Revenge Obsession

Revenge Obsession
Revenge Obsession : Cp.91


__ADS_3

Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapat hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


Typo bergentayangan, mohon di maklumi


...****************...


"Oh Nam Chul, direktur Hannam Medical Center pensiun 6 tahun yang lalu, Putrinya Oh Se Rin dokter spesialis torakoplastik di YJ Hospital"


Jung Wo meletakkan dua berkas pribadi yang diminta oleh bosnya.


"Untuk sekarang, kami belum berhasil melacak keberadaan Oh Nam Chul dan putrinya, Oh Se Rin berhenti dari YJ Hospital 1 minggu sebelum lokasinya tidak bisa di lacak, dan terakhir kali orang yang juga mengejarnya adalah orang-orang dari Hannam Medical Center"


"Alasan mereka dikejar?"


"Ketua yayasan Hannam Group yang baru, Han Il Guk ingin membersihkan seluruh keterkaitannya dengan JJ.Corp-


"Maksudnya?"


"Tiga hari yang lalu Han Il Guk melakukan pertemuan tertutup dengan calon presiden bersama dengan Bae Han Ju selaku ketua partainya, ketua yayasan sebelumnya adalah Han Tae Guk ayah Han Il Guk, sebelum yayasan Hannam Group di ambil alih oleh anaknya. Han Tae Guk pernah melakukan kerjasama dengan JJ.Corp, dan mungkin itu juga yang menjadi alasan ibumu di utamakan atau VIP untuk Hannam Medical Center"


Jae Hwan mengangguk paham, lalu ia meraih telpon kantor untuk menyuruh Nam Jeon So masuk keruangannya.


"Minta berkas kerjasama JJ.Corp dengan Hannam Group 18 tahun yang lalu dari Jang Se Jin"


"Baik, Tuan"


Setelah sekertaris Nam keluar, Jung Wo melanjutkan pembicaraannya dengan Jae Hwan.


"Artinya, Han Il Guk akan berpihak pada Bae Han Ju..." Jung Wo mengangguk.


"Menurut dari pencarian kami, Bae Han Ju mendekati Han Il Guk, adalah untuk melakukan pencucian dana pada pemilihan mendatang... Han Il Guk tiga minggu yang lalu tersandung kasus peleceh*n dan orang yang membantunya bebas adalah antek-antek Bae Han Ju" jelas Jung Wo


"Kasus peleceh*n?"


Jung Wo kembali mengangguk, lalu memperlihatkan sesuatu dari dalam ponselnya.


"Bukankah ini- "Benar," potong Jung Wo sukses membuat Jae Hwan tak bisa bicara atas pembenaran dari Jung Wo


"Apa Hanna tahu mengenai hal ini?"


"Nona Hanna tidak tahu, terakhir kali mereka bertemu sebelum hal ini terjadi" jawab Jung Wo.


Jae Hwan diam, ia sedang berpikir sekarang.


"Untuk saat ini kalian fokus saja mencari Oh Nam Chul dan anaknya, bawa salah satu dari mereka kehadapanku"


"Baik, Tuan"


Jung Wo segera pergi dari ruang presdir JH Group itu.


...****************...


Sementara itu, Hanna kini tengah sibuk berkutat di dapur, ia memilih untuk melakukan sesuatu untuk sekedar menghilangkan rasa bosannya.


Baru saja ia ingin menyentuh pisaunya, ponsel yang ada di sampingnya berdering.


Saat Hanna ingin menjawabnya, panggilan tersebut telah berakhir, tapi Hanna langsung menelpon balik yang sayangnya itu tak di angkat.


"Apa ini kepencet?!" gumamnya lalu menilih untuk kembali melanjutkan kegiatannya yang tadi ingin memotong sayur.


"Apa kalian memasak sebanyak ini tiap hari?" tanya Hanna pada salah satu pelayan yang juga ikut memotong sayur bersamanya di meja makan.

__ADS_1


"Kami melakukannya setiap hari untuk para penjaga Nyonya" sahut kepala pelayan agar bawahannya tak salah bicara.


Hanna hanya membalas dengan anggukan pelan sambil memotong sayurnya.


Drrttt...


"Oh Hye Soo ya, Why?"


"Hanna!"


"Hmm, ada apa? katakan saja?"


"Aku, Aku ha-


Belum selesai mereka bicara, Hanna mendengar pembicaraan sahabatnya itu dengan seseorang.


"Kau siapa?"


"Aku tak punya kewajiban memberitahu identitasku"


"Akhh- lepas!"


"Hye Soo-ya, kau baik-baik saja?" Hanna mencoba untuk kembali bicara, namun sayang tak ada jawaban dari sahabatnya itu.


Ia hanya mendengar suara bising dari perdebatan keduanya.


