
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
...****************...
Setelah 15 menit berkendara mereka pun tiba disalah satu cafe yang letaknya di tepi jalan.
Hanna bisa melihat di depan cafe itu ada danau.
"Sangat cantik," gumam Hanna sembari terus menatap pemandangan luar.
"Sama sepertimu" sahut Jae Kyung yang baru saja kembali dengan nampan berisi gelas.
"Aku tak tahu minuman kesukaanmu apa, jadi aku menyamakannya denganku" ucap Jae Kyung sambil menggaruk-garuk kepalanya, yang Hanna pikir itu tidak gatal sama sekali, hanya Jae Kyung saja yang grogi.
"Tidak masalah," Sahut Hanna tersenyum manis.
"Syukurlah," Jae Kyung juga ikut meminum- minumannya.
Hanna hanya membalas dengan senyuman. sepertinya Hanna sangat menikmati momen saat ini.
Setelah itu, mereka mulai berkunjung ke swalayan. Jae Kyung meminta Hanna menemaninya berbelanja kebutuhan pokok selama ia disini.
Saat asyik memilih sayur, Hanna dikejutkan dengan seorang pria yang tiba-tiba menepuk bahunya.
Hanna menoleh dan seketika matanya melebar.
Ye Jun?!
"Eoh, Hanna! Mana Jae Hwan Hyung?" mati Hanna jika Ye Jun tau ia jalan bersama pria lain.
"Hm, aku tidak bersama Jae Hwan. Aku sendiri," Jawab Hanna dengan gugup dan senyum kaku.
"Ah, begitu. Kau ingin makan? kudengar ada restoran enak sekitar sini," tawar Ye Jun pada Hanna.
Mungkin pria itu ingin membalas makanan yang waktu itu Hanna tawarkan padanya.
Hanna terlihat gugup untuk menjawab. "Tidak usah! Aku sudah makan tadi."
"Sayang sekali. Baiklah, aku duluan" Ye Jun melambaikan tangannya.
Hanna juga ikut melambai. "Hati-hati!"
Saat Ye Jun sudah pergi, Hanna menghela napas panjang. "Untung saja aku pandai berbohong,"
Jae kyung menghampiri Hanna dengan troli yang penuh.
"Kau sudah pilih sayurnya?" tanya Jae Kyung
"Belum, Oppa lanjut saja, nanti kita bertemu di kasir" usul Hanna.
Jae Kyung tersenyum, "Terimakasih telah membantuku."
"seperti dengan siapa saja. Aku ingin memilih sayurnya, Oppa pergilah cari barang yang di butuhkan," Ucap Hanna sembari melihat-lihat sayur dan buah segar di swalayan itu.
Akhirnya jae Kyung pergi mencari bahan-bahan yang belum ia dapatkan.
"Andaikan ia suamiku"
...****************...
Setelah memastikan Jae Kyung pergi, Hanna melangkah masuk melewati gerbang besar yang di jaga beberapa anak buah Jae Hwan.
Suasana rumah nampak sepi, tidak ada kehidupan bahkan Hanna sama sekali tidak melihat satupun pelayan berlalu lalang.
"Suasana mengerikan apa ini?" gumam Hanna menutup pelan pintu utama.
"Baru pulang?"
Astaga!
Hanna terlonjak kaget mendengar suara yang tiba-tiba muncul dari tangga. Dan itu suara Jae Hwan.
Gadis itu melihat kearah jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 21.03 KST.
Jae Hwan berjalan perlahan menuruni anak tangga, sedangkan Hanna hanya diam tak berani buka suara.
__ADS_1
"Kenapa diam? apa kau kelelahan karena bersenang-senang dengan selingkuhanmu?" tanya Jae Hwan yang membuat Hanna tersentak.
"Selingkuhan? Maksudmu?" Tanya Hanna dengan raut wajah tak suka.
Jae Hwan perlahan duduk di hadapan Hanna dengan wajah santainya. "Park Jae Kyung. Batal menikah karena mempelai wanita hamil dengan pria lain. Benar'kan?"
Hanna berdiri dari posisinya yang sebelumnya ikut duduk di sofa, telunjuknya menunjuk kepada Jae Hwan. "Kau! Jangan sekali-kali kau menyentuh dia."
