
Setelah menyelesaikan permasalah krisis desa Hugo, hari-hari Li Zhu yang tidak lain Yin Jinze itu terasa begitu membosankan karena di penuhi dengan waktunya untuk membuat kakek tua Chu Batian sebagai tabib ilahi agar menyembuhkan peliharaan kekasihnya rubah putih yang bernama Feng Shui. Begitu Feng Shui berubah menjadi bola putih seperti salju, dia merasa lebih bahagia karena waktunya bersama Lin Qiu Xi menjadi lebih panjang. Setidaknya tidak ada orang ketiga yang mengusik waktu keduanya dan menjadi seorang pelakor di antara mereka.
Tapi kebahagiaannya berangsur menghilang tanpa jejak saat Jiang Su menempel di sebelah Lin Qiu Xi sepanjang waktu, menjadi dekat dan lebih dekat. Dan bawahan itu menjadi penghalang baginya. Sikap Jiang Su pada Qiuxi bukan seperti sikap bawahan pada nona mereka, itu jauh lebih.. Jiang Su yang membantu semua urusan Qiuxi, menemaninya dan bahkan sampai bersembunyi di bayangan malam di dalam kamar mereka.
Memikirkan hal itu, mata Li Zhu jauh lebih berkabut. Dia sering sekali mengeluh pada Qiuxi jika suasana malam hari di kamar mereka terasa sesak. Tentu saja sesak bukan karena menampung dua orang, tetapi hawa keberadaan yang terasa berat yang di pancarkan oleh Jiang Su. Meskipun Qiuxi sudab menyuruh para Pasukan Bayang yang selalu bertugas di kamar mereka di kegelapan agar tidak bertugas karena Qiuxi merasa Li Zhu bukanlah ancaman, jadi dia melonggarkan sedikit penjagaannya dan hanya Jiang Su lah yang satu-satunya tidak mematuhi ucapannya.
Dan ketika Jiang Su tidak ada, Li Zhu menghembuskan nafasnya dengan suka cita, wajahnya yang seperti roti kukus sekarang menjadi cerah. "Udara sekarang lebih bersih dari sebelumnya, Wangfei ataukah kemarin-kemarin fentilasi jendela kita tersumbat sesuatu?"
Meski Li Zhu memiliki ekspresi yang ceria, tapi Qiuxi melihat ekspresi kesal di mata Li Zhu dan pria itu bertingkah merajuk. Qiuxi mendesah nafas. "Hanya perasaan mu saja, jangan berhalusinasi."
Yin Jinze ketika memikirkan interaksi Lin Qiu Xi dengan bawahan pria, dia mengaitkan sudut mulutnya dengan jejak kecemburuan yang besar dan matanya jauh lebih pekat dan gelap. Seperti tadi siang, Qiuxi berbicara dengan Jiang Su sangat dekat. Jika orang lain yang tidak mengetahuinya mereka akan mengira jika Jiang Su dan Qiuxi adalah sepasang kekasih baru. Yin Jinze mencengkram tangannya dan meninggalkan bekas titik-titik di telapak tangannya. Qiuxi adalah istrinya, antara dia dan Yin Jinze sudah sah. Melihat kedekatan Jiang Su dengan Qiuxi, Yin Jinze ingin menghukum gadis yang sudah menjadi miliknya karena membuatnya merasa pedihnya dari rasa cemburu.
"Ada apa dengan mu, apa ada sesuatu yang salah?" Qiuxi melembutkan perkataannya yang jauh dari acuh seperti sebelumnya setelah melihat mata gelap Li Zhu berubah menjadi dingin seperti tidak biasanya. "Katakan padaku, jika ada masalah aku akan membantu mu."
Yin Jinze tidak bisa bilang permasalahan yang menguras hatinya, dia menurunkan alisnya lembut lalu mengekpresikan safir hangat begitu mengetahui Lin Qiu Xi mempedulikannya meskipun dia sekarang dalam tampilan seorang pria yang gemuk, bahkan jelek. Seorang gadis bahkan mengendus jijik ke arahnya, tapi Lin Qiu Xi sungguh tidak merasa risih padanya sedikitpun.
__ADS_1
"Kau begitu peduli padaku, aku sangat beruntung." Tapi Yin Jinze tidak melupakan tadi siang gadisnya sangat dekat dengan pria lain. Sambil memikirkan cara untuk menghukum kekasihnya, Yin Jinze melengkungkan sudut bibirnya. Matanya menyimpit membentuk lengkungan, dia berkata dengan lebih lembut dari Qiuxi. "Hanya ada urusan yang sedang aku pikirkan. Wangfei, tidurlah lebih awal."
Qiuxi mengangguk dan memberi gumaman pelan. "Mn."
Entah kenapa setelah menerima perintah Li Zhu, Qiuxi merasa mengantuk. Dia melihat punggung pria gemuk itu keluar pintu, setelah menutupnya Qiuxi menguap dan berjalan ke tempat tidur dan melepaskan pakaian luarnya mengambil seprei putih dan bantal putih untuk membungkus tubuhnya agar lebih nyaman. Hanya berselang beberapa saat, dia sudah terhanyut dan tanpa sadar memejamkan iris hitamnya untuk tertidur.
