
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapat hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
Typo bergentayangan, mohon di maklumi
...****************...
Jae Hwan mengangguk, "Aku tahu itu dari Hanna.. Tapi Hyung-
"Why?" sahut Yoon Wo
"Sepertinya ada hal lain, tapi aku belum tahu itu apa?! Ada yang janggal!"
"Maksudmu?" timpal Seok Hyun
Jae Hwan terlihat begitu serius, seolah ia sedang berpikir sekarang.
"Bae Han Ju membunuh kedua orang tuaku karena ingin balas dendam atas istrinya, dan itu semua dimulai karena Shin Myung Il mengambil Ginjal Jang Shin Ah untuk di berikan pada ibuku...
"Iyaa, lalu apa masalahnya?" potong Seok Hyun.
"Aku selalu memperhatikan setiap detail tentang ibuku, tapi anehnya kenapa ibu tidak pernah mengkonsumsi obat sejenis Imunosupresan atau yang seharusnya diminum oleh orang yang baru saja melakukan operasi transplantasi?" jelasnya, entah kenapa pria itu merasa ada yang janggal tapi ia belum bisa memastikan apa itu.
"Tapi ibumu benar melakukan operasi, bukan?!" tanya Yoon Wo memastikan dan tentunya itu langsung di angguki oleh Jae Hwan.
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan.. sekarang kita sudah tahu alasan utama Bae Han Ju membunuh kedua orang tuamu! selanjutnya kita hanya perlu memikirkan cara menjalankan setiap rencana yang sudah di susun untuk menjatuhkan Bae Han Ju" ucap Yoon Wo menepuk pelan pundak sang adik.
Jae Hwan memilih untuk tak menghiraukannya sama seperti yang Yoon Wo ucapkan barusan.
"Sebaiknya kau pulang, ini sudah larut... Hanna pasti tidak tenang sendirian"
"Iyaa" pria itu lantas bangkit dari duduknya dan pergi dari kediaman dua pria itu untuk segera pulang.
...****************...
"Sedang apa?"
Hanna langsung menutup laptopnya kaget saat mendengar suara Jae Hwan yang tiba-tiba ada di dekatnya.
"Apa kau hantu."
"Kau kaget?"
"Menurutmu..."
Sudahlah, Hanna terlanjur dibuat kesal oleh pria satu ini.
Baru saja Hanna ingin buka suara, Jae Hwan terlihat keluar dari kamar setelah kalimat terakhirnya tadi.
"Aishh, pria itu."
__ADS_1
Hanna hanya bisa bergumam tak jelas sambil menyalahkan kembali laptopnya.
"......"
Sementara itu di sisi lain, Jae Hwan melangkahkan kakinya di anak tangga terakhir.
Hingga kini ia berada di tengah lorong panjang yang begitu minim pencahayaan.
Tapi pria itu tak sendirian, ia bersama orang yang sudah pasti bisa kita tebak. Jung Wo.
"Bagaimana keadaannya?"
"Menyedihkan"
"Bagus, besok pria itu tak perlu di beri makan!"
"Baik Tuan"
Pria itu tersenyum tipis seraya berjalan menyusuri lorong panjang yang terbagi menjadi kiri dan kanan itu.
Suara bergema dari tempat itu benar-benar mengerikan, teriakan dan lirihan rasa sakit dari para tahanannya bersatu.
Jae Hwan berdiri tepat di depan sebuah sel yang dilengkapi dengan toilet dan satu tempat tidur.
"Kau ingin aku membunuhmu sekarang?!" tawar Jae Hwan pada salah satu tahanan nya.
Pria itu hanya diam tak berani menatap ketua mafia yang sedang menatapnya dengan tatapan psikopat.
"Kau yang mengambil ginjal Jang Shin Ah?"
Sontak pria yang sudah lama ia tawan itu mendongakkan wajah dan menatap kearahnya.
"Tapi kau otaknya brengs*k"
"Direktur Oh Nam Chul yang melakukannya" bantah Tuan Shin.
Jae Hwan mengangguk "Oke, tunggulah sebentar.. Aku akan membawakanmu teman agar tak kesepian disini" ucap Jae Hwan menyeringai, lalu ia melangkah pergi dari sel Tuan Shin.
