
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapat hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
Typo bergentayangan, mohon di maklumi
...****************...
Hanna mengangguk pelan meng-iyakan ucapan Jae Hwan.
"kurasa ini alasan Bae Han Ju mengincar kedua orang tuamu,"
"Kau yakin?! Orang seperti dia membunuh orang tuaku hanya karena istrinya?"
"Dengar Jae Hwan! Bae Han Ju sangat menyayangi Jang Shin Ah istrinya. seharusnya hari itu Nyonya Jang yang mendapatkan donor ginjal, tapi Shin Myung Il menggunakan koneksinya agar ibumu menjadi prioritas" jelas Hanna memutar kursinya agar berhadapan dengan Jae Hwan.
"Ayahku hanya terjebak dalam situasi rumit yang terjadi di keluarga kalian. Semuanya bermula karena kesalahan itu!" sambung Hanna dengan nada bicara yang bergetar seolah ingin menangis
Jae Hwan hanya bisa terdiam, ia tak tahu harus bicara apa pada Hanna ditengah kebenaran yang sudah terpampang jelas di depan matanya.
"Kau masih berpikir Ayahku pembunuh?!" lirih Hanna yang kembali teringat akan sosok sang Ayah, walau kita ketahui jika Hanna adalah anak kandung Tuan Kang.
Bagaimana bisa seorang Jung Jae Hwan melewatkan kebenaran ini? semua informasi dengan mudah ia dapatkan, tapi kenapa yang satu ini tidak.
"Kenapa?-
"Kenapa? kau tak memeriksa seluruh kebenaran dengan benar! Jika saja kau tak menekan Ayahku untuk bicara, Bae Han Ju pasti tidak akan menyuruh anak buahnya untuk membunuh Ayahku!!!" potong Hanna, suasana hatinya sedang tidak stabil sekarang.
"Kenapa kau diam saja? Jawab aku..." Hanna memukul dada Jae Hwan pelan secara berulang.
"Maafkan aku Hanna!" seru Jae Hwan menarik Hanna kedalam pelukannya.
Saat itu juga air mata Hanna sudah tak bisa di tahan lagi, tangisnya pecah saat mengingat kembali mendiang Ayahnya.
"Kau jahat!"
"Kau bisa menyalahkanku semaumu, tapi berhentilah menangis!" Jae Hwan mencoba menenangkan Hanna yang sedang menangis sesegukan di dadanya.
"Kau jahat, kau menikahiku karena ingin balas dendam padaku, padahal kau juga salah" ucap Hanna sambil terus menangis.
"Ya, berhentilah menangis" sahut Jae Hwan, entah kenapa ia merasa ingin tertawa saat melihat Hanna bicara sambil menangis.
"Ya!!!"
"Why Why?"
"Kau menertawakanku?" jawab Hanna sembari menarik ingusnya.
Jae Hwan hanya menepuk-nepuk lembut kepala Hanna sambil menahan tawanya.
"Tapi Hanna-
"Why?"
__ADS_1
Bukannya menjawab Jae Hwan malah diam hingga membuat Hanna semakin kesal.
"Disaat seperti ini kau masih saja membuatku kesal" ucap Hanna yang dengan sengaja mengelap air matanya menggunakan dasi mahal milik Jae Hwan.
"Aishh... Kau mengotori dasiku! kau tahu ini harganya berapa?" kesal Jae Hwan.
"Berapa? satu dasi kotor tidak akan membuatmu jatuh miskin Tuan Jung."
Bahkan disaat seperti ini mereka berdua masih saja ingin berdebat.
"Daripada membeli dasi mahal, lebih baik kau berikan aku uang agar tidak dicela oleh Nyonya Han dan Nyonya Park" sambung Hanna.
"Kau seharusnya tidak membuatnya berbelit Hanna, kalau ingin uang katakan saja padaku!"
"Itu bukan alasan utamaku datang kesini" Hanna masih melakukan pembelaan diri.
"Kalau bukan alasan utama, artinya itu juga alasan kan, alasan lain!"
"Aishh, sudahlah... dasar tidak peka"
Jae Hwan tertawa kecil saat melihat ekspresi wajah Hanna yang kesal ditambah matanya yang sembab sehabis menangis.
"Jadi apa rencanamu sekarang! bukankah informasi yang ku berikan layak mendapatkan harga?" seru Hanna seraya memasang kacamata hitamnya, guna menutupi matanya yang sembab.
Kini wanita itu sudah duduk kembali di sofa dengan anggun.
Jae Hwan kembali berjalan menghampiri Hanna seraya membuka dompetnya.
"Pergilah belanja! ku dengar Nyonya Park sedang ada di Mall dekat sini." ujar Jae Hwan meletakkan sebuah kartu berwarna hitam diatas meja, benar itu Black Card.
