
"Kau.." Xi Ze mengeryitkan keningnya dan bertanya.
"Jelaskan padaku kenapa kau bisa memiliki energi jiwa yang lebih meluap dari kebanyakan orang?"
Qiuxi ingin sekali menyembunyikan kenyataan bahwa dia sebenarnya hanyalah seonggok jiwa yang di trasmingrasi, tapi di bawah kendali seorang Xi Ze seolah-olah pemikirannya yang ada di lautan pengetahuannya terhubung dengan seseorang yang misterius itu yang juga sebenarnya di dalam novel tidak pernah ada kejelasan tentang kemunculan Xi Ze di manapun.
Kehadiran Xi Ze, jelas melenceng sangat jauh dari alur yang seharusnya.
Xi Ze tiba-tiba bertanya pada Qiuxi. "Kau sebenarnya berasal dari abad lain, yang beriklim sangat panas?"
Qiuxi bertanya seolah dia terusik. "Memangnya kenapa kalau aku bukan dari dunia ini?"
"Bukan apa-apa, hanya saja.." Xi Ze menggelengkan kepalanya. "Ini sedikit sangat.. aneh."
Qiuxi mengangguk sangat setuju bahwa apa yang terjadi padanya sangatlah aneh. "Yang kamu katakan benar.."
"Rasanya juga sangat aneh, rasanya bahkan hampir membuat aku sendiri kehilangan akal.." Qiuxi bergumam tipis, meskipun dia berkata dengan suara yang nyaris tidak bisa di dengar dan dengan suara yang rendah sekalipun, baik dia ataupun Xi Ze sama-sama bisa mendengarnya dengan sangat jelas.
Bagaimana dia yang hanya segelindinggan pengemis dari kota Jakarta bisa tiba-tiba mengalami peristiwa besar yang terjadi di dalam hidupnya, di kirim ke dalam sebuah novel.. apa itu masuk akal?
Jika ada orang lain selain Xi Ze yang mengetahui kenyataannya, dia jiwa yang di trasmingrasi.. mereka pasti akan sangat tidak percaya dan pasti akan mutah berdarah-darah.
Apalagi dia seseorang yang berasal dan hidup di Indonesia, kenapa dia bisa di kirim ke sebuah novel china kuno? Bukan ke dunia yang bernuansa Nusantara atau kerajaan Mataram kuno.. melainkan ke Kekaisaran yang ada sebelum abad ke-21.
Meskipun kerumitan yang ada di dalam kepalanya membuatnya berdeyut sakit tapi kenyataan ketakutannya masih sangat besar.. bahwa di kehidupannya kedua ini sekalipun, dia gagal mengubah apapun dan berakhir seperti sampah lagi.
Saat memikirkan kenyataan rumit seperti itu yang mengaggu akal sehatnya, tanpa terasa keesokan harinya hanya beberapa jam setelahnya Qiuxi beristirahat dari pertemuannya dengan Xi Ze di lautan pengetahuannya, pagi mulai menyising.. udara segar mengisi ruangan di sekitarnya dan cahaya matahari menembus kusen seperti pedang yang cerah.
__ADS_1
Kali ini Qiuxi mendatangi Shan Shie yang sedang bersama Bai Qingyun yang berada di ruangan sebelah.
Tapi tanpa yang dia duga, dia melihat Bai Qingyun yang kebetulan sedang berganti pakaian.
Bai Qingyun berbalik. "Qiu'er..?"
Selain sebagai seorang jenius berbakat di usia muda di Paviliun Seribu Obat, Bai Qingyun juga seorang pria tampan dengan kulit seputih giok yang selalu menarik perhatian banyak gadis yang dia temui. Kulit putih Bai Qingyun tidak pernah orang lain bisa melihatnya karena Bai Qingyun sendiri selalu mencintai kebersihan dan pakaian rapi yang berlapis sampai di atas kerahnya dan membuat penampilan pria itu sebenarnya sangat tertutup.
Kali ini Bai Qingyun masih memperhatikan wajah Qiuxi agar melihat satu kerumitan di wajahnya berharap gadis itu memikirkan sedetikpun saat Qiuxi melihat dia belum sempurna berpakaian, Bai Qingyun tidak menemukan apapun selain wajah datar yang selalu gadis itu perlihatkan dari tingkah laku yang selalu dingin, tanpa perubahan apapun dan yang selalu dalam kelumpuhan wajah.
"Sepertinya Saudara Shan masih membasuh mukanya.."
Setelah Bai Qingyun mengatakannya Shan Shie sudah muncul lebih dulu. "Alkemis?"
"Margaku Qiu, panggil aku dengan nama itu." Qiuxi melirik Shan Shie dan melihat ke semua lukanya. "Kamu sudah sehat? Bahkan kamu sudah berjalan ke sana kemari sampai aku kesulitan menemukan mu."
