
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
...****************...
"Aku tidak akan bicara, tapi tolong jangan di ambil hati permasalahan tadi, aku yakin Jae Hwan tidak akan melakukan itu." tukas Yoon Wo seraya memberikan tisu pada Hana yang tengah bersedih.
Saat Hana keluar dari ruangan Tae il tadi Yoon Wo langsung menyusulnya tanpa menghiraukan yang lain, termasuk Tae il yang kala itu juga ingin mengejar Hana tapi berakhir dengan mengurungkan niatnya.
"Sudahlah pak. bapak tidak perlu membelanya, semuanya sudah jelas bahkan waktu itu dia sama sekali tidak membiarkanku untuk bertemu dengan Ayahku walau satu kalipun." jawab Hana.
Bahkan kali ini ia menyebut Yoon Wo dengan sebutan bapak, dimana sebelumnya pria itu sudah meminta dirinya agar bicara informal saat diluar.
"Aku tau kau pasti punya batas kesabaran-
"Kim Hana!!!"
Sambil terengah ia berlari kecil menuju Hana dan Yoon Wo yang kala itu langsung menoleh saat Jae Hwan memanggil namanya.
"Ikut denganku" ucapnya yang langsung menarik tangan Hana namun langsung di tepis olehnya.
"Mau apa lagi?!" tanya Hana menatap datar Jae Hwan.
"Ikut saja"
Sekali lagi ia menarik lengan Hana, namun kali ini Yoon Wo yang menghentikan-nya.
Ia menahan lengan Jae Hwan yang sedang menggenggam lengan Hana.
"Aku tidak akan melukainya" ujarnya.
"Bisakah kalian berdua pergi dari hadapanku sekarang" ucap Hana dengan nada yang terdengar sangat datar, bahkan wajahnya sama sekali tidak menampakkan ekspresi apapun.
Seketika kedua pria itu langsung menatap satu sama lain, dan mulai melepaskan tautan satu sama lain.
"Kalau begitu jawab pertanyaanku... dari mana kau mendapatkan foto dan rekaman tadi." tanya Jae Hwan penasaran.
"perawat yang memberikannya padaku" sahut Hana, dan saat itu juga Jae Hwan langsung pergi dari sana meninggalkan Hana dan Yoon Wo.
Entah apa lagi yang ingin ia tanyakan, namun yang pasti pria itu berbalik berniat untuk bertanya satu hal lagi pada Hana.
Saat melihat pemandangan yang tidak seharusnya ia lihat, membuat dirinya mengurungkan niatnya untuk kembali bertanya.
....
Hana tersentak kaget ketika pria bertubuh atletis itu tiba-tiba memeluknya, saat Jae Hwan pergi dari sana.
"Aku mengerti apa yang kau rasakan, kuharap pelukan ini bisa memberimu sedikit ketenangan" gumamnya pelan sambil menepuk pelan punggung Hana agar wanita itu bisa merasakan kehangatan yang ia salurkan.
Hana diam, ia merasakan situasi yang begitu tenang saat berada di pelukan Yoon Wo, setelah apa yang telah ia lalui hari ini.
Siluet pria di kamar bibinya, gagal jantung, dan sebuah bukti yang menyatakan jika Jae Hwan orang di balik kasus bunuh diri Ayahnya.
__ADS_1
“apa dia sebenci itu padaku? Padahal aku juga kehilangan orang tuaku” gumam Hana menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang CEO
Entah ia sadar atau tidak, tapi itu begitu nyaman baginya. Rasanya Yoon Wo adalah pria yang selalu menghibur dan memberikan ketenangan untuknya, bukan hanya itu tapi pria bermarga Min ini bahkan juga memberikan pekerjaan untuknya dengan standar Pendidikan yang mungkin tidak memenuhi kualifikasi perusahaannya.
Fase itu tidak berlangsung lama, Hana yang tersadar setelah membasahi kemeja Yoon Wo lekas melepaskan pelukannya.
“Kau sudah lebih baik sekarang?”
Hana mengangguk lalu mereka berdua duduk di bangku rooftop.
“kau tau?...
Hana menoleh saat Yoon Wo buka suara
“dulu saat kami masih di New Zealand, sering duduk bertiga di atap rumah sambil melihat bintang, dan saat ada bintang jatuh kami langsung membuat permohonan berharap langit bisa memberikan sesuatu yang membuat kebahagiaan.”
“apa itu benar-benar terwujud?!” sahut Hana menatap langit dengan mata sembabnya.
“mungkin….”
“Jika itu terwujud, kau ingin membuat permohonan seperti apa?” lanjutnya menoleh pada Hana
Wanita itu tersenyum sendu, lalu berucap
“Jika aku bisa membuat permohonan, aku ingin menghabiskan waktu sehari saja Bersama orang tuaku”.
