Rumor Ratu Buruk Rupa

Rumor Ratu Buruk Rupa
Polong biji teratai


__ADS_3

Tarian yang sangat megah juga di tunjukkan untuk menghibur tamu penting Kekaisaran Nanfang yang berguna menunjukkan hormatnya selir resmi Ming pada para tamunya yang datang di antaranya kepala keluarga Cheng, guru besar Fei dan seorang Alkemis Hantu tidak lain adalah Qiuxi. Namun Sebelum acara selesai, Qiuxi lebih dahulu keluar karena terlalu malas berkumpul dengan orang-orang yang tidak di kenalnya.


Melihat Alkemis Hantu yang ingin pergi jadi selir resmi Ming buru-buru berkata dengan sopan melihat gadis kecil itu berniat pergi di tengah acara. "Alkemis, apa sambutan dari kami tidak menyenangkan bagi anda? Biarkan putri ini membalas budi dengan menghibur mu sedikit karena anda telah menyelamatkan pangeran Yixing."


Qiuxi tersenyum sedikit juga senyuman yang bisa membius mata selir resmi Ming karena terpana akan kecantikan klasik dari gadis kecil itu, namun senyuman yang seperti ini yang tidak di ketahui semua orang membuat Xiao Boa menelan ludah mengetahui arti senyuman gadis bergaun semerah darah utu adalah senyuman yang tidak akan membiarkan selir resmi Ming yang berwajah putri Sili lepas dari jangkauan bidak caturnya.


Qiuxi kemudian berkata tenang. "Kita akan bertemu lagi, semoga kau busa bahagia sampai saat itu tiba nantinya."


Selir resmi Ming membungkukkan setengah badan menyambut kepergian Alkemis Hantu. "Baiklah jika seperti itu, putri ini tidak akan menganggu waktu Alkemis terlalu lama."


Setelah menghadiri acara selir resmi Ming, seorang gadis yang sering di kenal sebagai Alkemis Hantu itu mendatangi kediaman putri Lin kedua dan ketika sampai di sana dia langsung mendapat senyuman lembut dari pria rupawan dengan rambut hitam yang panjang, sekaligus senyuman hangat untuk nonanya, Lin Qiu Xi.


"Nona.." Feng Shui berkata dengan suara yang rendah saat matanya memperlihatkan kekhawatiran yang tidak bisa di jelaskan dan melayang di bawah kelopak matanya.


Xiao Boa mendengus pelan menatap ekspresi Feng Shui yang seperti seekor rubah penjilat, dan dia kemudian berganti menatap eskpresi wajah nona Lin, dan eskpreksi di wajah gadis itu hanya ekspreksi datar dengan sedikit keletihan yang tidak berubah sedikitpun.


Chen Yu juga memanggil Qiuxi. "Kakak master!"


Melihat Feng Shui dan Chen Yu, Qiuxi menyapu datar keduanya dengan mata irisnya yang berwarna hitam. Mata yang terlihat seolah tidak berniat melakukan apapun karena Qiuxi hanya ingin kembali ke kamar dan tidur untuk bermalas-malasan.


Setelah berada di dalam, Feng Shui membantu nonanya  itumenyisir rambut hitam panjang milik gadis kecil berusia tiga belas tahun di depannya dan senyumannya masih sehangat sebelumnya. "Nona, jika aku menyembunyikan sesuatu darimu maka itu pasti untuk mempertahankan hubungan kita. Dan jika nona tahu aku berkali-kali pernah berbohong.. maafkan aku."


Qiuxi menatap pantulan dirinya di cermin dan pantulan seorang pria rupawan di belakangnya. tangan yang menyisir rambutnya dengan cekatan itu berwarna putih dan ramping, namun dia hanya menatapnya datar saat melihat jari-jari tangan Feng Shui dengan penuh hati-hati merawat rambutnya.


Pada saat ini Qiuxi juga tidak tahan untuk bertanya. "Feng Shui, kenapa kau memilih berada di sisiku?"

__ADS_1


Jika mengingat lagi cerita dalam novelnya, Feng Shui adalah satu-satunya orang yang paling setia pada Lin Qiu Xi namun alasannya tidak begitu jelas, jadi Qiuxi tidak tahan untuk bertanya pada Feng Shui secara langsung.


Feng Shui hanya tersenyum. "Jika nona mau menjawab pertanyaan ku terlebih dahulu, maka aku akan menjawabnya dengan jujur."


"Lalu, apa yang ingin kau tanyakan?" Qiuxi merasa tidak keberatan dan dia hanya mengeryitkan keningnya.


Setelah diam beberapa saat, akhirnya Feng Shui bertanya. "Apa saya berharga untuk nona?"