"Kau sedang tidak mengerjaiku,kan?"
"Ini tidak kosong,kan?"
Jae Hwan memutar malas bola matanya, "kalau tak mau yasu- "Oke, thanks" lekas Hanna mengambil kartunya dan pergi dari ruangan Jae Hwan untuk pergi ke mall sesegera mungkin sebelum Nyonya Park pulang.
"Tunggu dulu! dimana pria itu tahu Nyonya Park ada di Mall?!"
"ah, sudahlah Hanna. kita lihat saja nanti... Akan ku pastikan kau malu Nyonya Park!!!" gumam Hanna sambil tersenyum puas sebelum pintu lift terbuka dan memperlihatkan loby dimana ada banyak orang.
Sementara itu, Jae Hwan sedang duduk di kursi kerjanya dan melihat berkas lama yang diberikan Hanna padanya.
Ia lantas meraih ponselnya untuk menelpon seseorang.
"Cari informasi sebanyak mungkin tentang Jang Shin Ah..."
"Baik Tuan"
Jae Hwan meletakkan kembali ponselnya setelah menghubungi orang tadi.
...****************...
Disisi lain, Hanna telah sampai di Mall besar yang tak jauh dari perusahaan Jae Hwan.
Dengan di iringi Jung Wo, wanita itu melenggang masuk kedalam Mall dengan wajah pongahnya.
"Tidak sia-sia informasi yang kuberikan" Mengingat dirinya berhasil mengeluarkan kartu hitam milik Jae Hwan dari dompetnya.
"Ini kesempatanmu untuk membalas ucapan Nyonya Park malam itu Hanna" gumamnya lagi.
__ADS_1
"Hanna!"
Suara seseorang menghentikan langkah Hanna yang sedang melihat-lihat barang mewah yang tersaji di toko-toko yang ia lewati.
Hanna membalik tubuhnya untuk melihat siapa yang memanggilnya.
"Eun Ji Hyo?!"
Entah kenapa, Hanna langsung putar badan dan melanjutkan langkahnya seolah tak ingin bicara dengan wanita itu.
"Hey, kau Kim Hanna bukan?!" serunya lagi saat melihat Hanna menghindarinya.
"Kau mengenalnya nona?!" tanya Jung Wo
"Tidak, aku tidak mengenalnya, kita pergi sekarang?" ucap Hanna.
"Ternyata kau masih saja penakut, Kim Hanna!" ucap Ji Hyo dengan nada agak keras hingga mengundang beberapa orang menatap ke arahnya dan juga Hanna yang belum jauh dari posisi Ji Hyo.
"Aku tidak mungkin salah orang, kau Kim Hanna bukan?" ujar Ji Hyo berjalan mendekati Hanna yang sedari tadi menghentikan langkahnya namun masih berdiri membelakangi Ji Hyo.
Ji Hyo langsung meraih pundak Hanna hingga mereka saling menatap satu sama lain.
"Benar ternyata..." Ji Hyo tersenyum
"Maaf Nona, anda siapa?" sela Jung Wo sembari menyuruh Ji Hyo untuk mundur agar tidak terlalu dekat dengan Hanna.
"Yah... penampilanmu sangat berubah Hanna," ujar Ji Hyo menatap Hanna dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Hanna hanya diam bahkan ia sama sekali tak menatap Ji Hyo seolah tak ingin bicara padanya.
"Apa kau menjual dirimu?!"
"Jaga omongan anda Nona!" peringat Jung Wo.
"Mwoya, kau punya pengawal sekarang?" ucap Ji Hyo sambil tertawa meremehkan Hanna.
"Katakan saja yang ingin kau katakan, aku tidak punya waktu meladeni wanita sepertimu" kata Hanna seraya menyilang kedua tangannya.
"Oh. tenang, aku hanya ingin menyapamu... lama tidak bertemu uri chin-gu (temanku)"
"Hmm... kabarku baik, permisi!" balas Hanna yang langsung saja pergi meninggalkan Ji Hyo.
"Sombong sekali jal*ng itu, kita lihat.. sejauh mana dia bisa menghindar dariku" gumam Ji Hyo yang kembali pada tujuannya datang ketempat ini sekarang.
"Kau mengenalnya nona?" tanya Jung Wo sekali lagi, ia penasaran siapa wanita yang tadi membuat Hanna bergetar ketakutan walau tak nampak, namun Jung Wo merasakan itu.
"Dia hanya salah satu kenalanku di sekolah" sahut Hanna yang kini melangkah menuju sebuah toko tas mewah dimana ia melihat Nyonya Park sedang membeli sesuatu disana.
...****************...
.
.
.
Jangan Lupa like, tinggalin jejak di komen, vote, dan share, biar author semangat up ep-nya.🥰
.
__ADS_1
.