Saat merawat Shan Shie, Qiuxi juga memeriksa keadaan tubuh Shan Shie sebelumnya. Alasan kenapa Shan Shie tidak bisa menggunakan kultivasinya lagi karna aliran inti dantian dalam tubuh Shan Shie tersumbat dan tidak bisa membara lagi, sedangkan beribu kali upaya Shan Shie agar kultivasinya kembali lagi selalu menjadi hal yang percuma karena hal yang menjadi akar kultivasinya sudah rusak.
"Tenang saja inti dantian mu yang sudah rusak itu aku bisa memperbaikinya, aku akan memberimu dua pil. Yang satu adalah racunku dan yang satunya lagi penawar dantian untuk mu, mana yang ingin kamu makan terlebih dahulu?"
Shan Shie terdiam sejenak, "...."
Bisakah dia tidak mendapatkan pilihan untuk memakan racun?
Qiuxi tertawa kecil. "Pertama aku tidak mudah percaya pada seseorang dan racun ku akan membuatku percaya padamu, jika kau meminumnya aku pastikan dantian mu kembali dengan sangat utuh."
Jika Qiuxi punya niat buruk untuknya, gadis itu tidak akan repot-repot untuk menyelamatkan dan membuatkan pil yang bisa memperbaiki dantian, jadi ketika Qiuxi menyuruh untuk membuatnya menegak racun sekalipun, Shan Shie tidak akan ragu.
__ADS_1
"Baiklah." Tanpa ragu Shan Shie meminum racun Qiuxi yang di berikan pertama kali oleh gadis itu.
Setelah meminumnya, sedetik kilatan ekspresi binggung muncrat dari wajah Shan Shie.
Di detik sebelumnya Shan Shie percaya jika Qiuxi tidak akan mempermainkannya. Saat merasakan asam dan manis di lidahnya yang sebenarnya apa yang di katakan racun itu rasanya seperti permen, sepertinya gadis kecil itu mempermainkan dia di bawah telapak tangan dan menertawakannya diam-diam.
Seolah tahu apa yang di pikirkan Shan Shie, Qiuxi segera berkata. "Jangan mengutukku di dalam pikirkan mu, aku membuatnya menyesuaikan seleramu dengan rasa asam dan manis sepertinya kau akan menyukainya."
Shan Shie tidak bisa mengatakan apa-apa, bukankah itu racun yang dia telan? Kenapa Shan Shie tidak merasakan apapun seperti perasaan menyakitkan di tubuhnya seperti gejala keracunan, minimal tubuhnya seharusnya berubah membiru atau membengkak setelah meminum racun. Tapi dia tidak merasa perubahan apa-apa.
"Karena efek sebenarnya dari racun itu belum keluar." Qiuxi menjelaskan. "Jika suatu hari kau menghianatiku, maka racun itu akan membungkam mu sebelum kau sempat melakukanya dan waktu itu juga akan jadi momen hari dimana kematian mu menjadi sangat mengerikan."
Qiuxi berkata dingin. "Jika kau tidak percaya dengan racun ku maka cobalah untuk menghianati ku, maka saat itu tubuh mu bisa berubah kering karena semua darah mu akan keluar dari ketujuh lubang sampai tidak meninggalkan setetes darahpun dan semua tulang-tulang yang ada di dalam dagingmu akan hancur menjadi abu."
Racun Penghancur Tulang adalah yang telah Shan Shie telan, sejenis racun yang di buat Qiuxi dari Manual Racun Jiwa.
Racun itu akan aktif seketika saat penelannya mencoba menghianati Qiuxi, maka ketika seseorang menghianatinya maka orang itu, semua tulang di tubuh mereka akan hancur lebur dan darah akan keluar dari tujuh lubang sampai tersedot kering. Kematian yang sangat tragis untuk seseorang yang ingin menghianatinya.
Semua orang pasti tidak menduga kematian mengerikan seperti itu bisa di rencanakan oleh seorang gadis kecil yang baru berusia tiga belas tahun.
Qiuxi memang membenci penghianatan lebih dari apapun, bagaimana tidak? Orang bermuka dua menapakinya dan mencoba menusuknya setiap ada celah. Lebih baik Qiuxi mencegah semua kemungkinan itu terjadi, agar tidak memiliki satupun penghinat di sampingnya.
Dan sebenarnya, sebuah penghianatan adalah yang paling mempengaruhi keadaan psikis di kehidupannya yang dulu saat di Jakarta.
Ketika ayahnya di tipu besar-besaran sampai meninggal karena penyakit jantung, Qiuxi mengalami rasa traumatis yang besar sebelum kematian Qiu Liang, seorang wanita China yang menikah dengan orang dari Indonesia dan sekaligus sosok perempuan yang melahirkannya.
Meskipun dia di lahirkan dan hidup dengan cara mengenaskan sekalipun bagi Qiuxi dia tidak pernah menyesali kehidupannya itu, hanya saja, dia merasa..
__ADS_1
Sedikit tidak adil.