"kenapa kau begitu marah? atau kau memang berselingkuh di belakangku?" sindir Jae Hwan sambil tertawa remeh.
"Hanna, Hanna. kau tak akan bisa melawanku, koneksiku ada di mana-mana. Sekalinya kau bermain dibelakangku, aku akan tahu itu."
"Kau memata-matai ku?!" hardik Hanna dengan menggebrak meja.
"Aku memata-matai istriku sediri, tak masalah'kan?" ujar Jae Hwan dengan senyum miringnya.
Hanna menghela kasar nafasnya, "Terserah kau mau apa, yang jelas. Jangan berani menyentuh-nya" Tekan Hanna lalu segera pergi kelantai dua menuju kamar.
Jae Hwan hanya tersenyum miring saat melihat Hanna begitu membela Jae Kyung.
"Selama aku tidak dirumah, awasi Hanna,"
"baik Tuan"
"Ingat!!! Jangan membiarkannya pergi tanpa seijinku, jika sekali lagi kau mengulanginya, tanggung akibatnya" ucap Jae Hwan sukses membuat pria bertubuh atletis seperti Jung Wo menelan kasar salivanya.
...****************...
Hari ini Hanna bersiap-siap menuju perusahaan Jae Hwan setelah mengakali Jung Wo kalau dia ingin menemui suaminya.
Hanna memakai kacamata hitam favoritnya dan memakai riasan yang pas untuk gelarnya sebagai Nyonya dari Jung Jae Hwan.
Kalau kalian bisa melihat Hanna kini, mungkin kalian akan berasumsi kalau yang lewat ini bukanlah Hanna, melainkan ibu-ibu pejabat.
Hanna mendatangi pusat resepsionis dan membuka kacamatanya. "Hei, aku ingin bertanya!"
"Siapa?"
Hanna menunjuk dirinya dengan tampang sombong. "Kau tak ingat aku? Hah, aku ini istri CEO tempat kau bekerja!"
"Ah, Nyonya Jung."
"Ingat? Baguslah," Hanna memandang resepsionis itu dengan tatapan menilai. "Oh, jadi seperti ini mereka menilaiku saat aku jadi resepsionis dulu" pikirnya.
"M-maaf, Nyonya. Saya tidak berani," ujar resepsionis tersebut dengan gemetar.
"Sudahlah, aku kesini ingin bertemu dengan Han Ye Jun! Dimana ruangannya?" tanya Hanna to the point.
"Ruang, Tuan Han Ye Jun ada di lantai 19, Nyonya."
"Hm. Jangan biarkan aku melihatmu lagi dengan pakaian itu. Kalau tidak, akan kubuat kau telanjang dimuka umum. Mengerti?!" Resepsionis itu menganggukkan kepalanya takut.
Hanna berjalan dengan gaya pongah nan menakutkan. Sambil meminum es americano miliknya.
Di dalam lift Hanna hanya tertawa geli karena lagaknya barusan yang sudah seperti orang-orang kaya yang sombong.
Ting!
Ia keluar dari lift dengan berjalan menuju ruangan Ye Jun. Lantai 19 ini tidak seramai yang Hanna pikirkan, jadi kemungkinan menemukan Ye Jun lebih besar.
Tiba-tiba ada seorang pegawai yang menghampiri Hanna. "Permisi, Nonya. Ada perlu apa?"
Hanna membuka kaca mata hitamnya dan menatap pegawai itu dengan tatapan lembut, karena pada dasarnya Hanna memang gadis yang lembut, hanya saja ia membatasi itu untuk orang-orang tertentu.
"Bisa tunjukkan aku ruangan, Han Ye Jun?"
"Ah. mari saya antar" ujarnya mengarahkan Hanna menuju ruangan Ye Jun.
"Tuan, ada yang mencarimu," ujar pegawai itu sambil mempersilahkan Hanna masuk.
"Tolak."
Sontak pegawai itu menoleh pada Hanna, tapi gadis itu hanya mengangguk dan membiarkannya untuk kembali ke pekerjaannya.