"Tidak." Qiuxi langsung menggelengkan kepalanya, karena jantung dan hatinya untuk dunia ini karena seseorang di dalamnya tidak ada yang berharga sedikitpun.


Jika ada seseorang yang berharga bagi Qiuxi, maka akan menjadi ayah dan ibunya yang ada di kehidupannya yang sebelumnya ketika dia hidup di Jakarta dan Qiu Liang masih hidup dan sosok ayah Indonesianya yang di penuhi dengan keramahan itu masih hidup.


Qiuxi tiba-tiba bergumam pelan. "Maafkan aku, tapi jantungku bukan untuk dunia ini. Dan siapapun di sini, nilainya di mataku sama, tidak ada yang berharga sedikitpun."


"Lupakan kalau kamu pernah bertanya seperti ini, bagiku mungkin tidak, tapi bagi Lin Qiu Xi mungkin dia akan sedikit menghargai kebaikan mu." Qiuxi berkata dengan suara rendah sebelum dia mendesah nafas malas. "Aku ingin beristirahat jadi kamu keluar."


Feng Shui menggelengkan kepalanya, meski mendapatkan jawaban yang tidak dia harapkan dia masih menunggu nonanya sampai tertidur tenang di sebelahnya, dan dia tidak ingin bergerak sedikitpun.


Seolah-olah Feng Shui tidak kuasa meninggalkan sisi Lin Qiu Xi untuk sedetikpun jauh dari jarak nonanya.


*


Chen Yu, dia tidak terbiasa dengan dapur istana atau untuk meminta pelayan agar membuat makanan untuknya maka satu-satunya kebiasaan Chen Yu selama beberapa saat ini hanyalah mendatangi kamar kakak masternya saat  dia mulai merasa lapar. Jadi ketika dia sampai di kamar Qiuxi, dia berjalan ringan ke kediaman putri Lin kedua Kekaisaran Nanfang itu sambil memperhatikan kamar kakak masternya yang sangat sepi.


"Dimana semua orang?"

__ADS_1


Chen Yu lalu duduk di kursi favoritnya sambil memandang ke arah tempat tidur kakak masternya yang tertutupi oleh sebuah tirai jadi dia bisa memastikan jika Qiuxi sedang tertidur.


"Kakak Master sedang tidur tapi kemana senior Feng?"


Chen Yu juga melihat sekantong polong biji teratai di atas meja, dan saat dia memakannya dia langsung tersenyum puas. "Makanan ini sangat enak."


Mencium aroma segar dari  polong biji teratai membuat Xiao Boa terbangun dan ular membuatnya segera berjalan ke arah sumber suara dengan mata yang masih tertutup. "Keharuman makanan lezat ini.. keharuman yang ku rindukan. Makanan yang memanjakan lidah ini adalah surga, kemari polong kecil teratai ku.. aku akan memakanmu."


Namun suara seorang bocah lelaki membuat mata Xiao Boa terbuka dan terbelalak karena terkejut.m. "Bentuknya putih bulat kecil, ini sedikit asam, tapi manis di dalamnya."


Xiao Boa yang melihat semua polong biji teratainya di habiskan Chen Yu langsung mendelik. "Kau, kau menghabiskan semua makanan ku?"


Bocah laki-laki berusia sembilan tahun itu hanya memandangnya. "Jika ada makanan di atas meja, maka ada untuk di makan. Kenapa marah jika di habiskan?"


Melihat Chen Yu yang mengelak seperti belut, Xiao Boa langsung memecut menggunakan ekornya. "Kau memakannya! Muntahkan sekarang juga!"


Mendengar suara mereka yang terlalu keras, Feng Shui langsung menegur dengan dingin. "Ini terlalu berisik."


"Jangan membuat kegaduhan, jika nona sampai terbangun aku sendiri yang akan memotong mulut kalian sampai tidak bisa berbicara lagi."


Xiao Boa langsung menelan ludah. "Ah apa nona Lin.. terbangun?"


Karena kegaduhan mereka, jika Lin Qiu Xi terbangun tentu saja seseorang yang obsesi seperti Feng Shui akan mengamuk jika ada hal sekecil apapun menganggu waktu istirahat gadis itu. Melihatnya jadi Xiao Boa menghela nafas panjang sekali. "Kamu jangan mudah uring-uringan seperti semua orang berhutang seribu emas padamu atau terlihat menakutkan di wajahmu yang lebih jelek dari wajahku."


Ular itu kemudian berdesis dan merembet ke kaki Feng Shui sebelum berhenti di pundaknya. "Jangan terlalu obsesi pada seseorang atau tidak akan ada orang yang mau di sisimu karena melihat kepribadian mu saja.. membuat orang lain ketakutan!"

__ADS_1


__ADS_2