Setelah memastikan Lin Qiu Xi tertidur, seorang pria tampan bertubuh ramping itu merangkak ke atas tempat tidur dan berhenti di sebelah Lin Qiu Xi. Membenamkan tubuh mungil gadis itu ke dalam dada bidangnya. Tangan Yin Jinze perlahan terulur, menyapu lembut rambut lurus Lin Qiu Xi dan menaruhnya di belakang telinga dengan hati-hati dan tangannya memeluk erat pinggang gadis itu yang seolah-olah bisa menyalurkan sensasi yang lebih panas dan merah, dan dengan gerakan perlahan dengan lembut Yin Jinze menelusuri pinggul mungil yang membangkitkan gairahnya itu dan matanya semakin tenggelam lebih dalam.
Yin Jinze menarik dagu Lin Qiu Xi, mengusap telinganya. Berkata pelan agar nafas panasnya tidak membangunkan gadis yang terkubur dalam dadanya.
Mata Yin Jinze semakin bertambah gelap, pupilnya menyimpit seolah mengatakan dia hampir tidak bisa menahan keinginannya.. melahap gadis yang sekarang di miliknya. Sekarang juga.. malam ini.
Yin Jinze sudah menahannya sangat lama, mencari kekasihnya selama hampir setengah hidupnya. Kerinduan pada gadis di pelukannya begitu dalam dan dia membelai rambut hitam panjang Qiuxi dengan hati-hati, jari-jari rampingnya menelusuri setiap lekukan wajah Lin Qiu Xi sangat lembut seperti takut kulit tangannya menggores kulit seputih giok Lin Qiu Xi.
Dia mengumamkan nama gadis itu berkali-kali, seperti melantunkan mantra kehidupan. "Aku mencintaimu.. aku sangat mencintai mu."
__ADS_1
Tanpa di duga Lin Qiu Xi menautkan alisnya, menggeliat dalam pelukan Yin Jinze dan sedikit mendesah. Mendengar suara ******* tanpa dasar Qiuxi, mata Yin Jinze semakin dan semakin gelap, sudut-sudut mulutnya melengkung ke atas menunjukkan senyuman penuh kepuasan dan pelukannya semakin erat ketika kedua tangannya berubah menegang.
Suara itu seperti siklus yang menarik Yin Jinze dari batas pertahanannya. Yin Jinze perlahan menundukkan kepalanya dan kemudian dengan lembut dia membenturkan bibirnya ke bibir lembab Qiuxi, Menjilatnya dan sesekali menghisapnya. Awal ciuman itu sangat lembut penuh dengan kehati-hatian, perlahan berubah kasar dan penuh dengan ritme posesif. Seperti binatang liar yang menerobos kekangannya, Yin Jinze memasukkan lidahnya ke dalam mulut Qiuxi dan menjalin keduanya dengan panas.
Ciuman Yin Jinze semakin dalam dan dalam, lidahnya mengambil alih kedalaman mulut gadis di pelukannya, kemudian mengigit ringan bibir tipis yang berwarna merah muda itu. Tindakannya semakin haus dan liar, matanya masih gelap untuk melahap gadis itu lebih dalam tapi takut membangunkan gadis itu, sebagai gantinya Lin Qiu Xi menautkan alisnya seperti terusik. Sesekali bulu mata panjang itu bergetar, tapi tidak menunjukkan tanda-tanda untuk bangun.
Yin Jinze mengangkat seringaian di mulutnya.
Seperti telah kecanduan, Yin Jinze melepas ikatan pinggang Lin Qiu Xi. Menurunkan pakaiannya untuk mengungkap kulit putih yang sangat andil itu yang terlihat begitu bersih seperti porselen putih. Yin Jinze membenamkan wajahnya di lekukan leher Lin Qiu Xi kemudian meninggalkan bekas gigitan dan ciuman berwarna merah samar di sana.
Begitu kulit putih itu penuh bekas ciuman dari bibirnya. Yin Jinze langsung mengungkapkan wajah yang bahagia. Yin Jinze merasakan sesuatu di bawah perutnya sudah berdiri tegak, wajahnya bertambah jauh lebih berat dan berkabut. Untuk sekarang dia tidak bisa melakukannya atau gadis mungil di pelukannya akan terbangun, ketika Yin Jinze menahan benda kerasnya ekspresi wajahnya begitu menyedihkan dan menderita. Dia perlahan membenarkan pakaian Qiuxi dan membungkusnya seperti semula, meraih tubuh mungil itu ke dalam dekapannya dengan erat. Yin Jinze membenamkan sapuan bibirnya ke dahi Lin Qiu Xi begitu mesra, seolah enggan menarik bibirnya untuk meninggalkan ciumannya bahkan untuk sejenak.
Sekali lagi Yin Jinze kembali menempelkan bibirnya di dekat telinga Lin Qiu Xi dan sesekali menggosok daun telinga itu dengan hidungnya. "Aku akan lebih menghukum mu lain kali, jadi.. jangan dekat dengan pria lain lagi."
Kabut di mata hitamnya semakin pekat, dia tersenyum dingin. "Atau aku benar-benar akan marah.. dan sesuatu yang sudah keras di bawahku ini, aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi."
__ADS_1