
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
...****************...
“Apa akhir-akhir ini kau pernah melihat pria mencurigakan mengawasi bibimu?” tanya Yoon Wo sambil menatap lekat wajah Hana.
Pertama Hana menggeleng ragu sambil mengingat tapi ia tidak merasa jika ada orang yang mengawasi bibinya dan ia selama berada di rumah sakit.
“memangnya ada apa?” tanyanya penasaran.
“Kalau begitu apa kau mendapatkan hal lain tentang bibimu?” tanya Yoon wo sekali lagi, sukses membuat Hana terdiam sejenak. Mengingat ia pernah melihat pesan dari ponsel bibinya.
“Kau dapat sesuatu?”
“Katakan saja Hana, ini untuk mempermudah penyelidikan kami dan memastikan siapa pembunuh sebenarnya” ucap tae Il beralih duduk disamping Hana.
“Hmmm~ buaya darat beraksi” ejek Jin Sung
“Sebenarnya, beberapa hari yang lalu aku pergi ke Sia Bank untuk melacak rekening Bank yang mengirimkan uang untuk bibi, dan nomor itu sama dengan nomor rekening yang mengirimkan uang padaku setelah tragedy itu. Dan dia juga mengirimkan ini…”
Hana meletakkan ponselnya di atas meja agar para pria itu bisa melihatnya.
“persis seperti dugaanmu hyung” ucap Si Hwan yang juga ikut melihat pesannya.
“Ye Jun kau lacak ini”
“Oke” sahut Ye Jun yang langsung pergi mengambil laptop di mobilnya.
“Apa ada peluang untukku mendapatkan pembersihan nama untuk Ayahku?” tanya Hana dengan tatapan penuh harapan pada pria di depannya.
“aku tidak bisa berjanji Hana, sebelum semuanya jelas maka peluangnya 50% 50%. Antara bersalah dan tidak bersalah” jelas Yoon Wo, yang sebelumnya yakin jika Ayah Hana bukan pelakunya tapi seiring berjalan waktu dan bukti yang di dapatkan semuanya mengarah pada Kim Yeon-U, ketika melihat rekaman cctv yang sempat merekam Ayah Hana membuang sebuah botol obat di tong sampah yang tidak jauh dari hotel tempat orang tua Jae Hwan tewas.
Walau terlihat sering sibuk dengan pekerjaannya, tapi Yoon Wo dan yang lain selalu membantu Jae Hwan untuk menyelesaikan teka-teki kematian orang tuanya.
“ini nomor pribadi, sulit untukku melacaknya kecuali ada persetujuan dari pihak pemerintahan” kata Ye Jun yang masih fokus pada laptopnya.
“Lanjutkan saja, aku akan menghubungi Se Jin untuk bicara dengan mereka”
Ye Jun mengangguk dan melanjutkan apa yang sedang ia kerjakan.
Jae Hwan yang baru saja datang langsung duduk di kursi kosong dan sialnya itu di samping Hana, hingga membuat wanita itu di apit oleh Tae Il dan Jae Hwan.
__ADS_1
Hana bangkit dari duduknya berniat untuk pindah atau berdiri saja yang penting ia tidak berada di dekat keduanya.
“Mau kemana?”
Tae Il dan Jae Hwan tanpa sadar berbarengan menahan lengan Hana lalu menariknya untuk duduk lagi di tempatnya.
“Apa kau dapat sesuatu dari jal*ngmu ini,,, Ah. tidak! Maksudku dia” ucap Jae Hwan menunjuk Hana namun sorot matanya mengarah pada Yoon Wo.
Hana sontak langsung melirik tajam Jae Hwan yang baru saja menyebutnya sebagai jal*ng Yoon Wo.
“Lee Bong Cha menerima uang dari nomor rekening yang sama dengan Hana” ucap Yoon Wo
“dan dia juga mendapatkan pesan ini.” Tambahnya seraya memberikan ponsel Lee Bong Cha pada Jae Hwan.
“Apa pilihan tepat aku memberitahu kalian.” Tukas Hana beralih menatap Yoon Wo.
“Jika kau tidak bisa percaya dengan mereka, kau bisa percaya padaku” kata Tae Il seraya merentangkan tangannya berniat ingin merangkul bahu Hana.