"Selidiki seluruh latar belakang Direktur Oh Nam Chul"
"Baik Tuan"
Dua pria itu berjalan menaiki anak tangga menuju ruang rahasia yang selama ini selalu Jae Hwan sembunyikan dari Hanna.
Setelah membiarkan alat pemindai retina dan pendeteksi jantung, pintu yang menyerupai dinding tebal itu akhirnya terbuka.
Hanya Jung Wo dan circlenya yang pernah masuk keruangan itu dan hanya mereka yang di perizinkan untuk masuk.
Jae Hwan mendudukkan dirinya di sofa yang ada diruangan tersebut.
Sedangkan Jung Wo, pria itu tengah mengeluarkan sebuah papan catur dan meletakkannya di atas meja.
"Kau siap" tanya Jae Hwan dan tentunya langsung di angguki oleh tangan kanan sekaligus sekertaris pribadinya itu.
Jae Hwan mulai memindai satu persatu bidak catur mana yang akan ia jalankan lebih dulu.
Baru 3 kali pergantian, kesatria kuda milik Jung Wo berhasil ia dapatkan.
__ADS_1
"Jika aku ingin balas dendam, maka aku harus menyiapkan dua makam" gumamnya saat melihat Jung Wo menang darinya.
"Satu untuk musuh, satu untukmu" sahut Jung Wo sukses mendapat anggukan dari sang majikan.
"Tapi sebelum itu, aku harus menarik musuh lebih dulu untuk jatuh ke lubang"
"Dengan menguasai saham, dan membuat opini publik terhadap Bae Han Ju hancur!"
"Nice" ucap Jae Hwan saat Jung Wo berhasil mendapatkan king miliknya.
Pembicaraan dua pria itu tak sampai di sana, mereka terus bicara sampai tak sadar jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi.
...****************...
"Mwoya? Kau belum tidur?!"
Tak ada jawaban, Jae Hwan perlahan berjalan menuju meja rias dan melihat jika ternyata Hanna sudah tertidur.
Pikirnya gadis itu belum tidur karena layar laptop yang masih menyala.
Jae Hwan mengangkat tubuh Hanna ke ranjang, agar istrinya itu tidur dengan benar.
"Apa wanita ini bergadang menonton drama?" pikirnya seraya menarik selimut menutupi setengah tubuh Hanna.
Saat Jae Hwan akan menutup laptopnya, ia tak sengaja menjatuhkan sebuah flashdisk dari tas tangan milik Hanna.
Pria itu melirik sekilas kearah Hanna yang sudah tertidur pulas.
Dengan rasa penasarannya, Jae Hwan menancapkan kembali flashdisknya membuka isi file yang ada di dalamnya.
"Apa jangan-jangan dia berencana membongkar lokasi produksiku lagi?! Aishh, gadis ini"
Dengan lihay tangannya mengarahkan mouse guna melihat seluruh isi file yang ada di dalamnya.
Belum sampai 3 menit, Jae Hwan selesai dan langsung mengembalikan flashdisk itu ketempatnya.
Ia lantas ikut merebahkan tubuhnya untuk segera tidur, entah apa yang ia dapat dari dalam flashdisk tersebut? Namun yang jelas pria itu nampak terlihat santai dan biasa saja.
Jae Hwan memiringkan tubuhnya untuk mentap Hanna, "Kau terlalu naif untuk bisa bertahan
hidup dilingkungan toxic seperti ini Hanna"
Baginya, dunia mafia saja sudah begitu gelap apalagi jika Hanna ikut campur dalam masalah menyingkirkan Bae Han Ju dan memperlihatkan seberapa kotor dan menjijikannya dunia politik sebenarnya.
"Kau hanya perlu duduk dan menyaksikan kehancuran Bae Han Ju secara perlahan, Aku akan memastikan itu."
Jae Hwan mengusap lembut rambut Hanna lalu setelah itu ia ikut memejamkan matanya agar segera menyusul Hanna ke alam mimpi.
...****************...
.
.
.
Jangan Lupa like, tinggalin jejak di komen, vote, dan share, biar author semangat up ep-nya.🥰
__ADS_1
.
.