"Sampai kapanpun aku tak akan menuruti keinginan kalian!!!" teriak Hye Soo yang masih terdengar oleh Hanna melalui telpon.


"Ya! Ada apa?" teriak Hanna frustasi, tapi masih tak ada jawaban.


Hanna dengan jelas mendengar jika Hye Soo sedang ribut dengan seseorang sekarang.


"Hye Soo, kau mendengarku?"


Brakkk-


Tut...tut...tut...


"Kita pergi sekarang!"


"Pergi kemana Nyonya?"


Astaga, Hanna melupakan jika ia tidak tahu keberadaan Hye Soo sekarang.


Hanna menggigit jarinya dan mulai berpikir ditengah kecemasan yang melanda.


"Ye Jun!"


Hanna terus saja menggerakkan kakinya tidak tenang sambil menunggu Ye Jun mengangkat telponnya.


"Ayolah Han Ye Jun... Angkat telponnya"


........"


"Apa?"


"tolong lacak seseorang untukku!!!"


"Berapa bayaran untukku?"


"YAK BRENGSEK!!! DISAAT SEPERTI INI KAU MASIH MINTA BAYARAN"


Mungkin Ye Jun sedang memegang kupingnya yang memerah sekarang, karena teriakan dari Hanna.


"Aishh, bisa tidak jangan teriak! Gendang telingaku bisa pecah"


"Lacak lokasi temanku sekarang, Cepat!!!"


"Siapa?!"

__ADS_1


"Temanku hanya satu, sudah jangan banyak tanya"


"Iyaa"


Tak beberapa lama, masuk pesan berupa sebuah lokasi dari Ye Jun.


Hanna langsung meminta sopir untuk segera pergi ketempat yang baru saja dikirim oleh Ye Jun.


Gadis itu begitu khawatir akan keadaan sahabat satu-satunya itu.


Saat di tengah perjalanan, Hanna tak sengaja melihat sebuah papan iklan besar yang terletak di tengah kota seoul.


Tubuh Hanna seketika lemas, bahkan sebatas menggenggam sebuah ponsel saja tangannya tak kuat, setelah melihat sebuah berita yang ramai di beritakan satu menit yang lalu.


"Hye Soo" gumamnya pelan


Hanna turun dari mobil dengan di awasi oleh sopir, gadis itu berjalan membelah para wartawan yang sedang berkumpul di depan sebuah gedung tinggi.


"Maaf, anda tidak bisa masuk" ucap polisi yang berdiri dibalik polis line.


Tapi Hanna terus mendorong tubuhnya agar bisa masuk namun polisi terus menahan Hanna agar tetap berada di posisinya.


Tangis Hanna pecah saat melihat petugas medis membawa jasad Hye Soo yang tertutup dengan kain putih.


Sedangkan sang sopir hanya bisa menahan tubuh Hanna agar tidak ambruk.


Gadis itu lantas berlari menyusul para petugas yang membawa jasad Hye Soo.


Bagai orang linglung, Hanna terus memaksakan dirinya untuk bisa melihat wajah Hye Soo untuk terakhir kalinya.


Tubuh Hanna bergetar, tangannya menggenggam kuat ponsel miliknya saat melihat mobil ambulance membawa sahabatnya.


"Nyonya!"


Sang sopir lekas menahan tubuh Hanna yang hampir ambruk, setelah syok melihat satu-satunya orang yang dekat dengannya tewas dengan begitu mengenaskan.


Hanna mendongakkan wajahnya untuk menatap atap gedung tempat Hye Soo terakhir kali berada.


"Bawa aku kerumah sakit" pintanya, dan tentunya anak buah dari suaminya itu langsung membawanya untuk pergi.


Tak butuh waktu lama untuk sang sopir sampai di rumah sakit.


Hanna berlari masuk dan menanyakan dimana jasad Hye Soo berada.


Perawat membawa Hanna menuju kamar mayat, dimana banker Hye Soo berada.


Dengan langkah tak berdaya Hanna berjalan menuju banker sahabatnya.


"Hanna" seru Ibu Hye Soo yang sedari tadi tak berhenti menangisi anaknya.


Ia melihat wajah cantik Hye Soo terlihat begitu pucat, disaat itulah tangis Hanna kembali pecah.


Hampir 30 menit, akhirnya Hanna keluar dengan menyisakan air mata yang mengering dan mata yang sembab.


Bahkan saat orang tak sengaja menyenggol bahunya, Hanna sudah tak memperdulikannya lagi.


Pria yang tadi tak sengaja menyenggol bahu Hanna menoleh, dan melihat Hanna yang sama sekali tak menghiraukan sekitarnya.


...****************...


.


.


.


Jangan Lupa like, tinggalin jejak di komen, vote, dan share, biar author semangat up ep-nya.🥰


.

__ADS_1


.


__ADS_2