“Sekarang katakan permohonan itu dalam hatimu” ujar Yoon Wo yang langsung menutup mata Hana kala melihat bintang jatuh.
Hana tersenyum sambil mengucapkan permohonannya, lalu perlahan membuka matanya saat Yoon Wo melepaskan tangan dari wajahnya.
“kau tidak minta sesuatu?” tanya Hana
Hana mengangguk
“apa sekarang kau sudah tidak sedih lagi?” tanyanya saat melihat senyum tertarik di bibir Hana yang sedang menatap langit malam.
“Hmmm~ sudah lebih baik” sahutnya sambil menampilkan senyumnya di hadapan Yoon Wo.
“Yasudah, lebih baik kita Kembali sekarang. Sudah terlalu larut, kau bisa sakit jika terlalu lama terkena angin malam” ajaknya dan langsung di setujui oleh Hana yang sadar jika malam sudah larut, dan bahkan jam sudah menunjukkan pukul 02.38 malam.
...****************...
3 Hari kemudian......
"kau sudah mengetahui dimana wanita itu menyembunyikan surat perjanjian-nya?!" tanya seorang pria yang sedang duduk di sofa single.
"ada orang lain yang sedang mengincar berkas itu tuan" jawabnya seraya memperlihatkan sebuah rekaman pada sang majikan.
Pria berumur kisaran 55-56 itu mengerutkan keningnya, bingung siapa orang yang mengincar berkas yang ada di tangan Lee Bong Cha selain dirinya.
"Apa kalian tidak bisa mengidentifikasi pria ini?!" tanyanya.
"Sepertinya dia imigran gelap tuan, tidak ada database tentang dirinya." jelasnya.
"Dan kami juga sudah mencari di rumah Lee Bong Cha, tapi sama sekali tidak bisa menemukan dimana berkas itu disimpan" lanjutnya.
Lantas pria paruh baya itu hanya mengangguk sambil memikirkan sesuatu. sedangkan bawahannya sudah pergi dari hadapannya setelah ia suruh.
"seharusnya aku langsung mengambilnya hari itu, sebelum Lee Bong Cha" gumamnya sambil memutar cincin di jari telunjuknya.
__ADS_1
...****************...
"Tolong bawakan berkas ini keruangan Direktur Min" pinta Se Jin sambil memberikan beberapa berkas pada Hana.
Tanpa buang waktu, ia langsung pergi menuju ruangan Seok Hyun.
Setelah mengetuk pintu, Hana masuk sambil melihat ke sekeliling karena tidak ada orang di sana.
"apa bapak di toilet" gumamnya seraya meletakkan berkasnya di atas meja.
"Pak! berkasnya saya letakkan di meja" ujarnya agak sedikit berteriak.
"iyaa, letakkan saja di sana" Sahut Seok Hyun yang masih ada di toilet.
"Iyaa" jawab Hana yang tetap pada posisinya.
Tidak beberapa lama Seok Hyun keluar dari toilet sambil merapikan pakaiannya.
"Kenapa masih disini?" tanyanya seraya mendudukkan dirinya di kursi kerjanya.
"5 menit lagi, bapak ada meeting... baru saja Artis yang menjadi Brand Ambassador kita terkena scandal, sekarang tim yang bertanggung jawab sedang menanganinya"
"Apa? kenapa aku tidak tahu?!"
"Scandalnya baru terekspose tadi pagi pak, dan kami juga baru mengetahuinya." jelas Hana.
"Apa Yoon Wo sudah mengetahui ini?" tanyanya lagi dan di angguki oleh Hana.
"CEO Yoon sudah mengetahui ini, dan beliau masih dalam perjalanan ke sini pak"
"Yasudah kita langsung saja keruang meeting sekarang" ajaknya seraya bangkit dari duduknya.
Keduanya langsung pergi dari sana menuju ruang meeting, sedangkan Se Jin ia sudah pergi lebih dulu ke ruang meeting.
"Bagaimana saham kita?"
"Karena scandalnya besar, saham perusahaan turun drastis pak" jelas Hana seraya memberikan sebuah tablet pada Seok Hyun.
Pria itu hanya bila menghela napasnya, setelah melihat grafik saham JJ Corp yang turun drastis.
"Telpon Jae Hwan, minta dia datang sekarang juga" perintah-nya. mau tidak mau Hana harus melakukannya, walau sebenarnya ia sangat malas harus bicara dengan pria itu.
"Baik Pak" sahut Hana.
Keduanya masuk keruang meeting dimana di sana sudah ada beberapa direksi yang datang.
...****************...
.
.
.
Jangan Lupa like, tinggalin jejak di koment, vote, dan share, biar author semangat up ep-nya.🥰
.
.
__ADS_1