Hanna berjalan menuju meja kerja Ye Jun, lalu mengetuk mejanya menggunakan jari telunjuknya.
Ye Jun melepaskan kacamata beningnya, lalu menghela kasar nafasnya dan memutar kursi kerjanya menghadap pintu ruangannya. "Ku bilang To-
Pria itu menghentikan ucapannya saat melihat Hanna berdiri di depannya sambil melipat kedua tangannya tidak lupa dengan tatapan tajamnya.
"Ah, Hanna!" sapa Ye Jun dengan polos.
......................
__ADS_1
"Kau ingin cerita apa? sudah 30 menit lebih kau disini, Hanna. Dan kau hanya terus mengunyah es batumu itu" kesal Ye Jun, karena sebelumnya ia sedang berada di tengah pikirannya membuat algoritma baru untuk aplikasi terbaru perusahaan.
"Cepatlah Nyonya Jung. Nanti ide di kepalaku ini hilang!"
Bugh!
"Berisik, diam sebentar aku juga sedang berpikir" Hanna melempar bantal sofa pada Ye Jun.
Ye Jun sakit.
Bukan. Bukan tubuhnya yang sakit.
Tapi rohani dan otaknya, Kedatangan Hanna membuatnya frustasi.
Hanna menghela nafasnya "Baiklah, aku terus terang saja padamu." Hanna meletakkan gelas americanonya di atas meja.
"Bekerjalah untukku."
"Maksudmu?" tanya Ye Jun bingung.
"Ya,, kita bekerjasama."
"Untuk apa?"
Hanna menatap Ye Jun datar. "Kau jadi mata-mata untukku."
"Tapi aku tidak terima bayaran kecil" jawab Ye Jun seolah bersikap angkuh.
Hanna tersenyum palsu. "Bayaran?"
Ye Jun menjawab dengan anggukan yakin.
"DASAR PENIPU! SEBERAPA KECIL GAJI YANG DIBERI SUAMIKU PADAMU?! HINGGA KAU MEMERASKU HAH?!"
Rasanya Ye Jun dapat penyakit serangan jantung setelah mendengar teriakan Hanna tadi.
"Cie, yang mengaku jadi istri Jae Hwan Hyung" ejek Ye Jun sambil tertawa.
"Ekhem. Pokoknya, kau harus membantuku untuk mengawasi bosmu itu," ucap Hanna sembari mengambil kembali gelas americanonya.
"Tunggu. Biar kuluruskan, kau memintaku untuk memata-matai Jae Hwan Hyung, begitu?" tanya Ye Jun memastikan.
"Ya, kurang lebih seperti itu."
"Tapi kenapa Jae Hwan harus dimata-matai? dia tidak akan selingkuh-"
"KAU PIKIR AKU BUTA?! AKU SUDAH PERNAH MELIHAT JAL*NG YANG DIA SEMBUNYIKAN KAU TAHU!"
"Aku tahu, aku tahu. Kau ini, sekali teriak kupingku langsung berdengung." gumam Ye Jun sambil menggosok telinganya yang panas.
"Mungkin Jal*ng yang kau maksud Arin'kan?" ucap Ye Jun.
"Menurutmu. sudahlah, jadi bagaimana? Kau setuju?" tanya Hanna sambil mengunyah es batunya tadi.
Ye Jun diam sambil menatap Hanna "Bagaimana jika aku tak setuju? Apa kau akan membunuhku?" tebak Ye Jun asal.
"Mungkin."
Seketika Ye Jun merinding.
"Kau setuju? Oke" ucap Hanna finish
"tapi kenapa kau memilihku?" tanya nya heran.
"Karena muka mu itu, muka-muka pengkhianat" ucap Hanna yang langsung saja pergi dari ruangan Ye Jun, meninggalkan Ye Jun yang sedang menahan kekesalan-nya saat ini.
"Untung cantik" gumamnya, lalu kembali memakai kacamata beningnya.
"Hah, aku kehilangan ideku, Arghh.. KIM HANNA!!!" Teriaknya sambil mengacak frustasi rambutnya.
...****************...
.
.
.
Jangan Lupa like, tinggalin jejak di komen, vote, dan share, biar author semangat up ep-nya.🥰
.
.
__ADS_1