
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
...****************...
Sepulang dari pemakaman, mereka semua berkumpul di mansion milik Seok Hyun.
"Aku akan mencari pelakunya dan membalas perbuatannya pada bibi Cha dengan lebih kejam" tukas Jae Hwan dengan nada datar namun di iringi ekspresi bringasnya.
"Apa kalian sama sekali tidak ada yang peduli dengan Hana?" celetuk Tae il sukses membuat ke enam pria itu menoleh kearahnya.
"Benar, aku melupakannya karena terlalu sibuk dengan pemakaman bibi Cha" sahut Yoon Wo merasa bersalah, karena walau begitu Hana juga terluka parah akibat kejadian kemarin malam.
"Aku sudah meminta Jaksa Lee untuk menyelidiki kasus ini, jika ada hal yang mencurigakan dia akan langsung mengabari kita" ucap Seok Hyun.
"Apa kau benar-benar tidak melihat pelakunya malam itu Hyung?!" tanya Si Hwan tapi hanya mendapat gelengan dari Jae Hwan.
"Kalau begitu, pelakunya pasti sudah terlatih. bagaimana bisa dia melewati keamanan di sini dengan begitu mudah" kata Si Hwan di angguki setuju oleh yang lain.
"Melihat dari tusukannya, sepertinya dia orang yang kidal" tambah Jae Hwan.
"Tunggu dulu! bukankah malam itu Hana juga bersama bibi Cha, dia pasti tau apa yang terjadi malam itu." tukas Ye Jun.
"Kau benar"
Seketika mereka menatap kearah Tae Il yang menghela kasar napasnya.
"Saat seperti ini kalian ingat dengan Hana? sebelumnya kalian kemana. bahkan hanya aku dan Jin Sung yang mengantarnya ke ruang operasi" tutur Tae Il sukses membuat yang lain bungkam seribu bahasa.
"Sia-sia, kalian tidak akan mendapatkan jawaban apapun dari Hana. dokter memponisnya mengalami amnesia karena karusakan otak" jelasnya.
"Tapi itu bisa di sembuhkan, bukan?!" sahut Jae Hwan.
"Tergantung lingkungan dan bagaimana dia dirawat. dokter mengatakan itu bisa saja jadi permanen jika Hana tidak mau mengingat hal apapun tentang masalalu-nya"
"Dan aku berharap, Hana tidak akan mengingat apapun itu masalalu-nya" sambung Tae Il dalam hatinya dengan harapan begitu besar.
"Kalau begitu, bawa dia ke mansionku. aku akan merawatnya sampai ingat kembali dengan ingatan yang seharusnya dia ingat "
"Aku tidak setuju, melihat kau pernah menyiksanya aku tidak akan membiarkan itu" potong Tae Il.
"Apa urusannya denganmu"
"Sampai kapanpun, aku tidak akan membiarkan Hana bersamamu hyung" tekan Tae il yang langsung bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan yang lain.
__ADS_1
"Kenapa dengannya?" ucap Jae Hwan heran sambil memperhatikan kepergian Park Tae Il.
"Lebih baik kau bicara dan bersepakat dengannya, aku yakin jika Tae Il sudah menentukan targetnya. dia tidak akan melepaskan-nya, apalagi melihat kesempatan seperti ini" kata Seok Hyun yang tahu betul bagaimana Tae Il jika sudah berkomitmen.
...****************...
Sesuai dengan saran Seok Hyun, pria itu pergi kerumah sakit untuk bicara dengan Tae Il, sekaligus memastikan Hana berada di tangannya.
Bukan karena khawatir, tapi kali ini ia memanfaatkan Hana untuk mengetahui apa yang telah terjadi.
"Ayo kita bersepakat" tawar Jae Hwan sambil menutup pintu.
"Apa?"
"Kau bisa tinggal di mansionku, sampai Hana sembuh dan memastikan Hana mendapatkan ingatannya" ucapnya.
"Apa kau pikir dia boneka yang bisa kau gunakan hanya untuk keuntungan dan kesenanganmu?" sahut Tae il tajam.
"Apa bedanya denganmu yang tidur dengan para wanita hanya untuk kepuasanmu! apa kau juga menginginkan tubuh gadis ini"
Ucapan Jae Hwan berhasil membuat kedua tangan Tae Il mengepal sempurna.
"Oke, tapi dengan syarat" sahut Tae Il, tanpa mengetahui apa yang diinginkan oleh Hana. yang sama sekali tidak tau menau apa yang akan terjadi dengan hidupnya kedepan.
Mereka mengambil keputusan seolah itu adalah keputusan Hana, seenaknya. itulah yang mereka lakukan sekarang.
"hyung tidak boleh bicara apapun pada Hana atau menyentuhnya. aku sendiri yang akan membantunya untuk mendapatkan ingatannya-
"Hanya itu?" sahut Jae Hwan dan di angguki oleh Tae il.
