sekarang adalah hidup yang akan kau jalani kedepan! aku sudah mendengar jika Jae Hwan memaksamu untuk menjadi istrinya, kau yakin baik-baik saja Han?!"


"Menurutmu! satu atap dengan pria itu saja sudah membuatku sesak. apalagi satu kamar, sebentar lagi aku akan gila"


"Bertahanlah, aku pasti akan membantumu untuk lepas dari Jae Hwan"


"Hmm.. jangan terlalu banyak pikiran dulu, lebih baik kau gunakan waktumu untuk pulih dan beristirahat. selama aku tidak kehilang jati diriku, aku masih bisa melawan pria gila yang satu itu..."


"Jangan menghubungiku untuk sementara waktu, sampai aku menghubungimu lebih dulu. katakan pada kakek kalau aku baik-baik saja dan rahasiakan semua ini darinya"


"Tentu"


📞End Call-


"Kau sudah selesai?" tanya seorang pria yang baru saja kembali dari dapur setelah mengganti airnya.


"Hmmm~ terimakasih" ucap Hanna memberikan kembali ponsel itu pada pemiliknya.


"Minumlah, tadi dokter memintaku agar kau meminum obatmu" ujarnya memberikan segelas air, dan beberapa obat dari resep dokter.


Selesai Hanna meminum obatnya, Tae il kembali duduk di tepi ranjang.


"Aku ingin mengatakan sesuatu" kata Tae Il menatap lekat wajah Hanna yang pucat.


"Minta cerai saja darinya, aku akan membawamu pergi jauh dan kita bisa memulai hidup baru" sambungnya.


"Maksudmu?"


"Aku sudah menyukaimu sejak awal, tapi kau selalu menutup jalan untukku. aku bahkan mengikutimu kemana saja bahkan sampai sekarang! apa kau masih tidak peka..." kalimat itu lolos begitu saja dari mulut Tae Il, sehingga Hanna dibuat tidak habis pikir olehnya.

__ADS_1


"Maaf Tae il, tapi dari awal aku masuk kedalam kehidupan kalian! aku tidak pernah sekalipun berpikir untuk memiliki hubungan spesial sebagai kekasih atau apapun itu- "tapi sekarang kau sudah terhubung dengan Jae Hwan hyung" potongnya merasa tidak terima akan jawaban Hanna yang menolak dirinya.


"Itu diluar kendaliku! dia melakukan ini dengan paksaan bukan kemauanku! dan ini juga bukan sebuah hubungan pernikahan, melainkan ajang balas dendam-nya padaku" tutur Hanna.


"Tapi Han?!- "waktu berkunjungmu sudah habis. aku ingin istirahat tolong keluar" ujar Jae Hwan, yang ternyata sudah datang, namun beruntung ia tidak mendengar pembicaraan keduanya.


Sontak keduanya langsung menatap kearah pintu, dan mendapati pria yang baru saja mereka bicarakan sudah kembali.


Mau tidak mau, Tae Il harus keluar. karena sebenarnya ia juga tidak berani dengan Jae Hwan.


Ia menutup rapat pintu kamarnya, tidak lupa menguncinya.


Dengan santai, ia melepas pakaian-nya kecuali celananya, pria itu pergi keruang ganti untuk mengambil handuknya, lalu melangkah pergi menuju kamar mandi.


Sebenarnya Jae Hwan sangat tidak terbiasa akan kehadiran seorang wanita yang kini tidur satu kamar dengannya.


Sedangkan Hanna! wanita itu hanya menutup matanya, ia malas jika harus berkontak mata dengan Jae Hwan.


"....."


Keluar dari kamar mandi, ia berdiri sejenak di ambang pintu kamar mandi dan melihat kearah Hanna yang berbaring di ranjang dengan infus yang sebelumnya diberikan oleh dokter.


selesai memakai pakaiannya, Jae Hwan duduk di ujung ranjang sambil memainkan ponselnya sejenak. lalu ia beralih pada Hanna.


"Kita perlu bicara" ujarnya dingin melirik Hanna sekilas.


Tapi tidak ada jawaban, Hanna tetap menutup matanya tanpa menghiraukan Jae Hwan.


"Bangun sekarang, atau aku yang membangunkanmu" katanya terkesan menyeramkan bagi indera pendengar Hanna yang langsung membuka matanya.


"Kau mengurungku dan menikahiku dengan paksa! sekarang apa lagi maumu?" jawab Hanna beralih melirik punggung lebar suaminya. tidak, lebih tepatnya pria itu adalah musuhnya.


...****************...


Preview Next Ep


"*Dengar jal*ng- "Jal*ng-jal*ng begini tetap saja kau nikahi, Ck." potong Hanna tersenyum miring, sukses membuat Jae Hwan menatapnya dengan tatapan tajam.


...****************...


.


.


.


Bantu Like Komen dan Sharenya ya biar author semangat buat sering up🥰*


.

__ADS_1


.


__ADS_2