Bahkan di situasi itu, Park Tae Il masih gencar melakukan tipu dayanya pada Hana agar wanita itu tertarik padanya dan berakhir di ranjang panas bersamanya, Karena itulah yang ia inginkan.
Cinta? Jangan pernah berpikir pria penggila s*x ini akan terbuai dalam manisnya dunia percintaan, karena sejatinya dirinya telah di bentuk oleh ketidakpedulian orang tuanya hingga berakhir menjadi pria yang mencari kesenangan dengan menjamah sisi sensitive dari para wanitanya.
Tapi jagan bilang semuanya akan berjalan lancar jika ada Jin Sung, si pria tengil yang selalu menghamburkan uang keluarganya.
Karena menggagalkan setiap rencana Tae Il dan membuatnya kesal adalah salah satu motto hidupnya.
Dengan santainya, Jin Sung lewat di hadapan tae Il dan duduk tepat di pangkuan Hana hingga membuat yang lain membelalakkan matanya atas tingkah adik Ye Jun yang satu ini.
Hana yang kala itu kaget, respect langsung mendorong Jin Sung hingga pria itu terhuyung kedepan dan lututnya menghantam meja.
Akhhh~
"MAMPUS", cicit Tae il tertawa puas saat melihat pria muda itu kesakitan.
"Sudah jatuh tertimpa tangga pula" kata Seok Hyun karena sebelumnya Jin Sung juga jatuh.
"Apa kalian tidak bisa serius?!" tukas Jae Hwan menatap dingin para pria itu satu persatu.
Saat suasana kembali sunyi tanpa ada yang bicara, Tae Il dan Jin Sung masih asik nyolot satu sama lain dengan bicara menggunakan gerakan bibir.
"Sepertinya aku mendapatkan lokasi terakhir dari nomor yang mengirim pesan pada bibi Hana." ujar Ye Jun memperlihatkan laptop-nya pada yang lain.
Lekas Jae Hwan langsung menghubungi Jung Wo untuk pergi ke lokasi yang sudah di berikan oleh Ye Jun.
"Oh~ posisinya berubah. sepertinya nomor ini ada di ponsel yang masih aktif." kata Ye Jun mengamati pergerakan dari titik kordinat yang ia dapatkan .
"Tapi... "Kenapa? apa kau dapat hal lain?!" potong Yoon Wo
"titiknya mengarah kesini" jawab Ye Jun menatap Yoon Wo dan Jae Hwan secara bergantian.
__ADS_1
"Kau yakin?!" perjelas Jae Hwan
Ye Jun mengangguk yakin.
Disaat mereka sedang sibuk mengurus masalah nomor telpon yang mengirim pesan pada bibi Hana, panggilan dari suster kepada dokter terdengar begitu jelas di telinga mereka.
"Kode Blue.. kode Blue... Dokter Im Song Chan diharap ke ruang ICU. pasien Lee Bong Cha mengalami penurunan tekanan darah."
tanda peringatan akan adanya hal tidak beres, membuat Hana langsung bangkit dan berlari keluar menuju ruangan bibi nya.
Bukan hanya Hana, bahkan para pria itu juga ikut berlari menyusulnya.
Jika terjadi sesuatu pada Lee Bong Cha, maka satu lagi petunjuk atas tragedy itu akan lenyap.
"100 Joule... Shot"
....
"200 Joule... shot"
Dokter terus melakukan pertolongan dengan menggunakan defiblator untuk memicu jantung Lee Bong Cha yang sedang mengalami gagal jantung.
Hana hanya bisa terdiam kala dokter masih berusaha untuk mengembalikan detak jantung bibinya.
Sedangkan yang lain, mereka berdiri tepat di belakang Hana tanpa ada yang bicara sama sekali.
Tapi entah kenapa, Jae Hwan kembali teringat akan kematian orang tuanya.
Tubuhnya bergetar bahkan kedua tangannya mengepal dengan begitu kuatnya.
Traumanya akan kesaksian langsung saat kedua orang tuanya sudah tidak bernyawa terekam jelas diingatannya.
"Beres...."
pria berpakaian serba hitam itu lekas pergi dari sana setelah mengabari atasannya.
ia menurunkan topinya agar wajahnya tidak terekam sedikitpun oleh cctv.
...****************...
.
.
.
Jangan Lupa like, tinggalin jejak di koment, vote, dan share, biar author semangat up ep-nya.🥰
.
__ADS_1
.