"Oke deal" sahut Tae Il seraya membenarkan selimut Hana.
Jae Hwan menerima persyaratan Tae il, semata-mata hanya untuk menghormati dirinya, dan ia bisa memantau keadaan Hana.
...****************...
Dua minggu berlalu, dan sesuai kesepakatan mereka. Hana di pindahkan ke mansion Jae Hwan diiringi dengan Tae Il yang juga akan tinggal di sana.
"Dimana aku?"
Hana terbangun dari tidur panjangnya dan melihat ke sekeliling dengan perasaan heran. Ia rasa, tak pernah melihat tempat ini. Jadi, ini dimana?
Ia menyibak selimut dan beranjak dari ranjang kemudian membuka tirai dengan lebar dan melihat keluar. "Perasaan aku tak pernah melihat tempat ini."
Karena rasa penasaran yang terus menghantuinya, Hana lantas memberanikan dirinya untuk pergi keluar dengan membuka pintu kamar secara perlahan-lahan. setelah memantau sekitar dan rasa aman, Hana bergegas menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa.
Rumah ini sangat besar, bahkan lebih besar dari mansion Seok Hyun dan Yoon Wo. Apakah Hana juga harus menyebutnya mansion?
Tibalah Hana di dapur, ia termangu melihat semua peralatan masak yang bisa dibilang super lengkap. bahkan semuanya tertata dengan begitu rapi.
"Wah, bagusnya!" puji Hana dengan memandangi interior di mansion ini. Ya, Hana memilih untuk menyebutnya sebagai mansion.
__ADS_1
Padahal Hana tak tahu jika ada seorang pria yang melihat tingkah konyolnya sedari tadi. pria itu tersenyum hingga memperlihatkan lesung pipi yang ada di sisi atas bibirnya.
Dasar bodoh ucap pria itu dalam hati.
Pria itu akhirnya keluar dari tempat ia berada.
"Hei"
Hana terkejut dengan kedatangan pria itu dengan tiba-tiba. Saat melihat siapa pelakunya, wajah Hana mulai datar dan terkesan ketakutan. "Siapa kau? kenapa kau bisa ada di sini, dan dimana ini?!"
"Ini mansionku, dan sekarang kau berada di mansionku."
"Omong kosong apa ini? kau pasti penyusup,kan. mansion ini pasti milik
Tae il" kata Hana sambil memundurkan langkahnya, karena saat ia sadar Tae Il sudah mengatakan jika ia akan tinggal di mansion miliknya, dan Hana pikir saat berjalan kedapur. mansion ini adalah milik Tae Il.
Pria itu, Jae Hwan. Ia hanya berjalan santai melewati Hana dan mulai mengambil air dingin untuk ia minum.
Sedangkan Hana, ia hanya menjaga jaraknya karena merasa takut dan was-was jika pria ini melukainya.
Setelah meletakkan kembali botol minum kedalam kulkas, dan berlalu pergi meninggalkan Hana sendirian di dapur.
Namun baru beberapa langkah pria itu melangkah pergi dari dapur, terdengar suara raungan yang kian membesar "Tolong! menjauh lah! aku hanya ingin hidup normal tolong!"
Jae Hwan yang melihat itu mulai melangkah kembali menuju dapur dengan alis yang bertaut. "Hei, kau kenapa?"
"Ck. sudahlah. Jangan bermain sandiwara denganku. kau seperti ini hanya agar mendapat simpati dariku bukan" ujar Jae Hwan dengan asal.
"Hyung, apa yang kau lakukan" tanya Tae Il yang langsung berlari menuju Hana yang duduk tersungkur di lantai sambil memegangi kepalanya, seakan merasakan kesakitan yang teramat di bagian kepalanya.
"Jangan bunuh aku! cukup pria gila itu saja yang menyiksaku. jangan bunuh aku!" teriak Hana kembali dengan menjambak rambutnya berkali-kali.
Melihat itu membuat Tae il langsung memeluk gadis itu untuk menenangkan-nya.
"Tenanglah, aku sudah kembali" ucap Tae Il dengan tutur kata yang begitu lembut.
"Apa yang sebenarnya terjadi malam itu, sampai Hana menjadi seperti ini" gumam Tae Il sambil membantu Hana bangkit, dan tanpa henti menepuk lembut pundaknya.
Baru kali ini, seorang Park Tae Il bersikap lembut dengan seorang wanita tanpa maksud untuk menidurinya.
Tidak ada nama yang di ingat Hana, selain Park Tae il, pria yang selalu ada di sampingnya. walau Hana juga tidak yakin siapa sebenarnya pria yang membantu nya sejauh ini.
...****************...
.
.
.
Jangan Lupa like, tinggalin jejak di koment, vote, dan share, biar author semangat up ep-nya.🥰
__ADS_1
.
.